JL. KAMPUNG BELAKANG RT. 005 / 003 , NO.: 96 , DADAP - KAMAL - JAKARTA BARAT 11810 ( Posisi : Belakang PERUM. VILLA TAMAN BANDARA BLOK. C9 )
Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.
Thursday, 21 November 2013
Wednesday, 20 November 2013
ALAM SEMESTA DALAM BUDDHA-DHARMA
ALAM SEMESTA DALAM BUDDHA-DHARMA
Awalnya, Sang Buddha mencela berbagai spekulasi
tentang kosmologi (ilmu alam semesta) dan kosmogonik ( ilmu asal-usul alam
semesta) yang dikedepankan oleh para cendekia. Beliau tidak ingin menuruti
spekulasi-spekulasi yang tidak jelas maksud dan logikanya, di sisi lain Beliau
telah pernah berjuang sangat keras bergelut dengan pertanyaan yang lebih
penting mengenai penderitaan hidup (dukkha) dan jalan untuk terbebas dari
penderitaan. Bagaimanapun, di kemudian hari, literatur Buddhisme memberikan
gambaran dan penjelasan yang terperinci mengenai kosmos, dikarenakan hal ini
memainkan peranan dalam perjuangan mencapai Kebebasan. Sang
Buddha berpendapat , bahwa alam semesta, yang disebut
Beliau sebagai Samsara, adalah tanpa awal. Beliau bersabda:
"Tak dapat ditentukan awal dari alam semesta.
Titik terjauh dari kehidupan,
berpindah dari kelahiran ke kelahiran,
terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan,
tidaklah dapat diketahui.”
( Samyutta Nikaya II : 178 ).
Para pakar ilmu pengetahuan sekarang meyakini, bahwa alam
semesta adalah suatu sistim yang berdenyut , yang setelah mengembang secara
maksimal, lalu menciut dengan segala energi yang ditekan pada suatu bentukan
masa; sedemikian besar sehingga menyebabkan ledakan, yang disebut sebagai
"Big bang", yang berakibat pelepasan energi. Pengembangan dan
penciutan alam semesta berlangsung dalam kurun waktu milyaran tahun. Sekali
lagi, Sang Buddha telah memaklumi pengembangan dan penciutan alam semesta.
Beliau bersabda:
“ Lebih awal atau lebih lambat,
ada suatu waktu,
sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali
alam semesta menciut,
Tetapi lebih awal atau lebih lambat,
sesudah masa yang lama sekali,
alam semesta mulai mengembang lagi.”
( Digha Nikaya III : 84 )
Penemuan teleskop konvensional dan teleskop radio belakangan
kemudian, telah memungkinkan para ahli astronomi untuk mengetahui tidak saja
asal dan sifat alam dari alam semesta, tapi juga susunannya. Diketahui
sekarang, bahwa alam semesta terdiri dari sekian milyar bintang, planet,
asteroid dan komet. Semua benda langit tersebut berkelompok dalam bentuk cakram
atau spiral yang disebut galaksi. Planet bumi kita hanya satu titik kecil yang
terdapat pada suatu galaksi yang diberi nama Bimasakti (Inggeris: Milky Way).
Bimasakti atau Milky Way terdiri atas kurang lebih 100 milyar bintang dengan
jarak dari ujung ke ujung 60.000 tahun cahaya. Telah diketahui pula bahwa
galaksi- galaksi dialam semesta ini tersusun berkelom-pok. Kelompok galaksi
dimana Bimasakti kita berada terdiri dari dua lusin galaksi; kelompok lain,
kelompok Virgo misalnya terdiri dari ribuan galaksi.
Dibalik kenyataan: bahwa tata surya, galaksi, dan kelompok
galaksi baru diketahui di dunia Barat setelah penemuan peralatan canggih; maka
ternyata kitab suci Agama Buddha telah banyak menyebutkan hal tersebut ribuan
tahun sebelumnya. Penganut agama Buddha sejak zaman dahulu telah menggambarkan
galaksi sebagai berbentuk spiral . Istilah dalam bahasa Pali untuk galaksi
adalah "cakkavala"; yang berasal dari kata "cakka", yang
berarti cakram/roda. Sang Buddha secara sangat jelas dan tepat menggambarkan
kelompok-kelompok galaksi, yang oleh para ilmuwan baru ditemukan. Beliau
menyebutnya sebagai sistim dunia (loka dhatu) dan menambahkan perbedaan dalam
ukurannya: sistim dunia ribuan-lipat, sistim dunia puluhan ribu-lipat, sistim
dunia besar, dan seterusnya. Beliau menyebutkan sistim dunia terdiri dari
ribuan matahari dan planet, walau sebenarnya oleh para ahli astronomi
menyebutnya sebagai jutaan.
“Sejauh matahari-matahari
dan bulan-bulan berputar,
bersinar dan memancarkan sinarnya ke angkasa,
sejauh itu pula sistim dunia ribuan-lipat.
Didalamnya terdapat ribuan matahari,
ribuan bulan.”
( Anguttara Nikaya I : 227 )
Dahulu, dalam waktu yang sangat lama, manusia tidak dapat
membayangkan luas alam-semesta baik dalam satuan waktu maupun ruang untuk dapat
memahami asal dan luas alam-semesta. Pemikiran saat itu terbatas serta terikat
kepemahaman dunia semata. Didalam Bible misalnya, dipahami bahwa seluruh
alam-semesta diciptakan dalam enam hari dan penciptaan itu terjadi barulah
beberapa ribu tahun lalu.
Saat ini, para ahli astronomi menghitung bintang dalam satuan
ribuan milyar dan mengukur jarak alam semesta dalam satuan tahun cahaya; satu
tahun cahaya adalah jarak yang dapat ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu
tahun. Manusia zaman dulu jelas tidak dapat membayangkan dimensi seperti itu.
Sang Buddha, adalah pengecualian. Kebijaksanaan-Nya, yang tak terbatas, dapat
memahami konsep dari alam semesta yang tak terbatas. Beliau menyebut adanya :
"Daerah gelap, hitam, kelam
diantara sistim-sistim dunia,
sedemikian rupa hingga cahaya matahari
dan bulan sekalipun tak dapat mencapainya"
(Majjhima Nikaya III:120).
Waktu yang diperlukan untuk terbentuk dan hancurnya suatu
sistim dunia sangatlah panjang, diperlukan sangat banyak `kappa' (sebagai
satuan waktu) untuk itu. Sewaktu Sang Buddha ditanya tentang panjang kurun
waktu satu kappa, Beliau menjawab:
"Sangat panjang kurun waktu satu kappa.Tak dapat
diperhitungkan dengan tahun, abad ataupun ribuan abad".
"Bila demikian, Guru, dapatkah dengan menggunakan
perumpamaan ?".
"Dapat. Bayangkan bongkahan suatu gunung besar, tanpa
retak, tanpa celah, padat, berukuran panjang I mil, lebar I mil dan
tingginya juga I mil. Lalu bayangkan setiap seratus tahun ada seorang
datang menggosoknya dengan sepotong sutra Benares. Maka, akan lebih cepat bukit
itu habis tergosok dari pada suatu masa kappa berlalu.Pula ketahuilah, lebih
dari satu, lebih dari ribuan, lebih dari ratusan ribu kappa, sebenarnya telah
berlalu".
(Samyutta Nikaya II : 181)
Disini terlihat, betapa Sang Buddha menggunakan per-umpamaan
seperti diuraikan diatas untuk memberi gambaran tentang "jarak ruang
dalam satuan waktu" : sama halnya para ahli astronomi saat ini
menggambarkan "jarak-jarak di angkasa luar dengan menggunakan satuan tahun
cahaya" .
Namun, Sang Buddha menyebut tentang asal dan perluasan alam
semesta hanya sepintas lalu. Beliau tidak menganggap, bahwa berteori dan
berspekulasi tentang hal tersebut, adalah lebih penting dibanding masalah utama
kita, yakni mengakhiri penderitaan dan mencapai kebahagiaan Nibbana
(Sansekerta: Nirwana ). Ketika seseorang sekali waktu mendesak Sang Buddha
untuk menjawab pertanyaan tentang luasnya alam semesta, Sang Buddha
membandingkan keadaan orang tersebut sebagai seorang yang terkena panah
beracun, namun menolak diobati dan dicabuti anak panah tersebut, sebelum orang
tersebut mengetahui secara jelas siapa yang melepaskan anak panah tersebut.
