TERPUJILAH PARA BUDDHA, PARA BHODHISATTVA MAHASATTVA, SERTA PARA ARYA NAN BIJAKSANA..._/\_ NAMO BUDDHAYA _/\_


Hidup bukan untuk berharap, memohon, mengeluh.. Tapi hidup untuk berlatih, berusaha, berdoa dan teruslah berbuat baik.
Biarlah para mahluk suci menilai, melihat ketulusan dan keikhlasan dalam kebaikan yang kita lakukan. Selalu bersyukur saat para Buddha, Bodhisattva, Dewa, manusia atau mahluk suci lainnya memancarkan Welas Asih-nya kepada kita.

W E L C O M E ( E H I P A S S I K O )

Thursday, 21 November 2013

BEBERAPA KEISTIMEWAAN BUDDHA-DHARMA

BEBERAPA KEISTIMEWAAN AJARAN BUDDHA.

TELADAN YANG SEMPURNA,
Buddha merupakan perwujudan dari kebajikan-kebajikan yang telah Beliau sampaikan. Beliau mempraktikkan semua perkataan yang di sampaikan-Nya dalam tingkah laku. Beliau tidak pernah merasa lelah untuk menyebarluaskan Kebenaran dan merupakan contoh yang sempurna. Pada tiap saat Beliau tidak pernah menunjukkan kelemahan seorang manusia ataupun menunjukkan keinginan rendah. Kualitas Moral, Kebijaksanaan dan Belas Kasih-Nya adlah yang paling sempurna yang pernah ada di dunia ini.

KITA DAPAT MENJADI SEMPURNA,
Ajaran Buddha dapat membuat kita mencapai tingkat spiritual yang paling tinggi yang dapat kita peroleh. Buddha mengajarkan bahwa semua makhluk dapat mencapai kesempurnaan. Tidak ada pendiri kepercayaan lainnya yang pernah mengatakan bahwa setiap pengikutnya mempunyai kesempatan yang sama untuk memperoleh kedamaian, kebahagiaan, dan pembebasan dari dirinya. Tetapi Buddha mengajarkan bahwa setiap makhluk dapat mencapai kebahagiaan yang sama dari Penerangan Sempurna, jika mereka mempraktikkan Dharma seperti yang telah Beliau praktikkan. 

MELEBIHI AGAMA,
Jika definisi “agama” adalah kepercayaan dan pemujaan pada sesuatu yang tertinggi, dengan kewajiban untuk melaksanakan upacara dan puja, maka ajaran Buddha tidak terbatas hanya sebagai agama. Di luar semua definisi konvesional tentang agama…..ajaran Buddha mendorong kita untuk tidak hanya percaya begitu saja, dan mendorong agar kita mempercayai kekuatan potensi diri kita sendiri. Upacara dan puja di lihat sebagai sesuatu yang dapat memberikan inspirasi pada kita. Dalam hal ini upacara dan puja itu penting, namun upacara dan puja tidak dapat memberikan kita kebijaksanaan dan kebahagiaan sejati.
  
UNIVERSAL,
Karena perhatian Buddha adalah Kebahagiaan Sejati bagi semua makhluk, ajaran-Nya dapat di praktikkan baik dalam masyarakat maupun dalam hutan yang sunyi, oleh semua ras maupun kepercayaan. Ini semua benar-benar tidak memihak dan universal. 

PEMURNIAN PIKIRAN,
Ajaran Buddha adalah satu-satunya ajaran yang tidak hanya berakhir pada menghindari semua kejahatan dan melakukan kebaikan, tetapi juga mengajarkan pemurnian pikiran seseorang. Pikiran merupakan akar dari semua kebaikan dan kejahatan, dan yang menjadi sebab dari penderitaan maupun Kebahagiaan Sejati.   

KEPERCAYAAN DIRI,
Ketika Buddha sedang bermeditasi untuk mencapai Peneranagn Sempurna, tidak ada dewa yang datang mengungkapkan rahasia terselubung dari seluruh kekuatan spiritual. Tidak ada satu pun yang memberikan Beliau Kepercayaan untuk di ajarkan. Beliau mengatakan, “Saya mendapatkan Kebijaksanaan tertinggi dengan usaha, energi, pengetahuan, dan pemurnian saya sendiri.” Begitu juga, kita dapat mencapai tujuan tertinggi ini melalui kesabaran dalam penyempurnaan diri kita. 

KEBEBASAN BERPIKIR,
Dari kandungan intelektual dan filsafat ajaran Buddha, berkembanglah kebebasan berpikir dan mencari, yang tidak mungkin berbeda dengan agama-agama lain yang ada di dunia. Walaupun Buddha mendorong kita untuk mempraktekkan ajaran-Nya, tidak ada paksaan atau keharusan untuk meyakini atau menerima ajaran Beliau.

PELAJARAN MENGENAI KEBENARAN,
Buddha adalah guru terbesar yang mengajarkan Kebenaran (Sifat sejati semua hal). Ajaran Buddha adalah pelajaran yang sempurna mengenai kita dan alam semesta tempat kita berada. Ajaran ini melebihi Pengetahuan duniawi-merupakan Kebijaksanaan tertinggi yang membawa pada pencapaian kebahagiaan sejati. Hal yang menarik untuk di ketahui bahwa universitas pertama yang di dirikan di dunia adalah Universitas Buddhis Nalanda di India, yang berkembang mulai abad kedua sampai kesembilan Masehi. Universitas ini terbuka bagi semua siswa-siswi dari seluruh penjuru dunia dan merupakan Universitas Buddhis yang menghasilkan sarjana-sarjana terkemuka dan bijaksana. 

PENDIRIAN YANG TEGUH,
Buddha adalah Guru yang tiada bandingnya. Beliau membebaskan dan mengundang semua pengikut-pengikutNya maupun dari kepercayaan lainnya untuk membuktikan ajaran-Nya dari setiap kemungkinan, sampai tidak ada lagi keragu-raguan mengenai ajaran-Nya itu. Para pengikut-Nya telah berdebat tentang ajaran-Nya, dan bahkan telah mendirikan aliran-aliran Buddhis yang berbeda sesuai dengan pengertian mereka tanpa kekerasan dan pertumpahan darah. Buddha tahu jika seseorang benar-benar yakin bahwa ia tahu tentang kebenaran maka dia tidak perlu takut akan tantangan, karena Kebenaran akan selalu menang. Jawabannya terhadap banyak pertanyaan memperkaya doktrin Buddhis menjadi lading keyakinan yang luas. Kita sekarang dapat menjawab setiap pertanyaan tentang ajaran Buddha, hanya dengan mengacu pada penjelasan Buddha. 

TIDAK ADA KEPERCAYAAN YANG MEMBUTA,
Buddha tidak pernah menjanjikan kebahagiaan surgawi ataupun penghargaan kepada mereka yang mengaku pengikut-Nya. Beliau tidak juga menjanjikan keselamatan kepada mereka yang percaya kepada-Nya. Bagi-Nya kepercayaan bukanlah penawaran melainkan jalan hidup yang mulia untuk memperoleh Penerangan Sempurna dan pembebasan bagi diri sendiri dan orang lain. Beliau tidak menginginkan pengikut yang percaya secara membuta, Beliau ingin kita berpikir dan mengerti untuk kebaikan diri kita sendiri.

Buddha mendorong semua orang untuk datang dan menemukan lebih banyak tentang ajaran Buddha dan tidak hanya sekedar mempercayainya. Beliau menasehati kita untuk memilih kepercayaan yang cocok dengan mempertimbangkan dan menyeledikinya dari berbagai segi, bukan hanya kepercayaan membuta. Hal ini menyebabkan ajaran Buddha kadang-kadang di katakan sebagai kepercayaan dengan analisis. Dalam hal ini logika ilmu pengetahuan dan para pemikir modern menghargainya. Saat ini, para pemeluk agama Buddha di dorong untuk bersikap kritis, bahkan terhadap kitab-kitab suci agama Buddha sendiri. 

KEYAKINAN DARI PENGALAMAN DAN AKAL SEHAT,
Ajaran Buddha adalah satu-satunya agama yang di jelaskan kepada umat manusia lewat pengalaman, pencapaian, kebijaksanaan, dan Penerangan Sempurna dari penemunya (Buddha) tanpa mengatakannya sebagai perintah atau pesan dari dewa tertentu. Ini berakar dari pengalaman dan bukannya kepercayaan membuta. Masalah manusia harus di mengerti oleh seseorang melalui pengalaman-pengalaman manusia, dan dapat di pecahkan dengan mengembangkan kualitas-kualitas manusia yang sempurna. Seseorang dapat menemukan solusi melalui pemurnian dan pengembangan pikirannya, bukannya dari factor-faktor luar. Oleh sebab itu Buddha tidka pernah mengatakan dirinya sebagai penyelamat yang super natural. Beliau tidak pernah menemukan adanya penyelamat seperti itu. Menurut-Nya, kita dapat menjadi Penyelamat bagi diri kita sendiri. 

KEBENARAN KESELURUHAN,
Buddha mengatakan bahwa kita harus menghadapi kenyataan hidup dengan berani tanpa bertindak munafik serta menerima kenyataan apapun dan kapanpun itu terjadi. Semua yang Beliau ajarkan adalah kebenaran praktis sejati yang membawa kita menuju kebahagiaan sejati.

