TERPUJILAH PARA BUDDHA, PARA BHODHISATTVA MAHASATTVA, SERTA PARA ARYA NAN BIJAKSANA..._/\_ NAMO BUDDHAYA _/\_


Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.

W E L C O M E ( E H I P A S S I K O )

Tuesday, 3 December 2013

BODHISATTVA SAMANTABHADRA ( PHU SIEN PHU SA )

BODHISATTVA SAMANTABHADRA,


Dalam ajaran-ajaran Buddhisme ada tiga Bodhisattva Utama yang disebut San Ta She. Ketiga Bodhisattva tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Samantabhadra Bodhisattva (Phu Sien Pu Sa) berada disebelah kiri dengan menunggang seekor gajah putih yang melambangkan virya (Semangat) dan kebahagiaan.
  2. Avalokitesvara Bodhisattva (Kuan Yin Phu Sa) berada di tengah yang melambangkan Maitri Karuna (welas asih dan kasih sayang).
  3. Manjushri Bodhisattva (Wen Shu Phu Sa) berada disebelah kanan yang menunggang seekor singa yang melambangkan kebijaksanaan.
Phu Sien Phu Sa (Po Hien-Po Sat) atau fu Gen (Jepang) dalam bahasa sansekerta adalah Samantabhadra Bodhisattva yang berarti kebijaksanaan yang universal. Bodhisattva ini merupakan perwujudan dari cinta, aktivitas yang suci, kebajikan, ketekunan dan kesadaran. Di dalam kasanah kedewaan Tionghoa, Pu Sien Phu Sa ditampilkan dalam tiga serangkaian bersama Kuan Yin Phu Sa dan Wen Shu Phu Sa, tetapi sering juga dalam kelenteng-kelenteng Tiongkok dan Jepang tampil bersama Sakyamuni Buddha dan Wen Shu Phu Sa. Phu Sien Phu Sa biasanya di tampilkan duduk diatas seekor gajah putih membawa setangkai bunga teratai atau gulungan kitab suci. 
Gajah itu umumnya dalam keadaan berdiri atau jongkok, kadang-kadang berkepala tiga atau satu, dengan enam batang gading. Phu Sien Phu Sa terkenal, karena persembahannya yang tidak terbatas kepada para Buddha dan sepuluh sumpah agungnya yang ditujukan kepada orang-orang sengsara yaitu:
  • Untuk memuja para buddha
  • Untuk memuja tatthagata
  • Untuk menghaturkan sembah kepada para buddha
  • Untuk mengakui dosa-dosa pada masa kehidupan yang lampau dan berbuat kebajikan.
  • Untukbergembira dalam kebajikan dan kebaikan orang lain.
  • Untuk bergembira dalam kebajikan dan mengkhotbahkan ajarannya 
  • Untuk memohon kepada buddha untuk tetap tinggal di dunia
  • Untuk mempelajari dharma dan mengajarkan kembali
  • Untuk membantu sesama makhluk yang sengsara
  • Untuk menyalurkan hal-hal yang baik kepada pihak lain.
  • Untuk memuja dan menghormati semua Buddha
  • Untuk memuja Sang Tatthagata
  • Untuk mempelajari dan meningkatkan persembahan suci
  • Untuk belajar menyesali atas perbuatan-perbuatan buruknya dan lalu memperbaikinya.
  • Untuk menghayati kegembiraan di dalam (melakukan) penimbunan jasa-jasa kebajikan.
  • Untuk mengajak orang lain mau ikut memutar roda Dharma
  • Untuk memohon kepada Sang Buddha agar berkenan lahir ke dunia
  • Untuk mempelajari Dharma
  • Untuk hidup secara serasi, bertoleransi, saling tenggang rasa dengan orang-orang lain.
  • Untuk mentransfer, memberikan semua jasa-jasa kebaikan dan kebajikan-kebajikan yang dipunyai, bagi kemanfaatan orang-orang lain, atau makhluk-makhluk lain.
Tempat suci Pu Sien Pu Sa adalah di gunung E Mei Shan di propinsi Si Chuan di sebelah barat, yang merupakan salah satu dari empat gunung suci agama Buddha di Tiongkok. Di Jepang ia sering kali dipuja oleh para pengikutnya untuk memperoleh kemakmuran dan panjang umur, bahkan sebagian pihak menganggap ia sebagai pelindung pengobatan. Di dalam sutra " phu sien phu sa " ia dipuji Buddha dan dikatakan bahwa ia lahir di tanah suci sebelah timur.


Di dalam sutra itu, Buddha menggambarkan “Phu Sien Phu Sa” memiliki tubuh yang besar tidak terbatas, karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, ia mengubah dirinya menjadi manusia biasa. Ia muncul dengan menunggang gajah putih, dibawah telapak gajah putih bunga-bunga teratai bermekar dan berwarna putih, gajah ini berwarna yang paling cemerlang diantara segala warna putih, sampai kristal dan puncak Himalaya pun tidak bisa menandinginya.

“Sutra Bunga Teratai” Phu Sien Phu Sa ini menarik orang terutama dikalangan wanita, sebab mereka akan dijanjikan akan mendapatkan juga mencapai tingkat Buddha. Phu Sien Phu Sa di puja tidak pada setiap kelenteng bercorak Buddhis tetapi biasanya di kelenteng-kelenteng yang memuja Kuan Yin dapat dijumpai arcanya. Hari shejitnya ialah pada tanggal 21 bulan 2 Imlek.

BODHISATTVA SAMANTABHADRA

Nama Bodhisattva Samantabhadra adalah perkataan bahasa sansekerta yang berarti “Pribadi maha agung yang layak memperoleh penghormatan secara universal ” atau “ Pribadi maha agung yang diharap-harapkan limpahan berkah dan kesuksesan bagi semua makhluk ”. Beliau adalah tokoh orang sucinya umat Buddha Mahayana, yang bermanifestasi secara universal, di semua tanah Buddha, dan yang telah melaksanakan sumpah maha sucinya, dengan kesuksesan yang besar. Di dunia saha beliau bekerja sama dengan Bodhisattva Manjushri, sebagai pembantu utama Sang Buddha Sakyamuni.

Seperti yang tertulis dalam teks kitab suci agama Buddha, Bodhisattva Manjushri diceritakan mengendarai seekor singa, dan mendampingi Hyang Buddha Sakyamuni di sebelah kirinya, sedang di sebelah kanannya adalah Bodhisattva Samantabhadra, yang diceritakan mengendarai seekor gajah putih. Bodhisattva Manjushri melambangkan intelegensi, kebijaksanaan dan lulusnya seseorang dalam menempuh ujian kehidupan dan memperoleh ijazah spiritual pada tingkatan tertentu. Sedangkan Bodhisattva Samanthabadra mewakili doktrin atau ajaran agama. Di dalam kegiatan pembinaan diri, Bodhisattva Manjushri menggaris bawahi Prajna, sedangkan Bodhisattva Samantabhadra, menggaris bawahi samadhi, kebajikan dan prakteknya dari kedua tokoh Bodhisattva ini, melambangkan kesempurnaan dalam prinsip Buddha Mahayana tingkatan paling tinggi.

Bodhisattva Samantabhadra telah mempraktekkan jalan keBodhisattvaan di masa-masa yang lampau, di dalam banyak kalpa-kalpa itu, mencari semua kebajikan, untuk membebaskan penderitaan-penderitaan bagi makhluk-makhluk hidup. Bodhisattva Samantabhadra itu dianggap sebagai suatu model bagi umat Buddha Mahayana dalam belajar, meniru, melaksanakan, dan membina diri melalui jalan kebodhisattvaan.

Dalam kitab suci agama Buddha yang dinamai “Sutra Avatamsaka” di tulis bahwa beliau telah menasehati, dan mengajak orang-orang untuk membina diri, mengembangkan sepuluh tipe, atau jenis-jenis tingkah laku dan sumpah suci, yaitu:
Dengan didasari 10 sumpah suci terebut, Bodhisattva Samanthabadhra menasehati dan mengajak makhluk-makhluk hidup, untuk mencapai jasa-jasa kebajikan, seperti yang telah dimiliki oleh seorang Tatthagata. Gunung suci E Mei yang terdapat di propinsi Si Chuan itu secara tradisional, dikenal dan termasyur, sebagai Bodhimandanya Sang Bodhisattva Samantabhadra dan menjadi pusat pemujaan terhadap Sang Bodhisattva tersebut.

Monday, 2 December 2013

BODHISATTVA MANJUSRI ( WEN SHU PHU SA )

BODHISATTVA MANJUSHRI.
           


Manjusri adalah Bodhisattva kebijaksanaan yang sesungguhnya telah mencapai kebuddhaan. Ada dua perwujudan dari Bodhisattva Manjusri, yaitu perwujudan pertama menggambarkan tangan kanannya memegang pedang (lambang kebijaksanaan yang mendalam) sedangkan tangan kirinya memegang setangkai bunga teratai biru yang diatasnya terdapat naskah suci (Lambang pengetahuannya tentang jalan yang tak terbatas). Perwujudan kedua menggambarkan Bodhisattva Manjushri dengan tangan kirinya memegang setangkai bunga teratai biru dengan naskah suci diatasnya, seperti perwujudan diatas dan tangan kanannya dalam sikap Varada Mudra (telapak tangan menghadap keatas, diletakkan pada lutut kanan).

Dalam Buddhisme Mahayana Vajrayana, Bodhisattva Manjusri merupakan Bodhisattva yang paling utama dari kedelapan Bodhisattva utama, yang terdiri dari: Manjusri, Vajrapani, Avalokitesvara, Ksitirdarbha, Sarvanivarana-Viskanbhi, Akasagarbha, Maitreya dan Samantabadra.

