TERPUJILAH PARA BUDDHA, PARA BHODHISATTVA MAHASATTVA, SERTA PARA ARYA NAN BIJAKSANA..._/\_ NAMO BUDDHAYA _/\_


Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.

W E L C O M E ( E H I P A S S I K O )
Showing posts with label MURID UTAMA BUDDHA GOTAMA. Show all posts
Showing posts with label MURID UTAMA BUDDHA GOTAMA. Show all posts

Wednesday, 20 November 2013

Y.A. MOGGALLANA ( MURID UTAMA SANG BUDDHA GOTAMA )


SISWA UTAMA SANG BUDDHA ( Y.A  MOGGALLANA )
( KESEMPURNAAN BATIN )

“Kami menghormat seorang bhikkhu yang bertingkah laku seperti Brahma, dapat memandang sekalipun hanya sejenak, matanya cemerlang namun sanggup mencerap, beribu-ribu alam semesta terbayang di depan matanya. Beliau, yang menguasai gejala-gejala rahasia, pun sanggup melihat sepanjang masa, dimana para dewa bangkit lalu sirna habis kembali.”(Theragatha, The Elders No.1181).

Kata Sansekerta Maha mempuyai tiga arti: besar, banyak dan unggul. Maudgalyayana berasal dari bahasa Sansekerta dan berarti “Keturunan keluarga pengumpul buncis.” Namanya juga berarti “Akar Lobak”, sebab para leluhur beliau makan lobak ketika mereka mengembangkan jalan. Beliau juga dinamakan “Kolita” menurut nama pohon dimana ayah dan ibunya berdoa kepada roh penghuni pohon itu untuk memohon seorang putra.

Y.A.Maha Maudgalyayana adalah sahabat dekat Y.A. Sariputra, dan keduanya merupakan siswa utama Sakyamuni Buddha. Y.A.Maha Maudgalyayana menonjol terutama dalam kekuatan daya tembus batiniah. Ketika beliau mencapai tingkat Arahat, beliau memperoleh enam macam daya tembus batiniah: mata surgawi, telinga surgawi, pengetahuan tentang pikiran orang lain, pengetahuan tentang masa lampau, pengakhiran arus keluar dan batin sempurna.

Adapun riwayat hidup Y.A.Maha Maudgalyayana dapat diceritakan sebagai berikut:
  • Masa Muda
Y.A.Maha Maudgalyayana dilahirkan di sebuah kota kecil di zaman kerajaan Magada (sekarang adalah daerah Bihar, negara bagian India). Beliau merupakan anak tunggal dari keluarga suku Brahmin, nama kecil beliau adalah Kolita Moggalana. Ayahnya terlahir dalam keluarga yang termashyur dan selalu diangkat menjadi walikota. Kolita terdidik di bawah asuhan tradisi Brahmana.
Diceritakan bwaha bertepatan hari kelahiran Kolita terlahir juga bayi laki-laki dari keluarga lain yang diberi nama Upatissa. Kemudian merekapun tumbuh bersama dan menjadi sahabat akrab. Kedua sahabat karib ini dilingkungan pergaulannya menjadi pemimpin dari kelompok teman-temannya.

Suatu ketika Kolita dan Upatissa bersama rekan-rekannya pergi menonton pesta rakyat. Tetapi tontonan yang mereka lihat itu bukan membawa kegembiraan tapi malah menimbulkan kegelisahan dalam diri Kolita dan Upattisa. Keduanya mempertanyakan kegunaan dari pertunjukkan foya-foya tersebut. Kolita berpikir, “waktu yang terpakai untuk berfoya-foya sebaiknya dipergunakan untuk memikirkan bagaimana cara untuk membebaskan diri? Kolita mendiskusikan hal tersebut dengan Upatissa.

