TERPUJILAH PARA BUDDHA, PARA BHODHISATTVA MAHASATTVA, SERTA PARA ARYA NAN BIJAKSANA..._/\_ NAMO BUDDHAYA _/\_


Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.

W E L C O M E ( E H I P A S S I K O )
Showing posts with label BUDDHA-DHARMA. Show all posts
Showing posts with label BUDDHA-DHARMA. Show all posts

Thursday, 21 November 2013

BEBERAPA KEISTIMEWAAN BUDDHA-DHARMA

BEBERAPA KEISTIMEWAAN AJARAN BUDDHA.

TELADAN YANG SEMPURNA,
Buddha merupakan perwujudan dari kebajikan-kebajikan yang telah Beliau sampaikan. Beliau mempraktikkan semua perkataan yang di sampaikan-Nya dalam tingkah laku. Beliau tidak pernah merasa lelah untuk menyebarluaskan Kebenaran dan merupakan contoh yang sempurna. Pada tiap saat Beliau tidak pernah menunjukkan kelemahan seorang manusia ataupun menunjukkan keinginan rendah. Kualitas Moral, Kebijaksanaan dan Belas Kasih-Nya adlah yang paling sempurna yang pernah ada di dunia ini.

KITA DAPAT MENJADI SEMPURNA,
Ajaran Buddha dapat membuat kita mencapai tingkat spiritual yang paling tinggi yang dapat kita peroleh. Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk dapat mencapai kesempurnaan. Tidak ada pendiri kepercayaan lainnya yang pernah mengatakan bahwa setiap pengikutnya mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh kedamaian, kebahagiaan, dan pembebasan dari dirinya. Tetapi Buddha mengajarkan bahwa setiap makhluk dapat mencapai kebahagiaan yang sama dari Penerangan Sempurna, jika mereka mempraktikkan Dharma seperti yang telah Beliau praktikkan. 

MELEBIHI AGAMA,
Jika definisi “agama” adalah kepercayaan dan pemujaan pada sesuatu yang tertinggi, dengan kewajiban untuk melaksanakan upacara dan puja, maka ajaran Buddha tidak terbatas hanya sebagai agama. Di luar semua definisi konvesional tentang agama…..ajaran Buddha mendorong kita untuk tidak hanya percaya begitu saja, dan mendorong agar kita mempercayai kekuatan potensi diri kita sendiri. Upacara dan puja di lihat sebagai sesuatu yang dapat memberikan inspirasi pada kita. Dalam hal ini upacara dan puja itu penting, namun upacara dan puja tidak dapat memberikan kita kebijaksanaan dan kebahagiaan sejati.
  
UNIVERSAL,
Karena perhatian Buddha adalah Kebahagiaan Sejati bagi semua makhluk, ajaran-Nya dapat di praktikkan baik dalam masyarakat maupun dalam hutan yang sunyi, oleh semua ras maupun kepercayaan. Ini semua benar-benar tidak memihak dan universal. 

PEMURNIAN PIKIRAN,
Ajaran Buddha adalah satu-satunya ajaran yang tidak hanya berakhir pada menghindari semua kejahatan dan melakukan kebaikan, tetapi juga mengajarkan pemurnian pikiran seseorang. Pikiran merupakan akar dari semua kebaikan dan kejahatan, dan yang menjadi sebab dari penderitaan maupun Kebahagiaan Sejati.   

KEPERCAYAAN DIRI,
Ketika Buddha sedang bermeditasi untuk mencapai Peneranagn Sempurna, tidak ada dewa yang datang mengungkapkan rahasia terselubung dari seluruh kekuatan spiritual. Tidak ada satu pun yang memberikan Beliau Kepercayaan untuk di ajarkan. Beliau mengatakan, “Saya mendapatkan Kebijaksanaan tertinggi dengan usaha, energi, pengetahuan, dan pemurnian saya sendiri.” Begitu juga, kita dapat mencapai tujuan tertinggi ini melalui kesabaran dalam penyempurnaan diri kita. 

KEBEBASAN BERPIKIR,
Dari kandungan intelektual dan filsafat ajaran Buddha, berkembanglah kebebasan berpikir dan mencari, yang tidak mungkin berbeda dengan agama-agama lain yang ada di dunia. Walaupun Buddha mendorong kita untuk mempraktekkan ajaran-Nya, tidak ada paksaan atau keharusan untuk meyakini atau menerima ajaran Beliau.

PELAJARAN MENGENAI KEBENARAN,
Buddha adalah guru terbesar yang mengajarkan Kebenaran (Sifat sejati semua hal). Ajaran Buddha adalah pelajaran yang sempurna mengenai kita dan alam semesta tempat kita berada. Ajaran ini melebihi Pengetahuan duniawi-merupakan Kebijaksanaan tertinggi yang membawa pada pencapaian kebahagiaan sejati. Hal yang menarik untuk di ketahui bahwa universitas pertama yang di dirikan di dunia adalah Universitas Buddhis Nalanda di India, yang berkembang mulai abad kedua sampai kesembilan Masehi. Universitas ini terbuka bagi semua siswa-siswi dari seluruh penjuru dunia dan merupakan Universitas Buddhis yang menghasilkan sarjana-sarjana terkemuka dan bijaksana. 

PENDIRIAN YANG TEGUH,
Buddha adalah Guru yang tiada bandingnya. Beliau membebaskan dan mengundang semua pengikut-pengikutNya maupun dari kepercayaan lainnya untuk membuktikan ajaran-Nya dari setiap kemungkinan, sampai tidak ada lagi keragu-raguan mengenai ajaran-Nya itu. Para pengikut-Nya telah berdebat tentang ajaran-Nya, dan bahkan telah mendirikan aliran-aliran Buddhis yang berbeda sesuai dengan pengertian mereka tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. Buddha tahu jika seseorang benar-benar yakin bahwa ia tahu tentang kebenaran maka dia tidak perlu takut akan tantangan, karena Kebenaran akan selalu menang. Jawabannya terhadap banyak pertanyaan memperkaya doktrin Buddhis menjadi lading keyakinan yang luas. Kita sekarang dapat menjawab setiap pertanyaan tentang ajaran Buddha, hanya dengan mengacu pada penjelasan Buddha. 

