TERPUJILAH PARA BUDDHA, PARA BHODHISATTVA MAHASATTVA, SERTA PARA ARYA NAN BIJAKSANA..._/\_ NAMO BUDDHAYA _/\_


Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.

W E L C O M E ( E H I P A S S I K O )

Monday, 23 December 2013

GIOK HONG TAY TEE ( MAHA DEWA PENGATUR ALAM SEMESTA )

Giok Hong Tay Te – Maha Dewa Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta

Yu Huang Da Di {Hok Kian = Giok Hong Tay Te = Kaisar Giok/Kumala} sering disebut juga sebagai Yu Huang Shang Di {Hok Kian = Giok Hong Siong Te}. Sebutan lainnya adalah Hao Tian Shang Di / Yu Tian Da Di.

Di dalam hati rakyat Tiongkok zaman dulu, Kaisar adalah orang yang paling dihormati & paling dijunjung tinggi dalam sebuah negara (Kerajaan). Sedangkan dalam pola berpikir dari penganut agama Tiongkok (Buddha, Taoisme, Khong Hu Cu) yang saleh, Giok Hong Tay Te adalah Dewa Pertama Alam Langit, Dewata Tertinggi yang melaksanakan pemerintahan alam semesta dan dibantu oleh para dewata lain, seperti Dewa Matahari & Dewi Rembulan, Dewa Bintang, Dewa Halilintar, Dewa Angin, Dewa Awan, dan lain-lain. Sehingga tidak dapat disalahkan jika orang Tionghoa menganggap bahwa Giok Hong Siong Te adalah Tuhan mereka. Pandangan ini masih berlangsung sampai sekarang. Hal ini identik dengan umat Kristiani yang menganggap Yesus sebagai Tuhan mereka.

Menurut legenda, Giok Hong Tai Tee adalah putra dari Raja Jing De & Ratu Bao Yue Guang dari negeri Guang Yan Miao Le. Setelah dewasa, beliau melepaskan kedudukan Raja dan pergi membina diri ke gunung. Setelah melewati berbagai bencana, barulah menjadi Maha Dewa Yu Di. Giok Hong Tai Tee bertahta di langit tingkat ke-33 di sebuah istana yang disebut Ling Xiao Bao Dian yang berartiIstana Halimun Mukjizat. Lalu mengapa banyak orang menganggap Yu Huang Shang Di sebagai 上帝 Shang Di / Tian Gong {Hok Kian = Siong Tee / Thi Kong = Tuhan Yang Maha Esa }.??

[ NB : Perhatikan huruf Mandarin berikut (beda 1 huruf <bahkan beda 1 goresan pun>,  beda arti) : 上帝 Shang Di = Tuhan Yang Maha Esa. 玉皇上帝 Yu Huang Shang Di = Maha Dewa Tertinggi Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta. 玄天上帝 Xuan Tian Shang Di = Dewa Langit Utara ].


Sebenarnya Tuhan itu sendiri tak dapat dijangkau oleh daya pikir / nalar umat manusia yang terbatas, juga tidak dapat dijelaskan melalui ucapan & tulisan yang amat sangat terbatas, namun melalui penciptaan-Nya kita mempercayai adanya SATU TUHAN, yaituTuhan Yang Maha Esa. Percaya & hormat kepada Tuhan Yang Maha Esa telah ada sejak 5.000-an tahun yang lalu pada zaman  Wu Di {Ngo Tee = 5 Kaisar Kuno, tahun 2952 – 2205 SM}.

Pada zaman dulu di Tiongkok, pemujaan terhadap Shang Di / Tian Gong { Thi Kong } hanya boleh dilakukan oleh Kaisar & keluarganya saja, karena beranggapan bahwa Shang Di adalah leluhur mereka dan memberikan mandat kepada mereka untuk memerintah di bumi ini. Rakyat biasa tidak diperbolehkan memuja Thi Kong, karena dengan berbuat begitu dapat dianggap menyamakan dirinya sebagai keluarga Kaisar, suatu pelanggaran yang diancam dengan hukuman mati.

Jadi upacara sembahyang kepada Shang Di hanya boleh dilakukan oleh keluarga kerajaan & dipimpin oleh Kaisar sendiri sebagai Pemimpin Upacara, dengan dibantu oleh anggota keluarganya dan para petinggi kerajaan yang lain. Upacara sembahyang kepada Tian ini biasanya dilakukan oleh pihak kerajaan di Ruang Altar Kerajaan yang disebut  Tian Tan (baca: Thien Than, arti harfiah = kuil langit), Temple of Heaven, yang ada di ibukota Tiongkok,  Bei Jing. Di Tian Tan ini Kaisar & keluarganya sembahyang kepada Tian {Thi Kong} dengan sebutan  Huang Tian Shang Di {Hong Thian Siong Tee} < Huruf Huang Tian Shang Di ini sampai sekarang masih tercantum di bagian atas Tian Tan >.
Sedangkan rakyat biasa mengadakan sembahyang di rumah masing-masing, di depan pintu, atau di tepi jalan, tanpa upacara macam-macam; cukup dengan menyalakan sepasang lilin dan sebatang/3 batang dupa yang disojakan ke arah langit. Rakyat Tiongkok terutama orang Hok Kian menganggap Giok Hong Siong Tee sebagai Thi Kong, karena Giok Hong Tai Tee adalah Dewata Tertinggi sebagai Pelaksana Pemerintahan Alam Semesta.

Setelah zaman Dinasti Song [960 – 1280 M], Kaisar-Kaisar yang bertahta kemudian tidak begitu ketat lagi dalam memberlakukan larangan pemujaan Shang Di oleh rakyat. Sehingga, orang pada umumnya berkata bahwa mereka mengadakan sembahyang sederhana kepada Shang Di, pada waktu menyalakan dupa & lilin. Padahal ia tidak berhak berbuat begitu, walaupun sangat menghormati Shang Di.

Di dalam kelenteng, biasanya tidak terdapat gambar atau arca Giok Hong Siong Tee. Untuk sembahyang kepadanya cukup disediakan sebuah pedupaan besar yang terletak di depan ruang utama. Pedupaan ini dinamakan Tian Gong Lu {Hiolo Thi Kong}. Seperti di Kelenteng Kim Tek Ie ini, Hiolo (tempat menancapkan dupa) untuk sembahyang kepada Thi Kong, bersamaan dengan hiolo untuk sembahyang kepada Giok Hong Tai Tee. 

