TERPUJILAH PARA BUDDHA, PARA BHODHISATTVA MAHASATTVA, SERTA PARA ARYA NAN BIJAKSANA..._/\_ NAMO BUDDHAYA _/\_


Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.

W E L C O M E ( E H I P A S S I K O )
Showing posts with label SILSILAH BUDDHA. Show all posts
Showing posts with label SILSILAH BUDDHA. Show all posts

Thursday, 21 November 2013

MENGAPA BANYAK TRADISI / SEKTE DALAM AGAMA BUDDHA??



Sang Buddha membabarkan ajaran-Nya dengan banyak cara karena mahluk hidup (semua mahluk yang memiliki kesadaran tetapi belum menjadi Buddha, termasuk juga yang berada di alam-alam kehidupan lain) mempunyai watak, kebiasaan, dan minat yang berbeda-beda. Beliau tidak pernah mengharapkan kita semua cocok dengan satu bentuk sehingga ajaran-Nya pun di berikan dalam banyak cara dan dalam beragam cara melatih diri - dengan demikian tiap orang bisa menemukan sesuatu yang sesuai dengan tingkat kesadaran dan kepribadiannya.


Dengan keahlian dan belas kasih-Nya dalam menuntun yang lain, Sang Buddha memutar roda Dhamma sebanyak tiga kali - setiap kali selalu dengan sedikit perubahan sistem filosofi. Tetapi esensi dari semua ajaran itu sama : tekad yang teguh untuk keluar dari lingkaran penderitaan yang berulang-ulang (samsara), belas kasih kepada mahluk lain, dan kebijaksanaan tanpa ke"aku"an.

Tidak semua orang menyukai menu yang sama. Jika sebuah jamuan besar terhampar di depan kita, kita kan memilih makanan yang kita senangi. Tidak ada keharusan untuk menyukai semua makanan. Akan tetapi, meski kita lebih menyukai makanan yang manis-manis, tidak berarti bahwa yang asin tidak baik dan mesti di buang! Demikian juga halnya, kita bisa saja memilih suatu pendekatan khusus dari Ajaran: apakah itu Theravada, Tanah Suci (Sukhavati), Zen, Vajrayana, dan sebagainya. Kita memiliki kebebasan untuk memilih pendekatan yang paling sesuai, yang dengannya kita merasa paling nyaman. Pun begitu, kita harus tetap mempertahankan pikiran yang terbuka dan menghormati tradisi yang lain. Seiring dengan berkembangnya batin, kita bisa mengerti unsur-unsur dalam tradisi yang lain yang gagal kita pahami pada awalna. Singkatnya, apa saja yang berguna dan bermanfaat bagi kita untuk hidup lebih baik, kita praktekan, tanpa perlu menolaknya. Sementara itu, jangan menempelkan identitas padanya dengan cara-cara yang konkret, seperti: “Saya seorang Mahayanis, engkau seorang Theravadin,” atau ” Saya seorang Buddhis, engkau seorang Kristen.” Adalah penting untuk diingat di sini bahwa kita semua adalah mahluk hidup yang mencari kebahagiaan dan ingin menyelami Kebenaran, yang masing-masing menemukan satu metoda yang sesuai.

Bagaimanapun, mempertahankan pikiran yang terbuka terhadap pendekatan yang berbeda tidak berarti mencampur-adukan semuanya dengan acak, dan membuat latihan kita seperti cap-cai. Jangan mencampur teknik-teknik meditasi dari tradisi yang berbeda dalam satu latihan meditasi. Dalam satu masa latihan, lebih baik mempraktekkan satu cara saja. Jika kita mengambil sediikt dari teknik ini dan secuil dari teknik itu, tanpa benar-benar mengerti satu teknik pun, hasilnya barangkali hanya kebingungan!

Meskipun ajaran dari suatu tradisi bisa memperkaya pengertian dan latihan dari teknik yang lain, di nasihatkan untuk mempraktekkan hanya satu metoda dalam latihan sehari-hari. Jika kita melakukan meditasi pernafasan hari ini, melafalkan Buddha keesokan harinya, meditasi analitis pada hari ketiga, maka kita tidak akan memperoleh kemajuan dalam satu metoda pun karena tidak adanya kontinuitas dalam latihan tersebut.




Wednesday, 20 November 2013

BUDDHAVAMSA

BUDDHAVAMSA : SILSILAH PARA BUDDHA

Pengertian Buddhavamsa:

BUDDHA = yang tercerahkan (Sang Buddha)
VAMSA = keturunan, keluarga atau silsilah

BUDDHAVAMSA adalah keterangan dan penjelasan dari silsilah dua puluh empat Buddha yang muncul sebelum Buddha Gotama. Buddhavamsa merupakan buku ke 14 dari Khuddaka Nikāya yang memberikan penjelasan historis singkat tentang Buddha Gotama dan 24 Buddha sebelumnya. Buddhavamsa terdiri dari 29 bagian dalam bentuk syair.

Bagian ke-1: menjelaskan tentang YM Sariputta bertanya kepada Sang Buddha kapankah beliau pertama kali mencanangkan tekad untuk berjuang  menjadi Buddha, dan kesempurnaan (Parami) apa saja yang telah beliau penuhi untuk mencapai pencerahan atau menjadi Buddha.

Bagian ke-2: Sang Buddha menjelaskan bagaimana sebagai petapa Sumedha beliau mendapatinspirasi dari Buddha Dipankara sehingga beliaupun mencanangkan tekad untuk mencapai Buddha, serta bagaimana Buddha Dipankara kemudian memberikan berkahnya kepada petapa Sumedha dengan meramalkan bahwa Sumedha akan menjadi Buddha dengan nama Gotama setelah periode waktu empat Asankheyya dan seratus ribu Kappa (siklus Bumi).

Bagian ke-3 – ke-27: menjelaskan tentang 25 Buddha termasuk Buddha Gotama, secara rinci tentang kelahiran, status keluarga, nama orang tua, nama isteri dan anak-anaknya, masa kehidupannya, cara meninggalkan keduniawian, lamanya mereka berupaya untuk mencapai ke-Buddhaan, ajaran mereka tentang Dhammacakka Sutta, nama-nama siswa utama dan siswa awam utama mereka. Setiap bagian ditutup dengan penjelasan dimana para Buddha itu meninggal dan bagaimana relik mereka dibagikan.