Untuk mendapatkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang mendalam, seseorang harus bermeditasi pada bodhisattva Manjusri dan membaca mantranya secara terus menerus hingga tercapainya kebijaksanaan. Hal ini pernah dialami oleh Acarya Shantideva ketika beliau belajar di Nalanda. Beliau adalah salah seorang bhikkhu yang sangat sulit melafal naskah-naskah suci. Kemudian gurunya menganjurkan agar beliau membaca mantra suci Bodhisattva Manjusri.

Siang dan malam Acarya Shantideva membaca mantra itu, hingga akhirnya Bodhisattva menampakkan diri dan berkata :
“Apakah yang kamu lakukan Shantideva?”
“Besok pagi saya harus dapat menghafalkan sutra, itulah sebabnya saya memohon kepada yang suciBodhisattva Manjusri”, jawab Shantideva.
“Apakah kamu tidak  mengenal saya?”, tanya Bodhisattva Manjusri.
“Tidak Bhante, saya tidak mengenal Bhante,”Jawab Shantideva.
“saya Bodhisattva Manjushri”
“Oh” Shantideva terkejut.
“Kemarilah, saya akan memberikan siddhi kebijaksanaan luhur untuk memudahkan engkau menghafal sutra besok pagi dan saya juga akan memberikanmu pengetahuan”, kata Bodhisattva Manjushri dan menghilang.

Keesokan harinya Acarya Shantideva dapat menghafalkan sutra dengan baik dan dari tubuhnya memancarkan praba yang memukau hadirin yang menyaksikannya.

Para Acarya di dalam menulis naskah-naskah ajaran selalu memohon Adisthana dari Bodhisattva Manjusri. Beliau sering dipanggil dengan “Namo Arya Manjushri Kumarabhuta” yang biasanya diletakkan pada awal (barisan pertama) penulisan naskah, dengan harapan naskah itu dapat membawa mereka yang membacanya menemukan kebijaksanaan dan pengetahuan yang mendalam.

Dalam Tantra tertinggi (Anutara Yoga Tantra) Bodhisattva Manjushri Kumarabhairava dilaksanakan secara luas. Hal ini terbukti dengan begitu banyak arca-arca Vajrabhairava maupun Manjushri Kunarabhuta dari masa tersebut. Arca ini bisa kita dapatkan juga di komplek vihara Plaosan, pada ruang sebelah kiri dimana arca Manjusri ada bersama arca Bodhisattva Vajrapani dan Sang Buddha Sakyamuni.

Nama Bodhisattva Manjusri adalah perkataan bahasa Sansekerta yang artinya “nasib baik yang mendatangkan kesuksesan yang menakjubkan”. Di dalam agama Buddha Mahayana Bodhisattva Manjusri dianggap pribadi Maha Agung yang telah memiliki kebijaksanaan tinggi diantara para Bodhisattva. Oleh karena itu Bodhisattva Manjusri sering menjadi “Ibu” dari segala Buddha, menjadi guru dari Bodhisattva yang jumlahnya tak terbilang, mendidik dan membuat umat mencapai keberhasilan.

Bodhisattva Manjusri atau disebut Wen Shu Phu Sa merupakan pencerminan watak kebijaksanaan yang luar biasa. Ia adalah Bodhisattva pertama yang disebut dalam kitab-kitab suci, dan merupakan Bodhisattva terkemuka dan terpenting dalam kalangan Buddha Mahayana. Di dalam Mahayana, bijaksana dan welas asih adalah dua watak yang sangat penting. Manjusri adalah Bodhisattva kebijaksanaan dan pengetahuan, sebab itu ia dianggap terkemuka, sejajar dengan Avalokitesvara Bodhisattva atau Kuan Yin yang merupakan Bodhisattva belas kasih.

Menurut versi Tionghoa, manjusri Bodhisattva telah memperoleh petunjuk dari Sakyamuni Buddha bahwa tanggung jawab dan tugas utamanya adalah untuk mengajarkan dan menunjukkan jalan keselamatan bagi penduduk Tiongkok. Sebab itu ia memilih gunung Wu Tai San di propinsi Shan Shi, menjadi salah satu dari empat gunung suci Buddhisme dia Tiongkok. Orang Tionghoa menganggap Manjusri Bodhisattva sebagai seseorang arsitek surgawi yang memberikan penerangan dan kecerdasan bagi siapa saja yang giat menjalankan Dharma. Sebab itu ia juga disebut “Wen Shu Se Li Phu Sa atau disingkat “Wen Shu Phu Sa”. Dengan pedangnya yang disebut pedang kebijaksanaan ia menyibak kegelapan menyelimuti manusia. Lambangnya yang lain adalah buku kebijaksanaan, sering digambarkan sebagai gulungan kertas tipis yang diikat dengan tali sutra.

Wen Shu Phu Sa dianggap sebagai guru kebijaksanaan dan pengetahuan secara umum ditampilkan dalam keadaan samadi diatas seekor singa yang berbulu hijau. Singa ini melambangkan nafsu liar yang hanya dapat ditundukkan dengan meditasi. Sebab itu, melaksanakan meditasi adalah suatu keharusan bagi mereka yang ingin mencapai bathin yang tenang dan terkendali. Dan Wen Shu Phu Sa adalah Bodhisattva yang dapat membantu mereka dalam mengatasi hambatan-hambatan rohani dalam menjalankan Dharma. Sebab itu gunung Wu Tai Shan yang menjadi tempat tinggalnya, menjadi tempat berkumpul para penganutnya, karena mereka percaya ditempat inilah para Bodhisattva berkumpul, walaupun untukmencapai puncak Wu Tai Shan harus melalui perjalanan yang sulit dan berliku-liku, namun mereka melakukannya karena ingin merasakan suatu ketentraman batin “sempurna” dengan mencapai kuil Wen Shu yang berada di puncak gunung tersebut.

Ada banyak kesaksian tentang penampakan sinar-sinar ajaib yang disaksikan oleh banyak orang yang melakukan pemujaan di puncak gunung tersebut. Oleh orang awam mungkin hal ini dianggap halusinasi dari mereka yang mengalami kelelahan karena mendaki puncak tersebut. Tetapi harus diingat bahwa kebanyakan orang-orang yang naik ke sana adalah mereka yang ingin mencari “kebijaksanaan” dan umumnya telah menjalani meditasi dengan tekun, sehingga tidak mudah goyah dan tidak mempunyai pikiran yang tidak stabil sehingga mudah terpengaruh oleh gejala-gejala yang dapat menimbulkan halusinasi itu.

Kelenteng yang khusus diperuntukkan untuk pemujaan Wen Shu Phu Sa jarang ada, kecuali yang di Wu Tai Shan itu. Tapi patung-patungnya banyak terlihat di kelenteng-kelenteng yang bercorak Buddhisme. Wen Shu Phu Sa seringkali ditampilkan dalam bentuk tiga serangkaian dengan Sakyamuni Buddha dan Pu Sien Phu Sa, atau yang bersama dengan Kuan Yin Phu Sa dan Pu sien Phu Sa. Dalam bentuk tiga serangkaian dengan Kuan Yin biasanya, baik Pu Sien Phu Sa dan Wen Shu Phu Sa ditampilkan dalam wujud wanita, Wen Shu Phu Sa naik hingga hijau dan Pu Sien naik gajah putih Wen Shu Phu Sa melambangkan segi kebijaksanaan, Pu Sien sebagai lambang kegiatan cinta kasih yang sempurna dan Kuan Yin sebagai lambang maha pengasih dan penyayang. Ketiganya merupakan kesempurnaan dari ajaran Buddhisme Mahayana.

Dalam kisah puteri Miao Shan, singa hijau Wen Shu Phu Sa diceritakan sebagai penjelmaan Dewa Api dan Gajah Putih Pu Sien adalah Dewa Air. Kedua dewa ini menangkap rombongan raja Miao Zhuang yang akan berjiarah ke Xiang Shan, tempat Miao Shan menjadi Bodhisattva, kedua kakak perempuannya juga diangkat mendampinginya. Miao Shu (dalam versi yang lain disebut Miao Qing) diangkat sebagai Wen Shu Phu Sa dan Miao Yin diangkat menjadi Pu Sien Phu Sa.

Hari lahir Wen Shu Phu Sa di rayakan pada tanggal 4 bulan 4 Imlek. Meskipun bagi orang awam kurang mendapat perhatian, tapi bagi pengikut Buddhis aliran Chan (Zen) menganggapnya sebagai hari besar yang diperingati secara khusus setiap tahunnya.

PANGERAN DHARMA ( MANJUSRI BODHISATTVA )

Menurut pemahaman Buddhisme Mahayana, Bodhisattva Manjusri diwujudkan sebagai sosok Bodhisattva yang memegang sebatang pedang kebijaksanaan (perlambang pemutus kekotoran batin) dan mengendarai singa berbulu emas (simbol keperkasaan menaklukkan kekuatan jahat), kadangkala dilukiskan juga dalam kondisi duduk di atas bunga teratai (melambangkan kemurnian).

Dalam sutra Avatamsaka, Bodhisattva Manjusri dikenal sebagai salah satu dari Tiga Makhluk Suci Avatamsaka, yakni: Bodhisattva Manjusri (kiri), Buddha Sakyamuni (tengah) dan Bodhisattva Samantabhadra (kanan).

Dalam Buddhisme Tiongkok, terdapat beberapa versi dalam penyebutan nama Bodhisattva Manjusri, diantaranya adalah Wenshushili-Pusa dan Manshusili-pusa, namun lebih populer dengan sebutan singat Wenshu Pusa. Nama Manjusri sendiri memiliki beberapa makna, yakni Miaode (kebajikan menakjubkan), Miaoshu (kepala menakjubkan – karena kebajikannya tertinggi di atas para Bodhisattva) dan Miaojixiang (berkah Menakjubkan).