Pada waktu bersembahyang, mula-mula kita berdoa kepada Thi Kong, dengan membakar dupa & menancapkannya di Hiolo Thi Kong terlebih dulu sebelum bersembahyang kepada para dewata lainnya. Bahwasanya Sembahyang di Kelenteng itu termasuk agama yang monotheis, karena mengakui Tuhan Yang Maha Esa. Sedangkan para dewata di sini adalah sebagai wakil Tuhan di dunia yang mendengarkan segala doa dari umatnya. Jadi jika ada orang Tionghoa yang bersembahyang di kelenteng, ini BUKAN karena mereka percayaTAHAYUL, melainkan karena mereka hendak menghadap kepada salah satu di antara sekian banyak pembantu Tuhan ( yaitu : dewa/i ) di dunia ini untuk keperluan tertentu, misalnya: kesehatan, pekerjaan / bisnis supaya lancar, karir semakin meningkat, dapat jodoh, keluarga harmonis, atau sekedar menumpahkan perasaan hatinya (curhat).


Namun ada pula kelenteng yang khusus memuja Yu Huang Da Di, yang ditampilkan dengan wujud seorang kaisar yang berpakaian kuno, dengan tangan memegang sebilah Hu ( bilah dari gading atau sejenisnya yang digunakan oleh menteri-menteri zaman kuno untuk menghadiri sidang kerajaan ). Yu Huang Da Di adalah Dewata Tertinggi sebagai Pelaksana Pemerintahan alam semesta, dan mewakili Tuhan dalam memerintah alam semesta. Oleh karena itu beliau ditampilkan dengan memegang Hu, yang digunakan dalam upacara menghadap atasannya yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Thursday, 5 December 2013

WU LU CHAI SHEN ( DEWA REKSA ARTA 5 PENJURU )

WU LU CHAI SHEN ( DEWA REKSA ARTA / DEWA REJEKI 5 PENJURU )

DEWA REKSA ARTA,

Dalam mitologi China, banyak tokoh yang dapat dijadikan panutan bagi pengembangan batin dan moralitas. Tak ada batasan strata maupun gender yang menjadi aral dalam pembentukan karakter bijaksana tersebut, Mereka dapat dari kalangan apa saja, Bangsawan ataupun jelata, Laki-laki maupun perempuan. 

Sebab sosok demikian, murni lahir dan berangkat dari sebuah cita luhur. Maka dalam perkembangan zaman, mereka tidak pernah dapat dilupakan oleh rakyat. Menjadi legenda turun-temurun, diteladani dan disanjung setinggi langit. Mereka adalah maharesi yang mengisi dunia ini dengan cinta dan kasih. Mereka adalah manusia-manusia yang diradi Langit. Dan salah satunya adalah Zhao Gong Ming, Sang Dewa Reksa Arta.
Sesungguhnya ada dua sosok Sang Dewa Reksa Arta yang merupakan jelma jelata menjadi totem di Langit. Sosok pertama adalah Dewa Reksa Arta Wu dan yang kedua adalah, Dewa Reksa Arta Wen. Dalam kepercayaan masyarakat Tiongkok kuno, masing-masing ‘dewa’ tersebut memiliki tugas dan tanggung-jawab masing-masing. Pembedaan lainnya adalah, mereka secara ‘jasadi’ memiliki bentuk sosok yang lain di antara masing-masing figur.

Penggambaran Dewa Reksa Arta Wu misalnya, berwajah hitam mengenakan zirah besi khas bentara kekaisaran dengan tangan memegang ‘koin’ tipikal kuna Tionggoan. Ia kerap menunggangi seekor macan hitam sementara tangannya yang lain memegang cemerti sakti. Cikal bakal penembahan Dewa Reksa Arta Wu ini bermuasal dari moralitas dan dedikasi yang telah diaplikasikannya bagi lingkungan rakyat sekitarnya.


KISAH DEWA REKSA ARTA WU, versi 1.

Tersebutlah Zhao Gong Ming. Ia merupakan salah satu jelata yang berasal dan lahir di Zhao Nan Shan, Tiongkok. Hampir sepanjang perjalanan semasa kecil dan mudanya, ia berkubang terus-menerus di dalam kemiskinan. Praktis Zhao Gong Ming muda menggantungkan hidupnya dari mengemis belas kasihan orang-orang. 

Semua ini demi menghidupi ibunya yang sudah tua dan uzur. Legenda mengungkap bahwa ‘dewata’ di Langit tersentuh oleh baktinya yang demikian besar terhadap ibunya itulah, sehingga kemudian ia diberi anugerah rezeki melimpah. Pada suatu ketika, ketika rundungan kelaparan yang nyaris merenggut nyawa kedua ibu-beranak itu, maka ‘dewata’ menurunkan sebuah ‘mangkuk sakti’ yang dapat menghasilkan harta emas. 

Maka, sejak saat itu, Zhao Gong Ming menjadi salah satu orang terkaya di desanya. Berbekal karunia ‘kekayaan’ dari Langit itu pula ia membantu penduduk miskin tanpa berpamrih dan tanpa pandang bulu. Ia menjadi satu-satunya dermawan yang tidak angkuh dan sombong. Ia disayangi oleh rakyat. Dan sejak saat itu pula namanya mulai melegenda.

Namun keberhasilannya senantiasa menangkup bagai jelaga awan hitam di atas langit. Zhao Gong Ming yang berpekerti baik, dimusuhi oleh beberapa bangsawan dan saudagar jahat yang menganggapnya telah merenggut popularitas mereka. Simpati penduduk terhadap Zhao Gong Ming yang palamarta pula dianggap sebagai hal yang memalukan bagi mereka yang berstatus sosial tinggi. Sebab sudah turun-temurun keluarga mereka telah menjadi pandega dan pemuka masyarakat.

Maka pada suatu ketika, mereka berkonspirasi untuk melenyapkan nyawa Zhao Gong Ming. Mereka lalu membayar beberapa perewa untuk melakukan aksi tidak berperikemanusiaan tersebut. 