Bagian ke-28: disebutkan nama dari tiga Buddha, yaitu Tanhankara, Medhankara, dan Saranankara yang hidup sebelum Buddha Dipankara. Dibagian ini pula, Sang Buddha menyatakan bahwa Buddha Metteya akan muncul di dunia ini setelah Beliau.

Bagian ke-29: menjelaskan tentang bagaimana relik-relik Sang Buddha dibagikan dan di mana disimpan.

Sepuluh macam Kesempurnaan (Dasa Pāramī):
Dāna : Kemurahan hati untuk memberi
Sila : kemoralan
Nekkhama : peninggalan kesenangan indra
Paňňā : kebijaksanaan
Viriya : usaha/semangat
Khanti : Kesabaran
Sacca : kebenaran
Adhitthana : keputusan yang teguh/tekad yang kuat
Metta : cinta kasih
Upekkha : keseimbangan batin.

Empat macam KAPPA 
(Siklus Bumi/periode waktu yang sangat lama):
  • Âyu-kappa : usia rata-rata manusia.
  • Antara-kappa : bertambah dan menurunnya usia manusia berkisar antara sepuluh hingga mencapai ribuan tahun.
  • Asańkheyya-kappa : kurun waktu yang tak terhitung lamanya (yang lamanya 64 Antara-kappa).
  • Mahā-kappa : kurun waktu yang sangat lama (yang lamanya 4 Asańkheyya- kappa).

Sang Buddha berkata bahwa Mahā-kappa adalah lebih lama jika dibandingkan dengan lama waktu yang digunakan oleh seseorang untuk mengikis batu karang yang panjang serta lebarnya satu yojana (sekitar 7 mil) dengan mengusapkan kain sutra pada batu karang tersebut setiap seratus tahun sekali. Dan juga melebihi lama waktu yang diperlukan untuk membersihkan suatu tempat yang berukuran satu yojana, yang panjang, lebar, serta tingginya dipenuhi dengan biji lada dengan membuang satu biji lada setiap seratus tahun sekali.

Tiga macam BUDDHA:
  • Viriyā-dhika Buddha : Buddha yang khususnya memiliki usaha kuat untuk mencapai penerangan. Ia harus memenuhi sepuluh kesempurnaan (Pārami) selama 16 Asankheyya dan seratus ribu kappa.
  • Saddhā-dhika Buddha : Buddha yang khusunya memiliki keyakinan yang teguh dalam mencapai penerangan sempurna. Ia harus memenuhi sepuluah macam kesempurnaan (Pārami) selama 8 Asankheyya dan seratus ribu kappa.
  • Paňňā-dhika Buddha : Buddha yang khusunya memiliki kebijaksanaan. Ia harus memenuhi sepuluh kesempurnaan (Pārami) selama 4 Asankheyya dan seratus ribu kappa (siklus bumi).

Empat Kondisi Untuk Mencapai Ke Buddhaan:
  • Ussāha (tenaga eksepsional) yaitu usaha dalam memenuhi kesempurnaan, pengorbanan, dan latihan (Pāramī, cāga dan cariya).
  • Ummanga : pemahaman dan kebijaksanaan yang tinggi serta memiliki intelektual yang memadai.
  • Avatthāna : memiliki tekad yang kuat dan memiliki tujuan yang tepat.
  • Hitācariya : memiliki belas kasih dan kasih sayang kepada semua makhluk.

Enam Macam Periode/Masa kemunculan Buddha:
  • Sāra-kappa : Periode/suatu masa dimana hanya satu Buddha yang muncul.
  • Maņda-kappa : Periode/suatu masa dimana terdapat dua Buddha yang muncul.
  • Vara-kappa : Periode/suatu masa dimana terdapat tiga Buddha yang muncul.
  • Sāramaņda-kappa : Periode/suatu masa dimana terdapat empat Buddha yang muncul.
  • Bhadda-kappa : Periode/suatu masa dimana terdapat lima Buddha yang muncul.
  • Suňňa-kappa : Periode/suatu masa dimana tidak terdapat satu Buddhapun muncul.
*Suňňa-kappa “Periode/masa hampa” karena tidak ada satu Buddhapun yang muncul pada periode/masa tersebut.

Dua puluh Delapan Buddha di Masa Lampau (dengan Usia rata-rata mereka masing- masing):

I. Sāramaņda-kappa (Empat Buddha):

1. Buddha- Taņhankara (100.000 tahun)
2. Buddha-Medhankara (90.000 tahun)
3. Buddha-Saranankara (80.000 tahun)
4. Buddha-Dipankara (100.000 tahun)
*Buddha Gotama memperoleh ramalan yang pertama kalinya untuk menjadi seorang Buddha; seorang yang tercerahkan dari   Buddha-Dipańkara.
*Kemudian, ASANKHEYYA-KAPPA disebut juga Sela-Asańkheyya-kappa  adalah selang waktu yang pertama antara Sāramaņda-kappa dengan Sāra-kappa.

II. Sāra-kappa (Satu Buddha):

5.   Buddha-Kondaňňa (100.000 tahun)
*Kemudian, ASANKHEYYA-KAPPA yaitu selang waktu yang kedua di sebut Bhāsa- Asańkheyya.

III. Sāramaņda-kappa (Empat Buddha):

6. Buddha-Mańgala (90.000 tahun)
7. Buddha-Sumana (90.000 tahun)
8. Buddha-Revata (60.000 tahun)
9. Buddha-Sobhita (90.000 tahun
*Selanjutnya, ASANKHEYYA-KAPPA yaitu selang waktu yang ketiga di sebut Jaya-Asańkheyya.

IV. Vara-Kappa (Tiga Buddha)

10. Buddha-Anomadassī (100.000 tahun)
11. Buddha-Paduma (100.000 tahun)
12. Buddha-Nārada (90.000 tahun)
*Kemudian, ASANKHEYYA-KAPPA yaitu selang waktu yang keempat di sebut Rucira-Asańkheyya. Inilah Buddha-buddha yang muncul pada empat Asańkheyya yang lampau.

