TERPUJILAH PARA BUDDHA, PARA BHODHISATTVA MAHASATTVA, SERTA PARA ARYA NAN BIJAKSANA..._/\_ NAMO BUDDHAYA _/\_


Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.

W E L C O M E ( E H I P A S S I K O )
Showing posts with label 3 BUDDHA. Show all posts
Showing posts with label 3 BUDDHA. Show all posts

Tuesday, 19 November 2013

AMITABHA BUDDHA

AMITABHA BUDDHA { OMITHOFO / AMITUOFO }



Amitābha Buddha adalah seorang Buddha surgawi yang dijelaskan dalam kitab suci  Tipiṭaka  aliran Buddha Mahāyāna. Amitābha adalah buddha utama di sekte Tanah Murni yang berkembang terutama di Asia Timur. Menurut kitab ini, Amitābha menjadi Buddha dikarenakan dari perbuatan baik atas kehidupan masa lalu yang tak terhitung jumlahnya, yang terlahir sebagai Bodhisattva bernama Dharmakāra. "Amitābha" dapat diterjemahkan sebagai "Cahaya tidak terbatas", karena itu Amitabha sering disebut sebagai "Buddha dengan Cahaya tidak terbatas".

Menurut Sutra Kehidupan Tanpa Batas atau Sutra Agung Kehidupan Tak Terhingga (Mahāyāna Amitāyus Sūtra), Amitābha dulunya, pada masa yang sangat lampau dan kemungkinan pada solar sistem yang lain, seorang bhikku bernama Dharmakāra. Pada beberapa versi dari sūtra, Dharmakāra digambarkan sebagai mantan raja Yang, setelah mendengar ajaran dari Buddha Lokesvararaja, kemudian meninggalkan tahtanya. Ia kemudian berketetapan hati untuk menjadi seorang Buddha dan memiliki sebuah Buddhakṣetra ( tanah suci Buddha , suatu alam yang terdapat di alam semesta primordial di luar Ruang dan Waktu biasa, dihasilkan dari kumpulan pahala yang dikumpulkan sang Buddha) dimana segala isinya sempurna. Ketetapan hati tersebut tertuang dalam 48 Ikrar Amitabha, menggambarkan jenis tanah suci Buddha seperti apa yang diaspirasikan oleh Dharmakāra, persyaratan seperti apa agar dapat terlahir di sana, dan wujud setiap makhluk yang terlahir di sana.

Pada versi sūtra yang dikenal luas di China, Vietnam, Korea, dan JepangSumpah ke-18 Dharmakāra adalah bahwa setiap makhluk di alam semesta manapun yang ingin terlahir di Tanah Suci Amitābha dan menyebut namanya bahkan hanya sebanyak 10 kali akan dipastikan untuk terlahir kembali di sana. Sumpah ke-19 menjanjikan bahwa, bersama dengan para Bodhisatwa dan makhluk suci lainnya, akan muncul di hadapan mereka yang menyebut namanya pada saat menjelang kematian. Keterbukaan dan penerimaan terhadap semua manusia tanpa terkecuali membuat Aliran Tanah Suci memiliki pengaruh besar terhadap Mahāyāna Buddhisme. Aliran Tanah Suci awalnya menjadi populer di barat laut India/Pakistan dan Afganistan, selanjutnya menyebar sampai ke Asia Tengah and China.

Sūtra tersebut juga menjelaskan bahwa Amitābha, setelah mengumpulkan kebajikan yang sangat besar selama sejumlah kehidupan yang tak terhingga, akhirnya mencapai Kebuddhaan dan hingga sekarang masih berdiam di tanah sucinya yaitu Sukhāvatī, yang digambarkan memiliki banyak kebaikan dan kegembiraan.
Doktrin dasar mengenai Amitābha dan sumpah-sumpahnya ditemukan pada tiga kanonikal teks Mahāyāna :
  • Sutra Kehidupan Tanpa Batas/Sutra Panjang Sukhāvatīvyūha
  • Sutra Amitabha/Sutra Pendek Sukhāvatīvyūha
  • Sutra Perenungan/Sutra Amitāyurdhyāna