Dan dalam sebuah skenario insiden pembunuhan, para perewa tersebut membakar tubuh Zhao Gong Ming sehingga jasadnya hancur mengarang dan wajah insan berbudi luhur itu menghitam—inilah penggambaran mengapa wajah Dewa Reksa Arta Wu Zhao Gong Ming adalah hitam. 

Jiwa almarhum Zhao Gong Ming kemudian diangkat ke Nirwana oleh Kaisar Langit, Yi Huang Da Di, dan berangkat dari kebajikan dan kedermawanannya, maka ia dianugerahi sebagai Dewa Reksa Arta Wu. 

Ia diberi amanat dan bertugas sebagai pemimpin ‘Asta Reksa Pengrajin Emas dan Perak’, yang melindungi harta para dermawan dari perampok atau saudargar hitam yang bersekutu dengan makhluk autotrop untuk mencuri. Ia pulalah yang mengatur kekayaan insan di dunia sesuai pahala dan budi baik yang mereka lakukan.

Mengemban tugas mulia dari Langit tersebut, Dewa Reksa Arta Wu Zhao Gong Ming diberi seekor macan hitam sebagai kendaraan tunggang yang loyal dan mengikutinya ke mana saja. Ia juga diberikan seekor burung Hong Emas—phoenix—yang dapat menempuh jarak mahapanjang, dan bertugas sebagai infois yang dapat membedakan insan batil maupun bajik. 

Dari informasi burung Hong Emas itu pulalah maka ia dapat menimbang ‘pembagian’ harta bagi masing-masing pelaku kebajikan. Semakin besar pahala baik seseorang, maka makin besar pulalah rezeki dan harta yang akan diperolehnya.


KISAH DEWA REKSA ARTA WU, versi 2.

Legenda tentang Dewa Reksa Arta ( Zhao Gong Ming )  sebenarnya beredar dalam berbagai versi. Namun yang paling populer selain kisah di atas tadi adalah pengisahan dirinya dalam cerita rakyat yang bernama Feng Shen Yan Yi : Kisah Wisesa Widyaiswara Hong Sin.

Tersebutlah seorang pertapa bernama Zhao Gong Ming yang tekun melatih dan mengasah pancacita demi pengembangan kehidupan rakyat yang lebih baik. Ia tulus bersemedi di sebuah gunung bernama Omei.

Pada akhir kekuasaan Dinasti Shang, ia diundang oleh Kaisar Zhou untuk menghadapi Jiang Zi Ya, yang merupakan tokoh penting anti pemerintah rival utama Kekaisaran. Mengemban amar dari Sang Kaisar, ketika ia turun gunung untuk mencari Jiang Zi Ya, Zhao Gong Ming dihadang seekor macan berbulu hitam di sebuah hutan kaki gunung. 

Pergulatan dengan binatang buas tersebut tak dapat dihindari. Berbekal kesaktiannya sebagai maharesi, maka dengan mudah Zhao Gong Ming dapat menaklukkan sang Macan Hitam itu. Selang berikutnya, ia dapat membudaki macan berbulu hitam tersebut sebagai kendaraan tunggangnya. Sejak saat itulah sang Macan Hitam bertubuh sebesar kuda itu menjadi abdi bagi Zhao Gong Ming.

Akhirnya, bersama sang Macan Hitam, Zhao Gong Ming terus mencecar dan memburu Jiang Zi Ya. Dalam sebuah pertemuan penuh amarah, mereka bertarung sengit. Berbekal cemeti saktinya, Zhao Gong Ming dapat mengalahkan Jiang Zi Ya. Nasib baik masih berpihak kepada Jiang Zi Ya, sebab ia dapat meloloskan dirinya dari sergapan Zhao Gong Ming yang hendak membunuhnya. 

Dengan tubuh luka-luka dan berlumuran darah, ia melarikan diri dari cengkeraman sakratulmaut. Jiang Zi Ya yang tengah berputus asa bertemu dengan seorang rahib Tao sakti, yang berasal dari daerah perbukitan Khung Lung. Ia berguru ilmu pada maharesi itu. Dan setelah merasa sudah siap untuk bertarung, maka ia berangkat untuk mencari Zhao Gong Ming.

Suatu ketika mereka bertemu dan bertarung kembali. Dalam pertarungan tersebut, Jiang Zi Ya yang sudah memiliki kesaktian tinggi dapat membunuh Zhao Gong Ming.
Setelah pertarungan itu, alkisah, Jiang Zi Ya yang sesungguhnya seorang jelata berpekerti baik namun kontrapemerintah nan zalim, mendapat karunia dari Langit. Ia diberi kitab ‘Yu Fu Jin’ dari Kaisar Langit yang lebih lazim dikenal sebagai Yuan Shi Tian Cun.

Kitab tersebut merupakan wadah sakti yang dapat mengangkat arwah seseorang menjadi ‘dewa’. Memanuti amal dan putusan Langit yang memprioritaskan ‘dewa’ berasal dari manusia berbudi luhur, maka tanpa dilandasi ‘perseteruan’-nya yang pernah terjadi dengan Zhao Gong Ming semasa mendiang masih hidup sebagai manusia, ia mengangkat arwah ‘musuh’-nya itu menjadi ‘Jin Long Ru Yi Zheng Yi Long Hu Xuan Tan Zhen Jun’ atau Dewa Reksa Arta yang memimpin dan mengatur kekayaan manusia pada Dunia Belahan Timur. 

Kemudian, tidak lama berselang pada saat bersamaan, Jian Zi Ya pun menitahi Na Zhen Tian Cun Ji Bao,juga dewa bersetara sama yang berasal dari manusia bajik, memimpin dan mengatur kekayaan manusia di Dunia Belahan Barat. Zhao Cai Shi Zhe Deng Jiu Gong yang bermuasal serupa mereka berdua tadi, memimpin dan mengatur kekayaan manusia di Dunia Belahan Selatan. Dan terakhir adalah, Xian Guan Tao Shao Si. Tugas salah satu dari empat Dewa Reksa Arta ini memimpin dan mengatur kekayaan manusia di Dunia Belahan Utara.