Jika Bodhisattva Avalokitesvara dikatakan sebagai manifestasi welas asih terluhur, maka Bodhisattva manjusri dikenal sebagai manifestasi kebijaksanaan tertinggi. Ini dikarenakan Bodhisattva Manjusri merupakan Buddha masa lalu yang terus menerus bermanifestasikan dengan kekuatan kebijaksanaan sejati. Dalam kitab Suranggama Samadhi Sutra, Buddha Sakyamuni menjelaskan bahwa bodhisattva Manjusri merupakan Buddha masa lalu yang bernama Tathagata Longzhong Shangzunwang.

Bodhisattva Manjusri juga muncul di masa kini sebagai Buddha Huanxiziangmonibaoji dari tanah suci Buddha Changxi (kegembiraan abadi), (Angulimala Sutra, bab 4). Pada sisi lain, juga bermanifestasi dalam wujud Bodhisattva Manjusri sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.

Selain itu, ketika Buddha Amitabha masih berstatus sebagai seorang raja Cakravartin, saat itu Bodhisattva Manjusri merupakan putera mahkota ketiga. Buddha Ratnagarbha di masa itu meramalkan bahwa Manjusri akan menjadi Buddha dengan nama Tathagata Samanthadarsin (Karuna Pundarika Sutra, bab 3).

Dengan semua manifestasi ini, Bodhisattva Manjusri mempertunjukkan kebijaksanaan sempurna dan upaya kausalya (metode tepat dan praktis) membimbing semua makhluk agar tergerak untuk membangkitkan Bodhicitta mencapai penerangan sempurna. Itulah sebabnya, Bodhisattva Manjusri dijuluki sebagai ibu para Buddha dari tiga masa dan guru para Buddha.

Pada masa kehidupan Buddha Sakyamuni, Bodhisattva Manjusri terlahir di kerajaan Kosala sebagai anak dari seorang kasta Brahmana bernama Fande (kebajikan Brahma). Tubuhnya berwarna keemasan, memiliki 32 fisik manusia unggul dan dilahirkan dari sisi sebelah kanan tubuh ibunya. Makna nama MiaoJixiang (berkah menakjubkan) berasal dari munculnya sepuluh peristiwa sepuluh peristiwa menakjubkan saat kelahirannya, yakni: turun Amrta (air surgawi) dari langit; muncul tujuh permata dari dalam tanah; padi dalam lumbung berubah menjadi beras emas; tumbuh bunga teratai di halaman rumah; cahaya gemilang memenuhi rumah; ayam menetaskan burung hong; kuda melahirkan kirin; sapi melahirkan anak sapi langka; babi melahirkan longtun (babi berwujud naga); muncul gajah bergading enam.

Manjusri dikenal memiliki kebijaksanaan dan kemampuan berbicara yang unggul, sanggup mengalahkan para penganut dari 96 aliran tirtika dalam hal perdebatan. Setelah menjadi siswa Buddha Sakyamuni, Manjusri berhasil menguasai suatu tingkat samadhi Shuranggama. Dengan kekuatan samadhi Shuranggama ini Manjusri melakukan berbgaia metode yang sangat bijaksana dalam membimbing para makhluk, bahkan setelah 450 tahun Parinirvana Buddha Sakyamuni, Manjusri masih tetap melakukan tugas pengajaran Dharma. Dalam jajaran siswa tingkat Bodhisattva, beliau menduduki posisi sebagai siswa yang paling terkemuka dalam hal kebijaksanaan. Oleh karena itu, beliau juga dijuluki sebagai pangeran Dharma Manjusri. Sekitar tiga ratusan sesi pembabaran filosofi Mahayana oleh Buddha Sakyamuni, Manjusri selalu hadir sebagai ketua dari komunitas Bodhisattva.

Dalam Vimalakirti Nirdesa Sutra misalnya, saat para siswa Sravaka dan Bodhisattva merasa berkecil hati untuk bertemu Vimalakirti karena tidak sanggup berhadapan dengan kemampuan berbicaranya yang menakjubkan, Manjusri tampil mengemban tugas ini. Pertemuannya dengan Vimalakirti menjadi sebuah ajang perbincangan Dharma yang menakjubkan. Tidak hanya dalam satu sutra, dalam berbagai sutra juga tercantum tentang kemampuan pembabaran Dharma yang dimiliki Manjusri yang dapat dipastikan akan membuat kita berdecak kagum. Buddha Sakyamuni sendiri kerap menceritakan kehidupan lalu Bodhisattva Manjusri, bahkan dalam salah satu kehidupan lampau, Sakyamuni pernah menjad murid Manjusri.

Dimata penganut Buddhisme Tiongkok, Bodhisattva Manjusri memiliki posisi yang cukup istimewa. Perlu diketahui bahwa di Tiongkok terdapat empat Gunung Buddha yang diyakini sebagai tempat pembabaran Dharma empat Bodhisattva Agung, yakni Putuo Shan (Bodhisattva Avalokitesvara), Jiuhua Shan (Bodhisattva Ksitigarbha), Emei Shan (Bodhisattva Samantabadra), sedang Wutai Shan atau juga dikenal dengan sebutan Qingliang Shan (gunung sejuk) sebagai tempat pembabaran Dharma Bodhisattva Manjusri.

Dalam Avatamsaka Sutra bagian “Kediaman Para Bodhisattva” disebutkan, “Di wilayah Timur, terdapat gunung Qingliang (gunung sejuk). Semenjak lama gunung ini menjadi tempat kediaman para Bodhisattva, dan sekarang ini Bodhisattva Manjusri bersama sekelompok Bodhisattva lain sejumlah 10.000 orang menetap di gunung ini untuk membabarkan Dharma.” Kemudian dalam Ratna-garbha Dharani Sutra disebutkan, “pada saat itu, Bhagava berkata kepada Bodhisattva Guyhapada: setelah Parinirvanaku, diarah timur laut dari Jambudwipa terdapat sebuah negeri bernama Mahacina. Di negeri ini terdapat pegunungan yang bernawa Wuding (lima puncak). Bodhisattva Manjusri berdiam di tempat ini untuk membabarkan Dharma kepada para makhluk hidup. Terdapat juga makhluk dewa, naga, yaksha, raksasa, kinnara, maharoga, manusia dan makhluk bukan manusia yang jumlahnya tak terbatas mengelilinginya, menghormati dan memberi persembahan.”

Berbagai kisah keajaiban tentang jelmaan Beliau tidak henti-hentinya bertebaran di seantero Wutai Shan. Baik sebagai wujud orang tua maupun anak kecil, Manjusri menggunakan berbagai upaya kausalya untuk menjalin ikatan jodoh karma dengan para makhluk hidup. Bahkan tokoh kharismatik Master Xuyun pun dalam perjalanan san bu yi bai (tiga langkah satu sujud) ke Wutai Shan sempat mendapat pertolongan dari Bodhisattva Manjusri dalam wujud seorang pengemis. Patriak ke 4 dari mazhab Sukhavati, Master Fazhao, juga pernah bertemu dengan Bodhisattva Manjusri beserta kemegahan viharanya di sebuah hutan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata saat berkunjung ke Wutai Shan.

Semua kisah yang bernuansa metafisik ini sungguh di luar jangkauan pemahaman kita. Namun sebagai seorang umat Buddha yang berpandangan benar, hendaklah kita melihat segala mukjijat yang dilakukan Bodhisattva Manjusri sebagai upaya kausalya. Bodhisattva Manjusri adalah Bodhisattva adalah Bodhisattva kebijaksanaan tertinggi, pada sisi lain kebijaksanaan itu mengalir menjadi berbagai wujud tubuh penjelmaan yang semata-mata ditujukan demi manfaat dan kebahagiaan semua makhluk. Tetapi, manifestasi Bodhisattva Manjusri sebenarnya tidak hanya sebatas di Wutai Shan atau pada bentuk-bentuk tubuh jelmaan saja. Saat kebijaksanaan transenden muncul dalam batin setiap makhluk hidup, maka disitulah tempat bersemayam yang sesungguhnya dari Bodhisattva Agung ini. Sat hati dan pikiran kita dalam keadaan bersih dan murni, disitulah akan tertampak Pangeran Dharma ini.

Sunday, 1 December 2013

KELAHIRAN GUAN YU ( KWAN KONG ) SETELAH GUGUR

TERLAHIR DI ALAM MANAKAH " GUAN YU " ??

Guan Yu, meskipun memiliki sifat-sifat luhur dan berkebajikan, namun karena semasa hidupnya banyak melakukan pembunuhan, maka setelah meninggal beliau terlahir di alam hantu. Seperti dikatakan oleh Master Ch’an Hsuan Hua, murid Mahaguru Xu Yun (Awan Kosong), dalam komentarnya pada Shurangama Sutra:
“Beberapa makhluk halus memiliki hati yang baik dan bertindak sebagai para Pelindung Dharma. Guan Di Gong adalah salah satu contohnya. Ia adalah makhluk halus yang kuat dan agung. Jenis makhluk halus ini melindungi dan menyokong Triratna. Mereka dapat menggunakan spiritual mereka untuk menuju ke kekosongan.”

“Ada puluhan ribu jenis makhluk halus. Guan Di Gong di Tiongkok adalah salah satu contoh dari seorang makhluk halus yang kaya raya. Namun setelah ia berlindung di dalam Buddha, maka ia dikenal sebagai Bodhisattva Sangharama, seorang Pelindung Dharma.”

Jadi ketika Guan Yu meninggal, Beliau terlahir kembali di alam preta, di mana dikisahkan bahwa Beliau mencari-cari kepalanya yang hilang. Setelah bertemu dengan Sang Bhiksu, Beliau tersadar akan kesalahan-kesalahannya, menjadi Pelindung Dharma dan mendapat Trisarana. Beliau menjadi tercerahkan dan banyak berbuat bajik sehingga terlahir kembali di alam Deva, sebagai Pelindung Dharma juga.