Lalu, kedua sahabat itu mengambil keputusan untuk berkelana sebagai musafir dan meninggalkan kehidupan duniawi. Bersama dengan kelompok rekan-rekannya, kedua sahabat itu mencukur jenggot, menanggalkan pakaian Brahmana mereka dan mengenakan jubah kuning. Mereka meninggalkan ciri-ciri kasta mereka dan membaurkan diri dalam pertapaan.
  • Mencari kebenaran
Tatkala Pangeran Siddharta Gautama merayakan pesta pernikahannya, beliau telah mengambil tindakan untuk keluar dari kehidupan duniawi. Disaat yang sama Kolita dan upatissa meninggalkan rumah tangga dan mencari ketenangan batin bersama kelompok temannya. Mereka mulai mulai melatih diri di bawah bimbingan guru spiritual yang mereka temui. Ada banyak guru dengan pandangan spiritual yang berbeda-beda pada masa itu. Namun variasi ajaran tersebut sejak awal sudah diketahui kehampaannya oleh kedua sahabat itu.

Akan tetapi, terdapat seorang guru di kota Rajagraha yang datang menghimbau mereka. Guru itu bernama Sanjaya. Dibawah pimpinan guru Sanjaya ini kelompok Kolita ditahbiskan. Pada saat itu bagi Kolita dan Upatissa sebelum menemukan guru yang lebih baik, mereka berguru kepada Sanjaya walaupun mereka telah merasa bahwa falsafah Sanjaya hanya berupa taktik mengelak saja. Pada suatu hari Kolitan Upatissa menanyakan ajaran yang lebih tinggi kepada Sanjaya, namun Sanjaya menjawab, “Itu sudah cukup, anda sudah mengetahui ajaran kami”.

Dari kata-kata Sanjaya tersebut, mereka memutuskan untuk mencari lagi ajaran-ajaran yang lebih memuaskan. Dalam pencarian itulah kemudian menuntun kedua sahabat karib itu untuk bertemu dengan ajaran Sang Buddha.
  • Menemukan sang ajaran
setelah 20 tahun berkelana akhirnya mereka pulang ke kampung halaman di Magada. Bersamaan dengan itu Sang Buddha memutar roda Cakra di Benares. Dengan sama-sama berprinsip tidak berhenti mencari, keduanya sepakat untuk mencarinya secara terpisah. Mereka sepakat apabila ada yang lebih dulu menemukan ajaran kebenaran maka dia harus memberitahukan kepada yang lainnya.

Pada suatu hari Upatissa dengan wajah berseri-seri datang menjumpai Kolita. Dia menceritakan penemuannya yaitu menjumpai pertapa yang bernama Assaji, yang ternyata adalah salah satu dari lima pertapa siswa Sang Buddha yang pertama. Assaji menemukan Upatissa dalam penampilannya. Lalu Assaji menerangkan mengenai gurunya yang bermarga Sakya (Sakyamuni Buddha). Saat Upatissa menanyakan ajaran yang dibabarkan oleh guru Assaji maka dijawab oleh Assaji dalam bentuk syair: “Yang dirahmati telah membabarkan sebab musabab dan timbulnya benda-benda. Dan juga menerangkan proses lenyap sinarnya. Hanya demikian yang dinyatakan Sang Tathagata.” Tatkala mendengar syair itu Upatissa merasakan suatu getaran pencerahan (Mata Waskita Dharma) dan Kolita pun merasakan hal yang sama saat Upatissa mengucapkan syair itu kepadanya.

Dari kejadian itu merekapun menanyakan kepada Assaji dimana Guru Agung itu berdiam dan bergegas menuju ke sana. Tapi sebelum menjumpai Sang Buddha, Upatissa mengajak Kolita terlebih dahulu menjumpai Sanjaya untuk mengajaknya ikut serta. Namun Sanjaya menolak ajaran tersebut karena keakuannya yang besar. Walaupun demikian karena kedua sahabat itu mengikuti Sang Buddha serta merta pengikut Sanjaya yang berjumpa 500 orang mengikuti jejak Upatissa dan Kolita. Namun melihat Sanjaya tidak ikut, sebagian dari mereka mengurungkan niat.
  • Mempelajari Dharma
saat Sang Buddha membabarkan Dharma di vihara Jetavana, Upatissa dan Kolita beserta rombongan pengikutnya dapat menghampiri. Sat itu Sang Buddha mengatakan “Wahai, para bhiksu kedua pasangan sahabat, Kolita dan upatissa akan menjadi siswa utama kami.” Kedua sahabat itupun lalu bersujud di bawah kedua kaki Sang Guru Junjungan dan mengucapkan permohonan “Okassa” sebanyak 3 kali. Saat itulah Upatissa dan Kolita ditahbiskan dengan nama Sariputra yang berarti “putra ibu sari” yaitu ibunya, sedangkan Kolita diberi nama Maha Moggalana yang berarti tokoh besar keluarga Moggalana.