Itulah ihwal empat sosok Dewa Reksa Arta yang ditugasi mengatur kekayaan dan kemakmuran manusia. Kisah yang melegenda tersebut disikapi sebagian masyarakat Tionghoa sebagai pedoman dalam pengembangan pancacita : sebuah pencerahan batin dalam rangka pencapaian kebahagiaan, kemakmuran, kesejahteraan, kekayaan, dan kesehatan. Bersama Jiang Zi Ya, keempat dewa itu kerap disebut Wu Lu Cai Shen atau Dewa Reksa Arta Lima Penjuru. 

Dan setiap penanggalan lunar imlek yang jatuh pada tanggal 15 bulan 3 , masyarakat yang masih turun-temurun mereplikasi kebajikan jelata jelma ‘dewa’ tersebut pasti merayakan seremoni ‘ulangtahun’ yang mengacu pada hari kelahiran Zhao Gong Ming. 



Wednesday, 4 December 2013

BUDDHA AMOGHASIDDHI


PANCA DHYANI BUDDHA 

                    
BUDDHA AMOGHASIDDHI


Amoghasiddhi adalah yang terakhir dari Lima Dhyani atau Lima Tathagata Kebijaksanaan. Mereka diyakini berasal dari Vajrasattva, Buddha pemurnian. Dari kelima, Amoghasiddhi adalah buddha dari utara. Dia berhubungan dengan energi dan dikenal sebagai Tuhan Karma dan Buddha prestasi putus-putusnya.

Namanya secara harfiah berarti sempurna (amogha) sukses (Siddhi). Dia memegang tangannya dalam Abhaya, keberanian mudra. Amoghasiddhi adalah Buddha mencapai semua kebijaksanaan. Dia dihormati bukan hanya karena kebijaksanaan keberhasilan tetapi ia juga dikenal untuk mengalahkan iri hati.

Ia sering digambarkan berwarna hijau dan memancar, sebagai warna mewakili perdamaian dan ketenangan alam. Warna menenangkan, itu adalah menenangkan kecemasan. Ketika merenungkan, Amoghasiddhi dikatakan untuk membantu melepaskan iri hati, kecemasan , tenang dan ketakutan dan mengungkapkan kebijaksanaan prestasi.

Amoghasiddhi membalikkan iri negatif ke positif kebijaksanaan prestasi. Envy adalah emosi positif seperti feed ambisi dan mendorong kita untuk mencapai yang lebih tinggi. Namun, kepahitan yang dihasilkan terhadap target kecemburuan adalah emosi negatif. 

Ketika kita bisa menghindari kepahitan terkait dan memahami bahwa objek kecemburuan kita hanyalah agen memimpin kita untuk Karma yang lebih besar dan prestasi yang lebih baik, pesan Amoghasiddhi akan dipahami.

Pendamping Amoghasiddhi adalah Tara Hijau. Tara Hijau diyakini telah terpancar dari Amoghasiddhi. Amoghasiddhi menaiki setengah manusia, setengah elang campuran Garuda

Garuda dikaitkan dengan Himalaya di utara, berbagi arah dengan Amoghasiddhi. Garuda memakan ular dan memiliki kekuatan sempurna dalam visi merasakan ular-seperti delusi negatif yang menimpa frame fana kita.
Amoghasiddi memegang tempatnya di kosmologi Buddhis sebagai salah satu dari lima Dhyani Buddha. Dhyani Buddha sangat penting untuk Mahayana Buddhisme, masing-masing kaya dengan kelimpahan simbolisme yang signifikan. Secara khusus, setiap Buddha Dhyani mewakili perwujudan dari kebijaksanaan karakteristik Buddha, dan masing-masing diyakini mampu mengatasi kejahatan tertentu dengan baik tertentu.
Lima dhyani juga merupakan salah satu dari lima skandha (bentuk, kesadaran, perasaan, persepsi, dan formasi mental). Selain itu, masing-masing yang relevan sebagai representasi kebijaksanaan, arah, warna, keluarga, racun, tindakan, simbol, elemen, musim dan mudra! Selain itu, masing-masing memiliki permaisuri sendiri, kendaraan, dan tanah murni mereka.

Amoghasiddhi adalah salah satu dari lima Dhyani Buddha (kanan terjauh digambarkan pada gambar di atas). Empat lainnya adalah Vairochana, perwakilan dari dharma itu sendiri, Akshobhya, perwakilan kebijaksanaan, Ratnasambhava, wakil dari kesamaan yang mendasari semua hal, dan Amitabha, perwakilan dari kasih sayang. Setiap Dhyani Buddha diberikan warna yang berbeda juga.
Ini menetapkan Vairochana sebagai kepala dari Dhyani Buddha, sebagai nya warna putih adalah penjumlahan dari empat yang lain (merah, biru, kuning, dan hijau). Kelima Buddha berfungsi sebagai ikonografi khususnya untuk sejarah kehidupan Buddha, sifat, dan jalan menuju pencerahan. Mereka juga semua melayani untuk mengidentifikasi salah satu emosi negatif motivasi dan mengubahnya menjadi tindakan positif.

Vairochana mengubah kebodohan, Akshobhya mengubah lampiran, Ratnasambhava mengubah kebanggaan, Amitabha mengubah kemarahan, dan Amoghasiddhi mengubah cemburu / iri hati.  lima sifat dan merangkul hanya aspek positif mereka membantu satu di jalan menuju pencerahan. Amoghasiddhi juga umumnya terkait dengan Tara Hijau karena keduanya memiliki koneksi yang kuat untuk bertindak.
Vairochana adalah penakluk kebodohan dan pemimpin dari lima Dhyani Buddha. Warnanya putih, karena merupakan campuran dari semua warna dari Dhyani Buddha lainnya. Vairochana biasanya digambarkan dengan mudra Dharmachakra (Roda Dharma) untuk menandakan ajaran dharma dan harkens khotbah pertama Buddha di Sarnath.

Ratnasambhava mengikis bangga dengan pemahaman bahwa segala sesuatu adalah sama. Dia menampilkan mudra Varada untuk mewakili amal, itulah sebabnya ia dikaitkan dengan warna kuning. Ratnasambhava mewakili seluruh pandangan Buddha ke manusia daripada kejadian tertentu dalam hidupnya - yang mempertimbangkan setelan ini berlaku untuk semua poin yang sama. Arah kardinal Nya adalah selatan.
Amitabha digambarkan sebagai merah, karena itu adalah warna belas kasih dan cinta. Menggunakan alat ini, Amitabha membatalkan kemarahan. Dia umumnya terkait dengan sifat-sifat teratai (lambang nya) untuk bersikap lembut, terbuka dan murni. Tangan Amitabha adalah Dhyana mudra dalam, berarti mudra meditasi. Arah-Nya adalah barat.