Mengenai perang, ada satu kisah dalam kitab suci Tipitaka. Suatu hari, Sinha, seorang tentara, mengunjungi Guru Buddha dan mengatakan, “O Bhagava, saya adalah seorang tentara yang ditunjuk oleh raja untuk menegakkan hukum dan berperang. Guru Buddha mengajarkan cinta kasih yang universal, kebaikan, dan kasih sayang untuk makhluk yang menderita. Apakah Buddha mengizinkan pemberian hukuman untuk para penjahat? Dan juga, apakah Buddha menyatakan bahwa berperang demi melindungi rumah, istri, anak-anak, dan harta kita adalah salah? Apakah Buddha mengajarkan agar kita menyerahkan diri sepenuhnya? Apakah saya harus menderita dengan melakukan apa yang disenangi oleh para pelaku kejahatan dan memberikan secara patuh kepadanya yang mengancam akan mengambil secara paksa apa yang menjadi milik saya? Apakah Buddha menetapkan bahwa semua perselisihan termasuk berperang demi alas an-alasan yang pantas seharusnya dilarang?” Buddha menjawab, “Mereka yang pantas dihukum harus dihukum. Dan mereka yang pantas ditolong wajib ditolong. Tidak melukai makhluk hidup apapun, tetapi harus adil, penuh dengan cinta dan kebaikan.” Keputusan ini tidaklah bertentangan karena orang yang dihukum atas kejahatannya akan menderita atas lukanya bukan karena niat jahat sang hakim namun dikarenakan oleh tindakan jahatnya itu sendiri. Tindakan jahat itu sendiri yang telah mengakibatkan luka yang diberikan oleh sang penegak hukum. Jika seorang hakim memberikan hukuman, dia seharusnya tidak menyimpan rasa benci di hatinya. Jika seorang pembunuh dieksekusi mati, dia seharusnya menyadari bahwa hukumannya itu adalah akibat perbuatannya sendiri.

Dengan pemahaman ini, dia tidak perlu lagi meratapi nasibnya tetapi dapat menenangkan pikirannya. Guru Buddha melanjutkan, “Buddha mengajarkan bahwa segala perang di mana terjadi pembantaian terhadap saudara-saudara sendiri adalah sangat disayangkan sekali. Akan tetapi, Buddha tidak mengajarkan bahwa mereka yang terlibat perang untuk memelihara perdamaian dan ketentraman, setelah menggunakan berbagai cara untuk menghindari konflik, adalah pantas disalahkan.”
“Perjuangan tetap harus ada, karena pada hakikatnya hidup adalah perjuangan. Tetapi pastikan bahwa engkau tidak berjuang demi kepentingan pribadi hingga menentang kebenaran dan keadilan. Seseorang yang berjuang demi kepentingan pribadi untuk membesarkan dirinya sendiri atau memiliki kekuasaan atau kaya atau terkenal, tidak akan mendapatkan penghargaan. Tetapi, dia yang berjuang demi perdamaian dan kebenaran akan memperoleh penghargaan besar, bahkan kekalahannya akan dianggap sebagai kemenangan.”

“Kemudian Sinha, jika seseorang pergi berperang bahkan untuk alasan yang pantas, dia harus siap-siap untuk dibunuh musuhnya karena kematian adalah bagian dari resiko seorang prajurit. Dan jika karmanya itu mengikutinya, dia tidak memiliki alasan apapun untuk mengeluh. Tetapi jika dia yang menang, keberhasilannya akan dianggap besar, tetapi tidak peduli sebesar apapun itu, roda kehidupan akan berputar kembali dan membawa hidupnya hancur lebur seperti debu. Akan tetapi, apabila dia mampu berkompromi dengan dirinya sendiri dan melenyapkan semua kebencian di hatinya, dan jika dia dapat mengangkat musuhnya yang tertindas dan mengatakan pada mereka, ‘Marilah berdamai dan biarlah kita menjadi saudara,’ maka dia akan memperoleh kemenangan yang bukan keberhasilan sementara; dikarenakan buah kemenangan ini akan bertahan selamanya.”
“Seorang jenderal yang berhasil adalah seorang pemenang, Sinha, tetapi dia yang menaklukkan diri sendiri adalah pemenang sejati. Ajaran penaklukan diri sendiri ini, Sinha, tidaklah diajarkan untuk menghancurkan kehidupan orang lain, tetapi untuk melindungi mereka. Seseorang yang telah menaklukkan dirinya sendiri akan lebih siap menghadapi hidup, mengukir keberhasilan, dan meraih kemenangan daripada seseorang yang diperbudak diri sendiri. Seseorang yang pikirannya terbebas dari ilusi keakuan, akan lebih mampu bertahan dan tidak terjatuh dalam pertempuran hidup. Dia, yang tujuannya penuh kebenaran dan keadilan, tidak akan menemui kegagalan. Dia akan berhasil dalam usahanya dan keberhasilannya akan bertahan. Dia yang memiliki cinta akan kebenaran dalam hatinya akan hidup terus dan tidak akan menderita. Jadi, berjuanglah dengan berani dan bijaksana. Kemudian, engkau akan menjadi prajurit pembela kebenaran.”

Tidak ada keadilan dalam peperangan atau kekerasan. Ketika kita yang menyatakan perang, kita membenarkannya; namun ketika pihak lain menyatakan perang, kita menganggap itu tidak adil. Selanjutnya, siapa sebenarnya yang dapat membenarkan perang? Orang seharusnya tidak mengikuti hukum rimba untuk mengatasi masalah manusia. Namun ada kalanya perang terpaksa dilakukan untuk membela negara dan melindungi masyarakat. Maka dari itu dalam Arya-Bodhisattva-gocara-upavisaya-vikurvana-nirdesa Sutra dikatakan:
“Seorang raja, yang benar-benar siap untuk berperang, setelah menggunakan tindakan yang terampil ini, meskipun ia membunuh ataupun melukai prajurit lawan, tindakannya itu hanya menimbulkan ketidakbajikan kecil... Mengapa bisa seperti itu? Ini disebabkan karena tindakan tersebut disertai oleh motivasi welas asih dan melindungi. Dengan basis mengorbankan dirinya dan kekayaannya untuk melindungi para makhluk hidup dan demi keluarganya, istri dan anak-anaknya, maka kebajikan yang tidak terbatas akan muncul, bahkan meningkat tajam.”

Dari kutipan-kutipan sabda Sang Buddha di atas, dapat disimpulkan bahwa Guan Gong pergi berperang tidak bisa dijadikan alasan untuk menilai bahwa beliau bukan seorang Bodhisattva. Guan Yu pergi berperang dengan tujuan dan motivasi yang mulia, maka dari itu beliau memperoleh buah karma kebajikan sehingga dapat berjodoh dengan Buddha Dharma, menjadi pelindung Dharma dan nama-Nya dikenal dan dihormati berjuta-juta orang di seantero negeri selama berabad-abad lamanya. Walaupun sebelumnya beliau terlahir di alam preta karena bagaimanapun juga karma buruk membunuh itu tetap ada, tetapi kebajikan yang ditanamnya jauh lebih besar sehingga beliau mampu membangkitkan batin Bodhi dan menjadi Dewa Pelindung Dharma. Namun di atas semua itu, ajaran Buddha tidaklah pernah membenarkan perang dalam bentuk apapun juga dan seperti yang beliau ajarkan kepada Sinha, bahwa perdamaian dan kemenangan sejati.


GUAN YU ( KWAN KONG ) / SANGHARAMA BODHISATTVA

Awal Mula Sebagai Pelindung Dharma  ( Dharmapala ).



Kisah berikut ini terjadi beberapa ratus tahun setelah gugurnya Guan Yu. Berdasarkan catatan sejarah Buddhis - Fozhu Tongji (佛祖統紀 - Taisho Tripitaka 2053), pada awal bulan 12 Imlek tahun 592 M, (Dinasti Sui, era Kai Huang ke- 12), Pendiri Aliran Tian Tai Tiongkok – Master Zhi Yi (智顗), yang juga dikenal dengan sebutan Master Zhizhe (智者) tiba di sekitar Gunung Yuquan di Dangyang, Jingzhou. Melihat suasana pegunungan di wilayah itu sangat menawan maka bermaksud membangun sebuah vihara untuk membabarkan Dharma di tempat itu. Di situ ada sebuah telaga besar, dari telaga itu terpisah seratus langkah lebih ada sebuah pohon besar yang sangat rindang, Zhi Yi kemudian bermeditasi di bawah pohon itu. Pada suatu hari, langit tiba-tiba menjadi gelap, cuaca berubah, di empat penjuru tertampak para makhluk gaib. Saat itulah muncul seekor ular raksasa ganas yang panjangnya sepuluh zhang lebih (1 zhang sekitar 3,33 meter). Tertampak berbagai wujud hantu dan siluman dengan bermacam senjata seperti golok, pedang dan panah yang jatuh dari langit bagaikan air hujan. Penampakan ini berlangsung terus selama 7 hari, namun Zhi Yi tidak tergoyahkan. Selepas hari ke-7, Zhi Yi berucap, “Yang kalian lakukan ini adalah karma buruk yang menyeret pada proses kelahiran dan kematian. Serakah pada buah karma baik duniawi yang tersisa, pun tidak menyesali apa yang kalian perbuat.” Begitu ucapan ini berakhir, segala penampakan menyeramkan itu hilang lenyap. Cuaca kembali menjadi cerah, bulan terlihat jelas sekali. 

Saat itu muncul dua orang lelaki yang tampak berwibawa. Yang lebih tua ber- janggut lebat, sedang yang lebih muda mengenakan topi dan berwajah rupawan. Lelaki yang lebih tua maju ke hadapan Zhi Yi dan berucap, “Saya adalah Guan Yu. Oleh karena situasi era akhir Dinasti Han sangat kacau, saya lalu ingin memulihkan silsilah kerajaan, namun apa daya kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan yang saya harapkan. Setelah meninggal saya menjadi raja gunung ini. Yang Arya, dengan tujuan apakah Anda datang ke sini?” Zhi Yi menjawab, “Saya berharap dapat membangun vihara membabarkan Dharma di tempat ini.” Guan Yu menjawab, “Mohon Yang Arya dapat memaafkan perbuatan bodoh saya sebelumnya dan berwelas asih pada kami. Tidak jauh dari sini ada sebuah gunung yang berbentuk perahu terbalik, tanahnya dalam dan tebal. Saya dan putra saya, Guan Ping, akan membangun vihara di sana untuk melindungi Buddha Dharma. Mohon Anda terus melanjutkan meditasi dengan tenang, 7 hari kemudian vihara akan rampung.”