V. Sāra-Kappa (Satu Buddha) – 100. 000 Bumi sebelum bumi sekarang ini

13. Buddha-Padumuttara (100.000 tahun)
*kemudian, sekitar 70.000 Bumi tidak terdapat Buddha.

VI. Maņda-Kappa (Dua Buddha) – 30.000 Bumi sebelum bumi sekarang ini:

14.   Buddha-Sumedhā (90.000 tahun)
15.  Buddha-Sujāta (90.000 tahun)
*Kemudian, sekitar 28.200 Bumi tidak terdapat seorang Buddha.

VII. Vara-Kappa (Tiga Buddha) – 1800 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:

16. Buddha-Piyadassī (90.000 tahunn)
17. Buddha-Atthadassī (100.000 tahun)
18. Buddha-Dhammadassī (100.000 tahun)
*Kemudian, 1705 bumi menjadi kosong atau tidak terdapat seorang Buddha.

VIII. Sāra-Kappa (Satu Buddha) – 94 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:

19. Buddha-Siddhata (100.000 tahun)
*Kemudian satu Bumi  tidak ada satu Buddhapun yang muncul

IX. Manda-Kappa (Dua Buddha) – 92 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:

20. Buddha-Tissa (100.000 tahun)
21. Buddha-Phussa (90.000 tahun)

X. Sāra-Kappa (Satu Buddha) – 91 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:

22. Buddha-Vipassī (80.000 tahun)
*Kemudian 59 Bumi  tidak ada satu Buddhapun yang muncul

XI. Manda-Kappa (Dua Buddha) – 31 Bumi sebelum Bumi sekarang ini:

23. Buddha-Sikhī (70.000 tahun)
24. Buddha-Vesabhū (60.000 tahun)
*Kemudian 29 Bumi  tidak ada satu Buddhapun yang muncul

XII. Bhadda-Kappa (Lima Buddha) – Bumi sekarang ini:

25. Buddha-Kakusandha (40.000 tahun)
26. buddha-Konāgamana (30.000 tahun)
27. Buddha-Kassapa (20.000 tahun)
28. Buddha-Gotama (100 tahun) Buddha yang saat ini,

Catatan:
Buddha tidak pernah muncul apabila usia rata-rata manusia di bawah 10 tahun atau lebih dari 100.000 tahun di alam manusia. Karena dengan usia yang sangat singkat dan juga cukup lama tersebut, manusia tidak akan mampu merealisir tiga corak atau karakteristik utama dari kehidupan yaitu ketidak kekalan (anicca), penderitaan (dukkha) dan ketidak-akuan (anatta).
Buddha tidak pernah hidup sampai akhir usianya tetapi hidup 80% dari usianya. Sebagai contoh: apabila usia rata-rata adalah 100.000 tahun maka Buddha akan hidup sampai berusia 80.000 tahun. Dan apabila usia rata-rata 100 tahun maka Buddha akan hidup sampai usia 80 tahun.
Bodhisatta tidak akan pernah menjadi Buddha apabila belum memenuhi 10 kesempurnaan (dasapāramī), paling tidak selama 4 Asankheyya dan seratus ribu kappa berdasarkan pada spesialisasi mereka masing-masing.

Buddhavamsa (KN. 14)

1. Buddha Dipankara
Tempat Kelahiran  : Kota Rammavati
Nama ayah & ibu  : Raja Sudeva dan Ratu Sumedha
Dua siwa utama Thera  : Sumangala Thera dan Tissa Thera
Pendamping setia  : Sagata Thera
Dua siswa utama Theri  : Nanda Theri dan Sunanda Theri
Pohon Bodhi : Pohon Pipphala
Siswa awam utama pria : Tapussa dan bhallika
Siswa awam utama wanita : Sirima dan Sona
Tinggi badan     : 80 kubit/lengan

2. Buddha Kondanna
Tempat Kelahiran  : Kota Ramavati
Nama ayah & ibu  : Raja Sunanda dan Ratu Sujata
Dua siwa utama Thera    : Bhadda Thera dan Subhadda Thera
Pendamping setia  : Anuruddha Thera
Dua siswa utama Theri  : Tissa Theri dan Upatissa Theri
Pohon Bodhi     : Pohon Salakalyani
Siswa awam utama pria   : Sona dan Upasona
Siswa awam  utama wanita   : Nanda dan Sirima
Tinggi badan    : 88 kubit/lengan (44 m)

3. Buddha Mangala
Tempat Kelahiran   : Kota Uttara
Nama ayah & ibu   : Raja Uttara dan Ratu Uttara
Dua siwa utama Thera  : Sudeva Thera dan Dhammasena Thera
Pendamping setia  : Palita Thera
Dua siswa utama Theri   : Sivala Theri dan Asoka Theri
Pohon Bodhi  : Pohon Nag
Siswa awam  utama pria  : Nanda dan Visakha
Siswa awam utama wanita   : Anula dan Sutana
Tinggi badan    : 88 kubit/lengan

4. Buddha Sumana
Tempat Kelahiran   : Kota Mekhala
Nama ayah & ibu   : Raja Sudatta dan Ratu Sirima
Dua siwa utama Thera    : Sarana Thera dan Bhavitatta Thera
Pendamping setia    : Udena Thera
Dua siswa utama Theri    : Sona Theri dan Upasona Theri
Pohon Bodhi     : Pohon Naga
Siswa awam utama pria    : Tapussa dan bhallika
Siswa awam utama wanita  : Varuna dan Sarana
Tinggi badan     : 90 kubit/lengan

5. Buddha Revata
Tempat Kelahiran   : Kota Sudhanna
Nama ayah & ibu  : Raja Vipula dan Ratu Vipula
Dua siwa utama Thera  : Varuna Thera dan Brahmadeva Thera
Pendamping setia    : Sagata Thera
Dua siswa utama Theri   : Bhadda Theri dan Subhadda Theri
Pohon Bodhi    : Pohon Naga
Siswa awam utama pria   : Paduma dan Kunjara
Siswa awam utama wanita   : Sirima dan Yasavati
Tinggi badan  : 80 kubit/lengan