Dalam proses melatih diri suatu kali pernah terjadi Y.A.Maha Maudgalyayana mengalami rasa kantuk yang berat. Di saat itu Sang Buddha dengan kekuatan gaibnya muncul dihadapan Y.A.Maha Maudgalyayana. Sang Bhagava bertanya, “Moggalana, benarkah mata anda bersimpul?”. “benar, paduka” Maka Sang Bhagava memberi intruksi demikian:
“Baiklah Moggalana, pikiran apa saja yang membuat anda menjadi mengantuk, maka anda harus menanggalkannya dan tidak memperhatikannya. Dengan demikian rasa kantuk anda akan hilang.
Namun jika belum hilang anda harus menerapkan pemantulan terhadap pelajaran yang pernah anda dengarkan. Perhatikan secara tekun dan amati secara cermat.

sekalipun dengan demikian anda masih mengantuk, maka anda harus dengan cara memperinci pelajaran yang pernah anda pelajari.
jika rasa mengantuk belum hilang, anda harus menarik-narik atau menggosok-gosok kedua daun telinga atau anggota badan.
bila tetap belum hilang, anda harus segera bangun dari tempat duduk bersihkan mata dengan air, kemudian pandanglah sekitar anda, pandanglah bintang-bintang di langit.
bila masih mengantuk, maka anda harus memperhatikan pencerapan pada sinar saat siang atau malam hari, lalu dengan batin yang jernih tidak terpudar, lalu dngan batin yang jernih tidak terpudar anda harus mempertimbangkan suatu batin yang penuh dengan kecemerlangan.
bila dengan demikian rasa mengantuk tidak lenyap, maka anda harus mengarahkan pandangan ke dalam dan ke luar batin anda tidak tergoyahkan, anda harus berjalan lalu lalang dengan pencerapan yang tekun. Jika dengan semua itu, rasa kantuk anda masih tetap, anda boleh memperhatikannya dengan ketekunan, bertiduran miring ke kiri dan ke kanan seperti layaknya singa yang sedang beriduran, mengatur tumpuan kaki dengan kaki merenungkan akan saat bangun dan tatkala bangun, anda seharusnya serentak bangun dengan renungan: “Aku tidak seharusnya menikmati kesenangan akan tidur”. “Dengan demikian oh, Moggalana anda harus melatih diri.” (Anguttara Nikaya VII,58).
  • Kekuatan gaib
dari murid-murid utama Sang Buddha, Y.A.Maha Maudgalyayana terkenal menonjol dalam kekuatan batin. Diceritakan bahwa pertama kali beliau menggunakan kekuatan batinnya adalah pada sat ingin menolong orang tua beliau, terutama ibunya yang terlahir di alam neraka, (Kisah ini ada dalam Ulambana Sutra).

Selain itu banyak lagi kisah-kisah yang menceritakan kemampuan batin Y.A.Maha Maudgalyayana yang luar biasa, seperti pembacaan pikiran lawannya dalam bentuk telepati, menggunakan pendengaran dewa untuk untuk mendengar suatu dari dewa-dewa dan setan, menggunakan mata waskita untuk melihat Sang Buddha membabarkan Dharma dari jarak jauh, berkelana dengan tubuh astral ke alam dewa, neraka, dan berkelana ke alam Buddha yang lain, juga ada kesaktian untuk dapat bergerak super cepat.
  • Hari-hari terakhir
Dikisahkan bahwa wafatnya kedua sahabat siswa utama Sang Buddha yaitu Sariputra dan Maha Maudgalyayana terjadi setengah tahun sebelum Sang Buddha memasuki maha Parinirvana. Sariputra lebih dulu wafat pada bulan purnama Siddhi bulan Kattika (sekitar Oktober/November).