ILMIAH,
Ajaran Buddha tidak pernah menemukan interprestasi tambahan pada apa yang di ajarkan. Penemuan baru yang di temukan oleh para ilmuwan tidak pernah bertentangan dengan ajaran Buddha karena metode dan ajaran Buddha terbukti benar secara ilmiah. Prinsip-prinsip ajaran Buddha dapat di pertahankan di berbagai keadaan tanpa merubah intinya. Kemampuan pemahaman terhadap nilai-nilai religious ini dapat berkurang dan hilang dari batin seseorang, dan seseorang mungkin mengalami kesulitan dalam mempraktekkan prinsip ini dalam suatu masyarakat yang pelik. Namun, nilai yang di ajarkan Buddha akan di hargai oleh semua kebudayaan dan orang yang mengerti, setiap saat. Seperti yang di katakan oleh Albert Einstein (ahli fisika dan matematika), peraih Nobel yang populer sebagai ilmuwan paling jenius abad ke-20. 

“Agama masa yang akan datang adalah agama kosmik. Agama tersebut mengatasi Tuhan yang bersifat pribadi dan menghindari dogma dan teologi. Mencakup baik alamiah maupun spiritual, dan berdasar pada rasa keagamaan yang muncul dari pengalaman terhadap segala sesuatu, alami dan spiritual, dan berdasar pada rasa keagamaan yang muncul dari pengalaman terhadap segala sesuatu, alami dan spiritual, serta melalui pengertian yang menyeluruh. Ajaran Buddha memenuhi ciri-ciri ini….. jika ada agama yang dapat mengimbangi ilmu pengetahuan modern, itu pasti ajaran Buddha.” 

UNGGUL DALAM FILSAFAT,
Seperti yang di katakana oleh Bertrand Russell (ahli matematika, filsafat, pengarang dan kritikus sosial), pemenang Nobel yang populer sebagai filsafat terhebat pada abad 20. 

“Dari sejarah agama-agama yang hebat, saya lebih suka pada ajaran Buddha. Ajaran Buddha adalah kombinasi dari berbagai filsafat yang spektakuler dan ilmiah. Ajaran ini memakai metode ilmiah dan pada akhirnya dapat di sebut rasional. Di dalamnya dapat di temukan jawaban dari berbagai pertanyaan yang menarik seperti “Apa itu batin dan jasmani? Dari keduanya, mana yang lebih penting? Apakah alam semesta ini bergerak menuju satu tujuan? Apa kedudukan manusia? Apakah kehidupan yang mulia itu? Ini di ambil dimana para ilmuwan tidak dapat menjawabnya karena keterbatasan pengetahuan atau peralatan. Penakluknya adalah pikiran.”

UNGGUL DALAM PSIKOLOGI,
Dalam perjalanan karirnya banyak psikolog telah menemukan, seperti apa yang di perlihatkan oleh Dr. Carl G.Jung (penemu Psikologi analtik, perintis psikologi modern): kita lebih dekat dengan Buddha. Dengan membaca sebagian kecil Dharma dapat di sadari bahwa umat Buddha telah mengetahui masalah-masalah psikologi lebih dari 2500 tahun yang lalu, jauh sebelum masalah-masalah tersebut muncul pada masa modern ini. Mereka mempelajari masalah ini pada masa lalu dan juga menemukan jawabannya. Seperti di ungkapkan oleh Jung.

“Sebagai siswa pembanding ajaran, saya percaya bahwa ajaran Buddha adalah yang paling sempurna di dunia ini. Filsafat dalam teori evolusi dan dalam hukum Karma adalah yang paling Tinggi di antara yang lainnya. Bukan dari sejarah agama atau pelajaran filsafat yang pertama menggambarkanku alam berpikir Buddhis tetapi ketertarikanku pada kedokteran. Pekerjaanku adalah meringankan penderitaan psikis, dan ini mendorong saya untuk mengenal pandangan dan metode dari guru kemanusiaan terbesar itu (Buddha), yang mempunyai prinsip pokok untuk merubah rantai penderitaan, umur tua, sakit dan kematian.”

TIDAK MENAKUT-NAKUTI,
Buddha adalah figur terbesar yang mengutamakan munculnya keyakinan rasional ketimbang kepercayaan takhayul semata. Beliau membebaskan manusia dari penghambaan pada para brahmana, dan yang pertama kali menunjukkan jalan kebebasan dari kemunafikkan dan kediktatoran agama. Ajaran Buddha adalah ajaran yang menggunakan akal dan tidak menakut-nakuti untuk memaksa setiap orang dengan segala cara untuk mempercayainya. 

CINTA KASIH UNIVERSAL,
Karena cinta kasih Buddha yang universal, Beliau melihat semua makhluk besar dan kecil, dari serangga sampai binatang buas adalah sama pada akhirnya, semua mempunyai hak yang sama untuk memperoleh kebahagiaan seperti kita. 

TANPA-KEKERASAN,
Tidak ada peperangan yang kita lihat dalam Agama Buddha. Buddha mengatakan bahwa, “Yang menang akan di benci dan yang kalah hidup dalam penderitaan, siapa yang melepaskan kemenangan dan kekalahan adalah orang yang bahagia dan hidup dalam kedamaian.” Beliau bukan hanya mengajarkan kedamaian dan tanpa kekerasan, tetapi Beliau juga mungkin yang pertama dan satu-satunya pengajar agama yang pergi ke medan perang untuk mencegah terjadinya perang.

PERSAMAAN DERAJAT,
Buddha adalah yang pertama menentang sistem kasta dalam hak asasi manusia dan mengutamakan kesamaan dari semua makhluk tanpa memandang perbedaan tingkat sosial, suku bangsa, maupun kepercayaan. Beliau selalu memberikan semangat dalam masyarakat pada semua tingkat. Menurut Buddha, satu-satunya pembedaan manusia adalah berdasarkan pada kualitas dari laku moralnya. Buddha mengatakan: “Pergilah ke semua Negara dan sebarkan ajaran ini. Katakana pada mereka bahwa yang miskin dan rendah, yang kaya dan tinggi semuanya satu dan semua kasta menyatu dalam kepercayaan ini seperti semua sungai yang mengalir ke laut.”

PERSAMAAN HAK,
Buddha melihat dua jenis kelamin yang pada akhirnya memiliki hak yang sama dan merupakan guru spiritual yang pertama kali memberikan wanita menjadi anggota Sangha (Persamuan Bhikksu dan Bhikksuni) sangat radikal pada waktu itu.

TIDAK MENYALAHGUNAKAN POLITIK,
Buddha berasal dari kasta ksatria dan masuk dalam kategori raja, pangeran dan menteri. Tetapi Beliau tidak pernah menggunakan pengaruh kekuatan politik untuk menyebarkan ajaran-Nya disalahgunakan untuk mendapatkan kekuatan politik. Bagaimanapun, Beliau membujuk agar semua raja mempunyai moral yang kuat, dan mengajarkan bahwa sebuah Negara seharusnya tidak di perintah dengan ketamakan melainkan dengan Welas Asih dan perhatian pada rakyatnya.

TIDAK ADA EKSKLUSIVITAS ATAU FANATISME,
Buddha mengajarkan bahwa jika ada kepercayaan yang mengajarkan Empat Kebenaran Mulia dan Jalan Mulia Berunsur Delapan, ini seharusnya di pandang sebagai agama yang benar. Ini di sebabkan karena agama yang benar-benar membantu harus membawa pada pembasmian seluruh penderitaan (seperti pada Empat Kebenaran Mulia), dan menunjukkan secara jelas jalan rasional menuju pada Kebahagiaan Sejati (seperti pada Jalan Mulia Berunsur Delapan).

PENYEBARAN TANPA KEKERASAN,
Satu contoh yang sangat tepat dari kualitas dan pendekatan dari misionaris Buddhis adalah Raja Asoka, yang mengirimkan penyebar agama Buddha ke berbagai daerah di Asia dan dunia Barat untuk memperkenalkan ajaran Buddha tentang perdamaian. Salah satu prasasti yang terukir di batu pilar Asoka, yang masih ada sampai saat ini di India menyatakan: “Seseorang seharusnya tidak hanya menghargai agamanya dan mencela agama orang lain. Dengan melakukan hal ini, seseorang membantu agamanya untuk tumbuh dan memberikan perlakuan yang baik terhadap agama yang lain juga. Dengan melakukan yang sebaliknya, seseorang menggali kubur bagi agamanya sendiri dan sekaligus merugikan agamanya sendiri dan sekaligus merugikan agama yang lain.”

