TERPUJILAH PARA BUDDHA, PARA BHODHISATTVA MAHASATTVA, SERTA PARA ARYA NAN BIJAKSANA..._/\_ NAMO BUDDHAYA _/\_


Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.

W E L C O M E ( E H I P A S S I K O )
Showing posts with label 8 BODHISATTVA ( 8 POU SAT ). Show all posts
Showing posts with label 8 BODHISATTVA ( 8 POU SAT ). Show all posts

Wednesday, 4 December 2013

BODHISATTVA MAITREYA ( MILE PHU SA )


BODHISATTVA MAITREYA / METTEYA ,



Dalam agama Buddha diajarkan bahwa buddha merupakan sebuah gelar, sehingga Buddha bukanlah menunjuk kepada Buddha Sakyamuni saja. Buddha yang akan datang setelah Buddha Sakyamuni adalah Buddha Maitreya yang sekarang ini masih bergelar sebagai Bodhisattva (calon Buddha).

Maitreya bertempat tinggal di surga Tusita, yang merupakan tempat tinggal bagi para bodhisatva sebelum mencapai tingkat ke-buddha-an. Buddha Sakyamuni juga bertempat tinggal di sini sebelum terlahir sebagai Siddharta Gautama di dunia.

Metteya / Maitreya adalah Buddha masa depan yang sangat dinantikan dan belum dilahirkan. Selanjutnya Beliau akan dianggap sebagai Buddha ke 25 menurut tradisi Pali.

Lebih lanjut lagi, Beliau akan dihitung sebagai Buddha ke 5 dan yang terakhir di aeon sekarang yaitu Kappa Bhadda. Dipercayai bahwa Beliau akan dilahirkan saat kehidupan manusia diperpanjang sampai 84.000 tahun. Tempat kelahiranNya adalah Ketumati di masa pemerintahan Chakkavatti Samkha dimana dia sendiri akan menjadi pengikut Buddha dan melepaskan kehidupan duniawi.

Metteya akan dilahirkan di sebuah keluarga terpelajar yang terkenal dan namaNya adalah Ajita. Nama sukuNya juga Metteya. Nama ayahNya adalah Subrahma; dan ibuNya adalah Brahmawati. Beliau akan menikah dengan Chandamukhi dan akan mempunyai putra Brahmavaddhana. Beliau akan hidup di empat istana selama 8.000 tahun yaitu Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha dan Chandaka. Selanjutnya Beliau akan melepaskan keduniawian setelah melihat 4 tanda.

Yang akan menjadi para pengikutnya yang luar biasa adalah dua saudaraNya Isidatta dan Purana; Jatimitta dan Vijaya diantara pengikut pria; dan Suddhana, Sangha dan Visakhaa diantara pengikut wanita. Yang akan menjadi murid-murid utamaNya diantara para bhikkhu adalah Asoka dan Brahmadeva; dan diantara para bhikkhuni adalah Paduma dan Sumana. Siha akan menjadi pembantu pribadiNya. Beliau akan mencapai pencerahan di bawah pohon Naga.

Telah menjadi tradisi bahwa Buddha akan datang berdiam di dunia Dewa Tusita dengan nama Nath. Beliau sering digambarkan atau diukir dalam mahkota-mahkota dan permata-permata karena Beliau belum melepaskan kehidupan duniawi.

ASAL-USUL BODHISATTVA MAITREYA



Dahulu kala hidup seorang pemuda pertapa yang memiliki keluhuran budi pekerti. Wajahnya sangat rupawan, dia sengaja hidup sangat sederhana. Semenjak terlahir memiliki kesadaran ber-vegetarian. Bisa dikatakan asal usul pemuda tersebut dalam kehidupan sebelumya adalah seorang bodhisatva. Yang sengaja dilahirkan kembali kedunia untuk menyelamatkan umat manusia.

Suatu kali saat melakukan perjalanan ke suatu tempat. Pertapa muda tersebut terjebak dihutan yang sudah kering karena dampak kemarau yang berkepanjangan. Karena tidak menemukan buah-buahan dan sayuran, akhirnya si pertapa muda tergeletak lemas. 

Sambil menahan lapar selama 7 hari lamanya. Selama dihutan yang kering tersebut dia sangat tersiksa tergolek lemas. Siang hari tersiksa oleh terik matahari. Rasa dingin menusuk tulang dimalam harinya. Sambil merintih menahan perihnya perut akibat kelaparan dan kehausan.

Didekat tempat peristirahatan pertapa muda tersebut tinggalah ratu kelinci dan anaknya semata wayang. Ratu kelinci tersebut tergugah dengan ketulusan pertapa muda tersebut. Lalu mengatakan pada anaknya.
Ratu kelinci : "nak pertapa muda ini adalah titisan bodhisatva yang agung...dikehidupan kali ini mengemban misi untuk menyelamatkan kehidupan seluruh umat manusia (mahluk).....dia tidak boleh mati muda akibat kelaparan....." 
Anak kelici: "maksud ibunda apa"? 
Ratu kelinci :" ibu akan mengorbankan diri melompat diperapian ditempat pertapa itu beristirahat ....agar pertapa dapat makan tubuh ibu dan memiliki lagi tenaga untuk menyelamatkan umat manusia (mahluk)... Setidaknya pengorbanan ibu berguna untuk seluruh umat manusia (mahluk)...kamu jaga diri baik-baik karena ibu tidak dapat bersamamu dan menjagamu lagi...."

Singkat cerita setelah berpamitan Ratu Kelinci sengaja bunuh diri , melompat keperapian mempersembahkan tubuhnya untuk pertapa muda tersebut.... 
Lalu si anak kelinci berkata: "Ibunda melakukan pengorbanan yang amat luhur dan mulia untuk seluruh umat manusia (mahluk) , hal yang demikian agung mana boleh hanya ibunda yang melakukan... Saya juga wajib melakukannya... 

Lalu tidak lama kemudian anak kelinci pun menyusul Ratu Kelinci melompat dalam perapian. Percakapan mereka teryata didengar oleh pertapa muda tersebut. Lalu pertapa muda tersebut menangis dan berpikir. Tuhan mengapa didunia ini engkau membiarkan Ratu Kelinci dan anaknya yang mulia Bunuh diri melompat kedalam perapian, berkorban demi hamba yang hina ini. Hamba tidak pantas menerima persembahan ini...( Karena kesadarannya mempertahankan vegetariannya)... Lalu menyusul juga pertapa muda tersebut melompat keperapaian dan bunuh diri....

Saudara sedharma.... siapakah Ratu kelinci tersebut....? Dia adalah Sidharta Gautama pada satu kali kehidupan sebelumnya. Lalu siapakah anak kelinci tersebut...? Dia adalah pangeran Rahula , putra kandung semata wayang pangeran Sidharta Gautama.... Lalu siapakah pertapa muda tersebut...? Dia adalah reinkarnasi Buddha Maitreya... 

Semoga cerita ini menginspirasi kita semua untuk mempertahankan ikrar vegetarian kita sampai titik darah penghabisan.... Dalam menerobos dan menghadapi segala rintangan.


Tuesday, 3 December 2013

BODHISATTVA AKASAGARBHA ( XU KONG ZANG PHU SA )


AKASAGARBHA BODHISATTVA,


Akasagarbha Bodhisattva Mahasattva ( Xu Kong Zang ) memiliki Mahamaitrikaruna , mampu mengentaskan insan dari malapetaka dan kesukaran. Jika ada insan yang telah melanggar parajika dan harus terjerumus kedalam alam rendah, semua akar kebajikannya telah terbakar. Bagi mereka, Akasagarbha Bodhisattva Mahasattva adalah mentari yang menerangi gelapnya pandangan salah dari avidya dan Merupakan Guru Agung yang melenyapkan parajika. Mampu mencabut panah keraguan dan mampu memulihkan insan yang termasuk dalam golongan tidak mampu untuk mendalami Dharma dengan baik.

Kemudian, Maitreya Bodhisattva Mahasattva bertanya kepada Sang Buddha , “ Baghavan, Saya ingin menanyakan mengenai pelanggaran parajika . Bila ada insan yang melanggar dosa tersebut, akar kebajikannya akan terbakar , terjerumus kedalam alam rendah , tersingkir dari alam yang tenteram. Selamanya kehilangan kesempatan untuk menikmati kesenangan di alam surga. Namun kenapa Akasagarbha Bodhisattva Mahasattva, mampu menyucikan para insan yang demikian itu, supaya mereka dapat kembali menikmati berkah di surga ? ”


“Wahai putera yang berbudi, jika ada insan yang melanggar parajika, mematahkan akar kebajikan dan akan terjerumus ke neraka, tiada tempat berlindung dan telah dicampakkan oleh guru-guru, ketahuilah bahwa Akasagarbha Bodhisattva mampu mengentaskannya dan menuntunnya pada jalan sejati, menyingkirkan kilesha supaya terhindar dari alam rendah. Akasagarbha Bodhisattva merupakan tangga pembebasan menuju alam surga. Beliau mampu menyadarkan insan yang diliputi keserakahan , kebodohan, keraguan dan kekacauan dalam batinnya.” “Insan yang dipenuhi kebencian dan kegelapan batin, yang suka memfitnah tiada hukum karma, tidak takut terhadap buah karma yang akan datang, tanpa bosan selalu serakah dalam menginginkan segala sesuatu, suka iri dan dengki, tiap hari selalu melakukan sepuluh perbuatan jahat, Aksagarbha Bodhisattva Mahasattva mampu menyingkirkan dosa berat itu semua, bagaikan sebuah kendaraan besar mampu mengangkut dewa dan manusia pada jalan pembebasan .” “Wahai putera berbudi, oleh karena itulah para dewa dan manusia sepatutnya memberikan penghormatan dan pujana kepada Akasagarbha Bodhisattva Mahasattva.”