Master Zhi Yi kemudian kembali bermeditasi, 7 hari kemudian menuju ke tempat yang disebutkan Guan Yu. Ternyata tempat yang sebelumnya merupakan telaga yang sangat dalam telah menjadi rata dan terlihat sebuah vihara yang megah dan menawan. Vihara itu kemudian diberi nama Vihara Yuquan (玉泉寺). Suatu hari Guan Yu muncul di hadapan Master Zhi Yi dan berkata, “Saya hari ini mendengar Dharma tentang metode meninggalkan kehidupan duniawi, sebab itu berikrar ingin membersihkan
batin, menerima Sila dan selamanya menjalankan Jalan Bodhi.”

Master Zhi Yi kemudian membangun sebuah kuil untuk Guan Yu di sebelah barat laut Vihara. Sebuah batu ukiran yang bertajuk tahun 820 M di Vihara Yuquan mengisahkan tentang pertemuan antara Guan Yu dan Zhi Yi tersebut. Di dinding kuil yang didirikan Zhi Yi untuk Guan Yu, tertulis syair berpasangan: “ Wajah merah  dengan hati merah, menunggang kuda kelinci merah mengejar angin, sewaktu melesat tidak melupakan Kaisar Merah. Dengan pelita hijau membaca kitab sejarah, bersenjatakan golok bulan sabit naga hijau, di tempat yang paling tersembunyi tidak menyalahi langit biru.”

Syair berpasangan ini memuji keperkasaan dan kesetiaan Guan Yu, ini bisa kita ketahui dari maknanya yang adalah sebagai berikut: Berparas merah lebam dan berjiwa setia (yang disimbolkan sebagai berhati merah), menunggang kuda perkasa berbulu merah berkepala seperti kelinci yang larinya secepat angin, ketika melesat di atas pelana kudanya ke segenap penjuru tidak lupa bahwa dirinya adalah jendral Kaisar Han, Di bawah sorotan pelita minyak berwarna hijau membaca kitab sejarah yang terukir di batangan bambu hijau, membawa golok bulan sabit naga hijau, di dalam benak sanubarinya yang terdalam tidak ada perbuatan tercela yang melanggar Langit. Sebuah syair yang sangat indah yang melukiskan paras wajah, kuda, senjata, kesetiaan, kegemaran hingga moralitas Guan Yu. Kisah serupa juga tercatat dalam dua kitab yang lain. Salah satunya adalah Chongxiu Yuquanshan Guanmiao Ji (重修玉泉山 关庙记 – Catatan Pemugaran Kuil Guan Yu Gunung Yuquan) yang ditulis oleh Dong Ting (董侹) semasa Dinasti Tang pada tahun 820. Dari catatan ini bisa diketahui adanya dua hal, yakni:
menjelaskan lokasi Kuil Guan Yu yang terletak 300 langkah di arah barat laut Vihara Yuquan.
mencatat peristiwa perjumpaan Master Zhi Yi dengan Guan Yu.

Kitab satunya lagi adalah Guandizhi Lingyi Jian Yuquan edisi Qing Qianlong (清乾隆版 《關帝志•靈異•建玉泉 – Catatan Guan Di, Pengalaman Gaib, Mendirikan Yuquan, edisi Qian Long Dinasti Qing) yang menuliskan: Tahun Suikaihuang 12 (592), di Dangyang Zhi Zhe dari Tiantai pada malam hari bermimpi Guan Gong menunjukkan kegaiban, berjanji “ Saya seharusnya menyumbangkan tenaga mendirikan sebuah vihara melindungi Buddha Dharma”, lalu mempertunjukkan kekuatan luar biasa mendirikan Vihara Yuquan, Guan Gong menerima Panca Sila, kemudian menjadi Dewa Pelindung vihara ini.

Selain kisah di atas, ada satu versi lain tentang kisah bagaimana Guan Yu menjadi seorang pelindung agama Buddha. Dikatakan bahwa pada suatu malam Guan Yu menemui Bhiksu Zhi Kai (智 鎧), murid dari Tiantai Master Zhi Yi, dan menerima Trisarana dari Bhiksu Zhi Kai. Kemudian Bhiksu Zhi Kai melaporkan perjumpaan dengan Guan Yu tersebut kepada Yang Guang, Pangeran Jin (yang kelak akan dikenal sebagai Kaisar Sui Yang Di - 隋煬帝). Pangeran Yang Guang memberikan Guan Yu gelar “Bodhisattva Sangharama”. Itulah asal muasal dari mana gelar Sangharama diberikan kepada Guan Yu.

Pemujaan Guan Gong mulai meluas di kalangan Taoisme pada abad ke-12 M. Menurut sejarawan Boris Riftin dan Barend J. Ter Haar, pemujaan Guan Yu di kalangan Buddhis mengawali pemujaan religius Guan Yu di Tiongkok. Bahkan di dinding kuil Guan Miao di Vihara Yuquan terdapat tulisan “Tian Xia Di Yi Guan Miao” (天下第一關廟), yang berarti Kuil pertama Guan Yu di Tiongkok. “Kuil pertama yang ditujukan pada Guan Yu adalah di vihara Yuquan di provinsi Dangyang. Hubei. Kuil (Guan Miao) ini didirikan pada tahun 713 M dan melekat pada vihara Buddhis di Gunung Yuquan. Peran Guan Yu sebagai dewa pelindung dan vihara - vihara, yang dipelopori oleh para Buddhis, menjadi meluas pada abad ke-9 M. Tidak membutuhkan waktu lama bagi kuil-kuil Taois untuk menjadikannya sebagai dewa pelindung dan pada masa Dinasti Song (960-1279) pemujaan Taois atas Guan Yu menjadikannya sebagai fi gur dewa pelindung. Di Xiezhou di Shanxi, di mana Guan Yu lahir, sebuah kuil Taois didirkan untuk Guan Yu di Danau Garam pada masa Dinasti Song”.


Dalam versi lainnya, seperti dalam Catatan Kisah Tiga Negara (San Guo Yan Yi - 三國演義), Guan Yu muncul di hadapan Bhiksu Pu Jing (普淨) di malam saat gugur karena dipenggal oleh Raja Wu dari pihak Sun Quan. Tubuhnya dikubur di dekat Gunung Yuquan yaitu di Jingmenzhou. Di sela-sela kegalauan atas kehilangan kepala, raga halus (gandharva) Guan Yu bergentayangan mencari kembali kepalanya, “Kembalikan kepalaku”. Bhiksu Pu Jing dengan kekuatan batinnya melihat Guan Yu turun dari angkasa menunggang kuda Sambil menggenggam golok besar Naga Hijau, bersama dengan 2 pria, Guan Ping dan Zhou Cang. 

Semasa hidupnya saat dalam pelarian dari kubu Cao Cao, Guan Yu pernah ditolong oleh Pu Jing di Vihara Zhen-guo. Lalu Bhiksu Pu Jing memukul pelana kuda dengan kebutan cambuknya seraya berkata, “Di mana Yun Chang?” Seketika itu juga Guan Yu tersadarkan. Dengan beranjali, Guan Yu bertanya, “Siapakah anda?” Saya ingin mengetahui nama anda.” Sang bhiksu menjawab, “Bhiksu tua ini dikenal dengan nama Pu Jing.” “Kita telah bertemu sebelumnya di Vihara Zhenguo, tuanku. Apakah anda lupa?” Guan Yu menjawabnya, “Rasa terima kasih atas bantuan yang anda berikan kepada saya tetap ada dalam ingatan saya. Sebuah kemalangan telah menimpa saya.” Guan Yu kemudian memohon petunjuk untuk dapat terbebas dari kegelapan pengembaraan batin.

Pu Jing memberi nasehat, “Dulu salah atau sekarang benar tak perlu dipersoalkan lagi, karena terjadi pada saat sekarang tentunya ada sebab pada masa lalu.” Pu Jing lalu melanjutkan, “Jendral, Anda hari ini dibunuh oleh Lu Meng, hati Anda tidak bisa menerima hal ini, namun Anda pernah memenggal kepala enam jendral penjaga lima perbatasan serta banyak lagi lainnya, kepada siapa mereka ini meminta kembali kepala mereka?” Kata-kata Pu Jing itu terasa sangat menyentak.

Seperti puisi yang ditulis oleh Mahaguru C’han Xu Yun (1840 -1959): “Saya menanti mereka yang juga berikrar untuk mendaki Bodhi. Mengenang Guan Zhangmiu (Guan Gong) di puncak Yuquan. Mencapai Realita Pamungkas setelah mendengar sepatah dua patah kata.” Setelah tersadarkan dari kegalauannya, Guan Yu memohon untuk dapat menerima Trisarana dan  Panca Sila. Sejak itu Guan Yu sering muncul melindungi masyarakat di sekitar Gunung Yuquan. Sebagai rasa terima kasih kepada Guan Yu, para penduduk membangun kuil di puncak Gunung Yuquan. 