Perang keramat, perang suci, penyelidikan dan diskriminasi agama jangan sampai merusak sejarah ajaran Buddha. Penyebar agama Buddha tidak perlu ataupun bermaksud mengubah seseorang yang telah mempunyai kepercayaan yang sesuai untuk di praktekannya. Umat Buddha turut berbahagia melihat kemajuan agama lainnya sejauh mereka membantu orang lain menuju pada cara hidup spiritual sesuai dengan kepercayaan mereka, dan menuju pada kedamaian, keharmonisan dan pengertian yang benar. Tetapi, Buddha juga mendorong kita untuk membagi kebenaran dengan siapapun yang tertarik dengannya: “Pergilah, oh para Bhiksu, untuk kebaikan semuanya, untuk kebahagiaan semuanya, untuk menyebarkan Belas Kasihan bagi dunia, untuk kebaikan, keuntungan, dan kebahagiaan para dewa dan manusia, Janganlah berdua pergi dalam satu jalan. Babarkanlah Dharma, oh para Bhiksu, Dharma yang indah pada awal, indah pada pertengahannya, indah pada akhirnya, baik dalam semangat maupun dalam kata-kata. Ajarkanlah kehidupan suci untuk kesempurnaan dan kesucian. 

TUJUAN YANG PALING BERHARGA,
Pencapaian Kebuddhaan, atau memperoleh Kebahagiaan Sejati untuk diri sendiri dan orang lain adalah yang paling sulit, tetapi merupakan hal yang sangat berharga untuk di lakukan, karena mempraktikan Agama Buddha berarti mengikuti Jalan Mulia Berunsur Delapan (Jalan Tengah). Umat Buddha tidak selayaknya mengikuti salah satu bentuk ekstrim.

GAMBARAN LENGKAP MENGENAI UMAT MANUSIA DAN AGAMA,
Buddha menjelaskan secara rasional dan mendetail tentang bagaimana semua kepercayaan spiritual berubah sepanjang sejarah, sejalan dengan perubahan dalam pola pikir manusia. Beliau juga memberi kita sebuah gambaran yang jelas mengenai pengaruh agama pada kehidupan umat manusia.

JALAN YANG SEMPURNA UNTUK MENUJU KEBAHAGIAAN SEJATI,
Ajaran-ajaran Buddha membentuk sebuah silabus lengkap yang besar dan berkaitan erat, yang mencakup setiap aspek kehidupan. Kumpulan dari kitab suci agama Buddha dikatakan jika di tumpuk mencapai “tinggi dari tujuh gajah”! Buddha menjelaskan selama empat puluh lima tahun, semua yang di butuhkan untuk melenyapkan penderitaan dan memperoleh Kebahagiaan Sejati. Beliau menanyakan sebanyak tiga kali kepada ribuan siswa-Nya, apakah mereka masih mempunyai keragu-raguan yang tersisa, sebelum Buddha mangkat dan mencapai Parinirvana. Ternyata tidak ada.

KEBAHAGIAAN DALAM HIDUP INI,
Ajaran Buddha bukanlah sebuah agama yang hanya untuk kehidupan di dunia lain semata. Walaupun dengan mempraktekkan ajaran Buddha dalam kehidupan ini akan menghasilkan dampak positif untuk kehidupan kita yang selanjutnya, sebagian besar dari hasil latihan atau praktek kita akan dapat dirasakan dalam kehidupan saat ini juga. 

SEGALA SESUATU ITU TERBUKA,
Menurut Buddha, Kebenaran merupakan hal yang terbuka untuk di temukan oleh semua orang untuk kebaikan diri mereka sendiri. Ketika kita belajar tentang kehidupan dan ajaran-ajaran Buddha, kita dapat melihat bahwa segala sesuatunya terbuka bagi semua orang, memang ada beberapa pelajaran tingkat lanjut tertentu yang memerlukan bimbingan dari guru-guru yang berpengalaman, tetapi tidak ada rahasia dalam agama Buddha.

PERBUATAN BAIK DAN PENUH PENGERTIAN,
Pesan Buddha mengenai perbuatan baik dan penuh pengertian terhadap semua makhluk adalah sebuah pesan universal. Dunia saat ini membutuhkan pesan mulia ini lebih dari sebelumnya dalam sejarah kemanusiaan.


NB : Atas keterangan yang diuraikan diatas, Saya sebagai Umat Buddha tidak membandingkan bahwa Agama Buddha-lah yang paling Baik . Semua Agama dan kepercayaan adalah Baik , apabila didasari oleh Norma-norma dan Sila yang Baik serta dengan harapan dapat memberikan kesejahteraan dan kebahagiaan bagi semua makhluk. Omithofo !!

Wednesday, 20 November 2013

ALAM SEMESTA DALAM BUDDHA-DHARMA

ALAM SEMESTA DALAM BUDDHA-DHARMA



Awalnya, Sang Buddha mencela berbagai spekulasi tentang kosmologi (ilmu alam semesta) dan kosmogonik ( ilmu asal-usul alam semesta) yang dikedepankan oleh para cendekia. Beliau tidak ingin menuruti spekulasi-spekulasi yang tidak jelas maksud dan logikanya, di sisi lain Beliau telah pernah berjuang sangat keras bergelut dengan pertanyaan yang lebih penting mengenai penderitaan hidup (dukkha) dan jalan untuk terbebas dari penderitaan. Bagaimanapun, di kemudian hari, literatur Buddhisme memberikan gambaran dan penjelasan yang terperinci mengenai kosmos, dikarenakan hal ini memainkan peranan dalam perjuangan mencapai Kebebasan. Sang  Buddha  berpendapat , bahwa  alam semesta, yang  disebut  Beliau sebagai Samsara, adalah tanpa awal. Beliau bersabda:

"Tak dapat ditentukan awal dari alam semesta. 
Titik terjauh dari kehidupan, 
berpindah dari kelahiran ke kelahiran, 

terikat oleh ketidaktahuan dan keinginan, 
tidaklah dapat diketahui.”
( Samyutta Nikaya II : 178 ).

Para pakar ilmu pengetahuan sekarang meyakini, bahwa alam semesta adalah suatu sistim yang berdenyut , yang setelah mengembang secara maksimal, lalu menciut dengan segala energi yang ditekan pada suatu bentukan masa; sedemikian besar sehingga menyebabkan ledakan, yang disebut sebagai "Big bang", yang berakibat pelepasan energi. Pengembangan dan penciutan alam semesta berlangsung dalam kurun waktu milyaran tahun. Sekali lagi, Sang Buddha telah memaklumi pengembangan dan penciutan alam semesta. Beliau bersabda:

“ Lebih  awal atau lebih lambat, 
ada suatu waktu, 
sesudah masa waktu yang sangat panjang sekali 
alam semesta menciut,
Tetapi lebih awal atau lebih lambat, 
sesudah masa yang lama sekali,
 alam semesta mulai mengembang lagi.”
( Digha Nikaya III : 84 )

Penemuan teleskop konvensional dan teleskop radio belakangan kemudian, telah memungkinkan para ahli astronomi untuk mengetahui tidak saja asal dan sifat alam dari alam semesta, tapi juga susunannya. Diketahui sekarang, bahwa alam semesta terdiri dari sekian milyar bintang, planet, asteroid dan komet. Semua benda langit tersebut berkelompok dalam bentuk cakram atau spiral yang disebut galaksi. Planet bumi kita hanya satu titik kecil yang terdapat pada suatu galaksi yang diberi nama Bimasakti (Inggeris: Milky Way). Bimasakti atau Milky Way terdiri atas kurang lebih 100 milyar bintang dengan jarak dari ujung ke ujung 60.000 tahun cahaya. Telah diketahui pula bahwa galaksi- galaksi dialam semesta ini tersusun berkelom-pok. Kelompok galaksi dimana Bimasakti kita berada terdiri dari dua lusin galaksi; kelompok lain, kelompok Virgo misalnya terdiri dari ribuan galaksi.

Dibalik kenyataan: bahwa tata surya, galaksi, dan kelompok galaksi baru diketahui di dunia Barat setelah penemuan peralatan canggih; maka ternyata kitab suci Agama Buddha telah banyak menyebutkan hal tersebut ribuan tahun sebelumnya. Penganut agama Buddha sejak zaman dahulu telah menggambarkan galaksi sebagai berbentuk spiral . Istilah dalam bahasa Pali untuk galaksi adalah "cakkavala"; yang berasal dari kata "cakka", yang berarti cakram/roda. Sang Buddha secara sangat jelas dan tepat menggambarkan kelompok-kelompok galaksi, yang oleh para ilmuwan baru ditemukan. Beliau menyebutnya sebagai sistim dunia (loka dhatu) dan menambahkan perbedaan dalam ukurannya: sistim dunia ribuan-lipat, sistim dunia puluhan ribu-lipat, sistim dunia besar, dan seterusnya. Beliau menyebutkan sistim dunia terdiri dari ribuan matahari dan planet, walau sebenarnya oleh para ahli astronomi menyebutnya sebagai jutaan.

“Sejauh matahari-matahari 
dan bulan-bulan berputar, 
bersinar dan memancarkan sinarnya ke angkasa,
 sejauh itu pula sistim dunia ribuan-lipat. 
Didalamnya terdapat ribuan matahari, 
ribuan bulan.”
( Anguttara Nikaya I : 227 )

Dahulu, dalam waktu yang sangat lama, manusia tidak dapat membayangkan luas alam-semesta baik dalam satuan waktu maupun ruang untuk dapat memahami asal dan luas alam-semesta. Pemikiran saat itu terbatas serta terikat kepemahaman dunia semata. Didalam Bible misalnya, dipahami bahwa seluruh alam-semesta diciptakan dalam enam hari dan penciptaan itu terjadi barulah beberapa ribu tahun lalu.