Sang Buddha, lalu bersabda :
“ Menjalani hidup yang suci
tak dikatakan tergantung apakah
alam semesta ini
berbatas atau tidak,
atau keduanya atau tidak keduanya.
Sebab apakah alam semesta ini,
berbatas atau tidak;
tetaplah ada kelahiran,
tetap ada usia-lanjut,
tetap ada kematian, kesedihan, penyesalan,
penderitaan, keperihan dan keputusasaan;
dan untuk mengatasi semua itulah
semua yang Saya ajarkan “
( Majjhima Nikaya I : 430 )
Sangat jelas,dengan
hanya berbekal pengetahuan tentang bagaimana alam-semesta
terjadi, kita tidak akan dapat mengatasi penderitaan, pula tidak akan dapat mengembangkan
kemurahan hati, kebajikan dan cinta-kasih. Buat Sang Buddha pertanyaan
menyangkut hal-hal ini adalah jauh lebih penting dari pada spekulasi tentang
asal-mula alam semesta.
Walau demikian, konsep Sang Buddha tentang alam-semesta yang
sangat tepat dan maju, menyebabkan kita bertanya dalam diri; bagaimana bisa
Beliau mengetahui semua itu. Bagaimana mungkin seorang mengetahui tentang
berkelompoknya bima-sakti dan bahwa bima-sakti itu berbentuk spiral, jauh
sebelum penemuan teleskop? Bagaimana Dia, yang hidup di zaman lampau demikian
menghayati ke-takterbatasan waktu dan ruang ? Jawaban satu-satunya yang mungkin
ialah karena, Beliau, sebagai yang disebut oleh Beliau sendiri, adalah Buddha
yang telah mencapai Pencerahan (Inggeris: enlightenment). Batin-Nya demikian
sempurna, bebas dari prasangka dan kekhayalan yang biasanya mengabuti batin
orang biasa, pengetahuannya telah berkembang diluar kemampuan manusia biasa.
Sang Buddha menyatakan diri-Nya sebagai " pengenal alam-semesta"
(lokavida) ( Majjhima Nikaya I : 337 ), dan pernyataan Beliau memang
terbukti kebenarannya.
Kalau kita mempertimbangkan kondisi masyarakat pada ribuan
tahun lalu yang masih terbelenggu oleh dongeng dan mitos, maka ajaran Buddha
akan semakin mengagumkan karena pandangan Buddha sudah sangat jauh ke depan.
KEHIDUPAN MANUSIA DI ALAM SEMESTA
Di kalangan masyarakat dan karena pengaruh pandangan atau
ajaran dari agama-agama lain, banyak orang menganggap bahwa kehidupan manusia
di dunia ini hanya sekali saja. Pandangan ini berbeda sekali dengan agama
Buddha, karena dalam Digha Nikaya, Brahmajala Sutta, Sang Buddha menerangkan
tentang kelahiran dan kematian yang berulang-ulang kali dapat diingat dengan
kemampuan batin yang dihasilkan oleh meditasi. Sang Buddha mengatakan bahwa :
“..... ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh
semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan
pikirannya, batin-nya, menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam
kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000,
beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupan yang lampau ..... 1, 2, 3, 4, 5,
10,20, 30, sampai 40 kali masa bumi berevolusi (bumi terjadi dan bumi hancur,
bumi terjadi kembali dan hancur kembali ..... dst.. ..... (tetapi) Tathagata
telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh daripada jangkauan
pandangan-pandangan mereka tersebut ....."
Telah kita ikuti di atas bahwa menurut pandangan Buddhis,
kehidupan/kelahiran manusia atau mahluk hidup bukan baru sekali saja tetapi
telah berulang-ulang kali hidup di bumi ini dan juga hidup di bumi-bumi yang
lain. Perpindahan kehidupan manusia dari sebuah bumi ke bumi yang lain
disebabkan karena bumi yang dihuninya telah hancur lebur atau kiamat, maka
setelah kematiannya di bumi tersebut ia terlahir di alam Abhassara (alam
cahaya). Kelahiran di alam Abhassara ini dapat dicapai oleh orang yang
melakukan meditasi ketenangan batin (samatha bhâvana). Alam Abhassara adalah
sebuah alam dari 31 alam kehidupan menurut kosmologi alam kehidupan Buddhis.
ALAM SEMESTA
TEORI ALAM SEMESTA
Dapat dikatakan, hampir setiap agama memiliki mitos yang
mencoba menerangkan asal-mula dan segi-segi alami dari alam semesta.
Babilonia kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang paling
awal adalah Absu dan Tiamat yang merupakan dewa air tawar dan dewi
air asin. Dari perkawinan mereka lahirlah dewa-dewa yang lain seperti Ea, Enlil
dan lain sebagainya. Kemudian terjadi perselisihan dan peperangan antara Absu
dan Tiamat melawan anak-anaknya. Absu kemudian berhasil dibunuh sehingga
tinggal Tiamat yang masih hidup. Kemudian Tiamat menciptakan sepasukan
monster untuk mengalahkan pasukan para dewa yang merupakan anak-anaknya.
Pasukan para dewa yang dipimpin Marduk pada akhirnya berhasil mengalahkan dan
membunuh Tiamat. Selanjutnya Marduk menjadi dewa yang paling berkuasa pada
Pantheon Babilonia kuno. la kemudian menciptakan dunia ini beserta manusia dan
hewan untuk melayaninya.
Mesir kuno mempercayai bahwa Dewa Khnumm menciptakan
alam-semesta kemudian membuat manusia dari tanah liat, lalu Dewi Hathor
meniupkan hidup kepada mereka.
Yunani kuno mempercayai, bahwa segala sesuatu dibuat
oleh Oceanus, air yang pertama.
Yahudi kuno serta kaum Kristen memiliki dua legenda
penciptaan, keduanya tercatat di kitab Bible.
Yang pertama mengatakan ;
* Bahwa Hebrew menciptakan alam
semesta serta terang dan gelap pada hari pertama, air dan
daratan kering pada hari ke dua, semua tumbuhan pada hari ke tiga,
matahari dan bulan serta bintang-bintang pada hari ke empat, semua burung dan
hewan pada hari ke lima, lalu laki-laki dan wanita pertama pada hari ke enam.
Legenda penciptaan yang ke dua menyebutkan;
* Bahwa Tuhan membuat bumi, lalu laki-laki pertama, lalu
tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, lalu terakhir seorang wanita.
Cina kuno mempercayai Wan Ku memahat alam-semesta yang
sebelumnya berantakan, setelah mati tulangnya berubah menjadi bukit, dagingnya
menjadi tanah, gigi-nya menjadi kandungan logam dan seterusnya, keseluruhan
kejadian itu berjalan selama 18.000 tahun.
Demikian pula, setiap agama mempunyai pemahaman yang berbeda
menyangkut umur dan luas alam semesta, tapi kebanyakan masih dalam jangkauan
pikir manusia. Kitab Bible misalnya, menunjukkan bahwa alam semes-ta berumur
beberapa ribu tahun. Sesuai pergantian zaman lalu mitos dan legenda, kemudian
terganti oleh penelitian alam semesta ilmiah yang modern.
Perkembangan dari Ilmu Fisika modern saat ini telah sampai
pada kesimpulan bahwa alam semesta tidak berawal secara serentak. Alam semesta
secara berkesinambungan berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain,
terbentuk dan hancur, suatu proses tanpa awal dan akhir. Dengan sendirinya,
bila dinyatakan, bahwa bila alam semesta berawal secara serentak, maka
diperlukan energi awal yang terjadi dari sesuatu yang tidak ada dan hal ini
jelas bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan.
Alam semesta (universe) yang terbayang dalam benak orang awam
biasanya adalah tentang luar angkasa, planet-planet, bintang, tata surya, galaksi,
dan sebagainya. Alam semesta adalah suatu tempat yang sangat luas, di mana
semua benda, materi, makhluk, atau apa saja yang pernah kita ketahui ataupun
belum kita ketahui terdapat di dalamnya. Namun, apakah hanya sebatas itu
gambaran kita (sebagai Buddhis) tentang alam semesta?