Amitābha adalah Buddha cinta kasih tanpa batas. Beliau tinggal di barat (digambarkan dalam posisi meditasi) dan berupaya untuk mencerahkan setiap makhluk (digambarkan dalam posisi memberi berkah). Teknik paling penting yang beliau ajarkan adalah memvisualisasikan seluruh alam di sekitar sebagai tanah suci. Siapapun yang melihat dunianya sebagai tanah suci akan membangkitkan energi pencerahannya. Dunia dapat terlihat sebagai tanah suci dengan jalan menyatukan pikiran-pikiran positif (pikiran pencerahan) atau dengan mengirimkan cinta kasih kepada semua makhluk (berharap semua makhluk berbahagia). Menurut doktrin Amitabha, seseorang dapat datang ke tanah suci Amitābha jika pada saat menjelang kematiannya, mereka memvisualisasikan Amitābha bercahaya terang seperti matahari tepat di atas kepala mereka, mengulang-ulang nama beliau sebagai mantra dan melepaskan jiwa (kesadaran) melalui cakra mahkota.

BHAISAJYAGURU BUDDHA

Bhaisajya Guru Buddha - YAO SHI FO


Kelahiran, Sakit, Menjadi Tua, dan Kematian adalah 4 (empat) penderitaan terbesar dalam kehidupan manusia. Salah satu di antaranya adalah penderitaan karena sakit, dapat dikatakan adalah yang paling menderita di antara ke-4 penderitaan tersebut. Bahkan di zaman modern sekarang ini di mana ilmu kedokteran berkembang dengan amat pesatnya, menderita karena sakit adalah suatu hal yang sulit dihindari oleh setiap orang.
Oleh karena ini, dalam kepercayaan di kalangan masyarakat : Tabib Dewa, atau Dewa Obat, dengan sendirinya menjadi sandaran dan mendapat penghormatan secara khusus dari rakyat. Dalam khasanah dewata Buddhisme Tionghoa, muncullah Buddha Guru Obat untuk menyembuhkan penyakit.

Yao Shi Fo {Hok Kian = Yo Su Hut} berarti Buddha Guru Obat, disebut juga  Yao Shi Liu Li Guang Ru Laiatau  Yao Shi Ru Lai, atau  Da Yi Wang Fo.
Yo Su Hut (Sansekerta = BhaisajyaGuru Buddha) adalah salah satu Buddha dari masa yang paling awal. Beliau dikenal sebagai Buddha yang ahli dalam menyembuhkan penyakit. Yo Su Hut sebagai guru pengobatan amat dekat di hati masyarakat luas, karnea banyak orang telah memperoleh berkah dalam bentuk kesembuhan secara ajaib dari penyakitnya. Selain menyembuhkan penyakit, Yao Shi Fo dapat juga menghindarkan malapetaka & memberikan kemakmuran bagi para pemujanya. Sehingga banyak orang yang semula tidak mengenalnya, menjadi tertarik & memujanya.

Sejak Dinasti Jin (312-420 Masehi), Sutra dari Yao Shi Fo ini: Bhaisajya Guru Sutra, telah diterjemahkan dalam bahasa Mandarin. Namun karya terjemahan yang paling terkenal & masih banyak dibaca sampai sekarang adalah terjemahan oleh Maha Thera Xuan Zang pada masa Dinasti Tang, dan pada waktu itu dikenal dengan nama Bhaisajya Guru Vaidurya Prabhasa Tathagata atau Sutra dari Guru Penyembuhan.

Gelar “Guru Penyembuhan” adalah terjemah dari bahasa Sanskrit “Bhaisajya Guru Buddha” yang berarti Buddha yang memberkati para pemujanya dengan membebaskan mereka dari kesulitan-kesulitan dunia. Selain penyembuhan, perlindungan  dari mara bahaya, Yao Shi Fo juga memberikan berkah panjang umur & membantu arwah-arwah orang yang telah meninggal dunia menuju Nirwana.