Saat ini, para ahli astronomi menghitung bintang dalam satuan ribuan milyar dan mengukur jarak alam semesta dalam satuan tahun cahaya; satu tahun cahaya adalah jarak yang dapat ditempuh oleh cahaya dalam waktu satu tahun. Manusia zaman dulu jelas tidak dapat membayangkan dimensi seperti itu. Sang Buddha, adalah pengecualian. Kebijaksanaan-Nya, yang tak terbatas, dapat memahami konsep dari alam semesta yang tak terbatas. Beliau menyebut adanya :

"Daerah gelap, hitam, kelam 
diantara sistim-sistim dunia, 
sedemikian rupa hingga cahaya matahari 
dan bulan sekalipun tak dapat mencapainya"
(Majjhima Nikaya III:120).

Waktu yang diperlukan untuk terbentuk dan hancurnya suatu sistim dunia sangatlah panjang, diperlukan sangat banyak `kappa' (sebagai satuan waktu) untuk itu. Sewaktu Sang Buddha ditanya tentang panjang kurun waktu satu kappa, Beliau menjawab:

"Sangat panjang kurun waktu satu kappa.Tak dapat diperhitungkan dengan tahun, abad ataupun ribuan abad".

"Bila demikian, Guru, dapatkah dengan menggunakan perumpamaan ?".

"Dapat. Bayangkan bongkahan suatu gunung besar, tanpa retak, tanpa celah, padat, berukuran panjang  I mil, lebar I mil dan tingginya juga I mil. Lalu bayangkan setiap seratus tahun ada seorang datang menggosoknya dengan sepotong sutra Benares. Maka, akan lebih cepat bukit itu habis tergosok dari pada suatu masa kappa berlalu.Pula ketahuilah, lebih dari satu, lebih dari ribuan, lebih dari ratusan ribu kappa, sebenarnya telah berlalu".
(Samyutta Nikaya II : 181)

Disini terlihat, betapa Sang Buddha menggunakan per-umpamaan seperti diuraikan diatas untuk memberi gambaran tentang "jarak ruang dalam satuan waktu" : sama halnya para ahli astronomi saat ini menggambarkan "jarak-jarak di angkasa luar dengan menggunakan satuan tahun cahaya" .

Namun, Sang Buddha menyebut tentang asal dan perluasan alam semesta hanya sepintas lalu. Beliau tidak menganggap, bahwa berteori dan berspekulasi tentang hal tersebut, adalah lebih penting dibanding masalah utama kita, yakni mengakhiri penderitaan dan mencapai kebahagiaan Nibbana (Sansekerta: Nirwana ). Ketika seseorang sekali waktu mendesak Sang Buddha untuk menjawab pertanyaan tentang luasnya alam semesta, Sang Buddha membandingkan keadaan orang tersebut sebagai seorang yang terkena panah beracun, namun menolak diobati dan dicabuti anak panah tersebut, sebelum orang tersebut mengetahui secara jelas siapa yang melepaskan anak panah tersebut. Sang Buddha, lalu bersabda :

“ Menjalani hidup yang suci 
tak dikatakan tergantung apakah 
alam semesta ini 
berbatas atau tidak, 
atau keduanya atau tidak keduanya.
 Sebab apakah alam semesta ini, 
berbatas atau tidak; 
tetaplah ada kelahiran,
 tetap ada usia-lanjut,  
tetap ada kematian, kesedihan, penyesalan, 
penderitaan, keperihan dan keputusasaan; 
dan untuk mengatasi semua itulah 
semua yang Saya ajarkan “
( Majjhima Nikaya I : 430 )

Sangat jelas,dengan hanya berbekal pengetahuan tentang bagaimana alam-semesta terjadi, kita tidak akan dapat mengatasi penderitaan, pula tidak akan dapat mengembangkan kemurahan hati, kebajikan dan cinta-kasih. Buat Sang Buddha pertanyaan menyangkut hal-hal ini adalah jauh lebih penting dari pada spekulasi tentang asal-mula alam semesta.

Walau demikian, konsep Sang Buddha tentang alam-semesta yang sangat tepat dan maju, menyebabkan kita bertanya dalam diri; bagaimana bisa Beliau mengetahui semua itu. Bagaimana mungkin seorang mengetahui tentang berkelompoknya bima-sakti dan bahwa bima-sakti itu berbentuk spiral, jauh sebelum penemuan teleskop? Bagaimana Dia, yang hidup di zaman lampau demikian menghayati ke-takterbatasan waktu dan ruang ? Jawaban satu-satunya yang mungkin ialah karena, Beliau, sebagai yang disebut oleh Beliau sendiri, adalah Buddha yang telah mencapai Pencerahan (Inggeris: enlightenment). Batin-Nya demikian sempurna, bebas dari prasangka dan kekhayalan yang biasanya mengabuti batin orang biasa, pengetahuannya telah berkembang diluar kemampuan manusia biasa. Sang Buddha menyatakan diri-Nya sebagai " pengenal alam-semesta" (lokavida) ( Majjhima Nikaya I : 337 ), dan pernyataan Beliau memang terbukti kebenarannya.

Kalau kita mempertimbangkan kondisi masyarakat pada ribuan tahun lalu yang masih terbelenggu oleh dongeng dan mitos, maka ajaran Buddha akan semakin mengagumkan karena pandangan Buddha sudah sangat jauh ke depan.

KEHIDUPAN MANUSIA  DI ALAM SEMESTA

Di kalangan masyarakat dan karena pengaruh pandangan atau ajaran dari agama-agama lain, banyak orang menganggap bahwa kehidupan manusia di dunia ini hanya sekali saja. Pandangan ini berbeda sekali dengan agama Buddha, karena dalam Digha Nikaya, Brahmajala Sutta, Sang Buddha menerangkan tentang kelahiran dan kematian yang berulang-ulang kali dapat diingat dengan kemampuan batin yang dihasilkan oleh meditasi. Sang Buddha mengatakan bahwa :

“..... ada beberapa pertapa dan brahmana yang disebabkan oleh semangat, tekad, kesungguhan dan kewaspadaan bermeditasi, ia dapat memusatkan pikirannya, batin-nya, menjadi tenang, ia dapat mengingat alam-alam kehidupannya yang lampau pada 1, 2, 3, 4, 5, 10, 20, 30, 40, 50, 100, 1000, beberapa ribu atau puluhan ribu kehidupan yang lampau ..... 1, 2, 3, 4, 5, 10,20, 30, sampai 40 kali masa bumi berevolusi (bumi terjadi dan bumi hancur, bumi terjadi kembali dan hancur kembali ..... dst.. ..... (tetapi) Tathagata telah menyadari dan mengetahui hal-hal lain yang lebih jauh daripada jangkauan pandangan-pandangan mereka tersebut ....."

Telah kita ikuti di atas bahwa menurut pandangan Buddhis, kehidupan/kelahiran manusia atau mahluk hidup bukan baru sekali saja tetapi telah berulang-ulang kali hidup di bumi ini dan juga hidup di bumi-bumi yang lain. Perpindahan kehidupan manusia dari sebuah bumi ke bumi yang lain disebabkan karena bumi yang dihuninya telah hancur lebur atau kiamat, maka setelah kematiannya di bumi tersebut ia terlahir di alam Abhassara (alam cahaya). Kelahiran di alam Abhassara ini dapat dicapai oleh orang yang melakukan meditasi ketenangan batin (samatha bhâvana). Alam Abhassara adalah sebuah alam dari 31 alam kehidupan menurut kosmologi alam kehidupan Buddhis.

ALAM SEMESTA

TEORI ALAM SEMESTA

Dapat dikatakan, hampir setiap agama memiliki mitos yang mencoba menerangkan asal-mula dan segi-segi alami dari alam semesta.

Babilonia kuno, yang mengatakan bahwa dewa-dewa yang paling awal adalah Absu dan Tiamat yang merupakan dewa air tawar dan dewi air asin. Dari perkawinan mereka lahirlah dewa-dewa yang lain seperti Ea, Enlil dan lain sebagainya. Kemudian terjadi perselisihan dan peperangan antara Absu dan Tiamat melawan anak-anaknya. Absu kemudian berhasil dibunuh sehingga tinggal Tiamat yang masih hidup. Kemudian Tiamat menciptakan sepasukan monster untuk mengalahkan pasukan para dewa yang merupakan anak-anaknya. Pasukan para dewa yang dipimpin Marduk pada akhirnya berhasil mengalahkan dan membunuh Tiamat. Selanjutnya Marduk menjadi dewa yang paling berkuasa pada Pantheon Babilonia kuno. la kemudian menciptakan dunia ini beserta manusia dan hewan untuk melayaninya.

Mesir kuno mempercayai bahwa Dewa Khnumm menciptakan alam-semesta kemudian membuat manusia dari tanah liat, lalu Dewi Hathor meniupkan hidup kepada mereka.

Yunani kuno mempercayai, bahwa segala sesuatu dibuat oleh Oceanus, air yang pertama.

Yahudi kuno serta kaum Kristen memiliki dua legenda penciptaan, keduanya tercatat di kitab Bible.