Jika kita mau sedikit mengeksplorasi
literatur-literatur Buddhisme, maka kita mungkin akan takjub karena
ternyata Sang Buddha telah mampu mendeskripsikan dan menguraikan segala sesuatu
tentang alam semesta dengan begitu rinci dan jauh.
Ilmu pengetahuan (sains) memang telah melahirkan banyak teori
dan penjelasan mengenai asal usul dan komposisi alam semesta. Sebagian dari
kita semua sudah banyak belajar sains di bangku pendidikan, dan kemudian kita
menjadi tahu bahwa alam semesta menyimpan banyak sekali misteri. Buddha Dhamma
memecahkan semua misteri tentang alam semesta dan membuat kita semakin memahami
bagaimana sesung-guhnya kehidupan di alam semesta ini berjalan.
TEORI
ALAM SEMESTA
Alam semesta merupakan sebuah ruang yang sangat besar,
terisi dengan banyak hal yang bisa mengejutkan kita, termasuk hal-hal yang jauh
dari bayangan kita. Pada abad ke-19, Immanuel Kant dan La Place menyatakan
teori Kabut atau teori Nebula tentang alam semesta. Teorinya
disempurnakan oleh van Wizzacker (1944) dan G.P. Kuiper (1951) menjadi teori
Kondensasi. Menurut teori ini, kabut gas dan debu terdiri dari helium dan
hidrogen. Bahan kabut ini hilang ke dalam jagad raya dan sisanya terus
mendingin. Karena pendinginan maka terus menyusut dan mulai berputar. Selama
proses ini bentuknya berubah menjadi bulat pipih dan akhirnya menjadi seperti
cakram. Selama menyusut dan berputar, bahan di bagian luar tertinggal. Bahan
ini merupakan pembentuk planet-planet, termasuk planet bumi. Massa intinya
menjadi matahari. Menurut teori ini, alam jagad raya terdapat banyak sekali
tata surya.
Teori kosmologi modern dimulai
oleh Friedman pada tahun 1920 dan dikenal juga sebagai Model
kosmologi standar. Model kosmologi standar dimulai dengan prinsip dalam
skala besar alam semesta homogen dan sotropis serta pengamat tidak berada
pada posisi yang istimewa di alam semesta. Model ini juga menyatakan bahwa alam
semesta seharusnya mengembang dalam jangka waktu berhingga, dimulai dari
keadaan yang sangat panas dan padat.
Namun sesungguhnya, alam semesta yang
kita lihat saat ini berbeda jauh dengan masa lalu. Jika manusia mengalami
yang namanya pertumbuhan dari bayi sampai dewasa, alam semesta juga demikian.
Di awal sejarahnya, alam semesta merupakan daerah yang sangat panas dan padat.
Suatu keadaan yang berbeda jauh dari alam semesta yang ada saat ini yang sudah
sangat layak menjadi tempat hunian.
Jika kita menelaah ke masa lalu, maka
akan ditemukan pada saat awal sejarah alam semesta, keadaannya yang panas tidak
memungkinkan adanya atom, karena elektron bergerak bebas dan pada keadaan yang
lebih awal lagi, nuklir terpisah menjadi proton dan netron, dan alam semesta
merupakan plasma yang luar biasa panas yang terdiri dari partikel-partikel sub
nuklir. Jika kita telusuri lebih jauh lagi ke awal alam-semesta maka akan
ditemukan kalau alam semesta memiliki titik awal yang dikenal sebagai dentuman
besar atau ledakan besar (Big bang).
TEORI BIG BANG
TEORI BIG BANG
Teori Dentuman Besar atau Big Bang dicetuskan pertama kali
oleh Georges Lemaître (Fisikawan Belgia dan juga Pendeta Katolik,
1894–1966) pada tahun 1931.
Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari
ledakan maha dahsyat yang terjadi sekitar 13.700 juta tahun lalu. Ledakan ini
melontarkan materi dalam jumlah sangat besar ke segala penjuru alam semesta.
Materi-materi ini kemudian yang kemudian mengisi alam semesta ini dalam bentuk
bintang, planet, debu kosmis, asteroid/meteor, energi, dan partikel lainnya di
alam semesta ini. Para ilmuwan juga percaya bahwa Big Bang membentuk sistem
tata surya. Ide sentral dari teori ini adalah bahwa teori Relativitas Umum
dapat dikombinasikan dengan hasil pemantauan dalam skala besar pada pergerakan
galaksi terhadap satu sama lain, dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta
akan kembali atau terus.
Konsekuensi alami dari teori Big Bang yaitu pada masa lampau alam
semesta punya suhu yang jauh lebih tinggi dan kerapatan yang jauh lebih tinggi.
Pada tahun 1929 Astronom Amerika Serikat, Edwin
Hubble melakukan observasi dan melihat galaksi yang jauh dan bergerak
selalu menjauhi kita dengan kecepatan yang tinggi. Ia juga melihat jarak antara
galaksi-galaksi bertambah setiap saat. Penemuan Hubble ini menunjukkan bahwa
alam semesta kita tidaklah statis seperti yang dipercaya sejak lama, namun
bergerak mengembang. Kemudian ini menimbulkan suatu perkira
an bahwa alam semesta bermula dari suatu ledakan sangat besar
pada suatu saat di masa lampau yang dinamakan Dentuman Besar.
Pada saat itu alam semesta memiliki ukuran nol, dan berada
pada kerapatan dan panas tak terhingga; kemudian meledak dan mengembang dengan
laju pengembangan yang kritis, yang tidak terlalu lambat untuk membuatnya
segera mengkerut, atau terlalu cepat sehingga membuatnya menjadi kurang lebih
kosong. Dan sesudah itu, kurang lebih jutaan tahun berikutnya, alam
semesta akan terus mengembang tanpa kejadian-kejadian lain apapun.
Alam Semesta secara keseluruhan akan terus mengem-bang dan
mendingin. Alam semesta berkembang, dengan laju 5%-10% per-seribu juta
tahun. Alam semesta akan mengembang terus,namun dengan kelajuan yang semakin
kecil, dan semakin kecil, meskipun tidak benar-benar mencapai nol. Walaupun
andaikata alam semesta berkontraksi, ini tidak akan terjadi setidaknya untuk
beberapa milyar tahun lagi. Berbagai macam energi yang ada di alam semesta ini
jika ditelusuri adalah berasal dari energi Big Bang, yaitu energi pada saat
penciptaan. Jumlah total seluruh energi di alam semesta ini adalah tepat nol.
EVOLUSI BINTANG
Dalam teori Evolusi bintang, disebutkan bahwa bintang-bintang
yang ada di alam semesta mengalami kehancuran melalui sebuah proses reaksi
nuklir (pembakaran) yang disebut supernova. Sepintas supernova
merupakan tahap akhir dari kehidupan sebuah bintang. Namun, kita tidak boleh
lupa bahwa bintang-bintang dan planet pengiringnya juga dilahirkan dari
keruntuhan gravitasi onal awan gas dan debu antar bintang. Dengan
demikian, Supernova selain merupakan akhir dari riwayat sebuah
bintang, di sisi lain juga merupakan pemicu tahapan evolusi bintang yang
melahirkan bintang-bintang baru. Banyak dari elemen-elemen berat yang
dihasilkan selama hidup sebuah bintang atau setelah meledak menjadi sebuah
supernova tersebar di ruang antar bintang. Sebagian dari "debu
bintang" ini bergabung dengan gas yang runtuh dan membentuk bintang
lain di suatu tempat.
Milyaran tahun kemudian, generasi bintang-bintang
berikutnyapun terlahir. Masing-masing bintang bisa dikelilingi oleh lingkaran
gas dan debu yang dapat menyatu dan membentuk planet berisi elemen-elemen berat
seperti kalsium, karbon, dan besi. Adalah kenyata-an yang menakjubkan bahwa
kita semua tersusun dari elemen-elemen itu. Nitrogen dalam DNA kita, kalsium
dalam tulang dan gigi kita, dan besi dalam darah kita, semua atom yang
membentuk tubuh kita, terbentuk milyaran tahun yang lalu di perapian yang
berasal dari keruntuhan sebuah bintang. Kita semua terbuat dari materi bintang.