TIDAK ADA KEPERCAYAAN YANG MEMBUTA,
Buddha tidak pernah menjanjikan kebahagiaan surgawi ataupun penghargaan kepada mereka yang mengaku pengikut-Nya. Beliau tidak juga menjanjikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Bagi-Nya kepercayaan bukanlah penawaran melainkan jalan hidup yang mulia untuk memperoleh Penerangan Sempurna dan pembebasan bagi diri sendiri dan orang lain. Beliau tidak menginginkan pengikut yang percaya secara membuta, Beliau ingin kita berpikir dan mengerti untuk kebaikan diri kita sendiri.

Buddha mendorong semua orang untuk datang dan menemukan lebih banyak tentang ajaran Buddha dan tidak hanya sekedar mempercayainya. Beliau menasehati kita untuk memilih kepercayaan yang cocok dengan mempertimbangkan dan menyeledikinya dari berbagai segi, bukan hanya kepercayaan membuta. Hal ini menyebabkan ajaran Buddha kadang-kadang di katakan sebagai kepercayaan dengan analisis. Dalam hal ini logika ilmu pengetahuan dan para pemikir modern menghargainya. Saat ini, para pemeluk agama Buddha di dorong untuk bersikap kritis, bahkan terhadap kitab-kitab suci agama Buddha sendiri. 

KEYAKINAN DARI PENGALAMAN DAN AKAL SEHAT,
Ajaran Buddha adalah satu-satunya agama yang di jelaskan kepada umat manusia lewat pengalaman, pencapaian, kebijaksanaan, dan Penerangan Sempurna dari penemunya (Buddha) tanpa mengatakannya sebagai perintah atau pesan dari dewa tertentu. Ini berakar dari pengalaman dan bukannya kepercayaan membuta. Masalah manusia harus di mengerti oleh seseorang melalui pengalaman-pengalaman manusia, dan dapat di pecahkan dengan mengembangkan kualitas-kualitas manusia yang sempurna. Seseorang dapat menemukan solusi melalui pemurnian dan pengembangan pikirannya, bukannya dari factor-faktor luar. Oleh sebab itu Buddha tidka pernah mengatakan dirinya sebagai penyelamat yang super natural. Beliau tidak pernah menemukan adanya penyelamat seperti itu. Menurut-Nya, kita dapat menjadi Penyelamat bagi diri kita sendiri. 

KEBENARAN KESELURUHAN,
Buddha mengatakan bahwa kita harus menghadapi kenyataan hidup dengan berani tanpa bertindak munafik serta menerima kenyataan apapun dan kapanpun itu terjadi. Semua yang Beliau ajarkan adalah kebenaran praktis sejati yang membawa kita menuju kebahagiaan sejati.

ILMIAH,
Ajaran Buddha tidak pernah menemukan interprestasi tambahan pada apa yang di ajarkan. Penemuan baru yang di temukan oleh para ilmuwan tidak pernah bertentangan dengan ajaran Buddha karena metode dan ajaran Buddha terbukti benar secara ilmiah. Prinsip-prinsip ajaran Buddha dapat di pertahankan di berbagai keadaan tanpa merubah intinya. Kemampuan pemahaman terhadap nilai-nilai religious ini dapat berkurang dan hilang dari batin seseorang, dan seseorang mungkin mengalami kesulitan dalam mempraktekkan prinsip ini dalam suatu masyarakat yang pelik. Namun, nilai yang di ajarkan Buddha akan di hargai oleh semua kebudayaan dan orang yang mengerti, setiap saat. Seperti yang di katakan oleh Albert Einstein (ahli fisika dan matematika), peraih Nobel yang populer sebagai ilmuwan paling jenius abad ke-20. 

“Agama masa yang akan datang adalah agama kosmik. Agama tersebut mengatasi Tuhan yang bersifat pribadi dan menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, dan berdasar pada rasa keagamaan yang muncul dari pengalaman terhadap segala sesuatu, alami dan spiritual, dan berdasar pada rasa keagamaan yang muncul dari pengalaman terhadap segala sesuatu, alami dan spiritual, serta melalui pengertian yang menyeluruh. Ajaran Buddha memenuhi ciri-ciri ini….. jika ada agama yang dapat mengimbangi ilmu pengetahuan modern, itu pasti ajaran Buddha.” 

UNGGUL DALAM FILSAFAT,
Seperti yang di katakana oleh Bertrand Russell (ahli matematika, filsafat, pengarang dan kritikus sosial), pemenang Nobel yang populer sebagai filsafat terhebat pada abad 20. 

“Dari sejarah agama-agama yang hebat, saya lebih suka pada ajaran Buddha. Ajaran Buddha adalah kombinasi dari berbagai filsafat yang spektakuler dan ilmiah. Ajaran ini memakai metode ilmiah dan pada akhirnya dapat di sebut rasional. Di dalamnya dapat di temukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang menarik seperti “Apa itu batin dan jasmani? Dari keduanya, mana yang lebih penting? Apakah alam semesta ini bergerak menuju satu tujuan? Apa kedudukan manusia? Apakah kehidupan yang mulia itu? Ini di ambil dimana para ilmuwan tidak dapat menjawabnya karena keterbatasan pengetahuan atau peralatan. Penakluknya adalah pikiran.”

UNGGUL DALAM PSIKOLOGI,
Dalam perjalanan karirnya banyak psikolog telah menemukan, seperti apa yang di perlihatkan oleh Dr. Carl G.Jung (penemu Psikologi analtik, perintis psikologi modern): kita lebih dekat dengan Buddha. Dengan membaca sebagian kecil Dharma dapat di sadari bahwa umat Buddha telah mengetahui masalah-masalah psikologi lebih dari 2500 tahun yang lalu, jauh sebelum masalah-masalah tersebut muncul pada masa modern ini. Mereka mempelajari masalah ini pada masa lalu dan juga menemukan jawabannya. Seperti di ungkapkan oleh Jung.