Awal mula jodoh karma antara Bhiksu Pu Jing dengan Guan Yu, diceritakan dalam satu legenda. Alkisah kelahiran lampau Guan Yu adalah raja naga yang dengan welas asih membantu rakyat yang mengalami bencana kekeringan dengan menurunkan hujan. Namun ia melakukannya tanpa seizin raja Sakra Devanam Indra, lantas ia dipenggal sebagai hukumannya. Setelah sang raja naga meninggal, Bhiksu Pu Jing yang menemukan jasadnya membantu membacakan doa-doa di hadapan jasadnya dan akhirnya raja naga tersebut terlahir kembali menjadi Guan Yu. Gubuk rumput tempat tinggal Pu Jing kemudian dibangun menjadi sebuah vihara yang kelak bernama Vihara Yuquan. Kemudian pada abad ke-6, Zhi Yi berniat membangun kembali vihara di lokasi tersebut dengan nama Vihara Yuquan. Dalam pembangunan kembali ini dikisahkan Zhi Yi mendapat bantuan dari Guan Yu, beserta pihak kerajaan seperti dari Pangeran Yang Guang dan ayahnya, Raja Sui Wendi yang memegang pemerintahan pada masa itu. Vihara Yuquan ini di dalam kompleksnya terdapat kuil Guan Miao (kuil untuk Guan Yu). Ini adalah salah satu tempat pemujaan Guan Yu yang tertua, juga merupakan vihara tertua di Dangyang. Tempat penampakan raga halus Guan Yu ditandai dengan sebatang pilar batu yang bertuliskan: “Di sini tempat Guan Yun Chang dari Dinasti Han menampakkan diri.” Pilar batu itu adalah hadiah dari Kaisar Wan Li masa Dinasti Ming dan masih bisa dilihat sampai sekarang.

Penampakan Guan Yu juga bisa ditemukan dalam Lidai Shenxian Tongjian (歷代神仙通 鑒 Pembuktian Bersama Dewa-Dewa Berbagai Dinasti) karya Xu Dao. Dalam buku yang disebut juga Sanjiao Tongyuan Lu (三教同源 錄 – Catatan Tri Dharma Satu Sumber) ini disebutkan sebagai berikut:
Shen Xiu (神秀 - kakak seperguruan Patriarch Ch’an ke-6, Hui Neng 惠 能), pada tahun 676-679 semasa Dinasti Tang tiba di Vihara Yuquan dan ingin mendirikan tempat pembabaran Dharma. Penduduk sekitar sangat memuja dan menghormati Guan Gong. Shen Xiu ingin merobohkan Kuil Guan Yu, tiba-tiba gumpalan awan hitam dari empat penjuru berkumpul di tempat itu, terlihat Guan Yu membawa golok dan menunggang kuda. Shen Xiu mendongakkan kepala dan bertanya, lalu Guan Yu dengan terperinci menjelaskan peristiwa sebelumnya. Setelah itu Shen Xiu segera mendirikan vihara dan menjadikan Guan Yu sebagai Pelindung Vihara (Sangharama). Sejak itulah kisah ini menyebar ke setiap vihara. Tentang ucapan “Guan Yu dengan terperinci menjelaskan peristiwa sebelumnya”, tidak ada penjelasan lebih lanjut, ada kemungkinan itu merujuk pada kisah perjumpaan Guan Yu dengan Master Zhi Yi. Dalam Sutra Saptabuddha Ashtabodhisattva Maha Dharani Sutra (Sutra tentang Mantra Sakti Mahadharani yang dibabarkan 7 Buddha dan 8 Bodhisattva) tercatat bahwa ada 18 Sangharama (Qielan Shen) sebagai pelindung lingkungan vihara, yaitu: Mei Yin, Fan Yin, Tian Gu, Tan Miao, Tan Mei, Mo Miao, Lei Yin, Shi Zi, Miao Tan, Fan Xiang, Ren Yin, Fo Nu, Song De, Guang Mu, Miao Yan, Che Ting, Che Shi, dan Bian Shi.

Guan Yu sendiri bukanlah sosok yang tercatat dalam Sutra Mahayana sebagai Sangharama.  Sangharama sendiri mengandung pengertian sebagai tempat tinggal anggota Sangha, atau lebih umum dikenal sebagai vihara. Secara etimologi, istilah Sangharama telah dikenal sejak masa kehidupan Buddha. Selain 18 dewa Sangharama yang telah disebutkan di atas, dua tokoh yang dianggap sebagai pelindung utama Sangharama adalah Anathapindika dan Pangeran Jeta, penyokong Vihara  Jetavanarama pada masa kehidupan Buddha.

Secara kualitatif, Guan Yu memiliki pengabdian yang setara dengan para Pelindung Sangharama, pun karena memiliki komitmen yang besar untuk melindungi lingkungan vihara, maka tidaklah mengherankan bila kemudian diapresiasi secara khusus oleh Mahayana Tiongkok sebagai Bodhisattva Sangharama, ada juga yang menyebut sebagai Bodhisattva Satyadharma Kalama. Pada tahun 1081 M, tokoh politik Song Utara dan umat Buddha bernama Zhang Shangying (張商英) menyebut Guan Yu sebagai Pelindung Dharma. Di kalangan Mahayana Tiongkok, Guan Yu sering ditampilkan berdiri berpasangan dengan Dharmapala Veda (Wei tuo Pusa) yang juga merupakan Pelindung Dharma. Keduanya mendampingi rupang Buddha atau Avalokitesvara.


GUAN YU ( KWAN KONG ) , SANGHARAMA BODHISATTVA / SATYAKALAMA BODHISATTVA ( PELINDUNG DHARMA / DHARMAPALA )

SEJARAH SINGKAT " GUAN YU ".

Sebagian besar orang bisa saja tidak mengenal nama Bodhisattva Sangharama, tetapi begitu melihat citra rupang seorang jendral gagah perkasa dengan jenggot panjang indah bergemulai dan paras muka merah lebam berkilau, maka mereka pasti akan langsung tahu. Ya, Bodhisattva Sangharama adalah Guan Yu alias Guan Gong (Kwan Kong).

Siapa tidak tahu Guan Yu? Banyak orang mengetahuinya dari cerita Sam Kok (Kisah Tiga Negara) dan game Dynasty Warrior. Namun, tahukah kita bagaimana latar belakang Guan Yu hingga dinobatkan sebagai Dharmapala (Pelindung Dharma) dalam tradisi Mahayana Tiongkok? Guan Yu 關羽 (160 - 219 M), alias Yun Chang (雲長), lahir pada tanggal 24 bulan 6 Imlek, adalah penduduk asal Jiezhou, Hedong (sekarang Yuncheng, Propinsi Shanxi). Sejak kecil dididik dalam bidang kesusastraan dan sejarah. Beliau sangat menggemari kitab sejarah Chunqiu (Musim Semi dan Gugur) dan Zuozhuan (kitab sejarah karya Zuo Qiuming). Guan Yu memiliki 3 anak: Guan Ping (關平), Guan Xing (關興) dan Guan Suo (関索).

Salah satu watak istimewa yang dimiliki Guan Yu adalah jiwa setia dan ksatria, beliau berani membela yang lemah dan tertindas. Tahun 184, Guan Yu melarikan diri dari kampung halamannya setelah membunuh orang demi membela kaum lemah. Beliau menuju wilayah Zuo, kemudian berkenalan dengan Liu Bei (劉備) dan Zhang Fei(張 飛). Liu Bei adalah anggota keluarga Kaisar Kerajaan Han yang sedang merekrut prajurit untuk membasmi pemberontakan Serban Kuning. Karena memiliki cita-cita yang sama, maka mereka bertiga menjalin tali persaudaraan yang dikenal dengan sebutan Tiga Pertalian Setia di Taman Bunga Persik. Semenjak itu, mereka bertiga berkomitmen sehidup semati mem perjuangkan cita-cita penegakan hukum demi membersihkan Kerajaan Han dari gerogotan korupsi dan pengkhianatan. Namun Kerajaan Han yang telah berdiri kokoh selama 400 tahun itu akhirnya terpecah menjadi 3 kerajaan, yang mana Liu Bei sebagai salah satu anggota keluarga kerajaan menyatakan diri sebagai penerus Dinasti Han. Era inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan San Guo (Sam Kok - Tiga Negara). Perjuangan keras tiga bersaudara Taman Bunga Persik untuk mempersatukan Tiongkok tidak berhasil. Begitulah hingga usia 60 tahun, Guan Yu bersama putranya, Guan Ping, akhirnya gugur dalam pertempuran. Meskipun demikian, rasa hormat terhadap Guan Yu tidak serta merta lenyap seiring dengan gugurnya pahlawan berparas merah lebam ini.

Keberanian, kesetiaan dan jiwa ksatria beliau menjadi kisah harum dalam masyarakat Tionghoa selama turun temurun. Banyak tokoh dalam Kisah Tiga Negara yang di kemudian hari menjadi dewa pujaan bangsa Tionghoa. Yang lebih banyak dijumpai adalah kuil pemujaan bagi Guan Yu, Zhang Fei dan Zhu Geliang. Khusus untuk Guan Yu, salah satu dari lima jendral utama Liu Bei, sejak Dinasti Song dan Yuan, pemujaan terhadap beliau berkembang sangat pesat, bahkan pada awal Dinasti Qing telah menyebar hampir ke seluruh pelosok Tiongkok, sehingga tak heran kalau kaum wanita dan anak-anak tidak ada yang tidak tahu akan Dewa Perang satu ini. 

Tercatat semenjak tahun 1102 semasa kekuasaan Kaisar Huizong dari Dinasti Bei Song (Song Utara), kemudian Dinasti Nan Song (Song Selatan), Dinasti Yuan, Dinasti Ming hingga Dinasti Qing tahun 1828, beberapa kaisar menganugerahkan gelar kehormatan bagi Guan Yu. Sebutan kehormatan Sanxi Fuzi atau Sanxi Guan Fuzi (山西夫子 – Suciwan dari Shanxi) adalah diberikan oleh Kaisar Qian Long pada tahun 1736. Sebutan Fuzi hanya dimiliki oleh dua orang, salah satunya dan yang pertama adalah Konfusius (Konghucu) yang disebut sebagai Shandong Fuzi (山东夫子– Suciwan dari Shandong). Dua Fuzi ini seakan menjelaskan filosofi bangsa Tionghoa yang menekankan pentingnya perpaduan Wen (文 – sastra, sipil) dengan Wu (武 – silat, militer), yang mana dalam hal Dua Suciwan Fuzi ini Konfusius adalah Wen, sedang Guan Yu adalah Wu. Selain itu, dalam kalangan spiritual, dikenal pula kisah perjodohan Guan Yu dengan ajaran Buddha, sebuah ajaran kebenaran sejati yang menembus kepekatan misteri dimensi ruang dan waktu. 