BUDDHA RATNASAMBHAVA


PANCA DHYANI BUDDHA


BUDDHA RATNASAMBHAVA

Ratnasambhava Buddha adalah yang ketiga dari Lima Dhyani Buddha yang telah disembah sejak 500 SM sampai hari ini. Empat Buddha Vairocana lainnya, Akshobya, Amitaba, dan Amogasiddhi. Ratna berarti permata dan Ratnasambhava dapat harfiah diterjemahkan ke permata memenuhi keinginan atau asal dari permata.

Tiga Permata adalah Buddha (guru), Dharma (ajaran), dan Sangha (komunitas). Ratnasambhava selalu menghadap selatan, dan warna tubuhnya berwarna kuning yang mewakili warna matahari.
Dia mengubah racun kebanggaan seperti spiritual dan intelektual ke "Kebijaksanaan Kesetaraan" atau kesamaan (Samatajnana). Dia memberikan keberuntungan dan kebajikan dan mengajarkan bahwa setiap makhluk adalah sama dan apa pun hal yang membuat kita berbeda seperti gender dan status sosial tidak penting.

Juga, ia mengajarkan bahwa dunia adalah murah hati dan begitu juga manusia, karena itu, ia menekankan pada keselarasan dan berbagi. Alasan mengapa dia mengajarkan berbagi daripada memberi adalah karena jika ada memberi, ada "diri" dan "orang lain" baik secara individu yang ada, namun jika ada berbagi, ada "kita" berarti bahwa kita berbagi hal-hal bersama dan hidup bersama dalam satu harmoni.
Berikut adalah kutipan dari Song, Meditations dari Dhyani Buddha Tibet:
Musikalitas menjadi angin yang harmonis adalah sebuah malam yang hangat Ini adalah permata kepuasan, cahaya bersinar kebahagiaan. Seperti anak-anak bermain di pantai, di udara musim panas yang segar, Jadi saya bersinar dengan sukacita berbagi, dan kekayaan perdamaian.

Umumnya, ia duduk di teratai dalam posisi seperti Buddha. Lengan kanannya yang tergantung ke bawah pada sisi telapak tangannya dan menghadap depan. Ini disebut mudra dan menunjukkan kemurahan hati Varada tertinggi atau "pemenuhan keinginan untuk mengabdikan diri untuk keselamatan manusia" (Eksotik India Seni). Tangan kirinya ditempatkan di pangkuan dengan telapak tangan menghadap ke atas. Ini adalah mudra meditasi.

Sebagian besar patung-patung Ratnasambhava di Jepang dibuat sebagai salah satu Dhyani Buddha, karena itu, sangat jarang untuk melihat patung Ratnasambhava hanya dengan sendirinya.

Ratnasambhava adalah salah satu dari lima Dhyani Buddha (Amoghasiddhi, Akshobya, Ratnasambhava, Vairocana, Amitabha) yang berarti bahwa ia adalah salah satu dari lima Buddha yang mewakili aspek pencerahan kesadaran untuk membantu dalam transformasi rohani. Dia mewakili kekayaan dan kadang-kadang dianggap sebagai Buddha memberi. Dengan karakteristik ini mewakili dari Ratnasambhava Buddha dapat membantu memenuhi sumpah Bodhisattva dengan menunjukkan praktisi cara amal.

Dikatakan bahwa dengan bermeditasi pada visualisasi Ratnasambhava adalah mungkin bagi seorang praktisi untuk transisi kebanggaan / keserakahan menjadi kebijaksanaan dari kesamaan. Pengetahuan tentang kesamaan memungkinkan praktisi untuk melihat fitur-fitur umum keberadaan manusia lebih jelas dan dengan demikian memahami kemanusiaan umum yang mendasari semua orang.

Dikatakan bahwa dari pengetahuan tentang kesamaan praktisi diberikan kejernihan pikiran untuk memahami dengan benar, delapan pengalaman duniawi: keuntungan dan kerugian, ketenaran dan aib, pujian dan menyalahkan, dan kesenangan dan rasa sakit.

Pengalaman-pengalaman ini diselenggarakan untuk menggambarkan keterkaitan mereka. Dengan memahami dengan benar, melalui pengetahuan tentang kesamaan yang Ratnasambhava melimpahkan, seorang praktisi mampu menyadari bahwa dengan mencari satu pengalaman kita dibiarkan terbuka untuk suatu pengalaman sering lebih berbahaya.

Citra Bodhisattva memfasilitasi pesan mendalam Buddhisme, membantu menghasilkan tanggapan terhadap berbagai ajaran dan sumpah. Pemirsa interpretasi dari Bodhisattva tergantung pada representasi seniman dari unsur-unsur seperti pakaian, warna, gerakan, dan lokasi.

Ratnasambhava yang digambarkan berbeda dalam budaya Asia, namun fitur konsisten memberikan wawasan reaksi kita terhadap bentuk visual.

Ratnasambhava mempertahankan tingkat tertinggi bodhicitta, sambil menawarkan karunia kemurahan hati welas asih. Ratnasambhava kosong, keluar, dan ke bawah menghadap, tangan kanan menunjukkan suatu korban yang sama dari semua, begitu banyak sehingga tangan bertumpu kirinya, yang biasanya lembut memegang suatu benda, melambangkan dia menjaga permata bodhichitta "tangannya tidak bisa memegang apa-apa.".

Pada gambar di atas kita jelas melihat mudra varada, memberikan wawasan ke dalam pemahaman kita tentang prajna kemurahan hati, serta objek merah (bodhichitta) beristirahat di atas tangan kiri Ratnasambhava itu.

Ratnasambhava juga menerima gelar sebagai "permata lahir" dan seperti yang terlihat pada gambar di atas Ratnasambhava memegang sebuah keinginan memenuhi permata di tangan kanannya. Bertentangan dengan gagasan bahwa tangan kanannya tetap kosong, beberapa penyajian menggambarkan permata.