“Sebagai siswa pembanding ajaran, saya percaya bahwa ajaran Buddha adalah yang paling sempurna di dunia ini. Filsafat dalam teori evolusi dan dalam hukum Karma adalah yang paling Tinggi di antara yang lainnya. Bukan dari sejarah agama atau pelajaran filsafat yang pertama menggambarkanku alam berpikir Buddhis tetapi ketertarikanku pada kedokteran. Pekerjaanku adalah meringankan penderitaan psikis, dan ini mendorong saya untuk mengenal pandangan dan metode dari guru kemanusiaan terbesar itu (Buddha), yang mempunyai prinsip pokok untuk merubah rantai penderitaan, umur tua, sakit dan kematian.”

TIDAK MENAKUT-NAKUTI,
Buddha adalah figur terbesar yang mengutamakan munculnya keyakinan rasional ketimbang kepercayaan takhayul semata. Beliau membebaskan manusia dari penghambaan pada para brahmana, dan yang pertama kali menunjukkan jalan kebebasan dari kemunafikkan dan kediktatoran agama. Ajaran Buddha adalah ajaran yang menggunakan akal dan tidak menakut-nakuti untuk memaksa setiap orang dengan segala cara untuk mempercayainya. 

CINTA KASIH UNIVERSAL,
Karena cinta kasih Buddha yang universal, Beliau melihat semua makhluk besar dan kecil, dari serangga sampai binatang buas adalah sama pada akhirnya, semua mempunyai hak yang sama untuk memperoleh kebahagiaan seperti kita. 

TANPA-KEKERASAN,
Tidak ada peperangan yang kita lihat dalam Agama Buddha. Buddha mengatakan bahwa, “Yang menang akan di benci dan yang kalah hidup dalam penderitaan, siapa yang melepaskan kemenangan dan kekalahan adalah orang yang bahagia dan hidup dalam kedamaian.” Beliau bukan hanya mengajarkan kedamaian dan tanpa kekerasan, tetapi Beliau juga mungkin yang pertama dan satu-satunya pengajar agama yang pergi ke medan perang untuk mencegah terjadinya perang.

PERSAMAAN DERAJAT,
Buddha adalah yang pertama menentang sistem kasta dalam hak asasi manusia dan mengutamakan kesamaan dari semua makhluk tanpa memandang perbedaan tingkat sosial, suku bangsa, maupun kepercayaan. Beliau selalu memberikan semangat dalam masyarakat pada semua tingkat. Menurut Buddha, satu-satunya pembedaan manusia adalah berdasarkan pada kualitas dari laku moralnya. Buddha mengatakan: “Pergilah ke semua Negara dan sebarkan ajaran ini. Katakana pada mereka bahwa yang miskin dan rendah, yang kaya dan tinggi semuanya satu dan semua kasta menyatu dalam kepercayaan ini seperti semua sungai yang mengalir ke laut.”

PERSAMAAN HAK,
Buddha melihat dua jenis kelamin yang pada akhirnya memiliki hak yang sama dan merupakan guru spiritual yang pertama kali memberikan wanita menjadi anggota Sangha (Persamuan Bhikksu dan Bhikksuni) sangat radikal pada waktu itu.

TIDAK MENYALAHGUNAKAN POLITIK,
Buddha berasal dari kasta ksatria dan masuk dalam kategori raja, pangeran dan menteri. Tetapi Beliau tidak pernah menggunakan pengaruh kekuatan politik untuk menyebarkan ajaran-Nya disalahgunakan untuk mendapatkan kekuatan politik. Bagaimanapun, Beliau membujuk agar semua raja mempunyai moral yang kuat, dan mengajarkan bahwa sebuah Negara seharusnya tidak di perintah dengan ketamakan melainkan dengan Welas Asih dan perhatian pada rakyatnya.

TIDAK ADA EKSKLUSIVITAS ATAU FANATISME,
Buddha mengajarkan bahwa jika ada kepercayaan yang mengajarkan Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan, ini seharusnya di pandang sebagai agama yang benar. Ini di sebabkan karena agama yang benar-benar membantu harus membawa pada pembasmian seluruh penderitaan (seperti pada Empat Kebenaran Mulia), dan menunjukkan secara jelas jalan rasional menuju pada Kebahagiaan Sejati (seperti pada Jalan Mulia Berunsur Delapan).

PENYEBARAN TANPA KEKERASAN,
Satu contoh yang sangat tepat dari kualitas dan pendekatan dari misionaris Buddhis adalah Raja Asoka, yang mengirimkan penyebar agama Buddha ke berbagai daerah di Asia dan dunia Barat untuk memperkenalkan ajaran Buddha tentang perdamaian. Salah satu prasasti yang terukir di batu pilar Asoka, yang masih ada sampai saat ini di India menyatakan: “Seseorang seharusnya tidak hanya menghargai agamanya dan mencela agama orang lain. Dengan melakukan hal ini, seseorang membantu agamanya untuk tumbuh dan memberikan perlakuan yang baik terhadap agama yang lain juga. Dengan melakukan yang sebaliknya, seseorang menggali kubur bagi agamanya sendiri dan sekaligus merugikan agamanya sendiri dan sekaligus merugikan agama yang lain.”

Perang keramat, perang suci, penyelidikan dan diskriminasi agama jangan sampai merusak sejarah ajaran Buddha. Penyebar agama Buddha tidak perlu ataupun bermaksud mengubah seseorang yang telah mempunyai kepercayaan yang sesuai untuk di praktekannya. Umat Buddha turut berbahagia melihat kemajuan agama lainnya sejauh mereka membantu orang lain menuju pada cara hidup spiritual sesuai dengan kepercayaan mereka, dan menuju pada kedamaian, keharmonisan dan pengertian yang benar. Tetapi, Buddha juga mendorong kita untuk membagi kebenaran dengan siapapun yang tertarik dengannya: “Pergilah, oh para Bhiksu, untuk kebaikan semuanya, untuk kebahagiaan semuanya, untuk menyebarkan Belas Kasihan bagi dunia, untuk kebaikan, keuntungan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia, Janganlah berdua pergi dalam satu jalan. Babarkanlah Dharma, oh para Bhiksu, Dharma yang indah pada awal, indah pada pertengahannya, indah pada akhirnya, baik dalam semangat maupun dalam kata-kata. Ajarkanlah kehidupan suci untuk kesempurnaan dan kesucian. 