Guan Yu menjadi siswa Buddha setelah beliau gugur.

Nama Lengkap : Guan Yunchang
Anak : Guan Ping (anak angkat, A.D. 182), Guan Xing (A.D. 193), Guan Suo (A.D. 194)
Cucu : Guan Tong (anak dari Guan Xing, A.D. 224), Guan Yi (anak dari Guan Xing, A.D. 226)






Sunday, 24 November 2013

WEI TUO PHU SA ( SKANDA BODHISATVA )

Wei Tuo Phu Sa (Skanda Bodhisattva). 



Wei Tuo adalah Bodhisattva pelindung Dharma yang biasanya dapat kita jumpai arcanya di samping Buddha Sakyamuni atau di samping/membelakangi Maitreya Bodhisattva. Bodhisattva ini digambarkan dengan pakaian perang lengkap dan tangannya memegang gada penakluk iblis, dengan wajah tampan dan mengenakan seragam dewa perang dengan memegang sebilah ruyung yaitu sejenis pedang yang berjeruji dan mengenakan selendang dewata. Wei Tuo sering juga ditampilkan sebagai malaikat pintu ( MEN SIEN ) yang menjaga vihara-vihara atau kelenteng-kelenteng Buddha, berdampingan dengan Cie Lan yang bermuka hitam dan berjenggot, memegang kampak. Kadang-kadang Wei Tuo juga dipuja tersendiri.

Hari lahirnya diperingati pada tanggal 17 bulan 3 Imlek. Cie Lan kadang-kadang ditampilkan sebagai Kuan Kong yang juga dihormati dikalangan Buddhis dan disebut Fo Fak (Bodhisattva Pelindung). Wei Tuo adalah komandan dari 31 jenderal langit dibawah She Ta Tien Wang/raja langit. Beliau bergelar Fo Fak Phu Sa (Bodhisattva pelindung ajaran Buddha), pelindung vihara-vihara, dan pelindung kitab suci ajaran Buddha. Di vihara-vihara Mahayana arca Wei Tuo di tempatkan tersendiri menghadap ke ruang utama vihara (Ta Siung Pau Tien). 

Menurut buku-buku ajaran Buddha, Wei Tuo adalah putra seorang raja langit (Tien Wang) yang karena kebajikannya, Sakyamuni Buddha mengangkat putranya sebagai pelindung Dharma ketika menaiki nirvana. Sebab itu ia berkewajiban melindungi anggota-anggota Sangha apabila mereka mengalami ganguan mara, si penggoda. Dan apabila terjadi perselisihan antara berbagai sekte. Wei Tuo menjalankan tugasnya secara damai. Dalam bahasa sansekerta, Wei Tuo disebut Skandha. Arcanya sering ditemukan di candi-candi kecil yang terletak di tikungan jalan, untuk melindungi si pemakai dari gangguan iblis. 

Wei Tuo adalah satu-satunya dewa yang mendapat gelar "Bodhisattva (phu sa)". Ini disebabkan karena beliau diramalkan di masa yang akan datang, akan diangkat menjadi Buddha  Rucika, yang merupakan Buddha terakhir dari ribuan Buddha jaman ini. 
Dalam kisah puteri Miao Shan, beliau adalah seorang panglima tertinggi (Goan Swe) yang melindungi puteri Miao Shan dalam merealisasi pembebasan. Namun, dalam salah satu tulisan suhu yang saya pernah baca, disebutkan bahwa kisah Miao Shan hanyalah mitos, Avalokitesvara yang sesungguhnya bukanlah puteri Miao Shan.

Dalam kisah lain, beliau adalah pangeran yang menjadi pelindung Dharma, beliau mengalahkan para siluman yang berusaha mencuri relik Sakyamuni Buddha.

Dalam kisah lainnya lagi, beliau adalah Goan-Swe dari 34 Jenderal Langit (maaf jika salah!), beliau merupakan salah satu dari 24 Pengawal Langit (maaf jika salah) di bawah 4 Raja Langit. Jika kita melihat statusnya sebagai Pengawal Langit maka beliau adalah seorang Dewa (masih belum terbebas dari 6 alam samsara) bukan seorang Bodhisattva.
Namun kita harus ingat, banyak para dewa yang telah menjadi pelindung Dharma (Dharmapala) setelah mereka berikrar untuk menapaki jalur bodhisattva sehingga mereka telah mencapai, paling tidak adalah Bodhisattva Bhumi. Dalam Vajrayana, Bodhisattva mulai dari Bhumi disebut mereka yang mempunyai mata kebijaksanaan. Setelah mencapai Bhumi, progress mereka tak akan mundur lagi sampai mencapai Buddha yang sempurna. Mereka banyak melakukan kebajikan. Jika kita berjodoh dengan mereka maka kita sering mendapat pertolongan dari mereka. Bodhisattva Bhumi dapat melakukan 100 emanasi (100 perwujudan di tempat/alam yang berbeda tetapi pada waktu yang sama), mereka juga dapat melihat Buddha.
Di altar kita bila telah mempersemayamkan Dewa Kwan kong pasti ada pasangannya yaitu Dewa Wei tuo.

Di samping Bodhisattva dan Arahat, dalam agama Buddha dikenal banyak sekali makhluk surgawi yang mengemban misi mulia melindungi Buddha Dharma. Mereka secara tulus berikrar menjadi Dharmapala (Pelindung Dharma) dan pelindung praktisi Buddha Dharma yang tekun. 

Di antara sekian banyak dewa itu terdapat satu sosok Dharmapala yang sangat menonjol. Dalam tradisi Mahayana Tiongkok, dewa yang berasal dari tradisi India kuno ini sama terkenalnya dengan Dewa Kwan Kong (Guan Yu) yang juga merupakan salah satu Dharmapala.

Bila mengunjungi vihara Mahayana Tiongkok, saat melangkahkan kaki memasuki bangunan pertama vihara, figur pertama yang berhadapan dengan kita adalah Bodhisattva Maitreya dengan deretan Empat Maharaja Dewa dari Surga Caturmaharajika di kedua sisi. Masuk lagi ke dalam, ada satu figur yang membelakangi Bodhisattva Maitreya, dengan posisi berdiri sambil memegang tongkat Vajra. Seorang jendral perang berpenampilan gagah perkasa, namun bermimik muka bak seorang putra remaja. Figur ini menghadap ke dalam vihara berhadapan dengan rupang Buddha. Dialah Dharmapala Veda (Skanda), jendral surgawi yang berikrar sebagai Pelindung Dharma dan Sangha. Ada pula vihara yang menempatkan rupang Dharmapala Veda ini berpasangan dengan rupang Dewa Kwan Kong.

JENDRAL VEDA,

Veda ini sebenarnya adalah salah satu dari delapan jendral surgawi di bawah pimpinan Raja Dewa Virdhaka – salah satu Empat Maharaja Dewa Surga Caturmaharajika dari penjuru selatan. Setiap Empat Maharaja Dewa di empat penjuru Surga Caturmaharajika memiliki 8 jendral surgawi. Dari 32 jendral surgawi ini, Dharmapala Veda adalah panglima tertinggi. Meskipun merupakan makhluk alam Surga Karmadhatu (alam nafsu), Jendral Veda telah mempraktikkan brahmacari (perilaku suci) sehingga paras mukanya bagaikan seorang remaja dan tidak ternoda oleh kenikmatan alam surgawi.

Jendral Veda disebut juga dengan nama Dewa Skanda, sedang Buddhisme Tiongkok menyebutnya sebagai Bodhisattva Weituo. Istilah Weituo merupakan transliterasi dari kata Veda. Para umat Mahayana Tiongkok meyakini Gunung Tianmu (Tianmushan) di Propinsi Zhejiang, Tiongkok, sebagai tempat Dharmapala Veda membabarkan Dharma.

Adapun awal munculnya pemujaan Jendral Veda di vihara-vihara Tiongkok sangat erat hubungannya dengan kisah nyata dalam Daoxuan Lushi Gantonglu (Catatan Kontak Batin Bhiksu Lu Daoxuan) yang ditulis oleh Master Daoxuan, pendiri mazhab Vinaya di Tiongkok. Saat itu Bhiksu Daoxuan banyak berjasa dalam penyusunan literatur Vinaya serta menjalani disiplin Vinaya yang ketat. Moralitas kebajikan Daoxuan menggetarkan batin makhluk alam dewa sehingga seorang dewa dari Surga Caturmaharika datang mengunjungi beliau.
Adapun kontak batin dengan makhluk alam dewa secara perlahan-lahan mulai muncul setelah beliau menyelesaikan kitab “Xu Gaoseng Zhuan” (Lanjutan Riwayat Bhiksu Mulia) dan “Guang Hong Ming Ji” (Kumpulan Perluasan Pembabaran Ajaran Terang). 

Para dewa mengetahui bahwa usia kehidupan Daoxuan akan segera berakhir, maka satu demi satu berdatangan demi melengkapi berbagai topik vinaya yang belum sempat beliau selesaikan. Dewa pertama yang datang berkunjung memperkenalkan diri sebagai dewa yang mengemban tugas melindungi Buddha Dharma dan merupakan utusan dari Jendral Veda. Dewa tersebut berkata, “Jendral Veda sangat tekun dalam melindungi Buddha Dharma di 3 benua. Bila terdapat perselisihan yang riskan di ruang lingkup agama Buddha, maka Jendral Veda akan memberi nasehat untuk mendamaikan perselisihan itu. Oleh karena itu, beliau sangat sibuk hingga belum sempat datang berkunjung, sebab itu mengutus kami terlebih dahulu untuk menyampaikan hormat, namun tidak lama kemudian beliau pasti akan datang.”