BODHISATTVA SARVANIVARANA VISHKAMBHIN



Bodhisattva Sarvanivarana Vishkambhin merupakan salah satu dari 8 Bodhisattva Agung , Bodhisattva Sarvanivarana Vishkambhin sering digambarkan dengan tubuh berwarna biru atau berwarna putih . Sarvanivarana Vishkambhin menampilkan Bhumisparsa Mudra dengan tangan kiri dan Santikaran Mudra dengan tangan kanannya ( ibu jari dan jari telunjuk yang bergabung untuk membentuk lingkaran ). Sarvanivarana Vishkambhin memegang pedang dengan tangan kanannya dan memegang spanduk yang ditandai dengan Visvavajra di tangan kirinya atau memegang Bunga teratai ( lotus ) dengan bulan bercahaya diatas nya .


Sarvanivaranaviskambhin adalah salah satu dari Delapan Bodhisattva besar. Kata sarvanivarana berarti Penghapus semua hambatan atau rintangan.

Nivarana berarti rintangan. Ada lima rintangan sebagai berikut:

  • Keinginan yang kuat .
  • Kebencian .
  • Kemalasan .
  • Arogansi dan kecurigaan .
  • Keraguan atas Triratna .




BODHISATTVA KSITIGARBHA ( TI CHANG WANG PHU SA )


BODHISATTVA KSITIGARBHA

(TI CHANG WANG PHU SA)

Nama Ksitigarbha adalah perkataan dari bahasa sansekerta yang mengandung arti bumi tempat menyimpan ke-sepuluh sutra roda kehidupan. Sang Bodhisattva ini dikenal secara populer dilingkungan rakyat berbagai bangsa di dunia, karena beliau telah menyeberangkan, menyelamatkan makhluk-makhluk yang menderita hingga tiba di pantai Nirvana, sesuai dengan sumpah maha suci beliau yang berbunyi sebagai berikut: 
“kalau bukan aku yang pergi ke neraka untuk menolong roh-roh yang tersiksa disana, siapa yang akan pergi?......, kalau neraka belum kosong dari arwah-arwah yang tersiksa, aku tidak akan menjadi Buddha. Hanya bila semua makhluk telah di selamatkan, barulah mencapai tingkat kebuddhaan”.
Di dalam gambar sering kita jumpai figure/gambar/arca berlian yang berada di bawah Avalokitesvara Bodhisattva (Kuan Yin Phu Sa) yang diapit oleh kedua siswa beliau sebagai ayah dan putra yaitu Meng Kung dan Tao Ming. Diantara para Bodhisattva yang dipuja oleh kaum Mahayana, Ksitigarbha Bodhisattva satu-satunya yang terlihat dalam wujud sebagai seorang bhiksu lengkap dengan jubahnya. Menurut pandangan orang Tionghoa, beliau dikatakan sebagai seorang Bodhisattva yang penuh dengan maitri karuna dan bercita-cita untuk membantu mereka yang terlahir di alam yang menderita agar dapat meringankan karma-karma buruk mereka. Sering juga ia dikaitkan dengan sepuluh raja akhirat (she tien yan wang).

Kesepuluh raja akhirat itu adalah bawahannya langsung, sebab itu ia diberi gelar you ming jiao chu atau pemuka agama diakhirat. Ia menjadi pelindung para arwah, membimbing mereka agar insaf dari perbuatannya yang sudah-sudah, dan tidak akan mengulangi perbuatan tercela itu lagi, agar bisa terbebas dari karma buruk pada penitisan yang akan datang. Di kalangan rakyat, banyak beredar kisah-kisah yang ada hubungannya dengan ti cang wang. Diantara kisah-kisah itu ada banyak juga yang menyamakan ti cang wang dengan mu lien. Kisah mu lien banyak mengharukan orang, tentang bagaimana ia menolong ibunya dari siksaan di neraka. Mu lien oleh sementara orang dianggap sebagai ti cang wang. Sesungguhnya kalau kita meneliti kitab-kitab suci, mu lien adalah murid Buddha dan masuk ajaran ah luo han atau arahat dan bukannya ti cang wang yang berada dalam tingkatan Bodhisattva.

Tentang ti cang wang, dalam kitab Buddha tercatat sebagai berikut, ketika Buddha Sakyamuni telah menyelesaikan tugasnya dan masuk nirvana 1500 tahun kemudian ia menitis kembali ke dunia di Korea, sebagai seorang pangeran dari keluarga raja negeri Sinlo. Namanya, Jin Qiao Jue (Kim Kiauw Kak-Hokkian). Sebab itu setelah orang tahu bahwa ia adalah penitisan Buddha, maka mereka memanggilnya Jin Ti Cang. Konon wataknya sederhana, tidak kemeruk pangkat dan kemewahan, tapi sangat berbudi, welas asih. Ia sangat gemar mendalami ajaran Kong-Zi dan Buddha. Pada masa pemerintahan kaisar tang Gao Cong, tahun Yong Yong We keempat (arti harafiahnya pandai mendengar) belajar menyeberangi lautan, kemudian sampai dipegunungan Ciu Hua San di propinsi An Hui. Gunung Ciu Hua Shan sebenarnya adalah milik Meng Kung. Meng Kung ini sangat berbudi, suka menolong orang-orang yang tertimpa kemalangan. Ia berjanji untuk menyediakan makanan vegetarian (Ciak Jay) untuk 100  orang pendeta Buddha.
Tapi, tiap kali ia hanya dapat mengumpulkan 99 orang, tidak pernah berhasil memenuhi jumlah yang diinginkannya. Oleh karena itu, kali ini ia pergi sendiri ke gunung untuk mencari pendeta yang ke seratus. Ketika ia melihat Jin Qiao Jue sedang bersemedi disebuah gubuk, ia segera menghampirinya dan mengundangnya datang ke rumah untuk bersantap-santap bersama. Jin Qiao Jue yang melihat Meng Kung kelihatannya ada karma dengannya, lalu mengabulkan undangannya, tapi dengan mengajukan satu permintaan. Permintaannya tidak banyak, ia hanya menginginkan sebidang tanah di Ciu Hua Shan itu, seluas baju Kasanja/kasenja (Jubah suci pendeta Buddha), melihat permintaan yang hanya sepele itu Meng Kung langsung menyetujuinya.

Tapi keanehan lalu terjadi. Ternyata ketika Jin Qiao menebarkan baju Kasenja ke udara, seketika itu juga, baju upasaka itu berubah menjadi sangat besar sekali sehingga menutupi seluruh pegunungan itu. Begitulah Meng Kung lalu menyerahkan Ciu Hua Shan kepada Jin Qiao Jue yang digunakan untuk mendirikan tempat ibadah dan mengajarkan Dharma. Meng Kung bahkan menyuruh anak laki-lakinya ikut menemani Jin Qiao Jue menjadi pendeta. Putra Meng Kung ini kemudian disebut Tai Ming He Sang (To Beng Hwee Shio-Hokkian). Selanjutnya Meng Kung pun meninggalkan semua kehidupannya yang penuh kemewahan ikut menjadi pengikut Jin Qiao Jue dan mengangkat Tao Ming He Sang dan Ming Kung. Jin Qiao Jue Ti Cang Phu Sa bertapa di gunung Ciu Hua Shan 75 tahun lamanya, dengan ditemani oleh anjingnya yang setia.

Pada usia 99 tahun beliau meninggal tepat pada tanggal 30 bulan  7 menurut penanggalan Imlek. Ada juga yang mengatakan bahwa pada waktu itu Ti Cang telah berusia lanjut. Seorang cendikiawan kenamaan yang bernama Zhu ge Jie bersama temannya sedang bertamasya ke gunung untuk mencari udara segar. Sampai di atas, Qing Qi Yan melihat Ti Chang Wang sedang bersamadi dengan tekun, makannya hanya nasi putih yang dimasak encer diatas tungku dari tanah. Diam-diam timbul rasa hormatnya ia lalu mendirikan kuil diatas gunung Ciu Hua Shan. Sejak itu para pendeta dari berbagai tempat mendatangi Ti Chang Wang untuk menerima ajarannya. Jin Qiao Jue meninggal pada tahun pemerintahan Kaisar Xuan Cong dari dinasti Tang (728 M) tanggal 30 bulan 7 Imlek.
Inilah sebabnya mengapa setiap jatuh tanggal tersebut masyarakat banyak membakar hio yang disebut Ti Cang Siang atau dupa Ti Cang. Jenasah Jin Qiao Jue ditempatkan pada sebuah batu kecil, sampai pada suatu ketika jenasah hendak dikeluarkan, terjadi keajaiban, dimana jenasah tersebut masih dalam keadaan baik dan tidak membusuk, wajahnya hanya seperti orang tidur. Pada masa pemerintahan kaisar Xiao Cong, para penganutnya membangun sebuah pagoda di (salah satu puncak di Ciu Hua Shan) dan menempatkan abunya disitu. Tatkala pagoda itu sudah selesai dibangun dan abu telah ditempatkan, ternyata pagoda itu telah mengeluarkan sinar yang gilang gemilang, sehingga mengherankan orang yang ada di situ. Tempat itu kemudian diubah namanya menjadi Shen Kuang Ling yang berarti bukit Cahaya Malaikat. Sejak itu Ciu Hua Shan menjadi salah satu gunung suci umat Buddha.

Selain kisah di atas, juga masih ada versi lain yang menceritakan tentang kelahiran Bodhisattva Ksitigarbha. Dalam salah satu sutra Buddhis yang sangat terkenak di Tiongkok, Buddha menceritakan bahwa Ksitigarbha pernah terlahir sebagai putri Brahman yang bernama gadis suci. Ketika ibunya meninggal, ia sangat sedih hati, karena pada masa hidupnya, ibu gadis suci, sering mengumpat Triratna, maka dilahirkan dialam neraka. Untuk menyelamatkan ibunya yang tersiksa dineraka, ia memberikan persembahan kepada Buddha pada masa itu. Ia berdoa dengan kesungguhan hati agar ibunya dibebaskan dari siksaan neraka, dan memohon kepada Buddha agar menolongnya.
Pada suatu hari, ketika ia sedang berdoa memohon pertolongan, Buddha menasehati agar ia segera pulang. Kemudian diperintahkan agar melakukan meditasi dengan bimbingan Sang Buddha, sehingga ia dapat mengetahui dimana ibunya berada. Selanjutnya melalui meditasi ia dapat mengunjungi neraka dan bertemu dengan penjaga neraka. Penjaga neraka tersebut memberitahukan kepadanya bahwa berkat persembahan dan doanya, ibunya telah dilepaskan dari neraka dan dimasukkan ke surga. Ia sangat senang dan merasa lega, karena ibunya telah bebas dari penderitaan. Namun demikian, karena ia melihat makhluk-makhluk neraka lainnya yang menderita karena siksaan, ia merasa sangat iba hati, sehingga ia mengatakan: “saya akan berusaha membebaskan semua makhluk neraka dari penderitaan selama hidup saya”. Semenjak itulah gadis suci itu menjadi Bodhisattva, dan kemudian dikenal sebagai Bodhisattva Ksitigarbha.