6. Buddha Sobhita
Tempat Kelahiran   : Kota Sudhamma
Nama ayah & ibu     : Raja Sudhamma dan Ratu Sudhamma
Dua siwa utama Thera   : Asama Thera dan Sunetta Thera
Pendamping setia     : Anoma Thera
Dua siswa utama Theri     : Nakula Theri dan Sujata Theri
Pohon Bodhi        : Pohon Naga
Siswa awam utama pria    : Rama dan Sudatta
Siswa awam utama wanita  : Nakula dan Mitta
Tinggi badan    : 58 kubit/lengan (kira-kira 29 m)

7. Buddha Anomadassi
Tempat Kelahiran   : Kota Candavati
Nama ayah & ibu      : Raja Yasava dan Ratu Yasodhara
Dua siwa utama Thera   : Nisabba Thera dan Anoma Thera
Pendamping setia     : Varuna Thera
Dua siswa utama Theri   : Sundari Theri dan Sumana Theri
Pohon Bodhi   : Pohon Ajjuna
Siswa awam utama pria   : Nandivaddha dan Sirivaddha
Siswa awam utama wanita     : Uppala dan Paduma
Tinggi badan    : 58 kubit/lengan (kira-kira 23 m)

8. Buddha Paduma
Tempat Kelahiran   : Kota Campaka
Nama ayah & ibu  : Raja Asama dan Ratu Asama
Dua siwa utama Thera  : Sala Thera dan Upasala Thera
Pendamping setia    : Varuna Thera
Dua siswa utama Theri    : Radha Theri dan Suradha Theri
Pohon Bodhi      : Pohon Mahasona
Siswa awam utama pria    : Bhiyya dan Asama
Siswa awam utama wanita    : Ruci dan Nandarama
Tinggi badan  : 58 kubit/lengan (kira-kira 29 m)

9. Buddha Narada
Tempat Kelahiran     : Kota Dhannavati
Nama ayah & ibu  : Raja Dunia Sudeva dan Ratu Anoma
Dua siwa utama Thera    : Bhaddasala Thera dan Vijitamitta Thera
Pendamping setia   : Vasettha Thera
Dua siswa utama Theri   : Uttara Theri dan Sunanda Phagguni
Pohon Bodhi     : Pohon Sona
Siswa awam utama pria  : Uggarinda dan Vasabha
Siswa awam utama wanita     : Indavari dan Vandi
Tinggi badan      : 88 kubit/lengan (kira-kira 44 m)

10. Buddha Padumuttara
Tempat Kelahiran    : Kota Hamsavati
Nama ayah & ibu       : Raja Ananda dan Ratu Sujata
Dua siwa utama Thera   : Devala Thera dan Sujata Thera
Pendamping setia     : Sumana Thera
Dua siswa utama Theri    : Amita Theri dan Asama Theri
Pohon Bodhi  : Pohon Sala
Siswa awam utama pria     : Vitinna dan Tissa
Siswa awam utama wanita    : Hattha dan Vicitta
Tinggi badan   : 58 kubit/lengan (kira-kira 29 m)

11. Buddha Sumedha
Tempat Kelahiran    : Kota Sudassana
Nama ayah & ibu   : Raja Sudatta dan Ratu Sudatta
Dua siwa utama Thera  : Sarana Thera dan Sabbakama Thera
Pendamping setia   : Sagara Thera
Dua siswa utama Theri   : Rama Theri dan Surama Theri
Pohon Bodhi    : Pohon Mahanipa
Siswa awam utama pria   : Uruvela dan Yasava
Siswa awam utama wanita   : Yasodhara dan Sirima
Tinggi badan     : 88 kubit/lengan (sekitar 44 m)

12. Buddha Sujata
Tempat Kelahiran  : Kota Sumangala
Nama ayah & ibu   : Raja Uggata dan Ratu Phabavati
Dua siwa utama Thera   : Sudassana Thera dan Sudeva Thera
Pendamping setia   : Narada Thera
Dua siswa utama Theri   : Naga Theri dan Nagasamala Theri
Pohon Bodhi    : Pohon Mahavelu
Siswa awam utama pria  : Sudatta dan Citta
Siswa awam utama wanita  : Subhada dan Paduma
Tinggi badan    : 50 kubit/lengan (sekitar 25 m)

13. Buddha Piyadassi
Tempat Kelahiran      : Kota Sudhannavati
Nama ayah & ibu      : Raja Sudatta dan Ratu Canda
Dua siwa utama Thera     : Palita Thera dan Sabbadassi Thera
Pendamping setia    : Sobhita Thera
Dua siswa utama Theri     : Sujata Theri dan Dhammadinna Theri
Pohon Bodhi         : Pohon Kakhuda
Siswa awam utama pria     : Sundaka dan Dhammaka
Siswa awam utama wanita     : Visakha dan Dhammadinna
Tinggi badan     : 80 kubit/lengan

14. Buddha Atthadassi
Tempat Kelahiran     : Kota Sobhana
Nama ayah & ibu     : Raja Sagara dan Ratu Sudassana
Dua siwa utama Thera    : Santa Thera dan Upasanta Thera
Pendamping setia   : Abhaya Thera
Dua siswa utama Theri    : Dhamma Theri dan Sudhamma Theri
Pohon Bodhi    : Pohon Campaka
Siswa awam utama pria   : Nakula dan Nisabha
Siswa awam utama wanita   : Makila dan Sunanda
Tinggi badan   : 80 kubit/lengan

15. Buddha Dhammadassi
Tempat Kelahiran      : Kota Sarana
Nama ayah & ibu      : Raja Sarana dan Ratu Sunanda
Dua siwa utama Thera      : Paduma Thera dan Phussa Thera
Pendamping setia     : Revata Thera
Dua siswa utama Theri      : Khema Theri dan Saccanama Theri
Pohon Bodhi     : Pohon Bimbijala
Siswa awam utama pria     : Subhadda dan Katissaha
Siswa awam utama wanita    : Saliya dan Kaliya
Tinggi badan    : 80 kubit/lengan

16. Buddha Siddhattha
Tempat Kelahiran    : Kota Vebhara
Nama ayah & ibu    : Raja Udena dan Ratu Suphassa
Dua siwa utama Thera   : Sambala Thera dan Sumitta Thera
Pendamping setia    : Revata Thera
Dua siswa utama Theri      : Sivala Theri dan Surama Theri
Pohon Bodhi     : Pohon Kanikara
Siswa awam utama pria    : Suppiya dan Samudda
Siswa awam utama wanita   : Ramma dan Suramma
Tinggi badan   : 60 kubit/lengan