Ini melambangkan koneksi ke sifat keinginannya memuaskan, permata berisi harta tak terbatas yang menunggu untuk dibudidayakan. Tangan kirinya mendukung mangkuk mengemis, melambangkan kesempatan untuk merit. Kedua simbol membantu mempromosikan gagasan bahwa Ratnasambhava memberi dengan murah hati, dan dengan memuja permata, wawasan yang jelas untuk dana (kemurahan hati), dapat dicapai.

Pada sebagian representasi, Ratnasambhava muncul warna kuning. Warna kuning menandakan koneksi penting untuk matahari tengah hari, atau hari pertengahan musim panas. Ratnasambhava juga dapat digambarkan kuning karena energi warna, intensitas, dan kelimpahan hidup.

Matahari tengah hari memancarkan getaran kekuningan, sinar bercahaya penuh kasih yang menyediakan bumi dengan cahaya yang sama. Berbagai interpretasi juga dapat menyebabkan seseorang untuk percaya bahwa kuning berfungsi sebagai daya tarik atau undangan, warna yang menarik kita dekat dalam rangka untuk mengajar kita tentang kemurahan hati dan menghasilkan kehangatan batin.
Ratnasambhava menjunjung tinggi kesetaraan; warna kuning visual membantu mendukung gagasan dari generousity tanpa syarat.

Ratnasambhava biasanya muncul beristirahat di atas daun teratai, tanaman yang metaforis sejajar dengan uji coba semua makhluk hidup harus mendorong melalui untuk menumbuhkan kebijaksanaan. Sebagaimana dibahas dalam "Keindahan Memberi," tanaman teratai berasal di lumpur, namun seperti tumbuh itu muncul dari lumpur dan mulai mengapung ke permukaan air. Setelah pada permukaan teratai membuka ke matahari (kehangatan bersinar kuning Ratnasambhava), dan memupuk menjadi bentuk yang indah, menyadari sepenuhnya.

Pakaian juga memberikan kontribusi untuk pemahaman kita tentang Ratnasambhava. Pada gambar di atas pakaiannya mengungkapkan jubah sutra yang indah, perhiasan emas, dan sebuah mahkota yang rumit di atas kepalanya. Gaun Ratnasambhava menyiratkan kekayaan dan kekayaan dalam ajaran-ajaran dan esensi. Para kemewahan tidak menyarankan lampiran harta duniawi berlebih, melainkan kemampuan untuk mewujudkan kekayaan yang metaforis melalui kesempurnaan pikiran, terutama yang murah hati.

Ratnasambhava, Buddha kebaikan dan keindahan adalah yang ketiga dari Dhyani Buddha atau Buddha meditasi. Ratnasambhava adalah tokoh sentral dari keluarga Ratna, yang mewakili kekayaan dan martabat dan unsur kosmik dari sensasi. Namun, di Nepal, telah dikatakan bahwa aspek negatifnya adalah eksploitasi kekayaan dan perwujudan dari fitnah.

Ratnasambhava juga diwakili merangkul Mamaki. Dia melambangkan air yang diperlukan sebagai pupuk oleh bumi. Dalam mitologi Hindu, Ratnasambhava diyakini sebagai tokoh yang mengubah racun kebanggaan (kesombongan rohani, intelektual dan manusia) ke dalam Kebijaksanaan Kesetaraan.

Buddha Tibet mengajarkan bahwa dengan Kebijaksanaan Kesetaraan seseorang melihat segala sesuatu dengan netralitas ilahi dan mengakui kesetaraan semua makhluk ilahi. Satu melihat semua makhluk dan Sang Buddha memiliki sifat yang sama, sebuah kondisi untuk memacu kenaikan spiritual kita dan untuk memperoleh kepercayaan untuk mewujudkan dalam diri kita status seorang Buddha.

Ratnasambhava adalah Buddha Dhyani di selatan. Warnanya kuning. Ini adalah warna matahari di puncaknya. Aturan Ratnasambhava atas unsur bumi dan mewakili skandha perasaan atau sensasi.

Dia kadang-kadang ditampilkan memegang simbol nya, Ratna (permata) atau Chintamani (ingin-permata yang memenuhi semua keinginan hibah). Para Chintamani adalah simbol dari pikiran terbebaskan.

Ratna ini sering digambarkan dalam bentuk tiga sebagai triratna artinya persatuan Buddha, Dharma dan Sangha. Di mandala, triratna diposisikan antara Ratnasambhava dan Vairochana.

Hewan yang menjunjung tinggi tahta Ratnasambhava adalah kuda, yang menunjukkan dorongan dan pembebasan. Ratnasambhava yang mudra, dibentuk oleh tangan kanannya, adalah sikap memberi (varada mudra), menandakan hadiah dari ajaran Buddha.

Sikap memberi, atau amal, yang menggambarkan dirinya menawarkan kasih sayang dan perlindungan kepada murid-muridnya. Dia tinggal di tempat tinggal yang murni dari surga Ratnavati.
Jika kita melihat jauh pada permata yang Ratnasambhava memegang. Meskipun hal ini bisa dihubungkan dengan menghargai eauty b dan menuangkan kekayaan, ada tingkat lebih lanjut untuk simbolismenya. The Jewel bahwa Ratnasambhava berlaku adalah ish-aw memenuhi permata.
Dalam mitologi India, ada pohon-memenuhi keinginan, dan keinginan-pemberian sapi, tapi yang paling penting dalam ikonografi Buddha adalah Chintamani. Chintamani adalah permata yang memberi Anda semua yang Anda bisa berharap untuk. Dalam Buddhisme, itu menjadi simbol bagi Bodhichitta tersebut.


BUDDHA VAIROCANA / WAIROCANA

PANCA DHYANI BUDDHA



BUDDHA VAIROCANA / WAIROCANA



Wairocana adalah Buddha yang sering ditafsirkan sebagai tubuh yang terberkati dari Buddha Gautama,  ia juga disebut sebagai Buddha dharmakaya dan Buddha Matahari. Dalam buddhisme China-Jepang, Wairocana juga dianggap sebagai penubuhan dari konsep sunyata atau ketiadaan.

Dalam konsep Lima Buddha Kebijaksanaan mahzab Vajrayana, Wairocana terletak di tengah. Pasangannya adalah Tara putih (untuk setiap dhyani Buddha terdapat pasangan Buddha perempuan).