TUJUAN YANG PALING BERHARGA,
Pencapaian Kebuddhaan, atau memperoleh Kebahagiaan Sejati untuk diri sendiri dan orang lain adalah yang paling sulit, tetapi merupakan hal yang sangat berharga untuk di lakukan, karena mempraktikan Agama Buddha berarti mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan (Jalan Tengah). Umat Buddha tidak selayaknya mengikuti salah satu bentuk ekstrim.

GAMBARAN LENGKAP MENGENAI UMAT MANUSIA DAN AGAMA,
Buddha menjelaskan secara rasional dan mendetail tentang bagaimana semua kepercayaan spiritual berubah sepanjang sejarah, sejalan dengan perubahan dalam pola pikir manusia. Beliau juga memberi kita sebuah gambaran yang jelas mengenai pengaruh agama pada kehidupan umat manusia.

JALAN YANG SEMPURNA UNTUK MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATI,
Ajaran-ajaran Buddha membentuk sebuah silabus lengkap yang besar dan berkaitan erat, yang mencakup setiap aspek kehidupan. Kumpulan dari kitab suci agama Buddha dikatakan jika di tumpuk mencapai “tinggi dari tujuh gajah”! Buddha menjelaskan selama empat puluh lima tahun, semua yang di butuhkan untuk melenyapkan penderitaan dan memperoleh Kebahagiaan Sejati. Beliau menanyakan sebanyak tiga kali kepada ribuan siswa-Nya, apakah mereka masih mempunyai keragu-raguan yang tersisa, sebelum Buddha mangkat dan mencapai Parinirvana. Ternyata tidak ada.

KEBAHAGIAAN DALAM HIDUP INI,
Ajaran Buddha bukanlah sebuah agama yang hanya untuk kehidupan di dunia lain semata. Walaupun dengan mempraktekkan ajaran Buddha dalam kehidupan ini akan menghasilkan dampak positif untuk kehidupan kita yang selanjutnya, sebagian besar dari hasil latihan atau praktek kita akan dapat dirasakan dalam kehidupan saat ini juga. 

SEGALA SESUATU ITU TERBUKA,
Menurut Buddha, Kebenaran merupakan hal yang terbuka untuk di temukan oleh semua orang untuk kebaikan diri mereka sendiri. Ketika kita belajar tentang kehidupan dan ajaran-ajaran Buddha, kita dapat melihat bahwa segala sesuatunya terbuka bagi semua orang, memang ada beberapa pelajaran tingkat lanjut tertentu yang memerlukan bimbingan dari guru-guru yang berpengalaman, tetapi tidak ada rahasia dalam agama Buddha.

PERBUATAN BAIK DAN PENUH PENGERTIAN,
Pesan Buddha mengenai perbuatan baik dan penuh pengertian terhadap semua makhluk adalah sebuah pesan universal. Dunia saat ini membutuhkan pesan mulia ini lebih dari sebelumnya dalam sejarah kemanusiaan.


NB : Atas keterangan yang diuraikan diatas, Saya sebagai Umat Buddha tidak membandingkan bahwa Agama Buddha-lah yang paling Baik . Semua Agama dan kepercayaan adalah Baik , apabila didasari oleh Norma-norma dan Sila yang Baik serta dengan harapan dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi semua makhluk. Omithofo !!

Tuesday, 19 November 2013

PERBEDAAN THERAVADA DENGAN MAHAYANA

PERBEDAAN THERAVADA DAN MAHAYANA

NO.
TOPIK
AJARAN THERAVADA
AJARAN MAHAYANA

1
BUDDHA
Hanya Buddha Sakyamuni dalam sejarah dan para Buddha masa lampau juga diterima.
Terdapat Buddha lain selain Buddha Sakyamuni, pada saat ini Buddha Amitabha dan Buddha Baisyajaraja (Obat) sangat terkenal.

2
PARA BODHISATTVA
Hanya menerima Bodhisattva Maitreya
Terdapat Bodhisattva Avalokitesvara, Mansjuri, Ksitigarbha dan Samanthabadra disamping Bodhisattva Maitreya.

3
TUJUAN PELATIHAN
Mencapai Arahat dan pacceka-buddha.
KeBuddhaan (melalui pelaksanaan bodhisattva).

4
PENGORGANISASIAN SUTRA BUDDHIS
Sutra Pali dibagi menjadi 3 keranjang ( Tipitaka): Vinaya Pitaka 5 buku, Sutta Pitaka 5 koleksi ( banyak sutta) dan Abhidhamma Pitaka 7 buku.
Sutra Ajaran Mahayana juga terdiri dari Tripitaka disiplin / aturan, ceramah ( sutras) dan analisa dharma. Pada umumnya dikumpulkan menjadi 12 divisi topik seperti Penyebab Dan Kondisi-Kondisi Dan Sajak/Ayat. Itu berisi hampir semua Theravada Tipitaka dan banyak sutra yang tidak terdapat dalam Theravada Tipitaka.

5
KONSEP BODHICITTA
Penekanan utama adalah pembebasan diri. Kepercayaan penuh pada diri sendiri untuk membasmi semua kekotoran.
Di samping pembebasan diri sendiri, adalah penting bagi para penganut Mahayana membantu mahluk lain.

6
KONSEP TRIKAYA
Penekanan yang sangat terbatas pada 3 badan seorang Buddha. Acuan sebagian besar pada nirmaya-kaya dan dharma kaya.
Hal terbaik didalam ajaran Mahayana dilengkapi dengan Samboga-kaya atau badan melengkapi;melengkapi konsep Trikaya

7
RUTE PENYEBARAN
Rute Selatan: Sri Lanka, Thailand, Myanmar, Laos Dan Kamboja dan bagian-bagian dari Asia Tenggara.
Rute Utara : Tibet, China, Taiwan, Jepang, Korea, Mongolia and Bagian dari Asia Selatan.