Kebesaran Yo Su Hut memperoleh banyak simpati dari para pemujanya. Namanya sangat terkenal, namun kelenteng yang khusus hanya memuja beliau saja jarang ada. Di kelenteng-kelenteng atau wihara besar seperti Shao Lin Si di Song Shan, & Bi Yun Si di Xiang Shan, Yao Shi Fo selalu ditampilkan bersama-sama dengan Shi Jia Mou Ni Fo (Buddha Sakyamuni) & A Mi Tuo Fo (Buddha Amitabha). Mereka bertiga disebut San Bao atau Tri Ratna (Tiga Mestika).

Seperti kita ketahui dalam Buddhisme yang disebut Tri Ratna adalah Buddha,  Dharma &  Sangha. Buddha adalah orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna, Dharma adalah ajaran-ajaran suci Sang Buddha, & Sangha adalah persaudaraan suci para Bhikkhu/Bhikkhuni.  Dalam Bahasa Mandarin, Buddha disebut sebagai Fo Bao, Dharma disebut sebagai Fa Bao, & Sangha disebut  Seng Bao. Ketiganya secara bersama disebut San Bao (Sansekerta = Tri Ratna). San Bao ini dalam Khasanah Dewata Buddhisme Tionghoa dipersonifikasikan dengan 3 (tiga) tokoh, yaitu : Shi Jia Mou Ni Fo sebagai Fo Bao, A Mi Tuo Fo sebagai Fa Bao, & Yao Shi Fo sebagai Seng Bao.

Karena ketiganya amat mirip satu dengan lainnya, untuk membedakan , dalam Buddhisme Tiongkok : Yao Shi Fo biasanya ditampilkan dengan memegang mangkuk obat & pagodaTapi bila dipuja tersendiri, Yao Shi Fo dilukiskan dengan memegang lambangnya, yaitu pagoda di tangan kiri, didampingi  Ri Guang Bian Zhao Pu Sa &  Ye Guang Bian Zhao Pu Sa. Bertiga disebut  Dong Fang San Sheng.

Dalam Buddhisme TibetanYao Shi Fo (Sangye Menla) digambarkan memiliki tubuh berwarna biru (memancarkan cahaya Lapis Lazuli/Vaidurya),dengan memakai jubah 3 lapis seorang biksu,Tangan kiri berposisi seperti meditasi dengan memegang sebuah mangkok berisi obat-obatan dan nektar, sementara tangan kanan memegang buah Aruna, yang dalam beberapa Thangka (lukisan Buddhis Tibet) , dari Buah itu muncul semacam tunas atau daun yang berbunga.

Pada waktu masih Bodhisatva, Yao Shi Fo pernah mengucapkan “12 Ikrar Agung” untuk membebaskan makhluk hidup dari belenggu penderitaan, memperteguh kepercayaan mereka, menyadarkan mereka dari jeratan ajaran-ajaran sesat, menyembuhkan badan orang-orang cacat, membebaskan umat yang akan menjalani hukuman mati, mengawasi & membimbing mereka menuju keterbebasan, dan membimbing mereka menuju kehidupan bahagia & tenteram. Keseluruhan 12 Ikrar Agung tersebut, 7 di antaranya adalah khusus untuk membebaskan manusia dari penyakit badaniah & mengusir kebingungan orang yang tidak mendapat santapan rohani.

Hari ulang tahun Yao Shi Fo diperingati setiap tahun pada bulan 9 tanggal 30 Imlek.

Bhaisajyaguru Buddha memiliki 12 orang pengikut sebagai pengawalnya. Ke 12 pengawal ini memiliki kekuatan untuk melindungi orang-orang yang melaksanakan Sadhana Bhaisajyaguru Buddha. Bila pelaksana ketika melakukan Sadhananya itu dapat mencapai kontak batin dengan Bhaisajyaguru Buddha, maka akan dapat memerintahkan ke-12 prajurit tersebut untuk mendatangkan kekuatan yang tidak terhingga dan menjaganya dari segenap mara bahaya sepanjang hari secara bergantian.12 Jendral Bhaisajyaguru Buddha antara lain: Kumbhira, Vajra, Mihira, Andira, Anila, Sandila, Indra, Pajra, Makura, Kinnara, Catura, dan Vikara.