Bodhisattva Ksitigarbha sering dilukiskan dalam keadaan berdiri, tangannya memegang Cintamani (permata kebijaksanaan) atau Tongkat Bercincin, tongkat pemberi peringatan (disebut Khakkara). Wajahnya menunjukkan kebajikan. Banyak pula Bodhisattva Ksitigarbha yang dilukiskan dalam posisi duduk diatas teratai, tangannya memegang permata menyala yang dianggap berkekuatan dahsyat. Di kepalanya terdapat mahkota dengan lima lembar daun, setiap daun terdapat lukisan Dhyani Buddha. Dengan tongkatnya Ksitigarbha dapat membuka pintu neraka, sedangkan permata di tangannya dapat menerangi kegelapan neraka. Kadang kala kita temui Bodhisattva Ksitigarbha berdiri dan tangan kirinya memegang mangkok sedekah (patta) dan tangan kanannya membentuk mudra, sebagai tanda “Jangan takut” dan memberikan kedamaian semua makhluk.

Penampakan dari manifestasinya Bodhisattva Ksitigarbha, dalam kehidupan dengan cara meninggalkan kehidupan berumah tangga, berbeda dengan caranya dengan penampakan Bodhisattva Manjusri dan Samanthabadra. Beliau-beliau itu bermanifestasi secara berkehidupan rumah tangga yang biasa, sedangkan Bodhisattva Ksitigarbha menyelamatkan makhluk-makhluk yang masuk ke alam neraka, dan mengajarkan kepada makhluk-makhluk hidup untuk menghargai Triratna dan mempercayai hukum sebab akibat, sehingga mereka tidak akan jatuh ke dalam tiga jalan kejahatan. Beliau juga menasihatkan agar orang menghormati nenek moyangnya, dan tidak melupakannya.

Ksitigarbha Biodhisattva pernah berjanji kepada Sakyamuni Buddha; “Saya akan mematuhi ajaranmu untuk melepaskan makhluk-makhluk dari penderitaan, dan membimbing mereka untuk mencapai kebebasan. Saya akan bekerja keras hingga Buddha Maitreya datang ke dunia ini”.

Buddha Sakyamuni memberikan nasihat: “Dengarkan baik-baik, jika seseorang pada waktu akan datang melihat lukisan/pratima Bodhisattva Ksitigarbha, mendengar sutra Ksitigarbha dan menghafalkannya, memberi persembahan dan menghormati Bodhisattva Ksitigarbha, mereka akan memperoleh keuntungan selama hidupnya dan kelak akhirnya akan mencapai kebuddhaan."


BODHISATTVA MAHASTHAMAPRAPTA ( TA SHE CE PHU SA ) / VAJRAPANI BODHISATTVA

BODHISATTVA MAHASTHAMAPRAPTA.


           
(TA SHE CE PHU SA / TA SI CI PO SAT)

Bodhisattva Mahasthamaprapta merupakan salah satu Bodhisattva yang dipuja dan dihormati oleh umat Buddha Mahayana, dan juga merupakan salah satu Bodhisattva terkemuka dalam aliran, Sukhavati (tanah suci). Namanya berasal dari bahasa sansekerta yang mengandung arti “yang telah mencapai kekuatan universal”, atau dihormati dan dipuja sebagai manifestasi dari maitri karuna (cinta kasih dan belas kasihan). Bodhisattva Mahasthamaprapta atau Ta She Ce Phu Sa merupakan pencerminan dari sifat Ah Mi Thuo Fo (Amitabha Buddha), yaitu : kebijaksanaan, sedangkan Kuan Yin Phu Sa mencerminkan kewelas asihannya. Ta She Ce Phu Sa mencapai tingkatan Bodhisattva setelah melewati dan melaksanakan praktek Dharma dan selalu menyebut nama Buddha pada masa itu.



Pada waktu Ah Mi Thuo Fo menjadi Buddha, ia bersama Kuan Yin Phu Sa menjadi muridnya dan bertugas membimbing para penganutnya ke tanah suci Sukhavati pada waktu mereka meninggal dunia. Dalam kitab suci (sutra) Shuranggama disebut “ketika Amitabha mengundurkan diri sebagai pengajar di Sukhavati, Kuan Yin akan menggantikan kedudukannya. Dan bila saatnya tiba Kuan Yin mengundurkan diri, maka Ta Se Ce adalah sebagai penggantinya." Ta She Ce konon memiliki kekuatan yang sangat besar, kalau ia mengangkat tangannya atau menggerakkan salah satu anggota tubuhnya, bumi ini akan berguncang. Meskipun Bodhisattva ini populer dikalangan Tionghoa, tapi penganutnya tak banyak dan hampir tidak ada satu kuil pun yang diperuntukkan penghormatan kepadanya. 

Umumnya ia dipuja dalam bentuk tiga serangkai dengan Amitabha dan Kuan Yin yang memberikan pertolongan kepada siapa saja yang menderita, Ta She Ce mengulurkan tangannya hanya kepada mereka yang betul-betul menerapkan ajaran Buddha dalam kehidupan sehari-hari dan berusaha keras untuk mencapai kesempurnaan. Sebab itu penganutnya tidak sebanyak Kuan Yin. Konon, Ta She Ce mempunyai altar teratai yang akan dipinjamkan kepada mereka yang menyebut namanya, supaya dapat dikendarai untuk mencapai tanah suci Sukhavati. Sebab itu para penganut Buddhis yang taat beribadat tak ragu-ragu menyebut namanya dalam usaha untuk memperoleh pencerahan. Hari lahir Ta She Ce Phu Sa diperingati pada ranggal 13 bulan 7 Imlek. Ta She Ce ini biasanya di dalam gambar atau bentuk arca beliau selalu berada di sebelah kiri dari Amitabha Buddha.

Makna Maha-sthama-prapta (Dashizhi),

Kekuatan seorang bodhisattva sungguh tidak terkirakan. Kekuatan untuk selalu semangat mencapai kebuddhaan, kekuatan kebijaksanaan menaklukkan Mara dan kegelapan batin, kekuatan kasih sayang dan welas asih menyebrangkan semua makhluk ke Pantai Seberang, Nirvana, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva.

Salah satu Bodhisattva Mahasattva yang memiliki kekuatan luar biasa itu adalah Bodhisattva Maha-sthama-prapta (Mahasthamaprapta), atau dalah Mahayana Tiongkok dikenal dengan nama Dashizhi Pusa.

Nama Bodhisattva Mahasthamaprapta memiliki arti: "Bodhisattva yang Mencapai Kekuatan Agung". Seperti yang diutarakan dalam Sutra Amitayur Dhyana (Guan Wu Liang Shou Jing): "Dengan kekuatan kebijaksanaan, mencabut penderitaan tiga alam rendah (neraka, setan, hewan) agar memperoleh kebahagiaan tertinggi, karena itu disebut sebagai Maha-sthama-prapta." Sedang Sutra Visesacintabrahma-pariprccha (Si Yi Jing) mencantumkan: "Saya menapakkan kaki di satu tempat, bergetarlah alam tiga ribu maha ribu dan istana Mara, sebab itu disebut sebagai Maha-sthama."

Makna nama Maha-sthama-prapta (Dashizhi) dapat diartikan pula sebagai berikut. Maha (Da) menunjukkan arti pencapaian Tubuh Dharma (Dharma-kaya) yang besar dan agung; Sthama (Shi) adalah kekuatan pencapaian kebijaksanaan yang menghancurkan kegelapan batin (internal) dan menundukkan godaan Mara (eksternal); sedang Prapta (Zhi) adalah pencapaian Pencerahan yang mendekati kebuddhaan.

Amitabha Buddha, Avalokitesvara dan Mahasthamaprapta Bodhisattva adalah Tiga Suciwan Pembabar Dharma di Tanah Suci Sukhavati. Setelah Buddha Amitabha mahaparinirvana, maka Bodhisattva Avalokitesvara akan menjadi Buddha menggantikan Amitabha membabarkan Dharma di Sukhavati. Setelah Avalokitesvara Mahaparinirvana, akan digantikan oleh Mahasthamaprapta dengan nama Shanzhu Gongde Baowang Rulai. (Supratishthita-guna-ratnaraja Tathagata) yang berarti "Tatagatha Raja Kebajikan dalam Permata Pahala Moralitas." Beliau akan dinamai Buddha Raja yang berhiaskan intan berlian dan bertahta di singgasana jasa-jasa kebaikan dan kebajikan kebajikan yang tinggi.



Mahasthamaprapta digambarkan mengenakan mahkota dengan sebuah botol berisi cahaya kebijaksanaan di tengahnya, kedua tangan memegang setangkai bunga teratai (lotus) yang mekar, membuka hati setiap insan menerima Buddha.

Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta

Nama Mahasthamaprapta muncul dalam berbagai Sutra. Sutra Saddharmapundarika menyebutkan Mahasthamaprapta termasuk dalam kumpulan besar yang mendengarkan Dharma Buddha di Puncak Grdhakuta, Rajagriha. Sedang dalam Sutra Amitayur Dhyana, Buddha menjelaskan tentang Mahasthamaprapta sebagai berikut:

Buddha bersabda : "Selanjutnya kita melaksanakan Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta! Ketahuilah, tinggi dan besar Bodhisattva ini sama dengan Bodhisattva Avalokitesvara. Lingkaran sinar empat penjuru masing-masing mencapai 125 yojana dan memancar sejauh 250 yojana. Seluruh tubuh memancarkan cahaya ungu keemasan yang juga menerangi 10 punjuru alam, para makhluk yang berjodoh akan dapat melihatnya.