Dewa kedua yang datang berkunjung memperkenalkan diri menyatakan telah mengikuti Jendral Veda sejak masa Buddha Kasyapa. Dewa ini berkata bahwa Jendral Veda telah menjalani kehidupan suci dan tidak melekat pada kenikmatan surgawi. Beliau silih berganti mengunjungi 4 benua (Jambudwipa di penjuru selatan, Purvavideha di penjuru timur, Aparagodaniya di penjuru barat dan Uttarakuru di penjuru utara) untuk memberi perlindungan kepada para bhiksu.

Berbeda dengan kondisi di Uttarakuru, ajaran Buddha hanya ada di tiga benua lainnya, namun meski demikian anggota Sangha di tiga benua ini kerap melakukan pelanggaran dan bertindak tidak sesuai dengan Dharma. Karena Buddha pernah berpesan agar selalu melindungi Buddha Dharma, maka para dewa pun tidak berani bersikap lalai dalam menjalankan misi mulia ini. Oleh karena itu, meskipun para bhiksu banyak melakukan pelanggaran sila, namun bila mereka melakukan satu kebajikan saja, maka pelanggaran-pelanggaran tersebut tidak akan dipersoalkan [oleh para dewa]. Meskipun para dewa dapat merasakan aroma busuk alam manusia menebar sejauh 400.000 mil hingga ke atas langit, namun karena pesan dari Buddha pulalah maka para dewa tetap berkenan mengunjungi alam manusia untuk memberi perlindungan. Lantas, Jendral Veda adalah satu dari 32 jendral surgawi yang paling gigih dalam melindungi Buddha Dharma. Setiap ada iblis Mara yang mengganggu para bhiksu, maka beliau akan segera datang untuk melindungi dan menyadarkan sesuai dengan sikon yang tepat. Bila beliau menemui Empat Raja Dewa, maka Raja Dewa akan menyambut beliau dengan sikap berdiri sebagai tanda hormat atas kegigihannya.

Akhirnya Jendral Veda sendiri datang mengunjungi Daoxuan. Jendral Veda lalu bercerita tentang kemerosotan agama Buddha di tanah India, dan perkembangannya di wilayah Tiongkok. Menurut beliau, para bhiksu di Tiongkok kerap melanggar sila namun masih memiliki rasa bersalah dan melakukan penyesalan. Meski batin mereka sering melakukan pelanggaran, namun perilakunya masih berusaha menjaga Sila. Itu pula sebabnya Jendral Veda sering memberi pesan kepada para dharmapala lain bahwa asalkan terdapat satu kebajikan saja yang dilakukan oleh para bhiksu, maka lupakan saja seratus kesalahannya. Jika melihat ada yang melakukan pelanggaran, walau sampai meneteskan air mata (sedih, karena melihat pelanggaran yang dilakukan para bhiksu tersebut), tetap harus menjaga dan melindungi para pelanggar itu, agar tidak disesatkan oleh para iblis Mara hingga meninggalkan Buddhasasana.

Menurut Dharmapala Veda, pelanggaran Sila yang dilakukan oleh bhiksu di dunia kita ini (benua Jambudwipa) masih tidak seberapa dibandingkan dengan bhiksu di benua Aparagodaniya di penjuru barat. Di Aparagodaniya, pemimpin vihara sangat berkuasa dan otoriter, mereka sanggup memobilisasi bhiksu yang berjumlah puluhan juta orang, hingga raja pun tidak sanggup melawan mereka. Mereka menyembunyikan emas di bawah stupa, dan di dapur menumpuk kepala ikan bagaikan gunung tingginya. Usus kambing menggantung lebih banyak daripada yang ada di tempat penjagalan. Namun dalam kondisi seperti inipun Dharmapala Veda masih berusaha melindungi mereka agar tidak semakin disesatkan oleh Mara. Bayangkan, betapa besar belas kasih beliau kepada para anggota Sangha dan betapa tegarnya beliau menahan diri agar tidak terpancing amarah melihat perilaku buruk para bhiksu sebagai realisasi atas ikrar agung untuk selalu melindungi Buddhasasana.

Pentingnya Rasa Malu dan Menyesal.

Hal lain yang menarik tentang Dharmapala Veda adalah kisah pertolongan beliau kepada Bhiksu Miaofeng (tradisi Chan) pada masa dinasti Ming (abad 16). Miaofeng adalah seorang terpelajar, namun setelah menyadari bahwa ilmu pengetahuan duniawi tidak sanggup menjawab hakekat hidup secara tuntas, ia kemudian memutuskan untuk menjadi bhiksu.
Setelah menjadi bhiksu, Miaofeng berlatih dengan tekun. Namun setelah melewati satu masa, ia merasa masih belum mencapai kemajuan yang berarti. Salah satu kelemahannya adalah sering mengantuk bila sedang bermeditasi. Dengan menyadari kekurangannya ini, Miaofeng lalu bertekad untuk berlatih di tepi jurang dengan pertimbangan rasa takut untuk terjatuh ke dasar jurang akan membuatnya selalu terjaga.

Saat pertama bermeditasi, terlihat cukup berhasil, ia sanggup mempertahankan kesadarannya dalam jangka waktu yang cukup lama. Namun setelah melewati satu sesi waktu, akhirnya rasa kantuk menyerang dan benar saja dalam sekejap mata tubuhnya langsung terhempas ke dasar jurang. Ia tersentak, “Matilah aku sebelum mencapai keberhasilan!” Namun pada detik-detik yang menegangkan itu, tiba-tiba tubuhnya disanggah oleh sepasang tangan.
“Siapa yang menolongku?” 
Tidak terlihat sosok makhluk satu pun, hanya terdengar sebuah suara menjawab, “Wei tuo, sang Pelindung Dharma.” 
Miaofeng bertanya lebih lanjut, “Mengapa menolongku?” 
Weituo menjawab, “Siapapun yang menjadi praktisi sejati, aku akan melindunginya. Inilah ikrarku terhadap Buddha.” 
Mendengar jawaban ini, Miaofeng merasa sangat senang, lantas dengan rasa bangga bertanya, “Di dunia ini ada berapa banyak praktisi sejati sepertiku?”
Weituo menjawab, “Jumlahnya sebanyak pasir di Sungai Gangga. Karena melihat ketekunanmu, aku melindungimu. Tapi ternyata kamu malah menjadi sombong. Mulai sekarang, aku bersumpah tidak akan melindungimu lagi selama dua puluh kehidupan.”
Miaofeng yang awalnya begitu bangga disebut sebagai praktisi sejati, justru membuat Weituo kecewa. Semakin dipikirkan, Miaofeng semakin merasa malu dan bersalah, timbullah rasa penyesalan dalam dirinya. Ia lalu kembali ke tepi jurang untuk kembali bermeditasi dengan lebih tekun daripada sebelumnya. Sialnya, rasa kantuk masih saja datang menyerang. Ia terhempas untuk kedua kalinya. Kali ini dengan pasrah ia berkata dalam hati, “Tidak ada lagi yang menolongku kali ini.” Di tengah keputus-asaan ini, ternyata muncul lagi sepasang tangan yang sebelumnya pernah menolongnya.
“Bukankah selama dua puluh kehidupan tidak akan melindungiku lagi, mengapa sekarang kembali menolongku?” demikian tanya Miaofeng.
“Karena rasa bersalah dan penyesalan yang kau lakukan telah melampaui dua puluh kehidupan,” jawab Weituo.

Kisah Miaofeng ini mengajarkan kita bahwa rasa malu dan menyesal adalah sangat penting bagi praktisi Dharma, pun melukiskan betapa luhur dan konsistennya jiwa Weituo (Dharmapala Veda) dalam melaksanakan Jalan Bodhisattva sebagai Pelindung Dharma yang tidak memendam rasa kecewa ataupun mencampakkan praktisi yang berusaha memperbaiki diri.

Ikrar agung sebagai Pelindung Dharma sesungguhnya telah muncul sejak kalpa yang tak terhingga di masa lalu. Ikrar agung inilah yang menempatkan sang Jendral Surgawi ini sebagai Bodhisattva. Pada masa kalpa lalu yang tak terhingga, Veda merupakan salah satu dari seribu putra Raja Cakravartin yang bernama Fayi. Seribu putra raja ini kemudian dipastikan akan menjadi Buddha di era kalpa Bhadra, dengan Fayi sebagai calon Buddha yang keseribu. Sebagai Buddha terakhir di kalpa Bhadra.

Veda berikrar untuk selalu muncul dalam wujud sebagai pelindung Buddha Dharma. Sebagaimana diketahui, masa sekarang ini adalah masa kalpa Bhadra. Buddha pertama di era ini adalah Buddha Krakuchanda, selanjutnya adalah Buddha Kanakamuni, Buddha Kasyapa dan Buddha Sakyamuni. Inilah empat Buddha yang telah muncul di era kalpa Bhadra. Buddha ke-5 adalah Bodhisattva Maitreya, sedangkan Bodhisattva Veda adalah Buddha ke-1.000 dengan sebutan Buddha Rucika. Kata Rucika mengandung makna tangisan haru. Karena melindungi Dharma dan membantu para makhluk hidup mencapai pencerahan, Veda menangis haru dalam kesukacitaan, inilah makna nama Buddha Rucika.

Demikianlah keagungan Dharmapala Veda, Pelindung Dharma dan calon Buddha yang memiliki ikrar luhur. Sebagai siswa Buddha, kita sudah sepatutnya menjadikan Dharmapala Veda sebagai suri tauladan untuk selalu belajar dan berlatih dalam Dharma, agar Buddha Dharma dapat bertahan selamanya di dunia ini serta senantiasa hidup dalam batin setiap makhluk