17. Buddha Tissa
Tempat Kelahiran    : Kota Khemaka
Nama ayah & ibu      : Raja Janasandha dan Ratu Paduma
Dua siwa utama Thera    : Brahmadeva Thera dan Udaya Thera
Pendamping setia  : Samanga Thera
Dua siswa utama Theri  : Phussa Theri dan Sudatta Theri
Pohon Bodhi   : Pohon Asana
Siswa awam utama pria   : Sambala dan Sirima
Siswa awam utama wanita    : Kisa Gotami dan Upasena
Tinggi badan   : 60 kubit/lengan

18. Buddha Phussa
Tempat Kelahiran  : Kota Kasika
Nama ayah & ibu   : Raja Jayasena dan Ratu Sirima
Dua siwa utama Thera   : Surakkhita Thera dan Dhammasena Thera
Pendamping setia    : Sabhiya Thera
Dua siswa utama Theri    : Cala Theri dan Upacala Theri
Pohon Bodhi      : Pohon Amanda
Siswa awam utama pria   : Dhananjaya dan Visakha
Siswa awam utama wanita     : Paduma dan Naga
Tinggi badan   : 58 kubit/lengan

19. Buddha Vipassi
Tempat Kelahiran    : Kota Bhandumati
Nama ayah & ibu    : Raja Bhanduma dan Ratu Bhandumati
Dua siwa utama Thera   : Khandha Thera dan Tissa Thera
Pendamping setia  : Asoka Thera
Dua siswa utama Theri : Canda Theri dan Candamitta Theri
Pohon Bodhi   : Pohon Patali
Siswa awam utama pria     : Punnabbasumitta dan Naga
Siswa awam utama wanita : Sirima dan Uttara
Tinggi badan       : 80 kubit/lengan

20. Buddha Sikhi
Tempat Kelahiran       : Kota Arunavati
Nama ayah & ibu        : Raja Aruna dan Ratu Phabavati
Dua siwa utama Thera    : Abhibhu Thera dan Sambhava Thera
Pendamping setia    : Khemankhara Thera
Dua siswa utama Theri   : Sakhila Theri dan Paduma Theri
Pohon Bodhi       : Pohon Pundarika
Siswa awam utama pria      : Sirivaddha dan Nanda
Siswa awam utama wanita   : Citta dan Sugutta
Tinggi badan      : 70 kubit/lengan

21. Buddha Vessabhu
Tempat Kelahiran    : Kota Anoma
Nama ayah & ibu     : Raja Suppatita dan Ratu Yasavati
Dua siwa utama Thera   : Sona Thera dan Uttara Thera
Pendamping setia      : Upasanta Thera
Dua siswa utama Theri   : Rama Theri dan Samala Theri
Pohon Bodhi    : Pohon Mahasala
Siswa awam utama pria    : Sottika dan Rambha
Siswa awam utama wanita : Gotami dan Sirima
Tinggi badan    : 60 kubit/lengan

22. Buddha Kakusandha
Tempat Kelahiran   : Kota Khemavati
Nama ayah & ibu     : Brahmana Aggidatta dan Brahmani Visakha
Dua siwa utama Thera  : Vidhura Thera dan Sanjiva Thera
Pendamping setia     : Buddhija Thera
Dua siswa utama Theri      : Sama Theri dan Campa Theri
Pohon Bodhi        : Pohon Sirisa
Siswa awam utama pria  : Accuta dan Sumana
Siswa awam utama wanita   :Nanda dan Sunanda
Tinggi badan      : 40 kubit/lengan

23. Buddha Konagamana
Tempat Kelahiran     : Kota Sobhavati
Nama ayah & ibu    : Brahmana Yannadatta dan Brahmani Uttara
Dua siwa utama Thera  : Bhiyyosa Thera dan Uttara Thera
Pendamping setia   : Sotthija Thera
Dua siswa utama Theri    : Samudda Theri dan Uttara Theri
Pohon Bodhi       : Pohon Udumbara
Siswa awam utama pria    : Ugga dan Somadeva
Siswa awam utama wanita    : Sivala dan Sama
Tinggi badan   : 30 kubit/lengan

24. Buddha Kassapa
Tempat Kelahiran      : Kota Baranasi
Nama ayah & ibu      : Brahmana Brahmadatta dan Brahmani Dhanavati
Dua siwa utama Thera     : Tissa Thera dan Bharadvaja Thera
Pendamping setia   : Subhamitta Thera
Dua siswa utama Theri  : Anula Theri dan Uruvela Theri
Pohon Bodhi      : Pohon Nigrodha
Siswa awam utama pria   : Sumangala dan Ghatikara
Siswa awam utama wanita   : Vijitasena dan Bhadda
Tinggi badan      : 20 kubit/lengan

25. Buddha Gotama
Tempat Kelahiran   : Kota Kapilavatthu
Nama ayah & ibu  : Raja Suddhodana dan Ratu Mahamaya
Dua siwa utama Thera   : Sariputta Thera dan Mogallana Thera
Pendamping setia   : Ananda Thera
Dua siswa utama Theri    : Khema Theri dan Uppalavana Theri
Pohon Bodhi     : Pohon Assattha
Siswa awam utama pria  : Citta dan Hatthalavaka
Siswa awam utama wanita   : Nandamata dan Uttara
Tinggi badan     : 18 kubit/lengan


