JL. KAMPUNG BELAKANG RT. 005 / 003 , NO.: 96 , DADAP - KAMAL - JAKARTA BARAT 11810 ( Posisi : Belakang PERUM. VILLA TAMAN BANDARA BLOK. C9 )
Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.
Showing posts with label BUDDHA-DHARMA. Show all posts
Showing posts with label BUDDHA-DHARMA. Show all posts
Thursday, 21 November 2013
Tuesday, 19 November 2013
PERBEDAAN THERAVADA DENGAN MAHAYANA
PERBEDAAN THERAVADA DAN MAHAYANA
|
|||||||
NO.
|
TOPIK
|
AJARAN THERAVADA
|
AJARAN MAHAYANA
|
||||
1
|
BUDDHA
|
Hanya Buddha Sakyamuni dalam sejarah dan para Buddha masa
lampau juga diterima.
|
Terdapat Buddha lain selain Buddha Sakyamuni, pada saat
ini Buddha Amitabha dan Buddha Baisyajaraja (Obat) sangat terkenal.
|
||||
2
|
PARA BODHISATTVA
|
Hanya menerima Bodhisattva Maitreya
|
Terdapat Bodhisattva Avalokitesvara, Mansjuri, Ksitigarbha
dan Samanthabadra disamping Bodhisattva Maitreya.
|
||||
3
|
TUJUAN PELATIHAN
|
Mencapai Arahat dan pacceka-buddha.
|
KeBuddhaan (melalui pelaksanaan bodhisattva).
|
||||
4
|
PENGORGANISASIAN SUTRA BUDDHIS
|
Sutra Pali dibagi menjadi 3 keranjang ( Tipitaka): Vinaya
Pitaka 5 buku, Sutta Pitaka 5 koleksi ( banyak sutta) dan Abhidhamma Pitaka 7
buku.
|
Sutra Ajaran Mahayana juga terdiri dari Tripitaka disiplin
/ aturan, ceramah ( sutras) dan analisa dharma. Pada umumnya dikumpulkan
menjadi 12 divisi topik seperti Penyebab Dan Kondisi-Kondisi Dan Sajak/Ayat.
Itu berisi hampir semua Theravada Tipitaka dan banyak sutra yang tidak
terdapat dalam Theravada Tipitaka.
|
||||
5
|
KONSEP BODHICITTA
|
Penekanan utama adalah pembebasan diri. Kepercayaan penuh
pada diri sendiri untuk membasmi semua kekotoran.
|
Di samping pembebasan diri sendiri, adalah penting bagi
para penganut Mahayana membantu mahluk lain.
|
||||
6
|
KONSEP TRIKAYA
|
Penekanan yang sangat terbatas pada 3 badan seorang
Buddha. Acuan sebagian besar pada nirmaya-kaya dan dharma kaya.
|
Hal terbaik didalam ajaran Mahayana dilengkapi dengan
Samboga-kaya atau badan melengkapi;melengkapi konsep Trikaya
|
||||
7
|
RUTE PENYEBARAN
|
Rute Selatan: Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Laos Dan
Kamboja dan bagian-bagian dari Asia Tenggara.
|
Rute Utara : Tibet, China, Taiwan, Jepang, Korea, Mongolia
and Bagian dari Asia Selatan.
|
||||
8
|
BAHASA PEMBABARAN DHARMA
|
Tipitaka mutlak dalam bahasa Pali. Dharma diajarkan dalam
bahasa Pali yang dikombinasi-kan dengan bahasa lokal.
|
Ajaran Budha diterjemahkan ke dalam bahasa lokal (kecuali
yang 5 tak dapat diterjemahkan),antara lain: Tibet, Cina dan Jepang. Bahasa
terjemahan itu berdasarkan bahasa Sansekerta.
|
||||
9
|
NIRVANA(Nibbana dalam bahasa Pali)
|
Tidak ada pembedaan antara Nirvana yang dicapai oleh
seorang Buddha dan dari seorang arahat atau pacceka buddha.
|
Juga mengenal sebagai ' pembebasan dari Samsara,' ada
pembedaan sulit dipisahkan di (dalam) tingkatan pencapaian untuk ke tiga
situasi..
|
||||
10
|
PENGIKUT BUDDHA SAKYAMUNI
|
Para murid utama dalam sejarah, apakah itu arahat atau
pengikut biasa.
|
Banyak bodhisattva diperkenalkan oleh Sakyamuni Buddha.