O, Arya Ananda! Ketahuilah, asal dapat melihat cahaya yang terpancar dari satu pori saja, identik dengan melihat cahaya murni dan menakjubkan dari para Buddha di 10 penjuru! Karena itu, Bodhisattva Mahasthamaprapta juga disebut Bodhisattva Anantavamprabha (Cahaya Tanpa batas). Sebab cahaya dari satu pori itu sama seperti cahaya para Buddha yang tak terhitung banyaknya yang menyinari secara luas tiada batas. Seperti halnya Bodhisattva Avalokitesvara menyinari semua makhluk dengan cahaya kasih sayang dan welas asih, Bodhisattva ini menyinari segala tempat dengan cahaya kebijaksanaan, agar para makhluk dapat memiliki cahaya kekuatan tak terhingga yang dapat membebaskan diri dari penderitaan tiga alam rendah. Karena itu arti nama Bodhisattva Mahasthamaprapta adalah kekuatan dahsyat dari kebijaksanaan memenuhi sepuluh penjuru.

Di atas mahkota Bodhisattva Mahasthamaprapta terdapat 500 teratai mustika. Di setiap teratai mustika terdapat 500 takhta mustika, setiap takhta menampakkan panjang dan lebar wilayah sepuluh puluhan penjuru Tanah Suci Mengagumkan dari para Buddha. Usnisa di dahi Bodhisattva Mahasthamaprapta seperti bunga teratai merah dan di atas usnisa itu terdapat sebuah kundika (botol mustika) yang berisikan cahaya kebijaksanaan, yang digunakan untuk menyelamatkan semua makhluk. Tanda-tanda agung lainnya tidak berbeda dengan Bodhisattva Avalokitesvara.

Ketika Bodhisattva Mahasthamaprapta mengayunkan langkah, sepuluh penjuru alam akan bergetar, dan pada setiap tempat yang bergetar di masing-masing alam itu muncullah 500 koti bunga teratai mustika. Setiap teratai mustika itu tampak anggun dan agung. Keagungannya mirip alam Sukhavati! Saat Bodhisattva Mahasthamaprapta duduk, tanah tujuh permata di Alam Sukhavati akan terlebih dulu bergoyang, lalu menyebar hingga Tanah Buddha di bagian bawah yaitu Negeri Buddha Suvarnaprabha. Di antara dua alam Buddha tersebut tertampak Nirmanakaya (Badan penjelmaan) dari Buddha Amitayus (Buddha Amitabha), Bodhisattva Avalokitesvara dan Bodhisattva Mahasthamaprapta yang tak terhitung jumlahnya. Kesemuanya berkumpul di Alam Sukhavati, memenuhi seluruh langit, dan duduk bersila di atas takhta teratai, membabarkan Dharma yang menakjubkan dan dalam maknanya demi menyelamatkan para makhluk yang menderita. Metode tersebut disebut Vipasyana Bodhisattva Mahasthamaprapta", juga dinamakan Vipasyana ke sebelas."

Dikisahkan dalam Sutra Shurangama, Mahasthamaprapta mencapai pencerahan melalui pengendalian landasan indera dan pelafalan nama Buddha secara tiada henti sehingga mencapai kondisi Samadhi. Sesepuh ke-13 tradisi Tanah Suci (Sukhavati), Master Yin-guang (1861-1941), menetapkan Dashizhi Pusa Nianfo Yuantong Zhang (Bab Bodhisattva Mahasthamaprapta Melafalkan Nama Buddha secara Sempurna dan Tiada Halangan - bagian dari Sutra Shurangama) sebagai salah satu dari Sutra acuan tradisi Sukhavati.

Kalangan Mahayana Tiongkok meyakini Master Yin-guang sebagai badan penjelmaan Bodhisattva Mahasthamaprapta. Sedang tempat pembabaran Dharma di Tiongkok dari Mahasthamaprapta yang kelahirannya diperingati setiap tanggal 13 bulan 7 Imlek ini ditetapkan di Vihara Guangjiaosi di Gunung Langshan, Nantong, Propinsi Jiangsu.

Mahasthamaprapta juga diyakini beberapa kali mewujudkan dirinya di negara Jepang. Di sana, Mahasthamaprapta berwujud sebagai seorang perempuan yaitu istri dari pangeran Shotoku, juga sebagai seorang pria, yaitu Honen Shonin (1133-1212), pendiri aliran Jodo (Sukhavati) di negara matahari terbit. Uniknya, nama asli Honen (Chinese: Faran) adalah Seishi-maru. "Seishi" adalah terjemahan bahasa Jepang untuk Mahasthamaprapta. 
Bahkan tidak hanya beremanasi sebagai seorang manusia saja, Mahasthamaprapta juga muncul sebagai seorang dewa bernama Dewa Candra (bulan), yang menerangi kegelapan "malam" samsara dan memberikan kebijaksanaan pada semua makhluk.

Bodhisattva Vajrapani tradisi Vajrayana


Di negara atap dunia (Tibet), Mahasthamaprapta lebih dikenal dengan nama Bodhisattva Vajrapani (Tibet: Chana Dorje, Chinese: Jin-gangshou Pusa). Sebagai emanasi dari Dhyani Buddha Akshobya, Vajrapani menempati posisi sebagai pemimpin keluarga Vajra. Bersama Avalokitesvara dan Manjusri, merupakan 3 bodhisattva utama tradisi Vajrayana yang melambangkan 3 aspek utama dari Bodhi (pencerahan) yaitu cinta kasih (mahamaitrikaruna), kebijaksanaan (mahaprajna) dan kekuatan (mahabala). Ketiga Bodhisattva tersebut juga menyimbolkan tubuh, ucapan dan pikiran para Buddha. Selain itu, dalam paham wilayah, Vajrapani adalah pelindung Mongolia, Manjusri pelindung dataran Tiongkok dan Avalokitesvara pelindung Tibet.

Sebagaimana Ananda sebagai siswa "Penjaga Dharma" yang mengingat dan mengucapkan ulang wejangan Buddha dalam konsili pertama, demikian juga di saat yang sama di Gunung Vimalasvabhava, Vajrapani mengucapkan ulang ajaran-ajaran Buddha, yang kemudian dikenal sebagai Sutra-sutra Mahayana. Konsili tersebut dikepalai oleh Bodhisattva Samantabhadra, beserta Maitreya mengucapkan kembali Abhidharma. Keseluruhannya dikumpulkan menjadi Tripitaka Mahayana.

Vajrapani dikenal juga dengan sebutan Guhyapati, "Penguasa Rahasia", penjaga semua Tantra yang diajarkan oleh Buddha. Vajrapanilah yang memohon Buddha untuk memutar roda dharma sekali lagi yaitu ajaran Tantra, dan memimpin pertemuan para Bodhisattva di Surga Tusita untuk merangkai dan menyusun kembali ajaran Tantra (Kriya, Carya dan Yoga) yang telah dibabarkan oleh Buddha.

Dalam Seni Gandhara (Seni Buddha Yunani), Vajrapani digambarkan sebagai Hercules (Herakles), sang tokoh legendaris penemu Olimpiade dan putra dari Zeus, karena melambangkan kekuatan yang maha dasyat. Penggambaran ini kemudian turut mempengaruhi wujud dua emanasi Vajrapani di Asia Timur, yaitu Misshaku dan Narayana. Keduanya ditampilkan di kedua sisi gerbang vihara dengan tubuh berotot dan memegang vajra. Para pelindung tersebut berada dalam posisi beladiri layaknya posisi pratayalidha (prajurit) Vajrapani sendiri.

Vajrapani berarti Tangan Vajra (Petir) atau Pemegang Vajra, adalah satu-satunya bodhisattva Mahayana yang disebutkan dalam naskah Pali, selain Maitreya (Metteyya) dan Svetaketu (Setaketu). Beliau muncul sebagai sebagai Yakkha Vajirapani (Pali), atau Vajrapani (Sanskrit) di Ambattha Sutta, Digha Nikaya. Seorang brahmana bernama Ambatta berkata tidak layak kepada Buddha serta menolak untuk menjawab pertanyaan Buddha sebanyak dua kali. Saat itu juga Yakkha Vajrapani muncul di atas kepala Ambatta, berdiri di udara dengan membawa pemukul besi besar (Vajra) yang menyala-nyala bersiap memecahkan kepala Ambatta sampai berkeping-keping apabila tidak menjawab pertanyaan Buddha untuk ketiga kalinya. Ambattha menjadi sangat ketakutan, kemudian ia mengakui kesalahannya dan memohon perlindungan pada Sang Bhagava. Buddhagosa, komentator Tipitaka Pali yang terkemuka, menyebutkan, bahwa Yakkha Vajirapani adalah Sakka (Shakra), raja para deva di alam Trayastrimsa (Tavatimsa).

Selain sebagai Bodhisattva, Vajrapani juga merupakan Dharmapala (Pelindung Dharma). Ia adalah Dharmapala dari Sakyamuni Buddha dan selalu bersama Buddha (Abhyantaraparivara), layaknya Ananda. Dalam Sutra Astasahasrika Prajnaparamita dikatakan, "Maka sekarang, Vajrapani, Yaksha yang agung, terus menerus mengikuti bodhisattva yang teguh! Tidak tertandingi, Bodhisattva tidak dapat dikalahkan oleh manusia maupun hantu." Demikian juga Sutra Lankavatara pun menyebutkan bahwa Buddha selalu diikuti oleh Vajrapani.

Ketika Buddha melalui Bukit Gridhakuta, tempat Buddha membabarkan Prajnaparamita, Devadatta, sepupu Buddha, hendak membunuh Buddha dengan menggulingkan sebuah batu besar. Tepat ketika batu tersebut hampir mengenai Buddha, Vajrapani muncul dan menghancurkannya menjadi berkeping-keping sehingga hanya sedikit melukai jari kaki Buddha. Selain melindungi Buddha, Vajrapani juga pernah melindungi para naga Uddiyana dari serangan garuda ketika para naga itu sedang mendengarkan pembabaran Dharma dari Buddha.