DUNIA LAIN
Dalam pengetahuan modern, penemuan-penemuan ilmiah, kita
semua dapat memahami bahwa keterbatasan-keterbatasan dunia manusia dan
hipotesis mengenai sistem-sistem dunia lain (luar) adalah mungkin sekali
keberadaannya dalam bagian lain dari alam semesta. Keberadaan sistem-sistem
dunia lain tersebut telah dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern
(science). Bagaimanapun, para ilmuwan modern sekarang sedang menyusun
hipotesis bahwa terdapat kemungkinan adanya bentuk kehidupan lain di
planet-planet lain.
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern yang
sangat pesat, kita mungkin segera dapat menemukan adanya kehidupan pada
planet-planet lain di posisi terjauh dari galaksi kita. Mungkin juga kita akan
mendapati bahwa bentuk-bentuk kehidupan tersebut memiliki kesamaan hukum dengan
kehidupan kita. Mereka bisa saja berbeda secara fisik dengan kita dari
penampilan, elemen-elemen penyusunnya, atau komposisi kimianya, dan hidup di
dalam dimensi yang berbeda pula. Mereka juga mungkin jauh lebih hebat atau
lebih lemah dari manusia. Mengapa planet Bumi menjadi satu-satunya planet yang
memiliki bentuk-bentuk kehidupan, Sedangkan Bumi adalah sebuah bintik yang
sangat kecil di dalam sebuah alam semesta yang sangat besar ?.
Sir James Jeans, seorang pakar astrofisika terkemuka,
memperkirakan bahwa seluruh alam semesta terdiri dari sekitar satu milyar kali
lebih besar dari luas area antariksa yang dapat dilihat melalui
teleskop. Dalam bukunya, The Mysterious Universe, dia menyatakan
bahwa jumlah total penemuan alam semesta mungkin seperti jumlah butiran pasir
yang terdapat di pantai laut di seluruh dunia. Ketika kita terus menimbang-
nimbang keluasan alam semesta ini, yang kita sebut 'luar
angkasa', hipotesis mengenai apakah sistem sistem dunia lain
sungguh-sungguh ada adalah sangat mungkin secara ilmiah.
Dalam penemuan ilmiah modern, kita dapat memahami
keterbatasan-keterbatasan dunia manusia. Kini ilmu pengetahuan telah
menunjukkan bahwa dunia manusia berada dalam pembatasan frekuensi-frekuensi
yang bergetar yang dapat diterima oleh indera kita. Di sisi lain, ilmu
pengetahuan juga menunjukkan bahwa terdapat getaran frekuensi-frekuensi yang
lain yang berada di atas atau di bawah jangkauan penerimaan oleh indera kita.
Dengan penemuan gelombang radio, sinar X, dan gelombang mikro, kita dapat
menyadari bahwa keterbatasan penglihatan kita yang telah 'diperdaya' oleh
organ indera kita. Kita menegok alam semesta melalui celah yang hanya mampu
dilihat oleh indera kita, seperti halnya seorang anak kecil yang mengintip
melalui lubang kunci sebuah pintu. Kesadaran dari keterbatasan persepsi kita
menunjukkan kepada kita kemungkinan akan adanya sistem-sistem dunia lain yang
terpisah dari dunia kita atau yang terinterpenetrasi dengan dunia kita.
HAKIKAT MANUSIA
Oleh:
Bhikkhu Saddhanyano Mahathera
Namo Sanghyang Adi Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahatto Samma Sambuddhassa
Bapak ibu dan saudara sekalian yang berbahagia.
Sebelum saya menyampaikan ceramah pada kesempatan yang berbahagia
ini, saya ingin sampaikan salam “ Namo Buddhaya ”.
Senang sekali bisa mendapat kesempatan untuk yang kedua
kalinya saya bisa hadir di visma bahagia. Mudah-mudahan bapak ibu bahagia
sebagaimana tempat ini dibuat.
Bapak ibu saudara sekalian
Saya akan bicara tentang hakikat manusia. Kita ini manusia
tapi hakikatnya seperti apa, banyak yang belum tahu. Oleh karena itu, saya
ingin mengupas ini mudah-mudahan anda semua semakin mengerti. Di tempat lain
mungkin anda sudah pernah mendengar, namun bagi sebagian masih ada yang belum,
oleh karenanya saya ingin membahas ini supaya anda semua makin mengerti dan
memerankan kemanusiaan kita sebagai manusia.
Bapak ibu dan saudara sekalian.
Ternyata manusia itu merupakan istilah yang berasal dari
bahasa pali yaitu manussa. Manussa berasal dari kata manno dan ussa. Mano
artinya pikiran dan ussa artinya luhur. Jadi manusia adalah makhluk yang
memiliki batin atau pikiran yang luhur. Jadi yang disebut manusia adalah sebuah
makhluk yang memiliki batin yang luhur dan ini yang membedakan kita dengan
makhluk-makhluk lain, ini ditinjau dari asal katanya.
Kalau ditinjau dari struktur pembentukannya, apa maksudnya?
Manusia merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang disebut panca skandha atau
lima kelompok kehidupan. Panca skandha ini terdiri dua unsur penting yang
disebut nama dan rupa atau batin dan jasmani. Kalau kita urai lagi, ternyata di
dalam tubuh manusia yang terdiri dari nama dan rupa tadi di dalam nama atau
batin ada unsur lain, yaitu kesadaran, perasaan, pikiran dan pencerapan. Setiap
manusia mempunyai empat unsur ini. Kenapa ibu bisa sedih, senang, stress,
karena anda punya pikiran. Jadi manusia itu dari sisi batin ada kesadaran,
perasaan, pikiran, pencerapan. Pada saat anda melihat, anda cerap, anda rasakan,
anda pikiran anda tampung di gudang kesadaran. Kalau itu enak buat anda happy,
kalau itu tidak enak membuat anda sedih.
Kemudian unsur kedua adalah rupa. Wujud kita dan fisik kita,
sebelum ilmu kedokteran mengurai Buddha sudah menjelaskan ini. Jadi manusia
terdiri ada empat unsur, sang disebut unsure tanah yaitu tulang, daging,
kulit.
Oleh karenanya manusia terdiri dari unsur tanah, maka banyak
orang mengatakan bahwa manusia berasal dari tanah, ini tidak salah karena
memang betul manusia terdiri dari unsur tanah. Tetapi yang menjadi masalah
adalah penggambaran mereka tidak sesuai dengan apa yang sang Buddha jelaskan.
Kalau orangtua jaman dahulu, atau dongeng cerita kalau manusia itu dibuat dari
tanah. Seperti pengerajin tanah liat membuat patung, pot, dikasih tangan
dikasih kaki, walaupun tidak dikasih baju, lalu ditiup dan akhirnya hidup,
tetapi tidak seperti itu. Yang dimaksud manusia berasal dari tanah adalah ada
unsure tanag yang mewakili disana, maka disebut manusia berasal dari
tanah.
Dalam Aganna Sutta, dijelaskan dengan gamblang pada mulanya
manusia tidak terbentuk seperti sekarang ini, dulu bentuknya gak jelas, karena
memakan sari tanah dan sangat lama. Evolusi terjadi manusia semakin jelas
wujudnya akhirnya seperti sekarang ini.
Theory Darwin mengatakan bahwa manusia itu berasal dari
monyet, itu hukum evolusi. Kalau kita percaya pada teori evolusi
tetapi tidak sama dengan teori Darwin. Nah ini manusia ada unsur tanah.
Kemudian ada unsur api ada di badan kita yaitu panas. Unsur
angin yaitu nafas. Unsur air ada darah, lender, nanah dan sebagainya. Ini
menyatu yang disebut jasmani. Antara perpaduan batin dan jasmani ini disebut
manusia. Jadi yang menggerakkan kita ya unsur-unsur tadi, kalau saudara sakit
karena saudara punya tangan, kulit, dan anda punya perasaan. Kalau anda senang
anda juga karnea punya perasaan dan pikiran dan anda cocok dengan suasana itu, jadi
bukan karena hal-hal lain. Jadi kalau anda merasa kenyang, karena anda punya
perut. Anda haus anda perlu air, kita memerlukan itu.