Kebanyakan bukanlah figur historis.
|
||||
11
|
UPACARA AGAMA DAN DOA
|
Ada beberapa upacara agama tetapi tidak ada penekanan
seperti di Mahayana.
|
Dipengaruhi budaya lokal oleh karena itu terdapat penekanan
yang lebih berat atas penggunaan upacara agama seperti Upacara agama untuk
yang meninggal, memberi makan Peta, formalitas tantric ( di dalam Vajrayana).
|
||||
12
|
PENGGUNAAN MANTRA DAN MUDRA
|
Beberapa digunakan didalam Paritta
|
Pelatihan yang berat di Vajrayana Mahayana Buddhism. Sekte
lain juga telah memasukkan beberapa mantras di dalam doa sehari-hari mereka.
|
||||
13
|
ASPEK KEMATIAN
|
Sangat sedikit riset dan pengetahuan atas proses sekarat
dan kematian. Pada umumnya, orang yang sekarat dinasehatkan untuk bersemadi
atas sifat tak kekal, menderita dan kehampaan.
|
Sekte Vajrayana sangat meneliti mengenai hal ini. Ada
banyak tanda eksternal dan internal yang dialami oleh orang sebelum
meninggal. Penekanan terberat adalah pada proses pemindahan jasa kebajikan
dalam beberapa minggu yang mengikuti kematian untuk membantu proses kelahiran
kembali.
|
||||
14
|
BARDO
|
Mengenai hal ini antara tahapan setelah meninggal dan
sebelum kelahiran kembali diabaikan oleh sekte Theravada.
|
Semua sekte Mahayana mengajarkan mengenai aspek ini
setelah kematian.
|
||||
15
|
PELAKSANAAN MAKAN HANYA SEKALI SEHARI
|
Ini adalah aturan di dalam Sangha Theravada
|
Ini adalah suatu praktek yang sangat terhormat tetapi ini
tergantung dari sifat setiap individu didalam Sangha.
|
||||
16
|
VEGETARIAN
|
Aspek ini tidaklah perlu. Tempat seperti negara Thailand,
dimana praktik sehari-hari sangatlah sulit menentukan secara tegas makanan
apa yang akan didermakan.
|
Dilaksanakan secara baik di semua sekte Mahayana (kecuali
di Tibet dalam kaitan dengan geografis).Bagaimanapun, aspek ini tidaklah
wajib.
|
||||
17
|
FOKUS PEMUJAAN DI DALAM KUIL
|
Bentuk tata letak yang sederhana dengan gambar Buddha
Sakyamuni sebagai fokus utama di altar.
|
Dapat menjadi rumit; dengan sebuah ruangan untuk Buddha
Sakyamuni Buddha dan kedua muridnya, satu hall/aula untuk yang 3 Buddhas (
mencakup Amitabha dan Buddha Baisayjaraja ) dan satu hall/aula untuk yang 3
Bodhisattva utama; disamping pelindung dan lain-lain.
|
||||
18
|
SEKTE ATAU TRADISI
|
Hanya satu sekte utama yang selamat setelah beberapa tahun
yang mengurangi jumlah dari 18 atau lebih sekte.
|
8 sekte utama (Cina) yang berdasarkan pada bagian /
doktrin ( sutras, sastras atau vinaya) tentang pengajaran. Yang empat sekte
lebih menitikberatkan pada praktek Tanah Suci / Tanah Amitabha, Ch'an,
Vajrayana dan Vinaya (Bukan untuk umat biasa) sangat terkenal dibandingkan
dengan sekte filosofi seperti Tien Tai, Avamtasaka, Yogacara dan Madhyamika
|
||||
19
|
PENGARUH AJARAN LAIN
|
Sebagian besar ajaran sebelum Buddhism seperti ajarna
Hindu / Brahmin mempengaruhi. Banyak terminologi seperti karma, sangha, dll
sudah berlaku ketika Buddha Sakyamuni hidup. Acuan telah dibuat dari Vedas
dan Upanishads.
|
Selama pengintegrasian dan adopsi oleh orang-orang di
dalam peradaban lain, ada pengaruh timbal balik yang kuat. Di dalam Negeri
China, kedua-duanya Confucianism dan Taoism menggunakan beberapa yang
mempengaruhi Buddhism yang mana pada gilirannya mempunyai sebuah dampak pada
kepercayaan yang berasal dari penduduk setempat. Hal ini telah diulangi di
Jepang dan Tibet.
|
||||
20
|
BUDDHA SEJATI
|
Tidak terdapat dalam ajaran Theravada
|
Penekanan yang kuat terhadap hal ini, semua sekte
melaksanakan praktek ini.
|
||||
sumber dari :
http://www.nshi.org/Buddhisme/Indonesia%20Buddhisme/Perbedaan-Theravada-Mahayana.htm
|
|||||||
POKOK DASAR PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA
Pendahuluan,
Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya
memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu
dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama
tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun
pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang
menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat
digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.
Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari
keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi
dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan
Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada
maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan
yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha
Dhamma.
Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok
dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu
keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang
sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan
khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.
Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia
Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau
World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan
Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya
terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.
WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana,
dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh,
Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea,
Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura,
Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.
Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya,
Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M.
Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan
tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan.
Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan
Mahayana”:
- Sang Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.
- Kami berlindung dalam Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).
- Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan.
- Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka, dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Arya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).
- Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).