Tuesday, 19 November 2013

28 BUDDHA YANG PERNAH HIDUP

28 buddha Yang Pernah Hidup

1 Tanhankara Maha Perwira
2 Medankara Maha Mulia
3 Saranankara Maha Welas-asih
4 Dipankara Cahaya Cemerlang
5 Kondanna Junjungan Manusia
6 Mangala Yang Maha Agung
7 Sumana Pemberani Yang Berbudi Lemah Lembut
8 Revata Penambah Kegembiraan, Kebahagiaan
9 Sobhita Yang Penuh Kebajikan
10 Anomadassi Manusia Utama
11 Paduma Obor Semesta Alam
12 Narada Pembimbing Yang Tiada Taranya
13 Padumuttara Makhluk Yang Tiada Taranya
14 Sumedha Yang Paling Mulia
15 Sujata Pimpinan Jagad Raya
16 Piyadassi Maha Junjungan Umat Manusia
17 Atthadassi Yang Penuh Kasih-sayang
18 Dhammadassi Penghalau Kegelapan
19 Siddhatta Yang Tiada bandingnya Didunia
20 Tissa Pemberi Karunia Yang Utama
21 Phussa Yang Sempurna Ke Tujuan Akhir
22 Vipassi Yang Tiada Saingannya
23 Sikhi Pahlawan Cinta-kasih Tanpa Batas
24 Vessabhu Penyebar Kebahagiaan Sejati
25 Kakusandha (Krakucchanda) Penunjuk Jalan Para Musafir
26 Konagamana (Kanakamuni) Yang Berusaha Tanpa Akhir
27 Kassapa (Kasyapa) Cahaya Sempurna
28 Gotama (Gautama) Kejayaan dalam Keluarga Gotama (Gautama)

(Calon Buddha Yang Akan Datang)
29 Matteya (Maitreya) Yang Penuh Dengan Cinta-kasih

Dikatakan, bahwa Beliau akan dilahirkan saat kehidupan manusia diperpanjang sampai 84.000 tahun. Tempat kelahiranNya adalah Ketumati di masa pemerintahan Chakkavatti Samkha dimana dia sendiri akan menjadi pengikut Buddha dan melepaskan kehidupan duniawi.

Metteyya akan dilahirkan di sebuah keluarga terpelajar yang terkenal dan namaNya adalah Ajita. Nama sukuNya juga Metteyya. Nama ayahNya adalah Subrahma; dan ibuNya adalah Brahmawati.

Beliau akan menikah dengan Chandamukhi dan akan mempunyai putra Brahmavaddhana. Beliau akan hidup di empat istana selama 8.000 tahun yaitu Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha dan Chandaka. Selanjutnya Beliau akan melepaskan keduniawian setelah melihat 4 tanda.

Yang akan menjadi para pengikutnya yang luar biasa adalah dua saudaraNya Isidatta dan Purana; Jatimitta dan Vijaya diantara pengikut pria , dan Suddhana, Sanghaa dan Visakhaa diantara pengikut wanita. Yang akan menjadi murid-murid utamaNya diantara para bhikkhu adalah Asoka dan Brahmadeva, dan diantara para bhikkhuni adalah Paduma dan Sumana. Siha akan menjadi pembantu pribadiNya. Beliau akan mencapai pencerahan di bawah pohon Naga.


PENERANGAN AGUNG BUDDHA GOTAMA


PENERANGAN AGUNG

Pertapa Gotama meneruskan perjalanannya dan pada sore hari tiba di Gaya. Ia memilih tempat untuk bermeditasi di bawah pohon Bodhi (Latin : Ficus Religiosa), kemudian mempersiapkan tempat duduk di sebelah Timur pohon itu dengan rumput kering yang diterima dari pemotong rumput bernama Sotthiya. Di tempat itulah Pertapa Gotama duduk bermeditasi dengan wajah menghadap ke Timur. Dengan tekad yang bulat, ia kemudian berkata dalam hati, "Dengan disaksikan oleh bumi, meskipun kulitku, urat-uratku dan tulang-tulangku akan musnah dan darahku habis menguap, aku bertekad untuk tidak bangun dari tempat ini sebelum memperoleh Penerangan Agung dan mencapai Nibbana."

Kemudian Pertapa Gotama melakukan meditasi Anapanasati, yaitu meditasi dengan menggunakan obyek keluar dan masuknya nafas. Tidak berapa lama pikiran-pikiran yang tidak baik mengganggu batinnya, seperti keinginan kepada benda-benda duniawi, tidak menyukai kehidupan suci yang bersih dan baik, perasaan lapar dan haus yang luar biasa, keinginan yang sangat dan melekat kepada benda-benda, malas dan tidak suka mengerjakan apa-apa, takut terhadap jin-jin, hantu-hantu jahat, keragu-raguan, kebodohan, keras kepala, keserakahan, keinginan untuk dipuji dan dihormati dan hanya melakukan hal-hal yang membuat dirinya terkenal, tinggi hati dan memandang rendah kepada orang lain.

Perjuangan hebat dalam batin Pertapa Gotama melawan keinginan dan nafsu-nafsu tidak baik, dalam buku-buku suci digambarkan sebagai perjuangan melawan Dewa Mara yang jahat, seperti dapat diikuti dalam pembabaran berikut ini.

Pada saat itu muncul Mara, dewa hawa nafsu, yang bermaksud menghalang-halangi Pertapa Gotama memperoleh Penerangan Agung, disertai bala tentaranya yang maha besar. Bala tentara itu ke depan, ke kanan dan ke kiri, lebarnya 12 league dan ke belakang sampai ke ujung cakrawala, sedangkan tingginya 9 league. Mara sendiri membawa berbagai macam senjata dan duduk di atas gajah Girimekhala yang tingginya 150 league. Melihat bala tentara yang demikian besar datang, semua dewa yang sedang berkumpul di sekeliling Pertapa Gotama, seperti Maha-Brahma, Sakka, Rajanaga Mahakala dan lain-lain cepat-cepat menyingkir dari tempat itu dan Pertapa Gotama ditinggal sendirian dengan hanya berlindung kepada sepuluh Paramita yang sejak lama dilatihnya. Semua usaha Mara untuk menakut-nakuti Pertapa Gotama dengan hujan besar disertai angin kencang dan halilintar yang berbunyi tak henti-hentinya diikuti dengan pemandangan-pemandangan lain yang mengerikan ternyata gagal semua dan akhirnya Mara menyambit dengan Cakkavudha yang ternyata berubah menjadi payung yang dengan tenang bergantung dan melindungi kepala Pertapa Gotama.

Bumi telah menjadi saksi bahwa Pertapa Gotama lulus dari semua percobaan-percobaan dan layak untuk menjadi Buddha. Gajah Girimekhala berlutut di hadapan Pertapa Gotama dan Mara menghilang dan lari bersama-sama dengan bala tentaranya. Para dewa yang menyingkir sewaktu Mara tiba dengan bala tentaranya datang kembali dan semua bersuka cita dengan keberhasilan Pertapa Gotama.