Yang pertama mengatakan ;

* Bahwa  Hebrew  menciptakan  alam  semesta  serta terang dan gelap pada hari pertama, air dan daratan kering pada hari ke dua, semua tumbuhan pada hari ke tiga, matahari dan bulan serta bintang-bintang pada hari ke empat, semua burung dan hewan pada hari ke lima, lalu laki-laki dan wanita pertama pada hari ke enam.

Legenda penciptaan yang ke dua menyebutkan;

* Bahwa Tuhan membuat bumi, lalu laki-laki pertama, lalu tumbuh-tumbuhan dan binatang-binatang, lalu terakhir seorang wanita.

Cina kuno mempercayai Wan Ku memahat alam-semesta yang sebelumnya berantakan, setelah mati tulangnya berubah menjadi bukit, dagingnya menjadi tanah, gigi-nya menjadi kandungan logam dan seterusnya, keseluruhan kejadian itu berjalan selama 18.000 tahun.

Demikian pula, setiap agama mempunyai pemahaman yang berbeda menyangkut umur dan luas alam semesta, tapi kebanyakan masih dalam jangkauan pikir manusia. Kitab Bible misalnya, menunjukkan bahwa alam semes-ta berumur beberapa ribu tahun. Sesuai pergantian zaman lalu mitos dan legenda, kemudian terganti oleh penelitian alam semesta ilmiah yang modern.

Perkembangan dari Ilmu Fisika modern saat ini telah sampai pada kesimpulan bahwa alam semesta tidak berawal secara serentak. Alam semesta secara berkesinambungan berubah dari suatu keadaan ke keadaan yang lain, terbentuk dan hancur, suatu proses tanpa awal dan akhir. Dengan sendirinya, bila dinyatakan, bahwa bila alam semesta berawal secara serentak, maka diperlukan energi awal yang terjadi dari sesuatu yang tidak ada dan hal ini jelas bertentangan dengan kaidah ilmu pengetahuan.
Alam semesta (universe) yang terbayang dalam benak orang awam biasanya adalah tentang luar angkasa, planet-planet, bintang, tata surya, galaksi, dan sebagainya. Alam semesta adalah suatu tempat yang sangat luas, di mana semua benda, materi, makhluk, atau apa saja yang pernah kita ketahui ataupun belum kita ketahui terdapat di dalamnya. Namun, apakah hanya sebatas itu gambaran kita (sebagai Buddhis) tentang alam semesta?
Jika  kita  mau  sedikit mengeksplorasi literatur-literatur Buddhisme, maka kita mungkin akan takjub karena ternyata Sang Buddha telah mampu mendeskripsikan dan menguraikan segala sesuatu tentang alam semesta dengan begitu rinci dan jauh.
Ilmu pengetahuan (sains) memang telah melahirkan banyak teori dan penjelasan mengenai asal usul dan komposisi alam semesta. Sebagian dari kita semua sudah banyak belajar sains di bangku pendidikan, dan kemudian kita menjadi tahu bahwa alam semesta menyimpan banyak sekali misteri. Buddha Dhamma memecahkan semua misteri tentang alam semesta dan membuat kita semakin memahami bagaimana sesung-guhnya kehidupan di alam semesta ini berjalan.
TEORI ALAM SEMESTA
Alam semesta merupakan sebuah ruang  yang sangat besar, terisi dengan banyak hal yang bisa mengejutkan kita, termasuk hal-hal yang jauh dari bayangan kita. Pada abad ke-19, Immanuel Kant dan La Place menyatakan teori Kabut atau teori Nebula tentang alam semesta. Teorinya disempurnakan oleh van Wizzacker (1944) dan G.P. Kuiper (1951) menjadi teori Kondensasi. Menurut teori ini, kabut gas dan debu terdiri dari helium dan hidrogen. Bahan kabut ini hilang ke dalam jagad raya dan sisanya terus mendingin. Karena pendinginan maka terus menyusut dan mulai berputar. Selama proses ini bentuknya berubah menjadi bulat pipih dan akhirnya menjadi seperti cakram. Selama menyusut dan berputar, bahan di bagian luar tertinggal. Bahan ini merupakan pembentuk planet-planet, termasuk planet bumi. Massa intinya menjadi matahari. Menurut teori ini, alam jagad raya terdapat banyak sekali tata surya.

KOSMOLOGI MODERN

Teori kosmologi modern dimulai oleh Friedman pada tahun 1920 dan dikenal juga sebagai Model kosmologi standar. Model kosmologi standar dimulai dengan prinsip dalam skala besar alam semesta homogen dan  sotropis serta pengamat tidak berada pada posisi yang istimewa di alam semesta. Model ini juga menyatakan bahwa alam semesta seharusnya mengembang dalam jangka waktu berhingga, dimulai dari keadaan yang sangat panas dan padat.

Namun sesungguhnya, alam semesta yang kita lihat saat ini berbeda jauh dengan masa lalu. Jika manusia  mengalami yang namanya pertumbuhan dari bayi sampai dewasa, alam semesta juga demikian. Di awal sejarahnya, alam semesta merupakan daerah yang sangat panas dan padat. Suatu keadaan yang berbeda jauh dari alam semesta yang ada saat ini yang sudah sangat layak menjadi tempat hunian.

Jika kita menelaah ke masa lalu, maka akan ditemukan pada saat awal sejarah alam semesta, keadaannya yang panas tidak memungkinkan adanya atom, karena elektron bergerak bebas dan pada keadaan yang lebih awal lagi, nuklir terpisah menjadi proton dan netron, dan alam semesta merupakan plasma yang luar biasa panas yang terdiri dari partikel-partikel sub nuklir. Jika kita telusuri lebih jauh lagi ke awal alam-semesta maka akan ditemukan kalau alam semesta memiliki titik awal yang dikenal sebagai dentuman besar atau ledakan besar (Big bang).

TEORI BIG BANG

Teori Dentuman Besar atau Big Bang dicetuskan pertama kali oleh Georges Lemaître (Fisikawan Belgia dan juga Pendeta Katolik, 1894–1966) pada tahun 1931.
Teori ini menyatakan bahwa alam semesta ini terbentuk dari ledakan maha dahsyat yang terjadi sekitar 13.700 juta tahun lalu. Ledakan ini melontarkan materi dalam jumlah sangat besar ke segala penjuru alam semesta. Materi-materi ini kemudian yang kemudian mengisi alam semesta ini dalam bentuk bintang, planet, debu kosmis, asteroid/meteor, energi, dan partikel lainnya di alam semesta ini. Para ilmuwan juga percaya bahwa Big Bang membentuk sistem tata surya. Ide sentral dari teori ini adalah bahwa teori Relativitas Umum dapat dikombinasikan dengan hasil pemantauan dalam skala besar pada pergerakan galaksi terhadap satu sama lain, dan meramalkan bahwa suatu saat alam semesta akan kembali atau terus.

Konsekuensi alami dari teori Big Bang yaitu pada masa lampau alam semesta punya suhu yang jauh lebih tinggi dan kerapatan yang jauh lebih tinggi.

Pada tahun 1929 Astronom Amerika Serikat, Edwin Hubble melakukan observasi dan melihat galaksi yang jauh dan bergerak selalu menjauhi kita dengan kecepatan yang tinggi. Ia juga melihat jarak antara galaksi-galaksi bertambah setiap saat. Penemuan Hubble ini menunjukkan bahwa alam semesta kita tidaklah statis seperti yang dipercaya sejak lama, namun bergerak mengembang. Kemudian ini menimbulkan suatu perkira
an bahwa alam semesta bermula dari suatu ledakan sangat besar pada suatu saat di masa lampau yang dinamakan Dentuman Besar.

Pada saat itu alam semesta memiliki ukuran nol, dan berada pada kerapatan dan panas tak terhingga; kemudian meledak dan mengembang dengan laju pengembangan yang kritis, yang tidak terlalu lambat untuk membuatnya segera mengkerut, atau terlalu cepat sehingga membuatnya menjadi kurang lebih kosong. Dan sesudah itu, kurang lebih jutaan tahun berikutnya, alam semesta akan terus mengembang tanpa kejadian-kejadian lain apapun.

Alam Semesta secara keseluruhan akan terus mengem-bang dan mendingin. Alam  semesta berkembang, dengan laju 5%-10% per-seribu juta tahun. Alam semesta akan mengembang terus,namun dengan kelajuan yang semakin kecil, dan semakin kecil, meskipun tidak benar-benar mencapai nol. Walaupun andaikata alam semesta berkontraksi, ini tidak akan terjadi setidaknya untuk beberapa milyar tahun lagi. Berbagai macam energi yang ada di alam semesta ini jika ditelusuri adalah berasal dari energi Big Bang, yaitu energi pada saat penciptaan. Jumlah total seluruh energi di alam semesta ini adalah tepat nol.