Jadi bapak ibu saudara sekalian, jelaslah bahwa manusia itu
adalah perpaduan dari berbagai unsur yang mana kelima unsur ini tidak ada yang
kekal. Oleh karenanya tidak selamanya orang sedih-dan tidak selamanya orang
senang, tidak selamanya orang stres-tidak selamanya orang sehat. Dari sinilah
kita semakin jelas untuk memaknai hakikat manusia baik secara asal kata maupun
secara struktur pembentukannya.
Lantas apa yang kita bicarakan lagi, kita akan membicarakan
bahwa seperti yang dikatakan tadi bahwa manusia berasal dari kata mano dan ussa
batin yang luhur.
Ternyata tidak semua manusia bisa menjaga dan memelihara kualitas
batin tadi sehingga membentuk banyak kualitas dan kelas manusia. Oleh
karenanya, antara manusia yang satu dengan yang lain tidak sama. Nah disini
dijelaskan, dalam Tribumi sebuah kitab bahasa Thai yang diadopsi dari bahasa
pali juga. Dijelaskan bahwa manusia terbentuk menjadi empat kelas. Terbentuknya
manusia menjadi empat kelas ini karena satu sama lain tidak sama dalam usaha
menjaganya. Ada sebagian yang menjaga memelihara sifat-sifat kemuliaannya,
kasihnya, sifat luhurnya sementara yang lain tidak. Yang lain setia dengan
kebenaran, kebajikan dan yang lain tidak. Oleh karenanya sebagian manusia itu
hanyut ke dalam sifat-sifat yang jelek (kebencian, keserakahan dan kebodohan)
membuat mereka berbeda dengan yang lain.
Saya akan menjelaskan satu persatu;
Yang pertama manusia neraka; seperti apa?, sebetulnya sama
sepertikita punya hidung, bukan berarti makhluk neraka telinganya ada tiga,
bukan ya. Sama seperti kita, kakinya juga sama ada 2 dan bisa ngomong juga.
Jadi yang jadi masalah adalah itu manusia neraka yang membedakan dengan kita
adalah karena perilakunya.
Jadi manusia neraka disini adalah mereka yang wujudnya
manusia tapi perilakunya seperti makhluk neraka yaitu perilakunya, penuh dengan
kebencian, kejam, tidak ada belas kasih, termasuk teroris punya kasihan. Ada
manusa yang kelasnya seperti ini. Ternyata memang manusia itu berkelas-kelas
bukan karena ada yang menciptakan, ada yang membentuk, bukan. Tetapi karena
kondisi dari kualitas batin kita ini, ada yang perduli dari sifat luhurnya ada
yang tidak. Jadi modalnya sama yaitu sifat luhur, tapi ada yang memelihara ada
yang tidak. Nah ini yang membedakan kita.
Yang kedua adalah manusia peta; peta artinya setan. Jadi
wujudnya manusia tapi prilakunya tidak seperti manusia. Manusia yang diliputi perasaan
serakah atau lobha, mereka yang suka menindas orang lain, yang
tamak, yang mau menang sendiri dan yang senang menginjak martabat otang lain,
orang seperti ini sering digolongkan sebagai manusia peta. Oleh karena ya
kadang-kadang orangtua yang sedang emosi dan marah sama anaknya kadang-kadang
sering berkata; kamu ini manusia atau setan sih, tidak ada kasihannya sama adik
kamu. Kadang-kadang kita sering mendengar orang tua seperti itu karena saking
keselnya. Dalam kenyataan ada manusia seperti itu, tidak mau mengalah.
Yang ketiga adalah manusia Tiracchana; yaitu manusia yang
wujudnya manusia tetapi perilakunya seperti binatang. Kenapa dikatakan seperti
binatang? Karena dia tidak punya etika ,tidak punya susila tidak ada aturan.
Apa yang dikatakan sering menyakiti oranglain, sering membuat orang susah,
sembrono, tidak ada rasa hormat kepada orangtua, orang suci dan sebagainya.
Jadi kehidupannya dikendalikan oleh kekuatan moha atau kebodohan. Sehingga apa
yang dilakukannya itu tidak benar. Bahkan yang lebih parah sudah salah masih
dilakukan inilah yang membuat manusia ini kelasnya seperti tiracchana atau
binatang.
Kita sering melihat di masyarakat kita ada
manusia-manusia sekelas ini, jadi kehadirannya bikin orang takut. Kalau anda
lewat disebuah jalan trus ada orang mabuk, bawa botol dipecah, ada bawa golok
kira-kira nyaman gak? Hawanya tidak enak, panas ya. Coba anda pergi kesuatu
tempat, dimana disitu banyak orang bijaksana, yang kalo ngomong menyenangkan,
hatinya baik. Kita tidak ditolong lewat didepannya saja rasanya nyaman, ketemu
lihat mukanya saja kita senang, jangankan kita ditolong. Inilah yang
membedakan, ada manusia yang kelas nya seperti ini yang disebut
manusa-manuso.
Yang ke empat adalah; manusa=manuso adalah manusia yang
hatinya mulia. Yaitu orang yang mempunyai rasa malu dan takut untuk berbuat
jahat. Bukan takut kepada hantu, setan, hal-hal yang lain. Tapi takut pada hiri
dan otappa. Tapi tidak masalah, karena sesungguhnyapun kalau ketemu tidak usah
takut karena hati kita penuh kasih. Dia akan luluh dengan kekuatan kasih itu.
Kalau hantu lagi tidur dibangunin ya bisa ganggu, makanya jangan
macam-mcam.
Ada manusia manuso manusia yang hatinya luhur dan murah hati
serta pemaaf. Kita harus mencontoh Manussa manuso ini. Kalau bapak ibu melihat
orang yang sudah salah dia tahu dia tahu kesalahan itu, akan tersiksa kalau
anda tidak memaafkan. Maka penting sekali menjadi pemaaf. Mengapa? Dengan
memaafkan membuat orang lain menjadi lebih nyaman, melihat orang bahagia
saudara akan lebih bahagia, dan senang. Pikiran semacam ini akan muncul pada
manusia sekelas manussa-manusso. Dan orang seperti ini biasanya tidak gampang
menyerah, kita umat Buddha harus setia kepada kebenaran. Jangan karena masalah
sepele, karena tidak dapat nomer langsung merasa buddhanya tidak manjur dan
pindah agama. Baru dikhianiati pasangannya nyalahin Buddha. Setiap orang punya
masalah, justru kita harus setia pada kebenaran. Apapun yang kita lakukan kalau
niatnya baik akan menghasilkan kebahagiaan. Cuma yang jadi masalah; apa yang
kita lakukan tidak selalu berbuah saat itu juga. Tergantung anda nanam dimana
dan kualitasnya seperti apa.
Kalau anda misalnya seperti petani; yang ditanam benih
unggul, ditanam di tempat yang subur, dirawat dan dijaga dia akan cepat masak.
tetapi kalau sudah nanam bibitnya jelek dan tumbuh di pasir maka tumbuhnya akan
lama, kadang-kadang belum berbuah sudah dimakan kambing. Sama seperti saudara,
yang membuat kebajikan kita ini tidak cepat tumbuh, bisa jadi tidak disertai
dengan niat yang tulus, tidak disaat yang tepat. Kalau musim banjir saudara
menanam padi saya rasa anda tidak akan panen. Tapi yang penting adalah;
Bagaimana saudara setia kepada kebenaran, karena saudara tahu siapapun yang
berbuat baik dia akan memetik buahnya. Jadi tidak mungkin anda hanya menunggu
oranglain panen baru mendapatkan, ya kalau orang lain panen ingat kalian, kalau
tidak kita tidak akan kebagian. kalau ingin bahagia saudara harus
menanam.
Kemudian saudara sekalian
Kita perlu meniru dari manusa manuso karena banyak
positifnya. Manusa manuso adalah manusia yang banyak keberuntungan dalam
hidupnya. Mempunyai filsafat hidup setiap saat adalah saat yang baik. Oleh
karenanya orang semacam ini selalu beruntung. Ketemu masalah dia
tidak lari, tapi hidupnya bukan mencari masalah. Ketemu yang jelek diterima.