Sewaktu tiba di Kusinagara, India, Faxian (227-422) dan Xuanzang (sekitar 662-664) menemukan sebuah stupa Vajrapani, yang dipercaya sebagai lokasi tempat Vajrapani menjatuhkan vajranya ketika menyaksikan Buddha Sakyamuni Mahaparinirvana.
Selain itu, raja-raja seperti Raja Suchandra dari Shambhala dikenal sebagai emanasi Vajrapani. Guru Padmasambhava meramalkan bahwa Vajrapani akan beremanasi sebagai Raja Raipavhen dan sebagai seorang perempuan yaitu Konchok Paldron, putri dari Chokgyur Lingpa, Terton agung sekaligus nenek dari Tulku Urgyen Rinpoche.
Jadi, Vajrapani atau Mahasthamaprapta tidak mewujudkan diri beliau di Tiongkok dan Jepang saja, namun juga di Tibet, India dan Shambala.

Amanat Mahasthamaprapta,

Dari berbagai bentuk tubuh penjelmaan yang ada, sebenarnya hanya satu hal yang diamanatkan oleh Mahasthamaprapta kepada kita semua, yaitu tekunlah kita mengendalikan enam landasan indera dan berfokuslah pada pelafalan nama Buddha secara tiada henti, itulah kekuatan agung Bodhisattva Mahasattva. Itulah salah satu metode terbaik dalam membangkitkan kekuatan agung hakekat sejati kita.
Kekuatan agung itu bukan menjadi hak milik atau hak paten Bodhisattva Mahasthamaprapta atau para Bodhisattva Mahasattva dan Buddha, melainkan semua makhluk dapat mencapainya asal mampu menerapkan Dharma yang indah. Konsisten dalam Dharma, itulah kekuatan agung yang sejati.




BODHISATTVA SAMANTABHADRA ( PHU SIEN PHU SA )

BODHISATTVA SAMANTABHADRA,


Dalam ajaran-ajaran Buddhisme ada tiga Bodhisattva Utama yang disebut San Ta She. Ketiga Bodhisattva tersebut adalah sebagai berikut:
  1. Samantabhadra Bodhisattva (Phu Sien Pu Sa) berada disebelah kiri dengan menunggang seekor gajah putih yang melambangkan virya (Semangat) dan kebahagiaan.
  2. Avalokitesvara Bodhisattva (Kuan Yin Phu Sa) berada di tengah yang melambangkan Maitri Karuna (welas asih dan kasih sayang).
  3. Manjushri Bodhisattva (Wen Shu Phu Sa) berada disebelah kanan yang menunggang seekor singa yang melambangkan kebijaksanaan.
Phu Sien Phu Sa (Po Hien-Po Sat) atau fu Gen (Jepang) dalam bahasa sansekerta adalah Samantabhadra Bodhisattva yang berarti kebijaksanaan yang universal. Bodhisattva ini merupakan perwujudan dari cinta, aktivitas yang suci, kebajikan, ketekunan dan kesadaran. Di dalam kasanah kedewaan Tionghoa, Pu Sien Phu Sa ditampilkan dalam tiga serangkaian bersama Kuan Yin Phu Sa dan Wen Shu Phu Sa, tetapi sering juga dalam kelenteng-kelenteng Tiongkok dan Jepang tampil bersama Sakyamuni Buddha dan Wen Shu Phu Sa. Phu Sien Phu Sa biasanya di tampilkan duduk diatas seekor gajah putih membawa setangkai bunga teratai atau gulungan kitab suci. 
Gajah itu umumnya dalam keadaan berdiri atau jongkok, kadang-kadang berkepala tiga atau satu, dengan enam batang gading. Phu Sien Phu Sa terkenal, karena persembahannya yang tidak terbatas kepada para Buddha dan sepuluh sumpah agungnya yang ditujukan kepada orang-orang sengsara yaitu:
  • Untuk memuja para buddha
  • Untuk memuja tatthagata
  • Untuk menghaturkan sembah kepada para buddha
  • Untuk mengakui dosa-dosa pada masa kehidupan yang lampau dan berbuat kebajikan.
  • Untukbergembira dalam kebajikan dan kebaikan orang lain.
  • Untuk bergembira dalam kebajikan dan mengkhotbahkan ajarannya 
  • Untuk memohon kepada buddha untuk tetap tinggal di dunia
  • Untuk mempelajari dharma dan mengajarkan kembali
  • Untuk membantu sesama makhluk yang sengsara
  • Untuk menyalurkan hal-hal yang baik kepada pihak lain.
  • Untuk memuja dan menghormati semua Buddha
  • Untuk memuja Sang Tatthagata
  • Untuk mempelajari dan meningkatkan persembahan suci
  • Untuk belajar menyesali atas perbuatan-perbuatan buruknya dan lalu memperbaikinya.
  • Untuk menghayati kegembiraan di dalam (melakukan) penimbunan jasa-jasa kebajikan.
  • Untuk mengajak orang lain mau ikut memutar roda Dharma
  • Untuk memohon kepada Sang Buddha agar berkenan lahir ke dunia
  • Untuk mempelajari Dharma
  • Untuk hidup secara serasi, bertoleransi, saling tenggang rasa dengan orang-orang lain.
  • Untuk mentransfer, memberikan semua jasa-jasa kebaikan dan kebajikan-kebajikan yang dipunyai, bagi kemanfaatan orang-orang lain, atau makhluk-makhluk lain.
Tempat suci Pu Sien Pu Sa adalah di gunung E Mei Shan di propinsi Si Chuan di sebelah barat, yang merupakan salah satu dari empat gunung suci agama Buddha di Tiongkok. Di Jepang ia sering kali dipuja oleh para pengikutnya untuk memperoleh kemakmuran dan panjang umur, bahkan sebagian pihak menganggap ia sebagai pelindung pengobatan. Di dalam sutra " phu sien phu sa " ia dipuji Buddha dan dikatakan bahwa ia lahir di tanah suci sebelah timur.


Di dalam sutra itu, Buddha menggambarkan “Phu Sien Phu Sa” memiliki tubuh yang besar tidak terbatas, karena ingin turun ke dunia untuk membantu orang-orang yang sengsara, ia mengubah dirinya menjadi manusia biasa. Ia muncul dengan menunggang gajah putih, dibawah telapak gajah putih bunga-bunga teratai bermekar dan berwarna putih, gajah ini berwarna yang paling cemerlang diantara segala warna putih, sampai kristal dan puncak Himalaya pun tidak bisa menandinginya.

“Sutra Bunga Teratai” Phu Sien Phu Sa ini menarik orang terutama dikalangan wanita, sebab mereka akan dijanjikan akan mendapatkan juga mencapai tingkat Buddha. Phu Sien Phu Sa di puja tidak pada setiap kelenteng bercorak Buddhis tetapi biasanya di kelenteng-kelenteng yang memuja Kuan Yin dapat dijumpai arcanya. Hari shejitnya ialah pada tanggal 21 bulan 2 Imlek.

BODHISATTVA SAMANTABHADRA

Nama Bodhisattva Samantabhadra adalah perkataan bahasa sansekerta yang berarti “Pribadi maha agung yang layak memperoleh penghormatan secara universal ” atau “ Pribadi maha agung yang diharap-harapkan limpahan berkah dan kesuksesan bagi semua makhluk ”. Beliau adalah tokoh orang sucinya umat Buddha Mahayana, yang bermanifestasi secara universal, di semua tanah Buddha, dan yang telah melaksanakan sumpah maha sucinya, dengan kesuksesan yang besar. Di dunia saha beliau bekerja sama dengan Bodhisattva Manjushri, sebagai pembantu utama Sang Buddha Sakyamuni.

Seperti yang tertulis dalam teks kitab suci agama Buddha, Bodhisattva Manjushri diceritakan mengendarai seekor singa, dan mendampingi Hyang Buddha Sakyamuni di sebelah kirinya, sedang di sebelah kanannya adalah Bodhisattva Samantabhadra, yang diceritakan mengendarai seekor gajah putih. Bodhisattva Manjushri melambangkan intelegensi, kebijaksanaan dan lulusnya seseorang dalam menempuh ujian kehidupan dan memperoleh ijazah spiritual pada tingkatan tertentu. Sedangkan Bodhisattva Samanthabadra mewakili doktrin atau ajaran agama. Di dalam kegiatan pembinaan diri, Bodhisattva Manjushri menggaris bawahi Prajna, sedangkan Bodhisattva Samantabhadra, menggaris bawahi samadhi, kebajikan dan prakteknya dari kedua tokoh Bodhisattva ini, melambangkan kesempurnaan dalam prinsip Buddha Mahayana tingkatan paling tinggi.

Bodhisattva Samantabhadra telah mempraktekkan jalan keBodhisattvaan di masa-masa yang lampau, di dalam banyak kalpa-kalpa itu, mencari semua kebajikan, untuk membebaskan penderitaan-penderitaan bagi makhluk-makhluk hidup. Bodhisattva Samantabhadra itu dianggap sebagai suatu model bagi umat Buddha Mahayana dalam belajar, meniru, melaksanakan, dan membina diri melalui jalan kebodhisattvaan.

Dalam kitab suci agama Buddha yang dinamai “Sutra Avatamsaka” di tulis bahwa beliau telah menasehati, dan mengajak orang-orang untuk membina diri, mengembangkan sepuluh tipe, atau jenis-jenis tingkah laku dan sumpah suci, yaitu:
Dengan didasari 10 sumpah suci terebut, Bodhisattva Samanthabadhra menasehati dan mengajak makhluk-makhluk hidup, untuk mencapai jasa-jasa kebajikan, seperti yang telah dimiliki oleh seorang Tatthagata. Gunung suci E Mei yang terdapat di propinsi Si Chuan itu secara tradisional, dikenal dan termasyur, sebagai Bodhimandanya Sang Bodhisattva Samantabhadra dan menjadi pusat pemujaan terhadap Sang Bodhisattva tersebut.

Monday, 2 December 2013

BODHISATTVA MANJUSRI ( WEN SHU PHU SA )

BODHISATTVA MANJUSHRI.
           