Setelah berhasil mengalahkan Mara, Pertapa Gotama memperoleh Pubbenivasanussatiñana, yaitu kebijaksanaan untuk dapat melihat dengan terang kelahiran-kelahiranNya yang dulu. Hal ini terjadi pada waktu jaga pertama, yaitu antara jam 18.00-22.00.

Pada waktu jaga kedua, yaitu antara jam 22.00-02.00, Pertapa Gotama memperoleh Cutupapatañana, yaitu kebijaksanaan untuk dapat melihat dengan terang kematian dan tumimbal lahir kembali dari makhluk-makhluk sesuai dengan tumpukan karma mereka masing-masing. Tumpukan karma yang berlainan inilah yang membuat satu makhluk berbeda dari makhluk lain. Kemampuan ini juga dinamakan Dibbacakkhuñana, yaitu kebijaksanaan dari Mata Dewa.

Pada waktu jaga ketiga, yaitu antara jam 02.00-04.00 pagi, Pertapa Gotama memperoleh Asavakkhayañana, yaitu kebijaksanaan yang dapat menyingkirkan secara menyeluruh semua Asava (kekotoran batin yang halus sekali).

Dengan demikian Ia mengerti sebab dari semua keburukan dan juga mengerti cara untuk menghilangkannya. Dengan ini Ia telah menjadi orang yang paling bijaksana dalam dunia yang dapat menjawab pertanyaan yang disampaikan kepadaNya. Sekarang Ia mendapat jawaban tentang cara untuk mengakhiri penderitaan, kesedihan, ketidakbahagiaan, usia tua dan kematian. Batin-Nya menjadi tenang sekali dan penuh kedamaian karena sekarang Ia mengerti semua persoalan hidup dan Ia telah menjadi Buddha.

Dengan muka bercahaya terang, penuh kebahagiaan, Pertapa Gotama dengan suara lantang mengeluarkan pekik kemenangan sebagai berikut:
"Anekajati samsaram
Sandhavissam anibbissam
Gahakarakam gavesanto
Dukkha jati punappunam
Gahakaraka! dittho'si
Punageham na kahasi
Sabba to phasuka bhagga
Gahakutam visamkhitam
Visamkharagatam cittam
Tanhanam khayamajjhaga."

Artinya :
"Dengan sia-sia Aku mencari Pembuat Rumah ini
Berlari berputar-putar dalam lingkaran tumimbal lahir
Menyakitkan, tumimbal lahir yang tiada habis-habisnya
Oh, Pembuat Rumah, sekarang telah Kuketahui
Engkau tak akan dapat membuat rumah lagi
Semua atapmu telah Kurobohkan
Semua sendi-sendimu telah Kubongkar
Batin-Ku sekarang mencapai keadaan Nibbana
Dan berakhirlah semua nafsu-nafsu keinginan."


Dikisahkan bahwa pada saat itu bumi bergetar karena gembira dan di udara sayup-sayup terdengar suara musik yang merdu, seluruh tempat itu penuh dengan kehadiran para dewa yang turut bergembira dan ingin melihat orang yang berhasil mencapai Penerangan Agung dan menjadi Buddha, pohon-pohon mendadak berbunga dan menyebarkan bau harum ke seluruh penjuru, binatang hutan yang biasanya saling bermusuhan pada waktu itu dapat hidup berdampingan dengan damai.

Demikianlah Pangeran Siddhattha yang dilahirkan pada saat purnama sidhi di bulan Vaisak tahun 623 S.M, menikah pada usia 16 tahun, meninggalkan istana pada usia 29 tahun, setelah bertapa selama 6 tahun menjadi Buddha pada usia 35 tahun.

Tujuh Minggu Setelah Penerangan Agung,

Selama minggu pertama, Sang Buddha duduk bermeditasi di bawah pohon Bodhi dan menikmati keadaan Nibbana, yaitu keadaan yang terbebas sama sekali dari gangguan-gangguan batiniah, sehingga batin-Nya tenang sekali dan penuh kedamaian.

Selama minggu kedua, Sang Buddha berdiri beberapa kaki dari pohon Bodhi dan memandanginya terus-menerus dengan mata tidak berkedip selama satu minggu sebagai ucapan terima kasih dan penghargaan kepada pohon yang telah memberi-Nya tempat untuk berteduh sewaktu berjuang untuk mencapai tingkat Buddha. Mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Sang Buddha dahulu, sekarang pun umat Buddha memberi penghormatan kepada pohon Bodhi.

Selama minggu ketiga, Sang Buddha berjalan mondar-mandir di atas jembatan emas yang diciptakan-Nya di udara karena melalui mata dewa-Nya, Sang Buddha mengetahui bahwa ada dewa-dewa di surga yang masih meragukan apakah Beliau benar telah mencapai Penerangan Agung.

Selama minggu keempat, Sang Buddha berdiam di kamar batu permata yang diciptakan-Nya. Di kamar permata itulah Sang Buddha bermeditasi mengenai Abhidhamma, yaitu ajaran mengenai ilmu jiwa dan metafisika. Batin dan badan jasmani-Nya telah menjadi demikian bersih, sehingga mengeluarkan sinar-sinar berwarna biru, kuning, merah, putih, jingga dan campuran kelima warna tersebut. Kini warna-warna tersebut diabadikan sebagai bendera umat Buddha.

Selama minggu kelima, Sang Buddha bermeditasi di bawah pohon Ajapala Nigrodha (pohon beringin), tidak jauh dari pohon Bodhi. Di sinilah tiga orang anak Mara yaitu Tanha, Arati, dan Raga masih berusaha untuk mengganggu-Nya. Mereka menampakkan diri sebagai tiga orang gadis yang elok dan menggiurkan yang dengan berbagai macam tarian yang erotis (penuh nafsu birahi), diiringi nyanyian yang merdu dan bisikan yang memabukkan, berusaha untuk merayu dan menarik perhatian Sang Buddha. Tetapi Sang Buddha menutup mata-Nya dan tidak mau melihat, sehingga akhirnya tiga orang dewi hawa nafsu meninggalkan Sang Buddha.