SAKYAMUNI BUDDHA




Setiap SI GWEE CAP GO (bulan 4 tanggal 15 Imlek), umat Buddha memperingati Hari Trisuci Waisak, yaitu memperingati 3 (tiga) peristiwa suci :
  1. Hari lahir Pangeran Sidharta Gautama.
  2. Saat pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna, &
  3. Hari Pari Nibbana Buddha Sakyamuni.
Namun di VIHARA MAHAYANA dan kelenteng-kelenteng, hari lahir Buddha Sakyamuni diperingati setiap bulan 4 tanggal 8 penanggalan Imlek. Sementara hari beliau Cheng Dao {Sik Ka Mo Ni Hut Sing To = Buddha Sakyamuni mencapai Penerangan Sempurna} diperingati setiap bulan 12 tanggal 8 penanggalan Imlek. Tetapi ada juga Vihara MAHAYANA yang merayakan Hari Tri suci waisak di Bulan 4 imlek bersamaan dengan Vihara Theravada

Shi Jia Mou Ni Fo {Hok Kian = Sik Ka Mo Ni Hut = Buddha Sakyamuni} adalah perintis Agama Buddha yang merupakan salah satu dari 3 (tiga) agama besar di dunia dengan penganut yang berjumlah milyaran orang. Buddha Sakyamuni adalah ahli agama yang agung & mulia, juga adalah orang suci yang arif bijaksana & diakui di seluruh dunia.

Ideologi & peradaban (kebudayaan) agama Buddha yang disabdakan Buddha Sakyamuni, diturunkan dari generasi ke generasi, sejak lama telah menjadi aspek penting & utama yang memberikan nuansa aneka warna kebudayaan Dunia Timur, dan juga telah meninggalkan kebudayaan berharga yang sempurna & berlimpah bagi sejarah dunia.

Sik Ka Mo Ni Hut adalah guru agung para Dewa & manusia. Perjalanan hidup Beliau yang telah mencapai penerangan sempurna atas usaha sendiri, merupakan kisah perjuangan yang tiada taranya guna mendapatkan kebahagiaan abadi.

Sik Ka Mo Ni Hut lahir pada tahun 623 SM di sebuah Kerajaan yang terletak di daerah Madyadesa, India Utara (sekarang Kerajaan Nepal), dengan ibukotanya Kapilavastu. Beliau terlahir dengan nama Sidharta Gautama. Sidharta berarti : “Seorang yang tercapai cita-citanya”. Sebelum terlahir sebagai Pangeran Sidharta, beliau sebenarnya adalah Maha Bodhisatva yang datang dari Surga Tusita.
Ayah Sidharta adalah Raja Sudhodana yang berasal dari Suku Sakya. Karena berasal dari Suku Sakya inilah maka kemudian beliau disebut sebagai Buddha Sakyamuni. Ibunda beliau adalah Ratu Mahamaya.
Sebelum melahirkan Sidharta, Dewi Mahamaya bermimpi melihat seekor gajah putih bertaring empat mengelilingi tempat tidurnya searah jarum jam sebanyak 3 X. Kemudian gajah putih tersebut bersama sebuah bintang segi 6 (enam) yang bercahaya amat terang memasuki perut Dewi Mahamaya. Setelah mimpi tersebut, Dewi Mahamaya mengandung. Namun sungguh aneh, walaupun telah mengandung selama lebih dari 9 bulan, anak yang ditunggu-tunggu belum juga lahir.

Pada waktu kandungan permaisuri berusia 10 bulan, beliau mengunjungi keluarganya di Devadaha. Saat itu juga jalan-jalan dari Kapilavastu ke Devadaha dibersihkan & dipenuhi dengan hiasan-hiasan indah. Di antara kedua kota terhampar Taman Lumbini yang dipenuhi pohon sal. Pada waktu itu bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, berbagai jenis burung bersiul-siul sepanjang hari. Melihat keindahan Taman Lumbini tersebut, sang permaisuri beristirahat di bawah pohon sal di dalam taman itu. Ketika permaisuri hendak meraih salah satu dahan pohon sal itu, tubuhnya terguncang oleh getaran kelahiran anak. Dengan memegangi dahan pohon & dalam keadaan berdiri, ia melahirkan seorang putra. Waktu itu tepat bulan Waisaka Purnamasidhi.