Manjusri adalah Bodhisattva kebijaksanaan yang sesungguhnya telah mencapai kebuddhaan. Ada dua perwujudan dari Bodhisattva Manjusri, yaitu perwujudan pertama menggambarkan tangan kanannya memegang pedang (lambang kebijaksanaan yang mendalam) sedangkan tangan kirinya memegang setangkai bunga teratai biru yang diatasnya terdapat naskah suci (Lambang pengetahuannya tentang jalan yang tak terbatas). Perwujudan kedua menggambarkan Bodhisattva Manjushri dengan tangan kirinya memegang setangkai bunga teratai biru dengan naskah suci diatasnya, seperti perwujudan diatas dan tangan kanannya dalam sikap Varada Mudra (telapak tangan menghadap keatas, diletakkan pada lutut kanan).

Dalam Buddhisme Mahayana Vajrayana, Bodhisattva Manjusri merupakan Bodhisattva yang paling utama dari kedelapan Bodhisattva utama, yang terdiri dari: Manjusri, Vajrapani, Avalokitesvara, Ksitirdarbha, Sarvanivarana-Viskanbhi, Akasagarbha, Maitreya dan Samantabadra.

Untuk mendapatkan kebijaksanaan dan pengetahuan yang mendalam, seseorang harus bermeditasi pada bodhisattva Manjusri dan membaca mantranya secara terus menerus hingga tercapainya kebijaksanaan. Hal ini pernah dialami oleh Acarya Shantideva ketika beliau belajar di Nalanda. Beliau adalah salah seorang bhikkhu yang sangat sulit melafal naskah-naskah suci. Kemudian gurunya menganjurkan agar beliau membaca mantra suci Bodhisattva Manjusri.

Siang dan malam Acarya Shantideva membaca mantra itu, hingga akhirnya Bodhisattva menampakkan diri dan berkata :
“Apakah yang kamu lakukan Shantideva?”
“Besok pagi saya harus dapat menghafalkan sutra, itulah sebabnya saya memohon kepada yang suciBodhisattva Manjusri”, jawab Shantideva.
“Apakah kamu tidak  mengenal saya?”, tanya Bodhisattva Manjusri.
“Tidak Bhante, saya tidak mengenal Bhante,”Jawab Shantideva.
“saya Bodhisattva Manjushri”
“Oh” Shantideva terkejut.
“Kemarilah, saya akan memberikan siddhi kebijaksanaan luhur untuk memudahkan engkau menghafal sutra besok pagi dan saya juga akan memberikanmu pengetahuan”, kata Bodhisattva Manjushri dan menghilang.

Keesokan harinya Acarya Shantideva dapat menghafalkan sutra dengan baik dan dari tubuhnya memancarkan praba yang memukau hadirin yang menyaksikannya.

Para Acarya di dalam menulis naskah-naskah ajaran selalu memohon Adisthana dari Bodhisattva Manjusri. Beliau sering dipanggil dengan “Namo Arya Manjushri Kumarabhuta” yang biasanya diletakkan pada awal (barisan pertama) penulisan naskah, dengan harapan naskah itu dapat membawa mereka yang membacanya menemukan kebijaksanaan dan pengetahuan yang mendalam.

Dalam Tantra tertinggi (Anutara Yoga Tantra) Bodhisattva Manjushri Kumarabhairava dilaksanakan secara luas. Hal ini terbukti dengan begitu banyak arca-arca Vajrabhairava maupun Manjushri Kunarabhuta dari masa tersebut. Arca ini bisa kita dapatkan juga di komplek vihara Plaosan, pada ruang sebelah kiri dimana arca Manjusri ada bersama arca Bodhisattva Vajrapani dan Sang Buddha Sakyamuni.

Nama Bodhisattva Manjusri adalah perkataan bahasa Sansekerta yang artinya “nasib baik yang mendatangkan kesuksesan yang menakjubkan”. Di dalam agama Buddha Mahayana Bodhisattva Manjusri dianggap pribadi Maha Agung yang telah memiliki kebijaksanaan tinggi diantara para Bodhisattva. Oleh karena itu Bodhisattva Manjusri sering menjadi “Ibu” dari segala Buddha, menjadi guru dari Bodhisattva yang jumlahnya tak terbilang, mendidik dan membuat umat mencapai keberhasilan.

Bodhisattva Manjusri atau disebut Wen Shu Phu Sa merupakan pencerminan watak kebijaksanaan yang luar biasa. Ia adalah Bodhisattva pertama yang disebut dalam kitab-kitab suci, dan merupakan Bodhisattva terkemuka dan terpenting dalam kalangan Buddha Mahayana. Di dalam Mahayana, bijaksana dan welas asih adalah dua watak yang sangat penting. Manjusri adalah Bodhisattva kebijaksanaan dan pengetahuan, sebab itu ia dianggap terkemuka, sejajar dengan Avalokitesvara Bodhisattva atau Kuan Yin yang merupakan Bodhisattva belas kasih.

Menurut versi Tionghoa, manjusri Bodhisattva telah memperoleh petunjuk dari Sakyamuni Buddha bahwa tanggung jawab dan tugas utamanya adalah untuk mengajarkan dan menunjukkan jalan keselamatan bagi penduduk Tiongkok. Sebab itu ia memilih gunung Wu Tai San di propinsi Shan Shi, menjadi salah satu dari empat gunung suci Buddhisme dia Tiongkok. Orang Tionghoa menganggap Manjusri Bodhisattva sebagai seseorang arsitek surgawi yang memberikan penerangan dan kecerdasan bagi siapa saja yang giat menjalankan Dharma. Sebab itu ia juga disebut “Wen Shu Se Li Phu Sa atau disingkat “Wen Shu Phu Sa”. Dengan pedangnya yang disebut pedang kebijaksanaan ia menyibak kegelapan menyelimuti manusia. Lambangnya yang lain adalah buku kebijaksanaan, sering digambarkan sebagai gulungan kertas tipis yang diikat dengan tali sutra.

Wen Shu Phu Sa dianggap sebagai guru kebijaksanaan dan pengetahuan secara umum ditampilkan dalam keadaan samadi diatas seekor singa yang berbulu hijau. Singa ini melambangkan nafsu liar yang hanya dapat ditundukkan dengan meditasi. Sebab itu, melaksanakan meditasi adalah suatu keharusan bagi mereka yang ingin mencapai bathin yang tenang dan terkendali. Dan Wen Shu Phu Sa adalah Bodhisattva yang dapat membantu mereka dalam mengatasi hambatan-hambatan rohani dalam menjalankan Dharma. Sebab itu gunung Wu Tai Shan yang menjadi tempat tinggalnya, menjadi tempat berkumpul para penganutnya, karena mereka percaya ditempat inilah para Bodhisattva berkumpul, walaupun untukmencapai puncak Wu Tai Shan harus melalui perjalanan yang sulit dan berliku-liku, namun mereka melakukannya karena ingin merasakan suatu ketentraman batin “sempurna” dengan mencapai kuil Wen Shu yang berada di puncak gunung tersebut.

Ada banyak kesaksian tentang penampakan sinar-sinar ajaib yang disaksikan oleh banyak orang yang melakukan pemujaan di puncak gunung tersebut. Oleh orang awam mungkin hal ini dianggap halusinasi dari mereka yang mengalami kelelahan karena mendaki puncak tersebut. Tetapi harus diingat bahwa kebanyakan orang-orang yang naik ke sana adalah mereka yang ingin mencari “kebijaksanaan” dan umumnya telah menjalani meditasi dengan tekun, sehingga tidak mudah goyah dan tidak mempunyai pikiran yang tidak stabil sehingga mudah terpengaruh oleh gejala-gejala yang dapat menimbulkan halusinasi itu.

Kelenteng yang khusus diperuntukkan untuk pemujaan Wen Shu Phu Sa jarang ada, kecuali yang di Wu Tai Shan itu. Tapi patung-patungnya banyak terlihat di kelenteng-kelenteng yang bercorak Buddhisme. Wen Shu Phu Sa seringkali ditampilkan dalam bentuk tiga serangkaian dengan Sakyamuni Buddha dan Pu Sien Phu Sa, atau yang bersama dengan Kuan Yin Phu Sa dan Pu sien Phu Sa. Dalam bentuk tiga serangkaian dengan Kuan Yin biasanya, baik Pu Sien Phu Sa dan Wen Shu Phu Sa ditampilkan dalam wujud wanita, Wen Shu Phu Sa naik hingga hijau dan Pu Sien naik gajah putih Wen Shu Phu Sa melambangkan segi kebijaksanaan, Pu Sien sebagai lambang kegiatan cinta kasih yang sempurna dan Kuan Yin sebagai lambang maha pengasih dan penyayang. Ketiganya merupakan kesempurnaan dari ajaran Buddhisme Mahayana.

Dalam kisah puteri Miao Shan, singa hijau Wen Shu Phu Sa diceritakan sebagai penjelmaan Dewa Api dan Gajah Putih Pu Sien adalah Dewa Air. Kedua dewa ini menangkap rombongan raja Miao Zhuang yang akan berjiarah ke Xiang Shan, tempat Miao Shan menjadi Bodhisattva, kedua kakak perempuannya juga diangkat mendampinginya. Miao Shu (dalam versi yang lain disebut Miao Qing) diangkat sebagai Wen Shu Phu Sa dan Miao Yin diangkat menjadi Pu Sien Phu Sa.

Hari lahir Wen Shu Phu Sa di rayakan pada tanggal 4 bulan 4 Imlek. Meskipun bagi orang awam kurang mendapat perhatian, tapi bagi pengikut Buddhis aliran Chan (Zen) menganggapnya sebagai hari besar yang diperingati secara khusus setiap tahunnya.

PANGERAN DHARMA ( MANJUSRI BODHISATTVA )

Menurut pemahaman Buddhisme Mahayana, Bodhisattva Manjusri diwujudkan sebagai sosok Bodhisattva yang memegang sebatang pedang kebijaksanaan (perlambang pemutus kekotoran batin) dan mengendarai singa berbulu emas (simbol keperkasaan menaklukkan kekuatan jahat), kadangkala dilukiskan juga dalam kondisi duduk di atas bunga teratai (melambangkan kemurnian).

Dalam sutra Avatamsaka, Bodhisattva Manjusri dikenal sebagai salah satu dari Tiga Makhluk Suci Avatamsaka, yakni: Bodhisattva Manjusri (kiri), Buddha Sakyamuni (tengah) dan Bodhisattva Samantabhadra (kanan).