8
BAHASA PEMBABARAN DHARMA
Tipitaka mutlak dalam bahasa Pali. Dharma diajarkan dalam bahasa Pali yang dikombinasi-kan dengan bahasa lokal.
Ajaran Budha diterjemahkan ke dalam bahasa lokal (kecuali yang 5 tak dapat diterjemahkan),antara lain: Tibet, Cina dan Jepang. Bahasa terjemahan itu berdasarkan bahasa Sansekerta.

9
NIRVANA(Nibbana dalam bahasa Pali)
Tidak ada pembedaan antara Nirvana yang dicapai oleh seorang Buddha dan dari seorang arahat atau pacceka buddha.
Juga mengenal sebagai ' pembebasan dari Samsara,' ada pembedaan sulit dipisahkan di (dalam) tingkatan pencapaian untuk ke tiga situasi..

10
PENGIKUT BUDDHA SAKYAMUNI
Para murid utama dalam sejarah, apakah itu arahat atau pengikut biasa.
Banyak bodhisattva diperkenalkan oleh Sakyamuni Buddha. Kebanyakan bukanlah figur historis.

11
UPACARA AGAMA DAN DOA
Ada beberapa upacara agama tetapi tidak ada penekanan seperti di Mahayana.
Dipengaruhi budaya lokal oleh karena itu terdapat penekanan yang lebih berat atas penggunaan upacara agama seperti Upacara agama untuk yang meninggal, memberi makan Peta, formalitas tantric ( di dalam Vajrayana).

12
PENGGUNAAN MANTRA DAN MUDRA
Beberapa digunakan didalam Paritta
Pelatihan yang berat di Vajrayana Mahayana Buddhism. Sekte lain juga telah memasukkan beberapa mantras di dalam doa sehari-hari mereka.

13
ASPEK KEMATIAN
Sangat sedikit riset dan pengetahuan atas proses sekarat dan kematian. Pada umumnya, orang yang sekarat dinasehatkan untuk bersemadi atas sifat tak kekal, menderita dan kehampaan.
Sekte Vajrayana sangat meneliti mengenai hal ini. Ada banyak tanda eksternal dan internal yang dialami oleh orang sebelum meninggal. Penekanan terberat adalah pada proses pemindahan jasa kebajikan dalam beberapa minggu yang mengikuti kematian untuk membantu proses kelahiran kembali.

14
BARDO
Mengenai hal ini antara tahapan setelah meninggal dan sebelum kelahiran kembali diabaikan oleh sekte Theravada.
Semua sekte Mahayana mengajarkan mengenai aspek ini setelah kematian.

15
PELAKSANAAN MAKAN HANYA SEKALI SEHARI
Ini adalah aturan di dalam Sangha Theravada
Ini adalah suatu praktek yang sangat terhormat tetapi ini tergantung dari sifat setiap individu didalam Sangha.

16
VEGETARIAN
Aspek ini tidaklah perlu. Tempat seperti negara Thailand, dimana praktik sehari-hari sangatlah sulit menentukan secara tegas makanan apa yang akan didermakan.
Dilaksanakan secara baik di semua sekte Mahayana (kecuali di Tibet dalam kaitan dengan geografis).Bagaimanapun, aspek ini tidaklah wajib.

17
FOKUS PEMUJAAN DI DALAM KUIL
Bentuk tata letak yang sederhana dengan gambar Buddha Sakyamuni sebagai fokus utama di altar.
Dapat menjadi rumit; dengan sebuah ruangan untuk Buddha Sakyamuni Buddha dan kedua muridnya, satu hall/aula untuk yang 3 Buddhas ( mencakup Amitabha dan Buddha Baisayjaraja ) dan satu hall/aula untuk yang 3 Bodhisattva utama; disamping pelindung dan lain-lain.

18
SEKTE ATAU TRADISI
Hanya satu sekte utama yang selamat setelah beberapa tahun yang mengurangi jumlah dari 18 atau lebih sekte.
8 sekte utama (Cina) yang berdasarkan pada bagian / doktrin ( sutras, sastras atau vinaya) tentang pengajaran. Yang empat sekte lebih menitikberatkan pada praktek Tanah Suci / Tanah Amitabha, Ch'an, Vajrayana dan Vinaya (Bukan untuk umat biasa) sangat terkenal dibandingkan dengan sekte filosofi seperti Tien Tai, Avamtasaka, Yogacara dan Madhyamika

19
PENGARUH AJARAN LAIN
Sebagian besar ajaran sebelum Buddhism seperti ajarna Hindu / Brahmin mempengaruhi. Banyak terminologi seperti karma, sangha, dll sudah berlaku ketika Buddha Sakyamuni hidup. Acuan telah dibuat dari Vedas dan Upanishads.
Selama pengintegrasian dan adopsi oleh orang-orang di dalam peradaban lain, ada pengaruh timbal balik yang kuat. Di dalam Negeri China, kedua-duanya Confucianism dan Taoism menggunakan beberapa yang mempengaruhi Buddhism yang mana pada gilirannya mempunyai sebuah dampak pada kepercayaan yang berasal dari penduduk setempat. Hal ini telah diulangi di Jepang dan Tibet.

20
BUDDHA SEJATI
Tidak terdapat dalam ajaran Theravada
Penekanan yang kuat terhadap hal ini, semua sekte melaksanakan praktek ini.

sumber dari : http://www.nshi.org/Buddhisme/Indonesia%20Buddhisme/Perbedaan-Theravada-Mahayana.htm




POKOK DASAR PEMERSATU THERAVADA DAN MAHAYANA

Pendahuluan,

Dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tentunya memiliki ciri khas dalam ide, konsep ataupun ajarannya yang membedakannya satu dengan yang lain. Meskipun dalam suatu faham, kepercayaan ataupun agama tersebut memiliki aliran atau mazab atau tradisi yang beraneka ragam, namun pastilah memiliki ciri khas, kesamaan beberapa konsep ajaran yang mendasar yang menghubungan satu dengan yang lain sehingga aliran-aliran tersebut masih dapat digolongkan dalam faham, kepercayaan ataupun agama induknya.