Sewaktu beliau lahir terjadi keajaiban, seperti yang tercatat dalam Kitab Sakyamuni Buddha : Sungguh mengherankan. Bayi tersebut lahir dalam keadaan bersih, tak ternoda oleh cairan, lendir, darah, ataupun kotoran yang lain. Pada saat kelahiran sang pangeran, 2 arus air jatuh dari langit. Yang satu dingin, & yang satunya lagi hangat. 2 arus air ini membasuh bayi tersebut & ibunya. Bahkan bayi tersebut lahir dalam keadaan berdiri tegak.

Begitu bayi tersebut dilahirkan, ia melangkah 7 (tujuh) langkah. Bunga teratai yang berwarna merah & kuning keemasan muncul dari dalam tanah setiap kali ia menapakkan kakinya. Pada langkah terakhir, dengan tangan kanan menunjuk ke langit & tangan kiri menunjuk ke bumi, bayi tersebut mengumandangkan suaranya dengan lantang : “Akulah yang teragung di antara langit & bumi. Aku datang dari Surga Tusita. Aku datang untuk membabarkan rahasia-rahasia alam semesta & kebenaran tentang kehidupan, guna membebaskan makhluk hidup dari penderitaan. Inilah kelahiranku yang terakhir di dunia ini!”

Bayi tersebut kemudian dibawa ke istana. Raja Suddhodana amat bahagia menyambut kedatangan putranya. Pada hari itu juga di istana datanglah seorang pertapa dari Gunung Himalaya yang bernama Kala Dewala (disebut juga Pertapa Asita), bersama keponakannya Nakala. Saat melihat bayi tersebut, ia langsung menjatuhkan diri & berlutut. Pertapa Kala Dewala tertawa bahagia. Namun kemudian ia menangis tersedu-sedu. Raja sangat heran melihat kejadian ini. Raja menanyakan apakah ada yang tidak baik dalam diri putranya? Pertapa Kala Dewala menjelaskan bahwa ia gembira karena di dunia telah lahir seorang manusia agung, seorang calon Buddha. Namun ia menangis sedih karena mengingat usianya yang telah tua, sehingga tidak mungkin baginya untuk mendengarkan ajaran Buddha ini kelak.

Demikianlah seorang Maha Bodhisatva telah dilahirkan melalui kandungan Permaisuri Dewi Maha Maya yang berhati suci & berbudi luhur. Seminggu setelah melahirkan Pangeran Sidharta, sang ibunda meninggal dunia. Pangeran Sidharta kemudian dibesarkan dengan penuh kasih sayang oleh bibinya (adik Dewi Mahamaya) Putri Prajapati.

Sebagai seorang Pangeran, Sidharta menikmati kehidupan istana yang menyenangkan, nikmat & serba berkecukupan. Raja Sudhodana membangun 3 (tiga) buah istana untuk Pangeran Sidharta. Satu untuk musim panas, satu untuk musim dingin, & satu lagi untuk musim hujan. Sejak kecil, Sidharta dilimpahi dengan segala jenis kemewahan dunia. Raja Sudhodana mengharapkan putranya naik tahta & menggantikan ayahnya sebagai seorang Raja. Namun Pangeran Sidharta tak terbiasa dengan kehidupan mewah, senang & berkedudukan tinggi seperti ini.

Pangeran Sidharta menikah pada usia 16 tahun dengan Putri Yasodhara, yang masih merupakan saudara sepupu Pangeran Sidharta. Putri Yasodhara yang cantik jelita adalah putri tunggal dari Raja Suprabuddha & Ratu Pamita dari suku Koliya. Untuk bisa menyunting Putri Yasodhara ini diadakan sayembara besar-besaran. Yang mengikuti sayembara ini adalah para ksatria gagah & para pangeran dari hampir semua kerajaan-kerajaan di daratan India.