Dalam Buddhisme Tiongkok, terdapat beberapa versi dalam penyebutan nama Bodhisattva Manjusri, diantaranya adalah Wenshushili-Pusa dan Manshusili-pusa, namun lebih populer dengan sebutan singat Wenshu Pusa. Nama Manjusri sendiri memiliki beberapa makna, yakni Miaode (kebajikan menakjubkan), Miaoshu (kepala menakjubkan – karena kebajikannya tertinggi di atas para Bodhisattva) dan Miaojixiang (berkah Menakjubkan).

Jika Bodhisattva Avalokitesvara dikatakan sebagai manifestasi welas asih terluhur, maka Bodhisattva manjusri dikenal sebagai manifestasi kebijaksanaan tertinggi. Ini dikarenakan Bodhisattva Manjusri merupakan Buddha masa lalu yang terus menerus bermanifestasikan dengan kekuatan kebijaksanaan sejati. Dalam kitab Suranggama Samadhi Sutra, Buddha Sakyamuni menjelaskan bahwa bodhisattva Manjusri merupakan Buddha masa lalu yang bernama Tathagata Longzhong Shangzunwang.

Bodhisattva Manjusri juga muncul di masa kini sebagai Buddha Huanxiziangmonibaoji dari tanah suci Buddha Changxi (kegembiraan abadi), (Angulimala Sutra, bab 4). Pada sisi lain, juga bermanifestasi dalam wujud Bodhisattva Manjusri sebagaimana yang kita kenal sekarang ini.

Selain itu, ketika Buddha Amitabha masih berstatus sebagai seorang raja Cakravartin, saat itu Bodhisattva Manjusri merupakan putera mahkota ketiga. Buddha Ratnagarbha di masa itu meramalkan bahwa Manjusri akan menjadi Buddha dengan nama Tathagata Samanthadarsin (Karuna Pundarika Sutra, bab 3).

Dengan semua manifestasi ini, Bodhisattva Manjusri mempertunjukkan kebijaksanaan sempurna dan upaya kausalya (metode tepat dan praktis) membimbing semua makhluk agar tergerak untuk membangkitkan Bodhicitta mencapai penerangan sempurna. Itulah sebabnya, Bodhisattva Manjusri dijuluki sebagai ibu para Buddha dari tiga masa dan guru para Buddha.

Pada masa kehidupan Buddha Sakyamuni, Bodhisattva Manjusri terlahir di kerajaan Kosala sebagai anak dari seorang kasta Brahmana bernama Fande (kebajikan Brahma). Tubuhnya berwarna keemasan, memiliki 32 fisik manusia unggul dan dilahirkan dari sisi sebelah kanan tubuh ibunya. Makna nama MiaoJixiang (berkah menakjubkan) berasal dari munculnya sepuluh peristiwa sepuluh peristiwa menakjubkan saat kelahirannya, yakni: turun Amrta (air surgawi) dari langit; muncul tujuh permata dari dalam tanah; padi dalam lumbung berubah menjadi beras emas; tumbuh bunga teratai di halaman rumah; cahaya gemilang memenuhi rumah; ayam menetaskan burung hong; kuda melahirkan kirin; sapi melahirkan anak sapi langka; babi melahirkan longtun (babi berwujud naga); muncul gajah bergading enam.

Manjusri dikenal memiliki kebijaksanaan dan kemampuan berbicara yang unggul, sanggup mengalahkan para penganut dari 96 aliran tirtika dalam hal perdebatan. Setelah menjadi siswa Buddha Sakyamuni, Manjusri berhasil menguasai suatu tingkat samadhi Shuranggama. Dengan kekuatan samadhi Shuranggama ini Manjusri melakukan berbgaia metode yang sangat bijaksana dalam membimbing para makhluk, bahkan setelah 450 tahun Parinirvana Buddha Sakyamuni, Manjusri masih tetap melakukan tugas pengajaran Dharma. Dalam jajaran siswa tingkat Bodhisattva, beliau menduduki posisi sebagai siswa yang paling terkemuka dalam hal kebijaksanaan. Oleh karena itu, beliau juga dijuluki sebagai pangeran Dharma Manjusri. Sekitar tiga ratusan sesi pembabaran filosofi Mahayana oleh Buddha Sakyamuni, Manjusri selalu hadir sebagai ketua dari komunitas Bodhisattva.

Dalam Vimalakirti Nirdesa Sutra misalnya, saat para siswa Sravaka dan Bodhisattva merasa berkecil hati untuk bertemu Vimalakirti karena tidak sanggup berhadapan dengan kemampuan berbicaranya yang menakjubkan, Manjusri tampil mengemban tugas ini. Pertemuannya dengan Vimalakirti menjadi sebuah ajang perbincangan Dharma yang menakjubkan. Tidak hanya dalam satu sutra, dalam berbagai sutra juga tercantum tentang kemampuan pembabaran Dharma yang dimiliki Manjusri yang dapat dipastikan akan membuat kita berdecak kagum. Buddha Sakyamuni sendiri kerap menceritakan kehidupan lalu Bodhisattva Manjusri, bahkan dalam salah satu kehidupan lampau, Sakyamuni pernah menjad murid Manjusri.

Dimata penganut Buddhisme Tiongkok, Bodhisattva Manjusri memiliki posisi yang cukup istimewa. Perlu diketahui bahwa di Tiongkok terdapat empat Gunung Buddha yang diyakini sebagai tempat pembabaran Dharma empat Bodhisattva Agung, yakni Putuo Shan (Bodhisattva Avalokitesvara), Jiuhua Shan (Bodhisattva Ksitigarbha), Emei Shan (Bodhisattva Samantabadra), sedang Wutai Shan atau juga dikenal dengan sebutan Qingliang Shan (gunung sejuk) sebagai tempat pembabaran Dharma Bodhisattva Manjusri.

Dalam Avatamsaka Sutra bagian “Kediaman Para Bodhisattva” disebutkan, “Di wilayah Timur, terdapat gunung Qingliang (gunung sejuk). Semenjak lama gunung ini menjadi tempat kediaman para Bodhisattva, dan sekarang ini Bodhisattva Manjusri bersama sekelompok Bodhisattva lain sejumlah 10.000 orang menetap di gunung ini untuk membabarkan Dharma.” Kemudian dalam Ratna-garbha Dharani Sutra disebutkan, “pada saat itu, Bhagava berkata kepada Bodhisattva Guyhapada: setelah Parinirvanaku, diarah timur laut dari Jambudwipa terdapat sebuah negeri bernama Mahacina. Di negeri ini terdapat pegunungan yang bernawa Wuding (lima puncak). Bodhisattva Manjusri berdiam di tempat ini untuk membabarkan Dharma kepada para makhluk hidup. Terdapat juga makhluk dewa, naga, yaksha, raksasa, kinnara, maharoga, manusia dan makhluk bukan manusia yang jumlahnya tak terbatas mengelilinginya, menghormati dan memberi persembahan.”

Berbagai kisah keajaiban tentang jelmaan Beliau tidak henti-hentinya bertebaran di seantero Wutai Shan. Baik sebagai wujud orang tua maupun anak kecil, Manjusri menggunakan berbagai upaya kausalya untuk menjalin ikatan jodoh karma dengan para makhluk hidup. Bahkan tokoh kharismatik Master Xuyun pun dalam perjalanan san bu yi bai (tiga langkah satu sujud) ke Wutai Shan sempat mendapat pertolongan dari Bodhisattva Manjusri dalam wujud seorang pengemis. Patriak ke 4 dari mazhab Sukhavati, Master Fazhao, juga pernah bertemu dengan Bodhisattva Manjusri beserta kemegahan viharanya di sebuah hutan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata saat berkunjung ke Wutai Shan.

Semua kisah yang bernuansa metafisik ini sungguh di luar jangkauan pemahaman kita. Namun sebagai seorang umat Buddha yang berpandangan benar, hendaklah kita melihat segala mukjijat yang dilakukan Bodhisattva Manjusri sebagai upaya kausalya. Bodhisattva Manjusri adalah Bodhisattva adalah Bodhisattva kebijaksanaan tertinggi, pada sisi lain kebijaksanaan itu mengalir menjadi berbagai wujud tubuh penjelmaan yang semata-mata ditujukan demi manfaat dan kebahagiaan semua makhluk. Tetapi, manifestasi Bodhisattva Manjusri sebenarnya tidak hanya sebatas di Wutai Shan atau pada bentuk-bentuk tubuh jelmaan saja. Saat kebijaksanaan transenden muncul dalam batin setiap makhluk hidup, maka disitulah tempat bersemayam yang sesungguhnya dari Bodhisattva Agung ini. Sat hati dan pikiran kita dalam keadaan bersih dan murni, disitulah akan tertampak Pangeran Dharma ini.

Friday, 22 November 2013

MANTRA MAHA KARUNA DHARANI

MANTRA AVALOKITESVARA (TA PEI COU)
MAHA KARUNA DHARANI


Mantra Maha Karuna Dharani telah dikenal oleh umat Buddhis Mahayana selama berabad-abad lamanya. Setiap hari mantra tersebut dibaca berulang kali oleh berjuta umat Buddhis Mahayana. Begitupula telah banyak naskah dari mantra tersebut yang telah dikenal oleh umat Buddhis Mahayana dengan bermacam-macam aksen dan suara, namun yang terpenting adalah pemusatan pikiran tingkah laku dan orang yang mengulang mantra tersebut. Akan lebih banyak membantu apabila seseorang telah mengerti tentang Trikaya di dalam ajaran Mahayana, yaitu:

Dharmakaya  : Dapat diartikan sebagai tubuh Dharma, sebagai suatu yang absolut dan sesuatu yang Maha Esa, sulit untuk menjabarkannya dalam bahasa manusia, tubuh ini secara filosofis di dalam ajaran Mahayana dimiliki oleh para Buddha dan Bodhisattva sebagai manifestasi dari kekuatan untuk memberkati.
Sambhogakaya : Dapat diartikan sebagai tubuh sinar, berkah dan kekuatan tubuh ini secara filosofis di dalam ajaran Mahayana dimiliki oleh para Buddha dan Bodhisattva sebagai manifestasi dari kekuatan untuk memberkati.
Nirmanakaya  : Adalah tubuh aktual dan nyata yang dimiliki oleh para Buddha dan Bodhisattva untuk menyampaikan Dharma. Hal tersebut juga dapat termanifestasi di dalam bentuk arca atau gambar dari para Buddha dan Bodhisattva, karena begitu sulitnya bagi anusia untuk mengerti dan membayangkan sesuatu yang absolut dan yang maha esa.   