Buddhisme merupakan agama yang juga tidak lepas dari keberagaman aliran ataupun tradisi. Mayoritas, terdapat dua aliran atau tradisi dalam Buddhisme, yaitu Theravada dan Mahayana (dengan mempertimbangkan Vajrayana merupakan bagian dari Mahayana). Digolongkannya aliran Theravada maupun Mahayana sebagai bagian dari Buddhisme tidak lepas dari adanya kesamaan yang mendasar dalam beberapa konsep ajaran yang merupakan inti sari dari Buddha Dhamma.

Dalam tulisan kali ini, kita disuguhkan persamaan pokok-pokok dasar yang terdapat dua aliran besar dalam Buddhisme yang menjadi pemersatu keduanya. Pokok-pokok dasar pemersatu ini terdapat dalam rumusan-rumusan yang sebelumnya telah dipelajari, disusun, dan diterima oleh para rohaniawan khususnya yang tergabung dalam Dewan Sangha Buddhis Sedunia.

Rumusan Oleh Dewan Sangha Buddhis Sedunia

Pada tahun 1966, Dewan Sangha Buddhis Sedunia atau World Buddhist Sangha Council (WBSC) terbentuk di Colombo, Sri Lanka pada bulan Mei. WBSC merupakan organisasi internasional non-pemerintah yang keanggotaannya terdiri dari sangha-sangha dari seluruh dunia.  

WBSC memiliki perwakilan dari tradisi Theravada, Mahayana, dan Vajrayana, yang berasal dari berbagai negara yaitu: Australia, Bangladesh, Kanada, Denmark, Perancis, Jerman, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Korea, Macao, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, New Zealand, Philipina, Singapura, Sri Lanka, Sweden, Taiwan, Thailand, Inggris dan Amerika Serikat.

Pada Kongres WBSC Pertama, salah satu pendirinya, Sekretaris-jendral, almarhum Y.M. Pandita Pimbure Sorata Thera meminta Y.M. Walpola Rahula untuk memberikan rumusan ringkas untuk mempersatukan tradisi-tradisi yang berbeda, yang kemudian secara bulat disetujui oleh Dewan.

Inilah sembilan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana”:
  1. Sang Buddha hanyalah satu-satunya Guru dan Penunjuk Jalan.
  2. Kami berlindung dalam Tiratana (Buddha, Dhamma, dan Sangha).
  3. Kami tidak mempercayai dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan.
  4. Kami mengingat bahwa tujuan hidup adalah mengembangkan belas kasih untuk semua makhluk tanpa diskriminasi dan berusaha untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka, dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada perealisasian Kebenaran Tertinggi.Kami menerima Empat Kebenaran Arya, yaitu dukkha, penyebab timbulnya dukkha, padamnya dukkha, dan jalan menuju pada padamnya dukkha; dan menerima hukum sebab dan akibat (Paticcasamuppada/ Pratityasamutpada).
  5. Segala sesuatu yang berkondisi (sankhara / samskara) adalah tidak kekal (anicca / anitya) dan dukkha, dan segala sesuatu yang berkondisi dan yang tidak berkondisi (dhamma) adalah tanpa inti, bukan diri sejati (anatta / anatma).
  6. Kami menerima Tigapuluh Tujuh (37) kualitas yang membantu menuju Pencerahan (Bodhipakkhika Dhamma / Bodhipaksa Dharma) sebagai segi-segi yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mengarah pada Pencerahan.
  7. Ada tiga jalan mencapai bodhi atau Pencerahan: yaitu sebagai Savakabuddha / Sravakabuddha, sebagai Paccekabuddha / Pratyekabuddha, dan sebagai Samyaksambuddha / Sammasambuddha. Kami menerimanya sebagai yang tertinggi, termulia dan terheroik untuk mengikuti karir Bodhisattva dan untuk menjadi seorang Sammasambuddha dalam rangka menyelamatkan makhluk lain.
  8. Kami mengakui bahwa di negara yang berbeda terdapat perbedaan pandangan kepercayaan-kepercayaan dan praktik Buddhis. Bentuk dan ekspresi luar ini seharusnya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.