EVOLUSI BINTANG

Dalam teori Evolusi bintang, disebutkan bahwa bintang-bintang yang ada di alam semesta mengalami kehancuran melalui sebuah proses reaksi nuklir (pembakaran) yang disebut supernova. Sepintas supernova merupakan tahap akhir dari kehidupan sebuah bintang. Namun, kita tidak boleh lupa bahwa bintang-bintang dan planet pengiringnya juga dilahirkan dari keruntuhan gravitasi onal awan gas dan debu antar bintang. Dengan demikian, Supernova selain merupakan akhir dari riwayat sebuah bintang, di sisi lain juga merupakan pemicu tahapan evolusi bintang yang melahirkan bintang-bintang baru. Banyak dari elemen-elemen berat yang dihasilkan selama hidup sebuah bintang atau setelah meledak menjadi sebuah supernova tersebar di ruang antar bintang. Sebagian dari "debu bintang" ini bergabung dengan gas yang runtuh dan membentuk bintang lain di suatu tempat.

Milyaran tahun kemudian, generasi bintang-bintang berikutnyapun terlahir. Masing-masing bintang bisa dikelilingi oleh lingkaran gas dan debu yang dapat menyatu dan membentuk planet berisi elemen-elemen berat seperti kalsium, karbon, dan besi. Adalah kenyata-an yang menakjubkan bahwa kita semua tersusun dari elemen-elemen itu. Nitrogen dalam DNA kita, kalsium dalam tulang dan gigi kita, dan besi dalam darah kita, semua atom yang membentuk tubuh kita, terbentuk milyaran tahun yang lalu di perapian yang berasal dari keruntuhan sebuah bintang. Kita semua terbuat dari materi bintang.

DUNIA LAIN

Dalam pengetahuan modern, penemuan-penemuan ilmiah, kita semua dapat memahami bahwa keterbatasan-keterbatasan dunia manusia dan hipotesis mengenai sistem-sistem dunia lain (luar) adalah mungkin sekali keberadaannya dalam bagian lain dari alam semesta. Keberadaan sistem-sistem dunia lain tersebut telah dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern (science). Bagaimanapun, para ilmuwan modern sekarang sedang menyusun hipotesis bahwa terdapat kemungkinan adanya bentuk kehidupan lain di planet-planet lain.

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern yang sangat pesat, kita mungkin segera dapat menemukan adanya kehidupan pada planet-planet lain di posisi terjauh dari galaksi kita. Mungkin juga kita akan mendapati bahwa bentuk-bentuk kehidupan tersebut memiliki kesamaan hukum dengan kehidupan kita. Mereka bisa saja berbeda secara fisik dengan kita dari penampilan, elemen-elemen penyusunnya, atau komposisi kimianya, dan hidup di dalam dimensi yang berbeda pula. Mereka juga mungkin jauh lebih hebat atau lebih lemah dari manusia. Mengapa planet Bumi menjadi satu-satunya planet yang memiliki bentuk-bentuk kehidupan, Sedangkan Bumi adalah sebuah bintik yang sangat kecil di dalam sebuah alam semesta yang sangat besar ?. 

Sir James Jeans, seorang pakar astrofisika terkemuka, memperkirakan bahwa seluruh alam semesta terdiri dari sekitar satu milyar kali lebih besar dari luas area antariksa yang dapat dilihat melalui teleskop. Dalam bukunya, The Mysterious Universe, dia menyatakan bahwa jumlah total penemuan alam semesta mungkin seperti jumlah butiran pasir yang terdapat di pantai laut di seluruh dunia. Ketika kita terus menimbang- nimbang keluasan alam semesta ini, yang kita sebut 'luar angkasa', hipotesis mengenai apakah sistem sistem dunia lain sungguh-sungguh ada adalah sangat mungkin secara ilmiah.

Dalam penemuan ilmiah modern, kita dapat memahami keterbatasan-keterbatasan dunia manusia. Kini ilmu pengetahuan telah menunjukkan bahwa dunia manusia berada dalam pembatasan frekuensi-frekuensi yang bergetar yang dapat diterima oleh indera kita. Di sisi lain, ilmu pengetahuan juga menunjukkan bahwa terdapat getaran frekuensi-frekuensi yang lain yang berada di atas atau di bawah jangkauan penerimaan oleh indera kita. Dengan penemuan gelombang radio, sinar X, dan gelombang mikro, kita dapat menyadari bahwa keterbatasan penglihatan kita yang telah  'diperdaya' oleh organ indera kita. Kita menegok alam semesta melalui celah yang hanya mampu dilihat oleh indera kita, seperti halnya seorang anak kecil yang mengintip melalui lubang kunci sebuah pintu. Kesadaran dari keterbatasan persepsi kita menunjukkan kepada kita kemungkinan akan adanya sistem-sistem dunia lain yang terpisah dari dunia kita atau yang terinterpenetrasi dengan dunia kita.


HAKIKAT MANUSIA

Oleh:

Bhikkhu Saddhanyano Mahathera


Namo Sanghyang Adi Buddhaya
Namo Tassa Bhagavato Arahatto Samma Sambuddhassa 

Bapak ibu dan saudara sekalian yang berbahagia.  
Sebelum saya menyampaikan ceramah pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin sampaikan salam “ Namo Buddhaya ”.

Senang sekali bisa mendapat kesempatan untuk yang kedua kalinya saya bisa hadir di visma bahagia. Mudah-mudahan bapak ibu bahagia sebagaimana tempat ini dibuat.
Bapak ibu saudara sekalian

Saya akan bicara tentang hakikat manusia. Kita ini manusia tapi hakikatnya seperti apa, banyak yang belum tahu. Oleh karena itu, saya ingin mengupas ini mudah-mudahan anda semua semakin mengerti. Di tempat lain mungkin anda sudah pernah mendengar, namun bagi sebagian masih ada yang belum, oleh karenanya saya ingin membahas ini supaya anda semua makin mengerti dan memerankan kemanusiaan kita sebagai manusia.
Bapak ibu dan saudara sekalian. 

Ternyata manusia itu merupakan istilah yang berasal dari bahasa pali yaitu manussa. Manussa berasal dari kata manno dan ussa. Mano artinya pikiran dan ussa artinya luhur. Jadi manusia adalah makhluk yang memiliki batin atau pikiran yang luhur. Jadi yang disebut manusia adalah sebuah makhluk yang memiliki batin yang luhur dan ini yang membedakan kita dengan makhluk-makhluk lain, ini ditinjau dari asal katanya. 

Kalau ditinjau dari struktur pembentukannya, apa maksudnya? Manusia merupakan perpaduan dari berbagai unsur yang disebut panca skandha atau lima kelompok kehidupan. Panca skandha ini terdiri dua unsur penting yang disebut nama dan rupa atau batin dan jasmani. Kalau kita urai lagi, ternyata di dalam tubuh manusia yang terdiri dari nama dan rupa tadi di dalam nama atau batin ada unsur lain, yaitu kesadaran, perasaan, pikiran dan pencerapan. Setiap manusia mempunyai empat unsur ini. Kenapa ibu bisa sedih, senang, stress, karena anda punya pikiran. Jadi manusia itu dari sisi batin ada kesadaran, perasaan, pikiran, pencerapan. Pada saat anda melihat, anda cerap, anda rasakan, anda pikiran anda tampung di gudang kesadaran. Kalau itu enak buat anda happy, kalau itu tidak enak membuat anda sedih. 

Kemudian unsur kedua adalah rupa. Wujud kita dan fisik kita, sebelum ilmu kedokteran mengurai Buddha sudah menjelaskan ini. Jadi manusia terdiri ada empat unsur, sang disebut unsure tanah yaitu tulang, daging, kulit. 

Oleh karenanya manusia terdiri dari unsur tanah, maka banyak orang mengatakan bahwa manusia berasal dari tanah, ini tidak salah karena memang betul manusia terdiri dari unsur tanah. Tetapi yang menjadi masalah adalah penggambaran mereka tidak sesuai dengan apa yang sang Buddha jelaskan. Kalau orangtua jaman dahulu, atau dongeng cerita kalau manusia itu dibuat dari tanah. Seperti pengerajin tanah liat membuat patung, pot, dikasih tangan dikasih kaki, walaupun tidak dikasih baju, lalu ditiup dan akhirnya hidup, tetapi tidak seperti itu. Yang dimaksud manusia berasal dari tanah adalah ada unsure tanag yang mewakili disana, maka disebut manusia berasal dari tanah. 

Dalam Aganna Sutta, dijelaskan dengan gamblang pada mulanya manusia tidak terbentuk seperti sekarang ini, dulu bentuknya gak jelas, karena memakan sari tanah dan sangat lama. Evolusi terjadi manusia semakin jelas wujudnya akhirnya seperti sekarang ini. 

Theory Darwin mengatakan bahwa manusia itu berasal dari monyet, itu hukum evolusi. Kalau  kita percaya pada teori evolusi tetapi tidak sama dengan teori Darwin. Nah ini manusia ada unsur tanah. 

Kemudian ada unsur api ada di badan kita yaitu panas. Unsur angin yaitu nafas. Unsur air ada darah, lender, nanah dan sebagainya. Ini menyatu yang disebut jasmani. Antara perpaduan batin dan jasmani ini disebut manusia. Jadi yang menggerakkan kita ya unsur-unsur tadi, kalau saudara sakit karena saudara punya tangan, kulit, dan anda punya perasaan. Kalau anda senang anda juga karnea punya perasaan dan pikiran dan anda cocok dengan suasana itu, jadi bukan karena hal-hal lain. Jadi kalau anda merasa kenyang, karena anda punya perut. Anda haus anda perlu air, kita memerlukan itu. 