Demikianlah bila pengertian tentang Trikaya telah dapat dimengerti, maka pengulangan mantra Maha Karuna Dharani akan lebih banyak membantu. Berikut ini adalah terjemahan singkat yang dikutip dari terjemahan bahasa Inggris dari buku “Popular Deities of Chinese Buddhism” yang disusun oleh Kuang Ming, terbitan Kuan Yin Contemplative Order, Malaysia 1985.

1.     Namo Ratnatrayaya
aku berlindung kepada Triratna
2.     Namo Aryavalokitesvaraya
Aku berlindung kepada Yang Maha Esa
3.     Bodhisattvaya Mahasattvaya Mahakarunikaya
Di dalam makhluk yang agung telah mencapai penerangan, di dalam yang penuh welas asih dan kasih sayang.
4.     Om_ Sarva Abhayah Sunadhasya
Om didalam perlindungan yang tak merasa takut dan gentar
5.     Namo Sukrtvemama Aryavalokitesvaragarbha
Semoga aku dapat berlindung didalam yang maha esa
6.     Namo Nilakantha  Mahabhadrasrame
Aku berlindung kepadamu, didalam kewelas-asihan
7.     Sarvathasubham Ajeyam Sarvasattvanamavarga Mahadhatu
Yang penuh dengan pengertian dari semua cara dan jalan yang suci, yang membuat semua makhluk berupaya dan mensucikan semua alam kehidupan.
8.     Tadyata: om _Avaloke Lokite Karate
Kepadanya om, yang maha esa, yang transenden di dunia.
9.     Hari Mahabodhisattva  Sarva Sarva Mala Mala
Oh hari makhluk agung yang terang/semuanya dari lingkaran bunga
10.   Maharrdayam Kuru Kuru Karmam
Inti dari dunia/buatlah sukses
11.   Kuru Kuru Vijayati Mahavijayati
Pekik kemenangan yang sukses/maha besar/pekik kemenangan
12.   Dhara Dhara Dharin Suraya
Berdirilah!berdirilah dan tegak oh indera!
13.  Chala Chala Mama Brahmara Muktir
Bergeraklah! Bergeraklah! Bebaskan saya dari gangguan pikiran.
14.  Ehi Ehi Chinda Chinda Harsham Prachali
Datanglah, datanglah, Dengarlah , dengarlah, dengarlah, suka cita yang timbul
15.  Basha Basham Presaya  Hulu Hulu Mala
Berbicaralah, berbicaralah berilah seruan!
16.  Hulu Hulu Hile Sara Sara Siri Siri Suru Suru
Suara-suara untuk permohonan di dalam doa
17.  Bodhiya Bodhiya Bodhaya Bodhaya
Bangkit, bangkit!
18.  Maitreya Nilakantha Dharshinina
Oh yang penuh dengan kasih! Dia yang patut didambakan.
19.  Payamama Svaha  Siddhaya Svaha  Maha Siddhaya Svaha
Kepada yang tak gentar, svaha! Kepada yang penuh kekuatan, svaha! Kepada yang penuh kekuatan yang maha besar, svaha!
20.  Siddhayogesvaraya Svaha  Nilakantha Svaha
Kepada yang penuh kekuatan dari kesatun dan kesatuan, dari kesatuan, svaha! Kepada yang agung, svaha!
21.  Varahananaya Svaha  Simhashiramukkhaya Svaha
Kepada yang kelihatan berwajah seram, svaha! Kepada yang berwajah singa,svaha!
22.  Sarvamahasiddhaya Svaha  Cahkrasiddhaya Svaha
Kepada yang memiliki semua kekuatan besar, svaha! Kepada yang memiliki chakra, svaha!
23.  Padmahastya Svaha  Nilakanthavikaraya Svaha
Kepada yang memegang teratai, svaha! Kepada yang agung, svaha!
24.  Mahasishankaraya Svaha
Kepada yang maha esa dan memberkati, svaha!
25.  Namo Ratnatrayaya
Aku berlindung kepada Triratna!
26.  Namo Aryavalokitesvaraya Svaha
Aku berlindung kepada yang maha esa, svaha!
27.  Om _Siddhayantu Mantrapadaya Svaha
Om! Semua hasil dari mantra ini terlaksana!

KETERANGAN TENTANG MAHA KARUNA DHARANI

Maha Karuna Dharani adalah mantra Sang Avalokitesvara Bodhisattva (Kuan Yin Phu Sa), yang disabdakan oleh Sang Sakyamuni Buddha, sebagaimana disebutkan dalam “The Sutra of Vast, Great, Perfect, Full, Unimpeded, Great Compassion Heart Dharani of The Thousand Handed, Thousand – Eyed Bodhisattva Who Regards The World Sounds”

Dharani atau mantara adalah kumpulan suku kata atau kata gaib/mistik yang mempunyai kekuatan luar biasa. Bila mantra dipergunakan dengan tepat dan benar, tiada hal yang tidak mungkin. Dalam karya terkenal “The India Buddhist Iconography”, Benoytosh Bhatta Charya menulis “dengan membaca mantra berulang-ulang akan timbul suatu kekuatan yang luar biasa, yang akan mengejutkan seluruh dunia”. Karuna artinya welas asih, rasa ingin membebaskan orang dari penderitaan. Jadi Maha Karuna Dharani adalah Dharani maha welas asih atau mantra maha welas asih, artinya: mantra yang dapat membebaskan umat dari semua penderitaan dan kesusahan serta dapat memberikan kebahagiaan. Dalam “The Dharani Sutra” disabdakan bahwa manfaat Maha Karuna Dharani antara lain adalah untuk memperoleh:

Kegembiraan dan kedamaian
Kebebasan dari segala penyakit
Umur panjang
Kemakmuran
Penghapusan karma berat
Hilangnya halangan dan kesusahan
Timbulnya dalam semua Dharani murni serta semua pahala dan kebajikan
Lenyapnya segala rasa takut
Pencapaian tujuan

Meskipun keampuhan mantra ini terdapat dalam banyak bidang, namun bagi orang awam kegunaannya lebih dikenal luas dalam bidang pengobatan.

Dalam usaha penyembuhan pada umumnya terdapat tiga hal:

inisiatif pengobatan oleh penderita dan keluarganya
sarana pengobatan melalui dokter, ahli pengobatan tradisional ataupun sarana lain.
pelaksanaan pengobatan dengan minum obat, mematuhi pantangan/anjuran dan sebagainya

bila mantra ini dipergunakan untuk pengobatan, ketiga hal tersebut dapat dilakukan oleh orang yang sama. Kunci terpenting adalah kemurnian hati dan kesujudan si pengucap mantra. Dalam Mantra Sacred word of Powers” mendiang john Blofeld : mantra luar biasa efektifnya, jika kondisi mental benar-benar dipenuhi”. Dalam “Shambala Reviews of The Books and Ideas” ia menulis: untuk melaksanakan standar moral yang agung, hal-hal yang diperlukan dalam pengucapan Maha Karuna Dharani adalah:

Fisik
Badan bersih, jauhi makanan hewan selama masa pengucapan mantra

Rohani
Hati sujud, tidak tamak, tidak membenci/mendendam, menjalankan pancasila Buddhis (yaitu : tidak membunuh, tidak mencuri, tidak berzinah, tidak berdusta, dan tidak minum/makan sesuatu yang memabukkan).

Alat
Dupa wangi (antara lain: mawar dan melati) dan air untuk pengobatan.

Tempat
Vihara, kuil atau altar di rumah, terutama di hadapan Avalokitesvara Bodhisattva (lebih ideal yang dalam wujud banyak tangan), bila keadaan tidak memungkinkan, bisa dirumah dengan menghadap ke langit.

Cara
Nyalakan tiga batang dupa wangi, berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Sanghyang Adi Buddha, nyalakan tiga batang dupa wangi lagi dan berdo'a kepada Avalokitesvara Bodhisattva, ucapkan mantra ini 7 kali, atau 14 kali, 21 kali, atau sampai 108 kali, air di altar di mohon untuk diminum, ulangi cara ini setiap hari.

Uraian yang lebih rinci tentang pengobatan, misalnya bagi orang yang penglihatannya kabur, tuli, demam, sulit melahirkan, luka bakar, rasa takut mencekam terus menerus, insomnia(susah tidur), banyak kecelakaan dan kesusahan dalam keluarga, suami isteri cekcok terus, badan mati sebelah, gangguan setan atau roh jahat, menghilangkan rasa benci/dendam kepada orang dan lain-lain. Tiada penyakit yang tidakdapat disembuhkan bila dengan sujud dan menjalankan sila, tiap hari orang mengucapkan mantra ini 108 kali selama 1000 hari tanpa berhenti”.

Semula Maha Karuna Dharani tergolong dalam mantra-mantra yang hanya diturunkan terbatas oleh guru kepada siswanya yang telah diinisiasi, sehingga jelas tidak mudah mendapatkannya. Dalam sutra empat puluh dua bagian Sang Buddha bersabda: " adalah sulit menjumpai sutra-sutra Buddhis dan apabila seseorang benar-benar menjumpai Sang Jalan (kebenaran/Buddha Dharma), masih sulit dalam dirinya timbul keyakinan,” tentunya karena kita mempunyai Afinitas (pertalian, tumpuan ikatan, affinity) dengan Buddha Dharma, memiliki karma baik dan akar-akar kebajikan (Good Roots). Karena itu simpanlah mantra ini sebagai mustika dan ucapkanlah mantra ini sebagai bagian dari puja bhakti selama masa nabati (wujud dari puja bhakti selama nabati, wujud nyata metta karuna kepada semua makhluk hidup) serta pergunakanlah untuk menolong diri dan sesama umat pada waktu dibutuhkan dengan keimanan yang teguh dan semangat kewelas asihan sesuai dengan nama mantra ini.