Perluasan Rumusan

Pada tahun 1981 Y.M. Walpola Sri Rahula mengajukan alternatif rumusan yang mengacu pada 9 dasar dalam rumusan terdahulu. Rumusan tersebut berisi:
  1. Apapun aliran, kelompok atau sistem kami, sebagai Buddhis kami semua menerima Sang Buddha sebagai Guru kami yang memberikan kami ajaranNya.
  2. Kami semua berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): Sang Buddha, Guru kami, Dhamma, ajaranNya, dan Sangha, Komunitas para Arya (suciwan). Dengan kata lain, kami berlindung pada Pengajar, Pengajaran, dan Hasil Pengajaran.
  3. Baik Theravada ataupun Mahayana, kami tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh tuhan atas kehendaknya.
  4. Mengikuti keteladanan Sang Buddha, Guru kami yang merupakan perwujudan dari Belas kasih Agung (Maha Karuna) dan Kebijaksanaan Agung (Maha Prajna), kami menyadari bahwa tujuan dari hidup adalah untuk mengembangkan belas kasih bagi semua makhluk hidup tanpa diskriminasi dan untuk bekerja untuk kebaikan, kebahagiaan, dan kedamaian mereka; dan untuk mengembangkan kebijaksanaan yang mengarah pada realisasi Kebenaran Tertinggi.
  5. Kami menerima Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha, yaitu, Dukkha, kebenaran bahwa keberadaan kita di dunia ini berada dalam kesukaran, tidak kekal, tidak sempurna, tidak memuaskan, penuh dengan konflik; Samudaya, kebenaran bahwa kondisi-kondisi ini merupakan hasil dari sifat egois kita yang mementingkan diri sendiri berdasarkan pada ide yang salah mengenai diri; Niroda, kebenaran bahwa adanya kepastian akan kemungkinan pelepasan, pembebasan, kemerdekaan dari kesukaran ini dengan pemberantasan secara total sifat egois yang mementingkan diri sendiri; dan Magga, kebenaran bahwa pembebasan ini dapat dicapai melalui Jalan Tengah yang terdiri dari delapan faktor, yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
  6. Kami menerima hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada (Skt. Pratityasamutpada, Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan), dan oleh karena itu kami menerima bahwa segala sesuatu bersifat relatif, saling berhubungan, saling berkaitan dan tidak ada yang mutlak, tetap, dan kekal di alam semesta ini.
  7. Kami memahami, berdasarkan pada ajaran Sang Buddha, bahwa segala sesuatu yang berkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang berkondisi dan tidak berkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa inti (anatta).
  8. Kami menerima Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan (Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan, yaitu:
  • Empat Bentuk Landasan Perhatian Benar (Pali: satipatthana; Skt. smrtyupasthana);
  • Empat Daya Upaya Benar (Pali. sammappadhana; Skt. samyakpradhana);
  • Empat Dasar Kekuatan Batin (Pali. iddhipada; Skt. rddhipada);
  • Lima Macam Kemampuan (indriya: Pali. saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
  • Lima Macam Kekuatan (bala: saddha, viriya, sati, samadhi, panna; Skt. sraddha, virya, smrti, samadhi, prajna);
  • Tujuh Faktor Pencerahan Agung (Pali. bojjhanga; Skt. bodhianga);
  • Delapan Ruas pada Jalan Mulia (Pali. ariyamagga; Skt. aryamarga).
  • Ada tiga jalan untuk mencapai Bodhi atau Pencerahan Agung berdasarkan pada kemampuan/kecakapan dan kapasitas dari masing-masing individu, yaitu: sebagai seorang Sravaka (Yang melaksanakan ajaran Sammasambuddha ), sebagai seorang Pratyekabuddha (Buddha Yang tidak memberikan pengajaran) dan sebagai seorang Samyaksambuddha (Buddha Yang Sempurna). Kami menerima jika mengikuti karir seorang Boddhisattva adalah untuk menjadi seorang Samyaksambuddha dalam rangka menyelamatkan yang lain, merupakan sesuatu yang tertinggi, mulia dan paling heroik. Tetapi ketiga kondisi ini berada dalam Jalan yang sama, tidak berada dalam jalan yang berbeda. Sesungguhnya, Sandhinirmocana Sutra, salah satu sutra Mahayana yang penting, secara jelas dan tegas mengatakan bahwa mereka yang mengikuti garis Sravaka-yana (Wahana Sravaka) atau garis Pratyekabuddha-yana (Wahana Pratyekabuddha) atau garis Para Tathagata (Mahayana) mencapai Nibbana tertinggi dengan Jalan yang sama, dan oleh karena itu bagi mereka semua hanya ada satu Jalan Pemurnian (visuddhi-marga) dan hanya satu Pemurnian (visuddhi) dan tidak ada yang lain, dan oleh karena itu mereka bukanlah jalan yang berbeda dan pemurnian yang berbeda, dan oleh karena itu Sravakayana dan  Mahayana merupakan Satu Wahana, Satu Yana (eka-yana) dan bukanlah wahana atau yana yang berbeda.
  • Kami mengakui bahwa dalam negara-negara yang berbeda ada perbedaan mengenai tata cara hidup dari para biarawan Buddhis, kepercayaan dan praktik, upacara dan ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan umat Buddha yang bersifat umum. Bentuk eksternal (luar) dan ekspresi ini semestinya tidak boleh dicampuradukkan/dikelirukan (perlu dipisahkan) dengan esensi/inti ajaran-ajaran Sang Buddha.


Rumusan Lain

Ada beberapa tokoh ataupun sarjana Buddhis yang juga merumuskan persamaan ajaran antara Theravada dan Mahayana yang isinya sebagian besar sama dengan rumusan WBSC.

Y.M. K. Sri Dhammananda memberikan rumusan seperti berikut:
  1. Kedua aliran menerima Buddha Sakyamuni sebagai Guru.
  2. Empat Kebenaran Arya adalah sama persis dikedua aliran.
  3. Jalan Utama Berunsur Delapan adalah sama persis dikedua aliran.
  4. Paticcasamuppada atau ajaran akan Sebab-Musabab Yang Bergantungan adalah sama persis dikedua aliran.
  5. Kedua aliran menolak ide akan “makhluk tertinggi” yang menciptakan dan mengatur dunia ini.
  6. Kedua aliran menerima Anicca, Dukkha, Anatta dan Sila, Samadhi, Panna tanpa adanya perbedaan.

Rumusan dari Oo Maung:
  1. Kesamaan dalam menerima Empat Kebenaran Arya.
  2. Kesamaan dalam menerima Jalan Utama Berunsur Delapan.
  3. Kesamaan dalam menerima Paticcasamuppada atau Sebab-Musabab Yang Bergantungan.
  4. Kesamaan dalam menerima Anicca, Dukkha, Anatta.
  5. Kesamaan dalam menerima Sila, Samadhi, Panna.
  6. Kesamaan dalam menolak konsep tuhan tertinggi.

Rumusan dari Tan Swee Eng:
  1. Buddha Sakyamuni merupakan pendiri Buddhisme yang asli dan berdasarkan sejarah.
  2. Tiga Corak Universal (Dukkha, Anica, dan Anatta), Empat Kebenaran Arya, Jalan Utama Berunsur Delapan, dan 12 rantai Sebab-Musabab Yang Bergantungan, merupakan fondasi dasar bagi seluruh aliran Buddhisme termasuk aliran Tibet dari Vajrayana.
  3. Tiga unsur latihan yaitu Kemoralan (sila), Meditasi (samadhi) dan Kebijaksanaan (prajna) adalah hal yang universal bagi semua aliran.
  4. Pengorganisasian Ajaran Buddha / Dharma terbagi menjadi tiga klasifikasi (Sutra/Sutta, Vinaya, dan sastra) terdapat pada kanon Buddhis di berbagai negara.
  5. Konsep pikiran melampaui materi. Pikiran sebagai hal yang mendasar dari penjinakan dan kontrol adalah hal yang fundamental bagi semua aliran.