Sayembara ini selain untuk memperebutkan Putri Yasodhara, juga sekaligus sebagai ajang pembuktian siapa yang terbaik di antara kerajaan-kerajaan tersebut. Sayembara itu adalah perlombaan memanah dengan busur raksasa, perlombaan menjinakkan kuda liar, perlombaan merobohkan pohon raksasa dengan sebilah pedang. Pangeran Sidharta memenangi seluruh perlombaan yang diadakan & akhirnya menikah dengan Putri Yasodhara. Pernikahan mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Rahulayang berarti belenggu.

Pada usia 29 tahun, Pangeran Sidharta melihat 4 peristiwa yang kemudian sama sekali mengubah jalan kehidupannya. Pertama, ia melihat seorang tua yang berjalan tertatih-tatih dengan bersandar pada tongkatnya. Kedua, ia melihat seorang yang menderita sakit parah.Ketiga, ia melihat seorang yang telah meninggal dunia. Keempat, ia melihat seorang pertapa dengan jubah kuning berjalan tenang dengan wajah yang penuh kedamaian. Ketiga peristiwa pertama menyadarkan pangeran akan hukum alam yang pasti akan dialami setiap orang tanpa pandang bulu. Peristiwa keempat menunjukan cara untuk mengatasi penderitaan dunia & mencapai ketentraman hidup.

Demikianlah Sang Pangeran Sidharta meninggalkan istana pada usia 29 tahun bersama pengiringnya yang setia, Channa & kuda putihnya Kanthaka. Beliau membina diri dengan penuh penderitaan di hutan. Ia berguru kepada pertapa-pertapa terkenal, seperti Resi Alara Kalama & Uddaka Ramaputra.
Enam tahun lamanya beliau membina diri hidup sebagai seorang pertapa di hutan Uruvela. Ia menjalani penyiksaan diri & pantang makan yang keras, sehingga beliau menjadi kurus kering & amat lemah. Pada waktu beliau diliputi kekosongan bathin & penderitaan badan yang amat sangat, serombongan penari lewat di dekat tempatnya bertapa, sambil mendendangkan nyanyian merdu: “Jika senar mandolin ditarik terlalu kencang, akan putuslah senarnya. Sebaliknya jika senar mandolin terlalu dikendurkan, akan hilanglah suaranya.” Bait lagu ini menyadarkan beliau akan perlunya merawat badan untuk menjamin kesegaran bathin. Ia sadar bahwa dengan penyiksaan diri yang berat seperti itu tidak akan berhasil mencapai penerangan sempurna.

Pada suatu hari datanglah Sujata, seorang wanita muda, mempersembahkan makanan dari susu murni ke hadapan pertapa Gautama, sebagai pernyataan terima kasih atas terkabulnya permintaannya untuk memiliki seorang putra. Sujata mengira pertapa Gautama adalah penjelmaan dari dewa yang telah mengabulkan permintaannya, sehingga ia menyajikan masakan yang enak bagi pertapa kurus namun agung itu. Pertapa Gautama menerima persembahan makanan Sujata.
Sementara itu 5 orang pertapa yang mengikuti pertapa Gautama semenjak ia menjalani penyiksaan diri, ketika melihat ia mulai makan secukupnya, meninggalkan pertapa Gautama karena menganggap beliau telah kalah, karena telah menjalani kehidupan yang berlebihan.
Kemudian pertapa Gautama berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan bangkit & berhenti samadhi sebelum cita-citanya untuk mendapatkan penerangan sempurna demi kebahagiaan umat manusia sejagat raya tercapai. Dengan tekad yang tak tergoyahkan pertapa Gautama menekuni kembali Samadhi Anapanasati Bhavana selama 7 minggu, yang pernah dilatihnya sewaktu beliau berusia 7 tahun.

Dalam samadhinya, pertapa Gautama mencapai Jhana pertama, di mana kegiuran & kegembiraan muncul dari penyepian bersama dengan penalaran & pengamatan. Namun, perasaan itu tidak menguasai pikirannya. Dengan berakhirnya penalaran & pengamatan ia mencapai & tinggal di dalam jhana kedua, di mana kegiuran & kegembiraan muncul dari konsentrasi, dengan kedamaian & pemusatan pikiran pada 1 titik, tanpa penalaran & pengamatan.