Jadi bapak ibu saudara sekalian, jelaslah bahwa manusia itu adalah perpaduan dari berbagai unsur yang mana kelima unsur ini tidak ada yang kekal. Oleh karenanya tidak selamanya orang sedih-dan tidak selamanya orang senang, tidak selamanya orang stres-tidak selamanya orang sehat. Dari sinilah kita semakin jelas untuk memaknai hakikat manusia baik secara asal kata maupun secara struktur pembentukannya. 

Lantas apa yang kita bicarakan lagi, kita akan membicarakan bahwa seperti yang dikatakan tadi bahwa manusia berasal dari kata mano dan ussa batin yang luhur. 

Ternyata tidak semua manusia bisa menjaga dan memelihara kualitas batin tadi sehingga membentuk banyak kualitas dan kelas manusia. Oleh karenanya, antara manusia yang satu dengan yang lain tidak sama. Nah disini dijelaskan, dalam Tribumi sebuah kitab bahasa Thai yang diadopsi dari bahasa pali juga. Dijelaskan bahwa manusia terbentuk menjadi empat kelas. Terbentuknya manusia menjadi empat kelas ini karena satu sama lain tidak sama dalam usaha menjaganya. Ada sebagian yang menjaga memelihara sifat-sifat kemuliaannya, kasihnya, sifat luhurnya sementara yang lain tidak. Yang lain setia dengan kebenaran, kebajikan dan yang lain tidak. Oleh karenanya sebagian manusia itu hanyut ke dalam sifat-sifat yang jelek (kebencian, keserakahan dan kebodohan) membuat mereka berbeda dengan yang lain. 

Saya akan menjelaskan satu persatu;
Yang pertama manusia neraka; seperti apa?, sebetulnya sama sepertikita punya hidung, bukan berarti makhluk neraka telinganya ada tiga, bukan ya. Sama seperti kita, kakinya juga sama ada 2 dan bisa ngomong juga. Jadi yang jadi masalah adalah itu manusia neraka yang membedakan dengan kita adalah karena perilakunya. 

Jadi manusia neraka disini adalah mereka yang wujudnya manusia tapi perilakunya seperti makhluk neraka yaitu perilakunya, penuh dengan kebencian, kejam, tidak ada belas kasih, termasuk teroris punya kasihan. Ada manusa yang kelasnya seperti ini. Ternyata memang manusia itu berkelas-kelas bukan karena ada yang menciptakan, ada yang membentuk, bukan. Tetapi karena kondisi dari kualitas batin kita ini, ada yang perduli dari sifat luhurnya ada yang tidak. Jadi modalnya sama yaitu sifat luhur, tapi ada yang memelihara ada yang tidak. Nah ini yang membedakan kita.

Yang kedua adalah manusia peta; peta artinya setan. Jadi wujudnya manusia tapi prilakunya tidak seperti manusia. Manusia yang diliputi perasaan serakah atau lobha, mereka yang suka  menindas orang lain, yang tamak, yang mau menang sendiri dan yang senang menginjak martabat otang lain, orang seperti ini sering digolongkan sebagai manusia peta. Oleh karena ya kadang-kadang orangtua yang sedang emosi dan marah sama anaknya kadang-kadang sering berkata; kamu ini manusia atau setan sih, tidak ada kasihannya sama adik kamu. Kadang-kadang kita sering mendengar orang tua seperti itu karena saking keselnya. Dalam kenyataan ada manusia seperti itu, tidak mau mengalah. 

Yang ketiga adalah manusia Tiracchana; yaitu manusia yang wujudnya manusia tetapi perilakunya seperti binatang. Kenapa dikatakan seperti binatang? Karena dia tidak punya etika ,tidak punya susila tidak ada aturan. Apa yang dikatakan sering menyakiti oranglain, sering membuat orang susah, sembrono, tidak ada rasa hormat kepada orangtua, orang suci dan sebagainya. Jadi kehidupannya dikendalikan oleh kekuatan moha atau kebodohan. Sehingga apa yang dilakukannya itu tidak benar. Bahkan yang lebih parah sudah salah masih dilakukan inilah yang membuat manusia ini kelasnya seperti tiracchana atau binatang. 

Kita sering melihat di masyarakat kita  ada manusia-manusia sekelas ini, jadi kehadirannya bikin orang takut. Kalau anda lewat disebuah jalan trus ada orang mabuk, bawa botol dipecah, ada bawa golok kira-kira nyaman gak? Hawanya tidak enak, panas ya. Coba anda pergi kesuatu tempat, dimana disitu banyak orang bijaksana, yang kalo ngomong menyenangkan, hatinya baik. Kita tidak ditolong lewat didepannya saja rasanya nyaman, ketemu lihat mukanya saja kita senang, jangankan kita ditolong. Inilah yang membedakan, ada manusia yang kelas nya seperti ini yang disebut manusa-manuso.  

Yang ke empat adalah; manusa=manuso adalah manusia yang hatinya mulia. Yaitu orang yang mempunyai rasa malu dan takut untuk berbuat jahat. Bukan takut kepada hantu, setan, hal-hal yang lain. Tapi takut pada hiri dan otappa. Tapi tidak masalah, karena sesungguhnyapun kalau ketemu tidak usah takut karena hati kita penuh kasih. Dia akan luluh dengan kekuatan kasih itu. Kalau hantu lagi tidur dibangunin ya bisa ganggu, makanya jangan macam-mcam. 

Ada manusia manuso manusia yang hatinya luhur dan murah hati serta pemaaf. Kita harus mencontoh Manussa manuso ini. Kalau bapak ibu melihat orang yang sudah salah dia tahu dia tahu kesalahan itu, akan tersiksa kalau anda tidak memaafkan. Maka penting sekali menjadi pemaaf. Mengapa? Dengan memaafkan membuat orang lain menjadi lebih nyaman, melihat orang bahagia saudara akan lebih bahagia, dan senang. Pikiran semacam ini akan muncul pada manusia sekelas manussa-manusso. Dan orang seperti ini biasanya tidak gampang menyerah, kita umat Buddha harus setia kepada kebenaran. Jangan karena masalah sepele, karena tidak dapat nomer langsung merasa buddhanya tidak manjur dan pindah agama. Baru dikhianiati pasangannya nyalahin Buddha. Setiap orang punya masalah, justru kita harus setia pada kebenaran. Apapun yang kita lakukan kalau niatnya baik akan menghasilkan kebahagiaan. Cuma yang jadi masalah; apa yang kita lakukan tidak selalu berbuah saat itu juga. Tergantung anda nanam dimana dan kualitasnya seperti apa. 

Kalau anda misalnya seperti petani; yang ditanam benih unggul, ditanam di tempat yang subur, dirawat dan dijaga dia akan cepat masak. tetapi kalau sudah nanam bibitnya jelek dan tumbuh di pasir maka tumbuhnya akan lama, kadang-kadang belum berbuah sudah dimakan kambing. Sama seperti saudara, yang membuat kebajikan kita ini tidak cepat tumbuh, bisa jadi tidak disertai dengan niat yang tulus, tidak disaat yang tepat. Kalau musim banjir saudara menanam padi saya rasa anda tidak akan panen. Tapi yang penting adalah; Bagaimana saudara setia kepada kebenaran, karena saudara tahu siapapun yang berbuat baik dia akan memetik buahnya. Jadi tidak mungkin anda hanya menunggu oranglain panen baru mendapatkan, ya kalau orang lain panen ingat kalian, kalau tidak kita tidak akan kebagian. kalau ingin bahagia saudara harus menanam. 

Kemudian saudara sekalian
Kita perlu meniru dari manusa manuso karena banyak positifnya. Manusa manuso adalah manusia yang banyak keberuntungan dalam hidupnya. Mempunyai filsafat hidup setiap saat adalah saat yang baik. Oleh karenanya orang semacam ini selalu beruntung. Ketemu masalah  dia tidak lari, tapi hidupnya bukan mencari masalah. Ketemu yang jelek diterima. Ketemu yang baik diterima. Jadi manusa-manuso ini pandangannya luas. 

Kita pernah ketemu seorang Bhiksu, cinta kasihnya pandangannya, kebetulan bukan bhikkhu Indonesia. Asalnya orang Birma tapi tinggalnya di Amerika, namanya YA. Usilananda ahli meditasi. Luar biasa cinta kasihnya, kehadirannya bikin orang senang dan nyaman, betul-betul kita merasakan. Kalau beliau datang orang rasanya adem, emosinya turun jadi kalau ketemu beliau rasanya indah sekali. Yang lebih luar biasa lagi adalah beliau memperlakukan umat dengan bijaksana, yang bawa sedan diterima, yang jalan kaki diterima. Yang jalan kaki bawa buah diterima,  tidak bawa buah pun diterima. 

Yah, bante ini luar bisa. Setiap orang bisa seperti itu,  tinggal mau melatih atau tidak. Inilah yang membedakan manusia yang kelasnya manusia manusso ini bapak ibu sekalian. Kita belajar dari sana. Kenapa? Dengan cara seperti ini  saudara akan memudahkan jalan hidup saudara. Cara hidup kita menjadi mudah atau tidak sangat juga erat kaitannya dengan cara berpikir kita dalam melihat kehidupan. Dan biasanya orang seperti ini akan menerangi seperti pelita, dan kehadirannya membuat terang dan pelita yang sama di mata orang lain, memiliki makna beda namun fungsi sama.