Ketemu yang baik diterima. Jadi manusa-manuso ini pandangannya luas.
Kita pernah ketemu seorang Bhiksu, cinta kasihnya
pandangannya, kebetulan bukan bhikkhu Indonesia. Asalnya orang Birma tapi
tinggalnya di Amerika, namanya YA. Usilananda ahli meditasi. Luar biasa cinta
kasihnya, kehadirannya bikin orang senang dan nyaman, betul-betul kita
merasakan. Kalau beliau datang orang rasanya adem, emosinya turun jadi kalau
ketemu beliau rasanya indah sekali. Yang lebih luar biasa lagi adalah beliau
memperlakukan umat dengan bijaksana, yang bawa sedan diterima, yang jalan kaki
diterima. Yang jalan kaki bawa buah diterima, tidak bawa buah pun
diterima.
Yah, bante ini luar bisa. Setiap orang bisa seperti
itu, tinggal mau melatih atau tidak. Inilah yang membedakan manusia
yang kelasnya manusia manusso ini bapak ibu sekalian. Kita belajar dari sana.
Kenapa? Dengan cara seperti ini saudara akan memudahkan jalan hidup
saudara. Cara hidup kita menjadi mudah atau tidak sangat juga erat kaitannya
dengan cara berpikir kita dalam melihat kehidupan. Dan biasanya orang seperti
ini akan menerangi seperti pelita, dan kehadirannya membuat terang dan pelita
yang sama di mata orang lain, memiliki makna beda namun fungsi sama.
Lilin apabila dinyalakan saat valentine jadi romantic.
Apabila lilin dinyalakan pada saat orang meninggal tidak romantic lagi tetapi
menguatkan kekuatan sakral. Kalau orang sedang ulang tahun ceria, tapi semuanya
menerangi, kehadiran kita membuat orang menjadi terang, bukan tambah gelap.
Anda terlalu banyak nonton sinetron jadi hawa provokator itu kuat, kalau ketemu
orang yang sedang sebel ditambahin, oh iya kemarin aja baru ngomongin saya,
ditambahin, dan saudara sedih kalau tidak kepancing.
Lilin walaupun kecil dia tetap menerangi, walaupun bentuknya
tidak bagus dia tetap fungsinya menerangi. Sama seperti kita; fisik kita boleh
beda, muka beda, umur beda, tapi yang penting selama kita, selama kita hidup,
selama kita masih ada nafas, mudah-mudahan kehadiran kita bisa menerangi. Anda
sebagai kepala keluar bisa keluarga, anda sebagai bos bisa menerangi pegawai,
anda sebagai guru bisa menerangi murid, dan sebagainya.
Mudah-mudahan itu yang bisa kita lakukan, dan kita sebagai
bagian dari masyarakat bisa menerangi orang lain. Oleh karena itu, saya sering
mendukung umat Buddha yang tengah melakukan aktifitas social. Karena disinilah
makna kita hidup, berbagi dan saling peduli itu yang penting. Kita semua
saudara, oleh karena kita harus berbagi dan saling peduli. Kenapa?
Sebab dengan cara seperti ini saudara bisa membuat hidup ini menjadi
lebih hidup. Orang lain kalau kita lakukan sebagai saudara, dia kepada kita
lebih hormat dan lebih respek, dan tidak akan kurang ajar. Dengan penuh kasih
kita dengarkan keluhannya, kita dengarkan kesedihannya, mungkin kita tidak
membantu menyelesaikan paling tidak membantu orang itu stresnya tidak berat karena
ada yang mendengarkan. Kita sendiri merasa kalau kita stress semua orang tidak
mau percaya. Kemudian saling peduli; bahwa nasib orang lain yang buruk tadi itu
akan bisa diatasi kalau kita peduli.
Oleh karenanya saudara sekalian.
Kalau betul kita menghargai dharma, kita adalah siswa sang
Buddha mari kita ikuti jejak beliau. Jangan biarkan orangtua menjadi makin
sedih, terpuruk karena tidak punya tempat tinggal. Jangan biarkan anak-anak
terlantar tidak punya pekerjaan tidak punya orangtua, ini adalah tugas kita
bagaimana membantu mereka agar mereka sedikit bisa menikmati indahnya hidup.
Dan tidak ada ruginya kalau saudara sekalian bisa berbagai dan saling perduli
dengan mereka.
Kemudian yang penting lagi bapak ibu sekalian; Manusia
manuso akan mudah melayani dimana dia berada, dia punya motto dia akan
melayani. Ketemu orangtua dia akan melayani, sebaliknya anda akan menjadi orang
yang mudah dilayani. Yaitu tidak ngerepoti orang. Kalau anda menjadi tamu anda
akan mudah dilayani, dan sebagainya. Dan orang sekelas manusa manuso ini dia
akan menjadi orang yang sederhana, rendah hati. Karena sederhana dan rendah
hati hidupnya menjadi mudah, tidak menciptakan masalah. Dengan demikian
kemanapun pergi dia akan bahagia.
Saudara sekalian
Kita perlu meniru ini karena biasanya orang yang bahagia,
orang yang selamat adalah orang-orang yang mempunyai pandangan benar seperti
ini. Dalam kesulitan bagi orang biajksana, dia akan anggap sebagai guru. Setiap
kesulitan dia akan lihat dengan benar, sehingga batinnya menjadi matang.
Sebagaimana tukang kayu yang ahli, melihat jenis-jenis kayu
dia akan tahu persis. Bagi seorang yang ahli tidak ada kayu yang elek. Kalau
ada kayu jati dia bikin lemari, kalau kayu mahoni dibuat untuk paket-paket atau
kandang burung mungkin. Tapi tidak ada kayu yang jelek semuanya bagus. Semuanya
punya fungsi, oleh karenanya dia tidak pernah ada masalah karena semua yang
hadir didepan dia itu akan berguna. Sama seperti saudara, kalau semua mau jadi
manajer semua siapa yang jadi kuli. Yang bodoh punya tempat dan pintar ada
tempatnya juga tinggal anda harus pandai mengatur. Jadi tidak ada yang jelek.
Kalau tidak ada yang bodoh maka tidak ada yang jadi korban. Biasanya kalau kita
kumpul-kumpul orang yang bodoh jadi bahan ketawaan, semua ada fungsi. Yang
pasti melihat hidup ini dengan bijaksana, belajar agar kita memiliki kualitas
seperti manussa-manusso.
Kemudian manusa manuso juga memiliki nilai lebih yang lain,
dia memandang dunia ini sebagai tempat latihan. Kesempatan untuk melatih, oleh
karenanya hal-hal mengkhawatirkan bagi menakutkan orang, membuat cemas
oranglain, dianggap sebagai tempat latihan dan dan semua diterima dengan penuh
kesadaran.
Ada sebuah cerita Zen, yang menggambarkan bahwa kita harus
menerima segala keadaan itu sebagaimana mestinya supaya anda tidak takut
menjalani hidup. Tua, sakit dan mati adalah resiko kehidupan, dan dia tidak bisa
diwakilkan. Kalau tua, sakit adan mati adalah resiko setiap orang yang lahir.
Secinta-cintanya orangtua kepada anak, dia tidak bisa mewakili sakitnya anak,
tuanya anak, tidak bisa. Ini yang harus dipahami.
Ada sebuah cerita; Cerita kodok dan ular. Suatu ketika kodok
sedang senang-senang sudah lama tidak ada hujan. Begitu sampai dikolam ada
hujan dan air ia senang sekali. Begitu berenang kesenangannya semakin bertambah
tiba-tiba ada nyamuk datang, ditangkap dan dimakan aduh senang sekali.
Wah ini nyamuk datang untuk kita. Kemudian muncul ditangkap. Wah capung datang
untuk kita, hujan lebat datang untuk kita. Kita berpikir sama seperti anak
kodok selalu berpikir yang enak-enak saja. Begitu ada ular datang semua takut,
hei ular datang jangan bilang itu untuk kita. Sama seperti kita kalau tua
datang, sakit datang, kita tidak bisa menghindari dan kita tidak boleh bilang
sakit tidak untuk kita, tapi harus bilang sakit memang untuk kita, tua memang
untuk kita. Sakit memang untuk kita, tua untuk kita.