Ia tinggal dengan penuh perhatian & sadar, tinggal dengan keseimbangan. Ia mencapai & tinggal dalam jhana ketiga. Meninggalkan kenikmatan bahkan sebelum lenyapnya kegembiraan & ketenangan bathin, ia mencapai & tinggal dalam jhana keempat, yang adalah tanpa rasa sakit maupun kenikmatan, hanya berisikan kesucian yang timbul dari perhatian & keseimbangan.

Pada pengamatan pertama malam itu, beliau memperoleh pengetahuan pertama, yaitu ia mengingat banyak rincian kehidupannya di masa yang lalu dengan amat jelas, beliau juga melihat banyak siklus kehancuran & pembentukan alam semesta. Pada pengamatan yang kedua kalinya pada malam itu, dengan pandangan yang terang & suci beliau memperoleh pengetahuan kedua, yaitu ia melihat mahluk hidup mati & dilahirkan kembali (tumimbal lahir), mahluk hidup yang melakukan perbuatan jahat, pada saat kematiannya dilahirkan kembali dalam keadaan yang menderita & sengsara. Tetapi mahluk hidup yang menjalani hidup baik dalam perbuatan, kata-kata & pikiran, pada saat kematian dilahirkan kembali dalam keadaan yang membahagiakan.

Kemudian pada pengamatan terakhir malam itu ia memusatkan pikirannya yang jernih & bersih pada pengetahuan terhadap kehancuran kekotoran bathin. Ia memperoleh pengetahuan ketiga yaitu: ia menyadari adanya penderitaan, sebab penderitaan, lenyapnya penderitaan, & jalan menuju lenyapnya penderitaan. Setelah menyadari kebenaran ini, pikirannya bebas dari nafsu indria, bebas dari nafsu keinginan, & bebas dari ketidaktahuan. Ia menyadari bahwa kelahiran kembali telah dilenyapkan; bahwa telah terlaksana apa yang harus dilaksanakan.

Akhirnya di bawah pohon Bodhi di Bodh Gaya, tepat pada malam Purnamasidhi di bulan Waisak, pada usia 35 tahun pertapa Gautama mencapai Penerangan Sempurna atau Samyak Sambodhi, & dengan demikian menjadi Samyak Sambuddha, Buddha Yang Maha Sempurna.Sejak itu beliau disebut sebagai Buddha Gautama.

Tepat 2 bulan setelah mencapai kesempurnaan, di Taman Rusa Isipatana, Buddha Gautama untuk pertama kalinya membabarkan Dharma, Ajaran-Nya, kepada 5 orang pertapa yang menemaninya selama masa penyiksaan diri. Dalam khotbah-Nya yang pertama, Buddha membabarkan Empat Kesunyataan Mulia Jalan Mulia Beruas Delapan. Peristiwa ini sekarang diperingati oleh umat Buddha sebagai Hari Suci Asadha, hari pemutaran roda Dharma. Selanjutnya, kelima orang pertapa itu ditahbiskan oleh Buddha menjadi Bhikkhu-bhikkhu yang pertama.

Buddha membabarkan Dharma selama 45 tahun kepada murid-muridnya yang tak terhitung jumlahnya & mendirikan Sangha (persaudaraan suci para Bikkhu/Bikkhuni).
Pada tahun 543 SM pada usia 80 tahun, pada bulan Waisaka Purnamasidhi, di kota Kusinara, di kebun bunga Sala, di bawah 2 batang pohon sal, Buddha Sakyamuni, Guru Agung para Dewa & manusia, dengan tenang Parinibbana (wafat). Para dewa & brahma terus menaburkan bunga-bunga & air suci menyambut Buddha Yang Maha Sempurna meninggalkan bentuk-Nya di dunia fana ini. Raga Buddha telah disempurnakan, tetapi ajaran Dharma-Nya tetap hidup & jaya sepanjang masa mengarungi seluruh penjuru alam semesta.

Dalam bahasa Mandarin, Ru Lai Fo {Hok Kian = Ji Lay Hud } merupakan sebutan penghormatan kepada Buddha Sakyamuni. Sebutan Ru Lai merupakan terjemahan dari bahasa Sansekerta, Tathagata, yang berarti Ia Yang Datang.