Adapun kematian Y.A.Maha Maudgalyayana terjadi secara tragis. Dimana diceritakan bahwa pada suatu saat Y.A.Maha Maudgalyayana bertekad untuk tidak mempertahankan hidupnya dengan kekuatan hidupnya. Dan di saat itulah ada segerombolan penjahat yang berniat membunuhnya. Sebelumnya selama enam hari penjahat itu sudah berusaha membunuh Y.A.Maha Maudgalyayana namun tidak berhasil karena dengan kekuatan gaibnya Y.A.Maha Maudgalyayana lenyap. Lenyapnya kekuatan gaib itu juga berhubungan dengan karma masa lampaunya, dimana Y.A.Maha Maudgalyayana pernah berbuat kejahatan yang mengakibatkan ayah dan ibunya wafat. Karma inilah yang terbawa sampai hari itu dimana penjahat itu menganiaya dan membunuh Y.A.Maha Maudgalyayana. Biarpun tubuh beliau hancur, ternyata Y.A.Maha Maudgalyayana masih sempat merangkak menghadap Sang Buddha. Setelah meminta ijin ke guru junjungan barulah Y.A.Maha Maudgalyayana menghembuskan nafasnya yang terakhir.



Y.A. SARIPUTTA ( MURID UTAMA SANG BUDDHA GOTAMA )

SISWA UTAMA BUDDHA ( Y.A SARIPUTTA)
 (Unggul dalam kebijaksanaan)



Pada suatu pagi, Sariputta melihat Y.A. Assaji salah seorang bhikkhu siswa pertama Sang Buddha, sedang menerima dana makanan di Rajagraha. Ia sangat terkesan melihat penampilan Y.A. Assaji yang damai dan agung. Ia berpikir bahwa pastilah bhikkhu tersebut telah mencapai Arahat. Ketika Y.A. Assaji selesai makan, ia mendekati dan memberi salam untuk kemudian bertanya siapakah guru beliau dan ajaran apakah yang diajarkan gurunya itu. Y.A. Assaji memberitahukan bahwa gurunya adalah Sang Buddha Gotama dan bahwa beliau tidak dapat menerangkan ajaran tersebut secara panjang lebar karena belum lama menjadi bhikkhu, namun dapat menjelaskan artinya secara singkat. Kemudian beliau mengucapkan syair berikut:

“Semua benda timbul karena suatu sebab, sebab itu telah diberitahukan oleh Sang Tathagata dan juga lenyapnya. Demikianlah yang diajarkan oleh Sang Pertapa Agung.”

Mendengarkan syair tersebut, Sariputta memperoleh Mata Dharma (Dhammacakkhu) dan menjadi seorang Sotapanna (orang yang mencapai tingkat kesucian pertama).

Sariputta terlahir di Desa Upatissa dekat Rajagraha. Karena ia adalah anak tertua dari keluarga utama di desa itu, nama pribadinya menjadi Upatissa. Ayahnya adalah seorang Brahmana bernama Vanganta dan ibunya bernama Rupasari, oleh karena itulah ia dikenal juga sebagai Sariputta (putera dari sari). Ia mempunyai tiga adik laki-laki dan tiga adik perempuan, yang kesemuanya kemudian hari menjadi bhikkhu. Sejak kecil, Sariputta sudah memperlihatkan kepandaian yang istimewa. Mula-mula ia belajar kepada ayahnya yang mempunyai pandangan yang bijaksana dan pengetahuannya sebagai seorang Brahmana. Ia mempelajari Veda (kitab suci Agama Hindu). Pada usia delapan tahun, ia mulai belajar dengan seorang guru, dan pada usia enam belas tahun ia sudah terkenal didaerah tempat tinggalnya.

Pada hari kelahirannya, terlahir pula anak laki-laki di desa Kolita. Sehingga anak itu disebut Kolita. Ayahnya adalah kepala desa dan ibunya bernama Moggali sehingga anak itu disebut pula sebagai Moggalana. Upatissa dan Moggalana berteman sejak masa kanak-kanak mereka. Mereka bersama-sama pula menikmati kesenangan hidup. Sampai pada suatu ketika mereka menyadaru bahwa pada akhirnya semua manusia akan mengalami kematian. Oleh karena itulah keduanya bersepakat untuk meninggalkan hidup keduniawian untuk mencari jalan yang dapat membebaskan diri dari kematian.