- Kami menerima Tigapuluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.
- Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Samyaksambuddha / Sammasambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain.
- Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.
Perluasan Rumusan
Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif
rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut
berisi:
- Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.
- Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami, Dhamma, ajaranNya, dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.
- Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.
- Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.
- Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
- Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.
- Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).
- Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
- Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
- Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
- Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
- Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
- Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
- Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
- Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).
- Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.
- Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.
Rumusan Lain
Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga
merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian
besar sama dengan rumusan WBSC.
Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:
- Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.
- Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.
- Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.
- Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.
- Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.
- Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.
Rumusan dari Oo Maung:
- Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Arya.
- Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.
- Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.
- Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.
- Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.
- Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.
Rumusan dari Tan Swee Eng:
- Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.
- Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.
- Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.
- Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.
- Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.
Penutup,
Dengan rumusan pokok-pokok dasar pemersatu ini, diharapkan
kita dapat memahami ciri khas ajaran yang ada dalam Buddhisme yang membedakan
agama besar ini dengan agama atau kepercayaan lainnya yang ada di dunia. Kita
dapat memahami bahwa meskipun terdapat perbedaan antar aliran, namun memiliki
ajaran pokok yang sama yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari
dapat mengarahkan kita pada akhir penderitaan, Nibbana / Nirvana.
-oOo-
Catatan:
1 Berlindung dalam Ti Ratana bukan berarti berserah
diri. Buddha dalam pengertian Guru pembimbing, dimana Sakyamuni Buddha adalah
Buddha Sejarah. Dan Buddha dalam pengertian Kesadaran. Dhamma dalam pengertian
Kebenaran ataupun Ajaran Buddha. Sangha dalam pengertian persaudaraan /
perkumpulan para Bhikkhu Arya.
2 Tuhan yang dimaksud adalah yang memiliki definisi:
berpersonal, pencipta semesta, prima causa, ayah/ibu dari semua makhluk,
paramatman, yang maha segalanya.
3 Savakabuddha: pencapaian Pencerahan melalui
mendengar ajaran dari Sammasambuddha. Paccekabuddha: pencapaian
Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa mengajar. Sammasambuddha: pencapaian
pencerahan dengan usaha sendiri dan mengajar.
Catatan :
Berdasarkan rumusan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada
dan Mahayana” yang telah disepakati oleh WBSC tersebut diatas, maka kita dapat
dengan mudah mengetahui bahwa apapun aliran/sekte yang mengaku sebagai kelompok
Buddhisme tapi didalam pengajarannya “Keluar” dari jalur rumusan tersebut
diatas, dapatlah di pastikan bahwa aliran/sekte tersebut bukan merupakan
kelompok Buddhisme.
CIRI - CIRI AGAMA BUDDHA
CIRI-CIRI
AGAMA BUDDHA
- Para umatnya Berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): yaitu Buddha, Dhamma dan Sangha .
- Tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh ‘sosok makhluk Adikuasa’ atas kehendaknya.
- Agamanya mengajarkan tentang Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri; dimana faktor pembebasan dan keselamatan dapat dicapai melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
- Mengajarkan tentang hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada(Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan) .
- Mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang terkondisi dan tidak terkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa ‘Aku’ (anatta).
- Mengajarkan tentang Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan(Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan.
- Mengajarkan tentang Toleransi terhadap semua agama maupun kepercayaan serta praktik, upacara, ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat dan hukum negara yangbersifat umum.
AJARAN WELAS ASIH KWAN IM PO SAT
Ajaran welas
asih Avalokitesvara Bodhisattva (Kwan Im Po Sat) :
- Jika orang bikin kita susah, anggaplah itu adalah tumpukan rejeki.
- Mulai hari ini, belajarlah setiap hari menyenangkan hati orang lain.
- Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah bahagia.
- Lari dan berlarilah yang cepat untuk mengejar hari esok.
- Setiap hari kamu harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.
- Setiap kali kalau ada orang yang beri kamu satu, kamu harus kembalikan 10x lipat.
- Nilailah kebaikan orang lain terhadap kamu, tetapi hapuslah semua jasa yang pernah kamu berikan kepada orang lain.
- Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.
- Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.
- Orang yang benar kita bela, tetapi yang salah kita beri nasehat.
- Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tetapi kamu menerimanya, maka akan ada rezeki yang datang kepadamu yang berlimpah ruah.
- Jangan selalu lihat kesalahan/mengecam orang lain, tetapi selalu lihat diri sendiri, itulah kebenaran.
- Orang yang baik diajak bergaul, tetapi orang yang jahat dikasihani.
- Kalau wajahmu senyum, hati kamu senang, pasti kamu akan aku terima.
- Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa.
- Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.
- Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.
- Jangan bicarakan sedikitpun kejelekan orang di belakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.
- Kalau kamu tahu orang itu berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembut sehingga orang itu jadi insaf.
- Doa dan sembah sujudmu aku terima, apabila kamu bisa sadar dan menuruti jalanku.
Subscribe to:
Posts (Atom)