Sama seperti ibu kodok bilang ularpun datang untuk kita,
bukan cuma capung, air, nyamuk, ular pun datang untuk kita. Kalau tidak ada
ular kodok semakin berkembang biak memenuhi bumi ini maka kodokpun akan
bermasalah. Sama seperti kita saudara, penyakit, usia tua semua untuk kita,
karena sifat dari jasmani kita tidak kekal. Kalau semuanya tidak ada yang tua
nanti keliru mana menantu mana engkongnya. Jadi nanti malah repot, jadi semua
itu untuk kita.
Jadi dari sinilah bapak ibu saudara sekalian, kita semakin
jelas bahwa ada tugas mulia buat kita yaitu bagaimana menghargai hidup,
kesempatan kita menjadi manusia kita hargai.
Mudah-mudahan anda semua bisa menjadi manussa manusso,
seperti yang dicontohkan oleh Buddha sediri. Tapi ada tugas yang lebih berat
untuk kita semua bahwa untuk menjadi manusa-manuso setiap orang harus
menghancurkan sifat-sifat buruk dan memelihara sifat baik. Cinta kasih dan
kasih sayang kita pelihara. Keserahakan, kebodohan, kebencian kita buang. Tugas
kita sama, sebab kalau tidak seperti itu kita tidak akan pernah bisa happy.
Seperti bapak-bapak kalau menebang pohon; Kita sering di Jakarta suka tebang pohon,
hari ini ditebang seminggu lagi tumbuh lagi. Kenapa? karena ditebang tidak
lewat akarnya. Kita manusia akan terus menderita kalau tidak menebang akar
daripada penderitaan. Memotong keserakahan, kebencian dan kebodohan, itulah
tugas yang harus kita lakukan. Anda sebagai orang biasa mempunyai tugas yang
sama seperti saya sebagai bikkhu. Tujuan kita sama yaitu hidup bahagia tapi
caranya yang berbeda.
Seperti bebek dan ayam. Bebek beda dalam mengatasi rasa
dinginnya. Dua-dua ingin hangat. Kalau bebek ingin hangat pada saat kedinginan
ia akan mengepakkan sayapnya dan menyelam ke dalam air, maka dia akan
mendapatkan kehangatan. Tapi kalau ayam tidak akan menyelam ke dalam air, dia
akan naik ke pohon bertengger, berkokok dan mengepakkan sayap. Saudara sebagai
umat punya cara tersendiri mengatasi penderitaan itu, sudah ditunjukkan oleh
Buddha. Dan kita sebagai bhikkhu mempunyai cara sendiri dan masing-masing punya
tugas yang sama dengan cara yang berbeda.
Itulah yang saya sampaikan, mudah-mudahan setelah kita
mengerti hakikat sebagai manusia, kita semakin bisa menghargai dan melakukan
yang terbaik demi kebahagiaan semua makhluk.
Semoga semua berbahagia.
Namo buddhaya.
Y.A. MOGGALLANA ( MURID UTAMA SANG BUDDHA GOTAMA )
SISWA UTAMA SANG BUDDHA ( Y.A MOGGALLANA )
( KESEMPURNAAN BATIN )
“Kami menghormat seorang bhikkhu yang bertingkah laku seperti
Brahma, dapat memandang sekalipun hanya sejenak, matanya cemerlang namun
sanggup mencerap, beribu-ribu alam semesta terbayang di depan matanya. Beliau,
yang menguasai gejala-gejala rahasia, pun sanggup melihat sepanjang masa,
dimana para dewa bangkit lalu sirna habis kembali.”(Theragatha, The Elders
No.1181).
Kata Sansekerta Maha mempuyai tiga arti: besar, banyak dan
unggul. Maudgalyayana berasal dari bahasa Sansekerta dan berarti “Keturunan
keluarga pengumpul buncis.” Namanya juga berarti “Akar Lobak”, sebab para
leluhur beliau makan lobak ketika mereka mengembangkan jalan. Beliau juga
dinamakan “Kolita” menurut nama pohon dimana ayah dan ibunya berdoa kepada roh
penghuni pohon itu untuk memohon seorang putra.
Y.A.Maha Maudgalyayana adalah sahabat dekat Y.A. Sariputra,
dan keduanya merupakan siswa utama Sakyamuni Buddha. Y.A.Maha Maudgalyayana
menonjol terutama dalam kekuatan daya tembus batiniah. Ketika beliau mencapai
tingkat Arahat, beliau memperoleh enam macam daya tembus batiniah: mata
surgawi, telinga surgawi, pengetahuan tentang pikiran orang lain, pengetahuan
tentang masa lampau, pengakhiran arus keluar dan batin sempurna.
Adapun riwayat hidup Y.A.Maha Maudgalyayana dapat diceritakan
sebagai berikut:
- Masa Muda
Y.A.Maha Maudgalyayana dilahirkan di sebuah kota kecil di
zaman kerajaan Magada (sekarang adalah daerah Bihar, negara bagian India).
Beliau merupakan anak tunggal dari keluarga suku Brahmin, nama kecil beliau
adalah Kolita Moggalana. Ayahnya terlahir dalam keluarga yang termashyur dan
selalu diangkat menjadi walikota. Kolita terdidik di bawah asuhan tradisi
Brahmana.
Diceritakan bwaha bertepatan hari kelahiran Kolita terlahir
juga bayi laki-laki dari keluarga lain yang diberi nama Upatissa. Kemudian
merekapun tumbuh bersama dan menjadi sahabat akrab. Kedua sahabat karib ini
dilingkungan pergaulannya menjadi pemimpin dari kelompok teman-temannya.
Suatu ketika Kolita dan Upatissa bersama rekan-rekannya pergi
menonton pesta rakyat. Tetapi tontonan yang mereka lihat itu bukan membawa
kegembiraan tapi malah menimbulkan kegelisahan dalam diri Kolita dan Upattisa.
Keduanya mempertanyakan kegunaan dari pertunjukkan foya-foya tersebut. Kolita
berpikir, “waktu yang terpakai untuk berfoya-foya sebaiknya dipergunakan untuk
memikirkan bagaimana cara untuk membebaskan diri? Kolita mendiskusikan hal tersebut
dengan Upatissa.
Lalu, kedua sahabat itu mengambil keputusan untuk berkelana
sebagai musafir dan meninggalkan kehidupan duniawi. Bersama dengan kelompok
rekan-rekannya, kedua sahabat itu mencukur jenggot, menanggalkan pakaian
Brahmana mereka dan mengenakan jubah kuning. Mereka meninggalkan ciri-ciri
kasta mereka dan membaurkan diri dalam pertapaan.
- Mencari kebenaran
Tatkala Pangeran Siddharta Gautama merayakan pesta
pernikahannya, beliau telah mengambil tindakan untuk keluar dari kehidupan duniawi.
Disaat yang sama Kolita dan upatissa meninggalkan rumah tangga dan mencari
ketenangan batin bersama kelompok temannya. Mereka mulai mulai melatih diri di
bawah bimbingan guru spiritual yang mereka temui. Ada banyak guru dengan
pandangan spiritual yang berbeda-beda pada masa itu. Namun variasi ajaran
tersebut sejak awal sudah diketahui kehampaannya oleh kedua sahabat itu.
Akan tetapi, terdapat seorang guru di kota Rajagraha yang
datang menghimbau mereka. Guru itu bernama Sanjaya. Dibawah pimpinan guru
Sanjaya ini kelompok Kolita ditahbiskan. Pada saat itu bagi Kolita dan Upatissa
sebelum menemukan guru yang lebih baik, mereka berguru kepada Sanjaya walaupun
mereka telah merasa bahwa falsafah Sanjaya hanya berupa taktik mengelak saja.
Pada suatu hari Kolitan Upatissa menanyakan ajaran yang lebih tinggi kepada
Sanjaya, namun Sanjaya menjawab, “Itu sudah cukup, anda sudah mengetahui ajaran
kami”.