Mereka kemudian pergi berguru kepada seorang guru terkenal saat itu yang bernama Sanjaya. Karena kemampuannya yang luar biasa, Sariputta dan Monggalana segera diakui sebagai murid yang utama diantara murid-murid yang lainnya. Tetapi meskipun mereka telah menguasai semua ajaran yang diberikan oleh Sanjaya, mereka belum juga menemukan jalan pembebasan yang dicari. Mereka kemudian berjanji bahwa siapa diantara mereka yang kelak lebih dulu memperoleh Ajaran Sempurna akan memberitahukan hal itu kepada yang lainnya.

Maka segera setelah Sariputta bertemu dengan Y.A. Assaji, ia menemui Moggallana dan menyampaikan peristiwa yang dialaminya dan mengulangi syair yang diucapkan oleh Y.A. Assaji. Seketika itu pula Moggallana memperoleh mata Dharma dan menjadi seorang Sotapanna. Kemudian mereka menyampaikan hal ini kepada Sanjaya. Namun Sanjaya menolak pergi bersama mereka menemui Sang Buddha. Keduanya lalu pergi bersama dua ratus lima puluh murid Sanjaya ke Vihara Veluana untuk menemui Sang Buddha. Mereka memohon penahbisan dan Sang Buddha menerima mereka menjadi bhikkhu.

Tujuh hari setelah ditahbiskan Monggalana mencapai Arahat (tingkat kesucian tertinggi) setelah mendapat pertunjukkan dari Sang Buddha. Lima belas hari setelah ditahbiskan, Sariputta berdiam bersama Sang Buddha di gua Sukarakhta di gunung Gijjhakuta (puncak burung nasar) di kota Rajagraha. Seorang pertapa Paribbajaka bernama Dighanakha dari keluarga Aggivesana pada suatu hari menghampiri Sang Buddha. Sang Buddha kemudian mengkhotbahkan Vedanapariggha kepada pertapa tersebut, mendengar sutta itu, Sariputta pun menjadi seorang Arahat.

Y.A.Sariputta dan Y.A.Moggalana merupakan siswa-siswa yang mulia dan termashyur, merupakan siswa kepala yang membantu Sang Buddha dalam menyampaikan ajaran kepada dunia. Dalam suatu pertemuan para bhikkhu, Sang Buddha menyatakan bahwa Y.A.Sariputta adalah siswa yang terkemuka dalam kebijaksanaan, dan Y.A. Moggallana adalah yang terkemuka dalam kekuatan gaib. Dalam hal kebijaksanaan, Y.A.Sariputta adalah yang kedua setelah Sang Buddha, beliau amat pandai menguraikan dengan terinci intisari ajaran Sang Buddha kepada orang lain. Sang Buddha pernah bersabda, ”Bila kau meninggalkan kehidupan keduniawian dan menjadi bhikkhu kau harus seperti Sariputta dan Moggallana. Berusahalah untuk mendekati dan meminta mereka untuk mengajarimu.”

Meskipun Y.A.Sariputta dikenal sebagai siswa kepala, beliau tidak mementingkan diri sendiri. Beliau adalah orang yang tahu berterima kasih, rendah hati, penuh belas kasihan, dan sabar. Beliau senang mengunjungi bhikkhu-bhikkhu lain yang sedang sakit. Ketika bhikkhu-bhikkhu lain sedang melakukan pindapata, beliau mengelilingi seluruh bangunan vihara, menyapu tempat-tempat yang belum tersapu, mengisi saluran-saluran yang kosong dengan air, mengatur perabotan, dan sebagainya. Khotbahnya, Sangiti Sutta dan Dasuttara Sutta adalah permulaan dari cita-citanya mengulangi ajaran Sang Buddha untuk menjaga dan mempertahankan kemurniannya dan agar ajaran itu tetap terlindung. Apabila Sang Buddha adalah Dharmaraja (Raja dari ajaran), maka Y.A. Sariputta adalah Dhammasenapati (Panglima dari Ajaran).