Selama minggu keenam, Sang Buddha bermeditasi di bawah pohon Mucalinda. Karena waktu itu turun hujan lebat, maka datanglah seekor ular kobra yang besar sekali dan melibatkan badannya tujuh kali memutari badan Sang Buddha dan kepalanya memayungi Sang Buddha supaya jangan sampai terkena air hujan. Waktu hujan berhenti, ular itu berubah bentuknya menjadi seorang anak muda. Pada waktu itulah Sang Buddha mengucapkan kata kata sebagai berikut:

"Berbahagialah mereka yang bisa merasa puas. Berbahagialah mereka yang dapat mendengar dan melihat kesunyataan. Berbahagialah mereka yang bersimpati kepada makhluk-makhluk lain di dunia ini. Berbahagialah yang hidup di dunia dengan tidak melekat kepada apa pun dan mengatasi hawa nafsu. Lenyapnya 'Sang Aku' merupakan berkah yang tertinggi."

Selama minggu ketujuh, Sang Buddha bermeditasi di bawah pohon Rajayatana. Pada hari ke-50 pagi hari, setelah berpuasa selama tujuh minggu, dua orang pedagang lewat di dekat tempat Sang Buddha sedang duduk. Mereka, Tapussa dan Bhallika, menghampiri Sang Buddha dan mempersembahkan makanan dari beras dan madu. Sang Buddha agak tertegun sejenak karena mangkuk yang Beliau terima dari Sujata telah dihanyutkan di Sungai Neranjara dan sejak zaman dahulu tidak pernah seorang Buddha menerima makanan dengan kedua tangan-Nya. Tiba-tiba empat orang dewa dari empat penjuru alam (Catumaharaja yaitu Dhatarattha dari sebelah Timur, Virulhaka dari Selatan, Virupakkha dari Barat, dan Kuvera dari Utara) datang menolong dengan membawa seorang satu mangkuk yang dipersembahkan kepada Sang Buddha. Sang Buddha menerima empat mangkuk tersebut dan dengan kekuatan gaib-Nya dijadikan satu mangkuk.

Dengan demikian Sang Buddha dapat menerima persembahan dari Tapussa dan Bhallika. Setelah Sang Buddha selesai makan kedua pedagang itu memohon agar diterima sebagai pengikut.

Mereka diterima sebagai upasaka-upasaka pertama yang berlindung kepada Sang Buddha dan Dhamma. Kemudian mereka mohon diberikan suatu benda yang dapat mereka bawa pulang, Sang Buddha mengusap kepala-Nya dengan tangan kanan dan memberikan beberapa helai rambut (Kesa Dhatu = Relik Rambut). Tapussa dan Bhallika dengan gembira menerima Kesa Dhatu tersebut dan setelah tiba di tempat mereka tinggal, mereka mendirikan sebuah pagoda untuk memuja Kesa Dhatu ini.

Setelah makan, Tapussa dan Bhallika melanjutkan perjalanannya, Sang Buddha merenung apakah Dhamma yang Beliau temukan akan diajarkan kepada khalayak ramai atau tidak.

Sebab Dhamma itu dalam sekali dan sulit untuk dimengerti sehingga timbul perasaan enggan dalam diri Sang Buddha untuk mengajar Dhamma.

Tiba-tiba Brahma Sahampati, Penguasa dunia ini, turun dari Brahmaloka dan berdiri di hadapan Sang Buddha. Setelah memberi hormat yang layak, Brahma Sahampati berkata kepada Sang Buddha, "Semoga Sang Tathagata, demi belas kasih-Nya kepada para manusia, berkenan mengajar Dhamma. Dalam dunia ini terdapat juga orang-orang yang sedikit dihinggapi kekotoran batin dan mudah mengerti Dhamma yang akan diajarkan."

Hingga kini permohonan Brahma Sahampati kepada Sang Buddha tetap diperingati dengan permohonan kepada seorang bhikkhu untuk mengajar Dhamma yang berbunyi sebagai berikut:
"Brahma ca lokadhipati Sahampati
Katañjali andhivaram ayacatha
Santidha sattapparajakkhajatika
Desetu Dhammam anukampimam pajam."

Artinya:
"Brahma Sahampati, Penguasa dunia ini
Merangkap kedua tangannya dan memohon,
Ada makhluk-makhluk yang dihinggapi sedikit kekotoran batin
Ajarkanlah Dhamma demi kasih sayang kepada mereka. "


Dengan mata dewa, Sang Buddha dapat mengetahui bahwa memang ada orang-orang yang tidak lagi terikat kepada hal-hal duniawi dan mudah mengerti Dhamma.
Karena itu Sang Buddha mengambil ketetapan hati untuk mengajar Dhamma demi belas kasih-Nya kepada umat manusia. Kesediaan-Nya itu diutarakan dengan mengucapkan kata-kata sebagai berikut:
"Aparuta tesam amatassa dvara
Ye sotavanto pamucantu saddhami."

Artinya:
"Terbukalah pintu Kehidupan Abadi
Bagi mereka yang mau mendengar dan mempunyai keyakinan."


Perhatian-Nya kemudian ditujukan kepada Alara Kalama, tetapi para dewa segera memberitahukan bahwa Alara seminggu yang lalu telah meninggal dunia. Kemudian perhatian-Nya ditujukan kepada Uddaka Ramaputta, namun para dewa juga mengatakan bahwa kemarin malam Uddaka meninggal dunia.

Selanjutnya Sang Buddha mengalihkan perhatian-Nya kepada lima orang pertapa yang pernah bersama-sama melakukan pertapaan. Kelima orang itu sekarang berada di Taman Rusa di kota Benares ibukota negara Kasi.

Sang Buddha segera berangkat menuju ke Taman Rusa Benares. Dalam perjalanan ke Sungai Gaya, Sang Buddha bertemu dengan seorang pertapa Ajivaka bernama Upaka. Terpesona melihat Sang Buddha yang wajah-Nya demikian cemerlang, Upaka bertanya siapakah guru Sang Buddha. Sang Buddha menjawab bahwa Beliau adalah orang Yang Maha Tahu dan tidak mempunyai guru siapa pun juga. Tetapi Upaka nampaknya sama sekali tidak terkesan. Ia menggelengkan kepala dan kemudian meneruskan perjalanannya, sedangkan Sang Buddha sendiri juga melanjutkan perjalanan-Nya ke Benares.