Penutup,

Dengan rumusan pokok-pokok dasar pemersatu ini, diharapkan kita dapat memahami ciri khas ajaran yang ada dalam Buddhisme yang membedakan agama besar ini dengan agama atau kepercayaan lainnya yang ada di dunia. Kita dapat memahami bahwa meskipun terdapat perbedaan antar aliran, namun memiliki ajaran pokok yang sama yang apabila diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat mengarahkan kita pada akhir penderitaan, Nibbana / Nirvana.

-oOo-

Catatan:

1 Berlindung dalam Ti Ratana bukan berarti berserah diri. Buddha dalam pengertian Guru pembimbing, dimana Sakyamuni Buddha adalah Buddha Sejarah. Dan Buddha dalam pengertian Kesadaran. Dhamma dalam pengertian Kebenaran ataupun Ajaran Buddha. Sangha dalam pengertian persaudaraan / perkumpulan para Bhikkhu Arya.

2 Tuhan yang dimaksud adalah yang memiliki definisi: berpersonal, pencipta semesta, prima causa, ayah/ibu dari semua makhluk, paramatman, yang maha segalanya. 

3 Savakabuddha: pencapaian Pencerahan melalui mendengar ajaran dari Sammasambuddha.  Paccekabuddha: pencapaian Pencerahan dengan usaha sendiri tanpa mengajar. Sammasambuddha: pencapaian pencerahan dengan usaha sendiri dan mengajar.


Catatan :
Berdasarkan rumusan “Pokok-Pokok Dasar Pemersatu Theravada dan Mahayana” yang telah disepakati oleh WBSC tersebut diatas, maka kita dapat dengan mudah mengetahui bahwa apapun aliran/sekte yang mengaku sebagai kelompok Buddhisme tapi didalam pengajarannya “Keluar” dari jalur rumusan tersebut diatas, dapatlah di pastikan bahwa aliran/sekte tersebut bukan merupakan kelompok Buddhisme.



CIRI - CIRI AGAMA BUDDHA

CIRI-CIRI AGAMA BUDDHA

  1. Para umatnya Berlindung pada Tiga Permata (Tiratana): yaitu Buddha, Dhamma dan Sangha .
  2. Tidak mempercayai bahwa dunia ini diciptakan dan diatur oleh ‘sosok makhluk Adikuasa’ atas kehendaknya.
  3. Agamanya mengajarkan tentang Empat Kebenaran Mulia yang diajarkan oleh Sang Buddha sendiri; dimana faktor pembebasan dan keselamatan dapat dicapai melalui Jalan Mulia Berunsur Delapan yang mendorong ke arah kesempurnaan akan kemoralan (sila), disiplin mental (samadhi), dan kebijaksanaan (panna).
  4. Mengajarkan tentang hukum semesta sebab akibat yang terdapat dalam Paticcasamuppada(Sebab Musabab Yang Saling Bergantungan) .
  5. Mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terkondisi (sankhara) adalah tidak kekal (anicca), tidak sempurna dan tidak memuaskan (dukkha), dan segala sesuatu yang terkondisi dan tidak terkondisi (dhamma) adalah bukan diri/ tanpa ‘Aku’ (anatta).
  6. Mengajarkan tentang Tigapuluh Tujuh kualitas yang berguna bagi pencapaian Pencerahan(Bodhipakkhiya Dhamma) sebagai beragam aspek yang berbeda dari Jalan yang diajarkan oleh Sang Buddha yang mendorong ke arah Pencerahan.
  7. Mengajarkan tentang Toleransi terhadap semua agama maupun kepercayaan serta praktik, upacara, ritual-ritual, seremonial, adat istiadat dan kebiasaan masyarakat dan hukum negara yangbersifat umum.




AJARAN WELAS ASIH KWAN IM PO SAT

Ajaran welas asih Avalokitesvara Bodhisattva (Kwan Im Po Sat) :
  1. Jika orang bikin kita susah, anggaplah itu adalah tumpukan rejeki.
  2. Mulai hari ini, belajarlah setiap hari menyenangkan hati orang lain.
  3. Jika kamu merasa pahit dalam hidupmu dengan suatu tujuan, itulah bahagia.
  4. Lari dan berlarilah yang cepat untuk mengejar hari esok.
  5. Setiap hari kamu harus merasa puas dengan apa yang kamu miliki saat ini.
  6. Setiap kali kalau ada orang yang beri kamu satu, kamu harus kembalikan 10x lipat.
  7. Nilailah kebaikan orang lain terhadap kamu, tetapi hapuslah semua jasa yang pernah kamu berikan kepada orang lain.
  8. Dalam keadaan benar kamu difitnah, dipersalahkan dan dihukum, maka kamu akan mendapatkan pahala.
  9. Dalam keadaan salah kamu dipuji dan dibenarkan, itu merupakan hukuman.
  10. Orang yang benar kita bela, tetapi yang salah kita beri nasehat.
  11. Jika perbuatan kamu benar, kamu difitnah dan dipersalahkan, tetapi kamu menerimanya, maka akan ada rezeki yang datang kepadamu yang berlimpah ruah.
  12. Jangan selalu lihat kesalahan/mengecam orang lain, tetapi selalu lihat diri sendiri, itulah kebenaran.
  13. Orang yang baik diajak bergaul, tetapi orang yang jahat dikasihani.
  14. Kalau wajahmu senyum, hati kamu senang, pasti kamu akan aku terima.
  15. Dua orang saling mengakui kesalahan masing-masing, maka dua orang itu akan bersahabat sepanjang masa.
  16. Saling salah menyalahkan, maka akan mengakibatkan putus hubungan.
  17. Kalau kamu rela dan tulus menolong orang yang dalam keadaan susah, maka jangan sampai diketahui bahwa kamu sebagai penolongnya.
  18. Jangan bicarakan sedikitpun kejelekan orang di belakangnya, sebab kamu akan dinilai jelek oleh si pendengar.
  19. Kalau kamu tahu orang itu berbuat salah, maka tegurlah langsung dengan kata-kata yang lemah lembut sehingga orang itu jadi insaf.
  20. Doa dan sembah sujudmu aku terima, apabila kamu bisa sadar dan menuruti jalanku.
Barang siapa yang menyebarkan ajaran ini akan mendapatkan pahala yang tak terhingga.