Dari kata-kata Sanjaya tersebut, mereka memutuskan untuk
mencari lagi ajaran-ajaran yang lebih memuaskan. Dalam pencarian itulah
kemudian menuntun kedua sahabat karib itu untuk bertemu dengan ajaran Sang
Buddha.
- Menemukan sang ajaran
setelah 20 tahun berkelana akhirnya mereka pulang ke kampung
halaman di Magada. Bersamaan dengan itu Sang Buddha memutar roda Cakra di
Benares. Dengan sama-sama berprinsip tidak berhenti mencari, keduanya sepakat
untuk mencarinya secara terpisah. Mereka sepakat apabila ada yang lebih dulu
menemukan ajaran kebenaran maka dia harus memberitahukan kepada yang lainnya.
Pada suatu hari Upatissa dengan wajah berseri-seri datang
menjumpai Kolita. Dia menceritakan penemuannya yaitu menjumpai pertapa yang
bernama Assaji, yang ternyata adalah salah satu dari lima pertapa siswa Sang
Buddha yang pertama. Assaji menemukan Upatissa dalam penampilannya. Lalu Assaji
menerangkan mengenai gurunya yang bermarga Sakya (Sakyamuni Buddha). Saat
Upatissa menanyakan ajaran yang dibabarkan oleh guru Assaji maka dijawab oleh
Assaji dalam bentuk syair: “Yang dirahmati telah membabarkan sebab musabab dan
timbulnya benda-benda. Dan juga menerangkan proses lenyap sinarnya. Hanya
demikian yang dinyatakan Sang Tathagata.” Tatkala mendengar syair itu Upatissa
merasakan suatu getaran pencerahan (Mata Waskita Dharma) dan Kolita pun
merasakan hal yang sama saat Upatissa mengucapkan syair itu kepadanya.
Dari kejadian itu merekapun menanyakan kepada Assaji dimana
Guru Agung itu berdiam dan bergegas menuju ke sana. Tapi sebelum menjumpai Sang
Buddha, Upatissa mengajak Kolita terlebih dahulu menjumpai Sanjaya untuk
mengajaknya ikut serta. Namun Sanjaya menolak ajaran tersebut karena keakuannya
yang besar. Walaupun demikian karena kedua sahabat itu mengikuti Sang Buddha
serta merta pengikut Sanjaya yang berjumpa 500 orang mengikuti jejak Upatissa
dan Kolita. Namun melihat Sanjaya tidak ikut, sebagian dari mereka mengurungkan
niat.
- Mempelajari Dharma
saat Sang Buddha membabarkan Dharma di vihara Jetavana,
Upatissa dan Kolita beserta rombongan pengikutnya dapat menghampiri. Sat itu
Sang Buddha mengatakan “Wahai, para bhiksu kedua pasangan sahabat, Kolita dan
upatissa akan menjadi siswa utama kami.” Kedua sahabat itupun lalu bersujud di
bawah kedua kaki Sang Guru Junjungan dan mengucapkan permohonan “Okassa”
sebanyak 3 kali. Saat itulah Upatissa dan Kolita ditahbiskan dengan nama
Sariputra yang berarti “putra ibu sari” yaitu ibunya, sedangkan Kolita diberi
nama Maha Moggalana yang berarti tokoh besar keluarga Moggalana.
Dalam proses melatih diri suatu kali pernah terjadi Y.A.Maha
Maudgalyayana mengalami rasa kantuk yang berat. Di saat itu Sang Buddha dengan
kekuatan gaibnya muncul dihadapan Y.A.Maha Maudgalyayana. Sang Bhagava
bertanya, “Moggalana, benarkah mata anda bersimpul?”. “benar, paduka” Maka Sang
Bhagava memberi intruksi demikian:
“Baiklah Moggalana, pikiran apa saja yang membuat anda
menjadi mengantuk, maka anda harus menanggalkannya dan tidak memperhatikannya.
Dengan demikian rasa kantuk anda akan hilang.
Namun jika belum hilang anda harus menerapkan pemantulan
terhadap pelajaran yang pernah anda dengarkan. Perhatikan secara tekun dan
amati secara cermat.
sekalipun dengan demikian anda masih mengantuk, maka anda
harus dengan cara memperinci pelajaran yang pernah anda pelajari.
jika rasa mengantuk belum hilang, anda harus menarik-narik
atau menggosok-gosok kedua daun telinga atau anggota badan.
bila tetap belum hilang, anda harus segera bangun dari tempat
duduk bersihkan mata dengan air, kemudian pandanglah sekitar anda, pandanglah
bintang-bintang di langit.
bila masih mengantuk, maka anda harus memperhatikan
pencerapan pada sinar saat siang atau malam hari, lalu dengan batin yang jernih
tidak terpudar, lalu dngan batin yang jernih tidak terpudar anda harus
mempertimbangkan suatu batin yang penuh dengan kecemerlangan.
bila dengan demikian rasa mengantuk tidak lenyap, maka anda
harus mengarahkan pandangan ke dalam dan ke luar batin anda tidak tergoyahkan,
anda harus berjalan lalu lalang dengan pencerapan yang tekun. Jika dengan semua
itu, rasa kantuk anda masih tetap, anda boleh memperhatikannya dengan
ketekunan, bertiduran miring ke kiri dan ke kanan seperti layaknya singa yang
sedang beriduran, mengatur tumpuan kaki dengan kaki merenungkan akan saat
bangun dan tatkala bangun, anda seharusnya serentak bangun dengan renungan:
“Aku tidak seharusnya menikmati kesenangan akan tidur”. “Dengan demikian oh,
Moggalana anda harus melatih diri.” (Anguttara Nikaya VII,58).
- Kekuatan gaib
dari murid-murid utama Sang Buddha, Y.A.Maha Maudgalyayana
terkenal menonjol dalam kekuatan batin. Diceritakan bahwa pertama kali beliau
menggunakan kekuatan batinnya adalah pada sat ingin menolong orang tua beliau,
terutama ibunya yang terlahir di alam neraka, (Kisah ini ada dalam Ulambana
Sutra).
Selain itu banyak lagi kisah-kisah yang menceritakan
kemampuan batin Y.A.Maha Maudgalyayana yang luar biasa, seperti pembacaan
pikiran lawannya dalam bentuk telepati, menggunakan pendengaran dewa untuk
untuk mendengar suatu dari dewa-dewa dan setan, menggunakan mata waskita untuk
melihat Sang Buddha membabarkan Dharma dari jarak jauh, berkelana dengan tubuh
astral ke alam dewa, neraka, dan berkelana ke alam Buddha yang lain, juga ada
kesaktian untuk dapat bergerak super cepat.
- Hari-hari terakhir
Dikisahkan bahwa wafatnya kedua sahabat siswa utama Sang
Buddha yaitu Sariputra dan Maha Maudgalyayana terjadi
setengah tahun sebelum Sang Buddha memasuki maha Parinirvana. Sariputra lebih
dulu wafat pada bulan purnama Siddhi bulan Kattika (sekitar Oktober/November).
Adapun kematian Y.A.Maha Maudgalyayana terjadi secara tragis.
Dimana diceritakan bahwa pada suatu saat Y.A.Maha Maudgalyayana bertekad untuk
tidak mempertahankan hidupnya dengan kekuatan hidupnya. Dan di saat itulah ada
segerombolan penjahat yang berniat membunuhnya. Sebelumnya selama enam hari
penjahat itu sudah berusaha membunuh Y.A.Maha Maudgalyayana namun tidak
berhasil karena dengan kekuatan gaibnya Y.A.Maha Maudgalyayana lenyap.
Lenyapnya kekuatan gaib itu juga berhubungan dengan karma masa lampaunya,
dimana Y.A.Maha Maudgalyayana pernah berbuat kejahatan yang mengakibatkan ayah
dan ibunya wafat. Karma inilah yang terbawa sampai hari itu dimana penjahat itu
menganiaya dan membunuh Y.A.Maha Maudgalyayana. Biarpun tubuh beliau hancur,
ternyata Y.A.Maha Maudgalyayana masih sempat merangkak menghadap Sang Buddha.
Setelah meminta ijin ke guru junjungan barulah Y.A.Maha Maudgalyayana
menghembuskan nafasnya yang terakhir.
Subscribe to:
Posts (Atom)