Wairocana jangan dikelirukan dengan Wirocana, yang muncul di delapan bab Chandogya Upanishad sebagai raja para Asura.

Buddha Wairocana pertama kali disebutkan dalam Brahma Jala Sutra:
Kini, Aku, Buddha Wairocana duduk di atas lapik teratai, dari seribu bunga teratai yang mengelilingiku, terdapat seribu Buddha Sakyamuni. Tiap bunga mendukung ratusan juta dunia; di tiap dunia itu Buddha Sakyamuni muncul.

Semuanya duduk bertapa dibawah pohon Boddhi, semuanya secara bersamaan mancapai tingkat kebuddhaan. Semua para buddha yang tak terhitung banyaknya ini memiliki Wairocana sebagai tubuh aslinya.

Dengan mengacu pada konsep ketiadaan, arca buddha Wairocana raksasa yang agung, cemerlang, dan gemilang justru bermaksud untuk mengingatkan bahwa segala kenyataan, kehidupan, dan keberadaan diri sebenarnya adalah fana, tiada, tanpa identitas yang abadi.

Arca Wairocana di kuil Tōdai-ji di Nara, Jepang, adalah arca buddha Wairocana terbesar di dunia. Arca yang lebih besar lagi yaitu Buddha Bamiyan telah dihancurkan oleh Taliban di Afganistan, juga merupakan perwujudan Wairocana. Di Magelang, Jawa Tengah, Indonesia, Candi Mendut yang dibangun pada abad ke-9 dekat Borobudur dipersembahkan untuk buddha Wairocana. Dibangun oleh wangsa Sailendra, candi ini dihuni oleh arca Dhyani Buddha Wairocana setinggi 3 meter dalam posisi duduk tengah melakukan sikap tangan Dharmachakramudra. Arca batu ini diapit oleh dua boddhisatwa yaitu Awalokiteswara dan Wajrapani.

Kuil Buddha Musim Semi di Lushan, Henan, China, memiliki arca Wairocana 126 meter, kini merupakan arca buddha Wairocana tertinggi di dunia, sekaligus arca tertinggi di dunia.


BUDDHA AKSHOBHYA



PANCA DHYANI BUDDHA



BUDDHA AKSHOBHYA



Akshobhya tampil dalam "Naskah tanah-Buddha Akshobhya" (Scripture of the Buddha-land of Akshobhya; yang berasal dari tahun 147 Masehi dan merupakan naskah tertua mengenai Tanah Suci.

Berdasarkan naskah tersebut, seorang bhikkhu berharap untuk melakukan Dharma di dunia kegembiraan bagian timur dan bersumpah untuk tidak memikirkan kemarahan atau kebencian kepada mahluk lainnya hingga mencapai pencerahan. Pada akhirnya ia terbukti "tidak tergerakkan" dan ketika ia berhasil, ia menjadi Buddha Akshobhya.

Akshobhya seringkali disatukan dengan Acala (Jepang: Fudō myō-ō), nama yang memiliki arti yang sama dalam bahasa sansekerta yakni 'yang tidak tergerakkan'. Akan tetapi, Acala bukanlah seorang buddha, tetapi merupakan salah-satu dari Lima Raja Kebijaksanaan dari Alam Rahim di mazhab Vajrayana.

Sebelum kedatangan Bhaisajyaguru (Yakushi), Akshobhya lebih dikenal sebagai subyek pemujaan kecil akan buddha penyembuh, walaupun sekarang keduanya ditemukan dalam mazhab buddhisme Shingon di Jepang.

Akhir-akhir ini, baru ditemukan naskah Gandhari dari Pakistan di daerah Bajaur, potongan naskah dari Sutra Mahayana awal yang menceritakan Aksobhya. Penanggalan awal dengan paleografi menyatakan berkisar dari akhir abad pertama hingga awal abad kedua masehi. Penanggalan dengan menggunakan radiokarbon yang lebih lanjut sedang berlangsung. Analisa dan laporan lengkap akan naskah ini diperkirakan akan dipublikasikan akhir tahun 2008.

Akshobhya merupakan perwujudan 'pengetahuan cermin' (Bahasa Sansekerta: Ādarśa-jñāna: merujuk kepada Panchajnana). Pengetahuan akan apa yang nyata, dan apa yang merupakan khayalan, atau pantulan dari sesuatu yang mirip dengan kenyataan sesungguhnya. Cermin tersebut adalah pemikiran itu sendiri - cerah seperti langit, kosong tetapi bercahaya. 

Memegang seluruh gambaran akan ruang dan waktu, tetapi tidak tersentuh olehnya.Ia menggambarkan pemikiran yang abadi, dan mazhab Vajrayana senantiasa berhubungan dengan alasan dan pengetahuan. Kecerdasannya menerangkan kebodohan yang gelap, ketajamannya memotong kekeliruan.

Mazhab Vajra, dimana Akshobhya berada, dihubungkan dengan elemen air. Oleh karenanya kedua warna dari Vajra tersebut adalah biru atau putih. Putih cemerlang seperti pantulan matahari dari air, dan biru, seperti dalamnya samudera. Bahkan jika permukaan samudra itu digerakkan oleh gemuruh ombak, kedalamannya tetap tidak tergerakkan. Dan walau air terkesan ringan dan tidak memiliki berat, pada kenyataannya air sangatlah berat. 

Air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan berdiam disana. Ia mengikis bebatuan, tetapi secara lemah-lembut, tanpa kekerasan. Ketika beku, menjadi keras, tajam, dan jernih seperti kecerdasan, tetapi untuk mencapai potensi utuhnya, ia juga harus mencair dan dapat beradaptasi seperti aliran sungai. Hal-hal ini seluruhnya adalah kualitas esensi dari Akshobhya.

Banyak perwujudan kemurkaan mahluk tantrik diwakili dengan warna biru karena mereka menggambarkan energi kemarahan dan penyerangan, menjadi kebijaksanaan dan pencerahan.


BODHISATTVA MAITREYA ( MILE PHU SA )


BODHISATTVA MAITREYA / METTEYA ,



Dalam agama Buddha diajarkan bahwa buddha merupakan sebuah gelar, sehingga Buddha bukanlah menunjuk kepada Buddha Sakyamuni saja. Buddha yang akan datang setelah Buddha Sakyamuni adalah Buddha Maitreya yang sekarang ini masih bergelar sebagai Bodhisattva (calon Buddha).

Maitreya bertempat tinggal di surga Tusita, yang merupakan tempat tinggal bagi para bodhisatva sebelum mencapai tingkat ke-buddha-an. Buddha Sakyamuni juga bertempat tinggal di sini sebelum terlahir sebagai Siddharta Gautama di dunia.

Metteya / Maitreya adalah Buddha masa depan yang sangat dinantikan dan belum dilahirkan. Selanjutnya Beliau akan dianggap sebagai Buddha ke 25 menurut tradisi Pali.

Lebih lanjut lagi, Beliau akan dihitung sebagai Buddha ke 5 dan yang terakhir di aeon sekarang yaitu Kappa Bhadda. Dipercayai bahwa Beliau akan dilahirkan saat kehidupan manusia diperpanjang sampai 84.000 tahun. Tempat kelahiranNya adalah Ketumati di masa pemerintahan Chakkavatti Samkha dimana dia sendiri akan menjadi pengikut Buddha dan melepaskan kehidupan duniawi.

Metteya akan dilahirkan di sebuah keluarga terpelajar yang terkenal dan namaNya adalah Ajita. Nama sukuNya juga Metteya. Nama ayahNya adalah Subrahma; dan ibuNya adalah Brahmawati. Beliau akan menikah dengan Chandamukhi dan akan mempunyai putra Brahmavaddhana. Beliau akan hidup di empat istana selama 8.000 tahun yaitu Sirivaddha, Vaddhamana, Siddhattha dan Chandaka. Selanjutnya Beliau akan melepaskan keduniawian setelah melihat 4 tanda.

Yang akan menjadi para pengikutnya yang luar biasa adalah dua saudaraNya Isidatta dan Purana; Jatimitta dan Vijaya diantara pengikut pria; dan Suddhana, Sangha dan Visakhaa diantara pengikut wanita. Yang akan menjadi murid-murid utamaNya diantara para bhikkhu adalah Asoka dan Brahmadeva; dan diantara para bhikkhuni adalah Paduma dan Sumana. Siha akan menjadi pembantu pribadiNya. Beliau akan mencapai pencerahan di bawah pohon Naga.

Telah menjadi tradisi bahwa Buddha akan datang berdiam di dunia Dewa Tusita dengan nama Nath. Beliau sering digambarkan atau diukir dalam mahkota-mahkota dan permata-permata karena Beliau belum melepaskan kehidupan duniawi.

ASAL-USUL BODHISATTVA MAITREYA



Dahulu kala hidup seorang pemuda pertapa yang memiliki keluhuran budi pekerti. Wajahnya sangat rupawan, dia sengaja hidup sangat sederhana. Semenjak terlahir memiliki kesadaran ber-vegetarian. Bisa dikatakan asal usul pemuda tersebut dalam kehidupan sebelumya adalah seorang bodhisatva. Yang sengaja dilahirkan kembali kedunia untuk menyelamatkan umat manusia.

Suatu kali saat melakukan perjalanan ke suatu tempat. Pertapa muda tersebut terjebak dihutan yang sudah kering karena dampak kemarau yang berkepanjangan. Karena tidak menemukan buah-buahan dan sayuran, akhirnya si pertapa muda tergeletak lemas. 

Sambil menahan lapar selama 7 hari lamanya. Selama dihutan yang kering tersebut dia sangat tersiksa tergolek lemas. Siang hari tersiksa oleh terik matahari. Rasa dingin menusuk tulang dimalam harinya. Sambil merintih menahan perihnya perut akibat kelaparan dan kehausan.

Didekat tempat peristirahatan pertapa muda tersebut tinggalah ratu kelinci dan anaknya semata wayang. Ratu kelinci tersebut tergugah dengan ketulusan pertapa muda tersebut. Lalu mengatakan pada anaknya.
Ratu kelinci : "nak pertapa muda ini adalah titisan bodhisatva yang agung...dikehidupan kali ini mengemban misi untuk menyelamatkan kehidupan seluruh umat manusia (mahluk).....dia tidak boleh mati muda akibat kelaparan....." 
Anak kelici: "maksud ibunda apa"? 
Ratu kelinci :" ibu akan mengorbankan diri melompat diperapian ditempat pertapa itu beristirahat ....agar pertapa dapat makan tubuh ibu dan memiliki lagi tenaga untuk menyelamatkan umat manusia (mahluk)... Setidaknya pengorbanan ibu berguna untuk seluruh umat manusia (mahluk)...kamu jaga diri baik-baik karena ibu tidak dapat bersamamu dan menjagamu lagi...."

Singkat cerita setelah berpamitan Ratu Kelinci sengaja bunuh diri , melompat keperapian mempersembahkan tubuhnya untuk pertapa muda tersebut.... 
Lalu si anak kelinci berkata: "Ibunda melakukan pengorbanan yang amat luhur dan mulia untuk seluruh umat manusia (mahluk) , hal yang demikian agung mana boleh hanya ibunda yang melakukan... Saya juga wajib melakukannya... 

Lalu tidak lama kemudian anak kelinci pun menyusul Ratu Kelinci melompat dalam perapian. Percakapan mereka teryata didengar oleh pertapa muda tersebut. Lalu pertapa muda tersebut menangis dan berpikir. Tuhan mengapa didunia ini engkau membiarkan Ratu Kelinci dan anaknya yang mulia Bunuh diri melompat kedalam perapian, berkorban demi hamba yang hina ini. Hamba tidak pantas menerima persembahan ini...( Karena kesadarannya mempertahankan vegetariannya)... Lalu menyusul juga pertapa muda tersebut melompat keperapaian dan bunuh diri....

Saudara sedharma.... siapakah Ratu kelinci tersebut....? Dia adalah Sidharta Gautama pada satu kali kehidupan sebelumnya. Lalu siapakah anak kelinci tersebut...? Dia adalah pangeran Rahula , putra kandung semata wayang pangeran Sidharta Gautama.... Lalu siapakah pertapa muda tersebut...? Dia adalah reinkarnasi Buddha Maitreya... 

Semoga cerita ini menginspirasi kita semua untuk mempertahankan ikrar vegetarian kita sampai titik darah penghabisan.... Dalam menerobos dan menghadapi segala rintangan.