Lilin apabila dinyalakan saat valentine jadi romantic. Apabila lilin dinyalakan pada saat orang meninggal tidak romantic lagi tetapi menguatkan kekuatan sakral. Kalau orang sedang ulang tahun ceria, tapi semuanya menerangi, kehadiran kita membuat orang menjadi terang, bukan tambah gelap. Anda terlalu banyak nonton sinetron jadi hawa provokator itu kuat, kalau ketemu orang yang sedang sebel ditambahin, oh iya kemarin aja baru ngomongin saya, ditambahin, dan saudara sedih kalau tidak kepancing. 

Lilin walaupun kecil dia tetap menerangi, walaupun bentuknya tidak bagus dia tetap fungsinya menerangi. Sama seperti kita; fisik kita boleh beda, muka beda, umur beda, tapi yang penting selama kita, selama kita hidup, selama kita masih ada nafas, mudah-mudahan kehadiran kita bisa menerangi. Anda sebagai kepala keluar bisa keluarga, anda sebagai bos bisa menerangi pegawai, anda sebagai guru bisa menerangi murid, dan sebagainya. 

Mudah-mudahan itu yang bisa kita lakukan, dan kita sebagai bagian dari masyarakat bisa menerangi orang lain. Oleh karena itu, saya sering mendukung umat Buddha yang tengah melakukan aktifitas social. Karena disinilah makna kita hidup, berbagi dan saling peduli itu yang penting. Kita semua saudara, oleh karena kita harus berbagi dan saling peduli. Kenapa? Sebab  dengan cara seperti ini saudara bisa membuat hidup ini menjadi lebih hidup. Orang lain kalau kita lakukan sebagai saudara, dia kepada kita lebih hormat dan lebih respek, dan tidak akan kurang ajar. Dengan penuh kasih kita dengarkan keluhannya, kita dengarkan kesedihannya, mungkin kita tidak membantu menyelesaikan paling tidak membantu orang itu stresnya tidak berat karena ada yang mendengarkan. Kita sendiri merasa kalau kita stress semua orang tidak mau percaya. Kemudian saling peduli; bahwa nasib orang lain yang buruk tadi itu akan bisa diatasi kalau kita peduli. 

Oleh karenanya saudara sekalian.
Kalau betul kita menghargai dharma, kita adalah siswa sang Buddha mari kita ikuti jejak beliau. Jangan biarkan orangtua menjadi makin sedih, terpuruk karena tidak punya tempat tinggal. Jangan biarkan anak-anak terlantar tidak punya pekerjaan tidak punya orangtua, ini adalah tugas kita bagaimana membantu mereka agar mereka sedikit bisa menikmati indahnya hidup. Dan tidak ada ruginya kalau saudara sekalian bisa berbagai dan saling perduli dengan mereka.  

Kemudian yang penting lagi bapak ibu sekalian; Manusia manuso akan mudah melayani dimana dia berada, dia punya motto dia akan melayani. Ketemu orangtua dia akan melayani, sebaliknya anda akan menjadi orang yang mudah dilayani. Yaitu tidak ngerepoti orang. Kalau anda menjadi tamu anda akan mudah dilayani, dan sebagainya. Dan orang sekelas manusa manuso ini dia akan menjadi orang yang sederhana, rendah hati. Karena sederhana dan rendah hati hidupnya menjadi mudah, tidak menciptakan masalah. Dengan demikian kemanapun pergi dia akan bahagia. 

Saudara sekalian
Kita perlu meniru ini karena biasanya orang yang bahagia, orang yang selamat adalah orang-orang yang mempunyai pandangan benar seperti ini. Dalam kesulitan bagi orang biajksana, dia akan anggap sebagai guru. Setiap kesulitan dia akan lihat dengan benar, sehingga batinnya menjadi matang. 

Sebagaimana tukang kayu yang ahli, melihat jenis-jenis kayu dia akan tahu persis. Bagi seorang yang ahli tidak ada kayu yang elek. Kalau ada kayu jati dia bikin lemari, kalau kayu mahoni dibuat untuk paket-paket atau kandang burung mungkin. Tapi tidak ada kayu yang jelek semuanya bagus. Semuanya punya fungsi, oleh karenanya dia tidak pernah ada masalah karena semua yang hadir didepan dia itu akan berguna. Sama seperti saudara, kalau semua mau jadi manajer semua siapa yang jadi kuli. Yang bodoh punya tempat dan pintar ada tempatnya juga tinggal anda harus pandai mengatur. Jadi tidak ada yang jelek. Kalau tidak ada yang bodoh maka tidak ada yang jadi korban. Biasanya kalau kita kumpul-kumpul orang yang bodoh jadi bahan ketawaan, semua ada fungsi. Yang pasti melihat hidup ini dengan bijaksana, belajar agar kita memiliki kualitas seperti manussa-manusso. 

Kemudian manusa manuso juga memiliki nilai lebih yang lain, dia memandang dunia ini sebagai tempat latihan. Kesempatan untuk melatih, oleh karenanya hal-hal mengkhawatirkan bagi menakutkan orang, membuat cemas oranglain, dianggap sebagai tempat latihan dan dan semua diterima dengan penuh kesadaran.  

Ada sebuah cerita Zen, yang menggambarkan bahwa kita harus menerima segala keadaan itu sebagaimana mestinya supaya anda tidak takut menjalani hidup. Tua, sakit dan mati adalah resiko kehidupan, dan dia tidak bisa diwakilkan. Kalau tua, sakit adan mati adalah resiko setiap orang yang lahir. Secinta-cintanya orangtua kepada anak, dia tidak bisa mewakili sakitnya anak, tuanya anak, tidak bisa. Ini yang harus dipahami.   

Ada sebuah cerita; Cerita kodok dan ular. Suatu ketika kodok sedang senang-senang sudah lama tidak ada hujan. Begitu sampai dikolam ada hujan dan air ia senang sekali. Begitu berenang kesenangannya semakin bertambah tiba-tiba ada nyamuk datang, ditangkap dan  dimakan aduh senang sekali. Wah ini nyamuk datang untuk kita. Kemudian muncul ditangkap. Wah capung datang untuk kita, hujan lebat datang untuk kita. Kita berpikir sama seperti anak kodok selalu berpikir yang enak-enak saja. Begitu ada ular datang semua takut, hei ular datang jangan bilang itu untuk kita. Sama seperti kita kalau tua datang, sakit datang, kita tidak bisa menghindari dan kita tidak boleh bilang sakit tidak untuk kita, tapi harus bilang sakit memang untuk kita, tua memang untuk kita.  Sakit memang untuk kita, tua untuk kita. 

Sama seperti ibu kodok bilang ularpun datang untuk kita, bukan cuma capung, air, nyamuk, ular pun datang untuk kita. Kalau tidak ada ular kodok semakin berkembang biak memenuhi bumi ini maka kodokpun akan bermasalah. Sama seperti kita saudara, penyakit, usia tua semua untuk kita, karena sifat dari jasmani kita tidak kekal. Kalau semuanya tidak ada yang tua nanti keliru mana menantu mana engkongnya. Jadi nanti malah repot, jadi semua itu untuk kita.

Jadi dari sinilah bapak ibu saudara sekalian, kita semakin jelas bahwa ada tugas mulia buat kita yaitu bagaimana menghargai hidup, kesempatan kita menjadi manusia kita hargai.

Mudah-mudahan anda semua bisa menjadi manussa manusso, seperti yang dicontohkan oleh Buddha sediri. Tapi ada tugas yang lebih berat untuk kita semua bahwa untuk menjadi manusa-manuso setiap orang harus menghancurkan sifat-sifat buruk dan memelihara sifat baik. Cinta kasih dan kasih sayang kita pelihara. Keserahakan, kebodohan, kebencian kita buang. Tugas kita sama, sebab kalau tidak seperti itu kita tidak akan pernah bisa happy. Seperti bapak-bapak kalau menebang pohon; Kita sering di Jakarta suka tebang pohon, hari ini ditebang seminggu lagi tumbuh lagi. Kenapa? karena ditebang tidak lewat akarnya. Kita manusia akan terus menderita kalau tidak menebang akar daripada penderitaan. Memotong keserakahan, kebencian dan kebodohan, itulah tugas yang harus kita lakukan. Anda sebagai orang biasa mempunyai tugas yang sama seperti saya sebagai bikkhu. Tujuan kita sama yaitu hidup bahagia tapi caranya yang berbeda. 

Seperti bebek dan ayam. Bebek beda dalam mengatasi rasa dinginnya. Dua-dua ingin hangat. Kalau bebek ingin hangat pada saat kedinginan ia akan mengepakkan sayapnya dan menyelam ke dalam air, maka dia akan mendapatkan kehangatan. Tapi kalau ayam tidak akan menyelam ke dalam air, dia akan naik ke pohon bertengger, berkokok dan mengepakkan sayap. Saudara sebagai umat punya cara tersendiri mengatasi penderitaan itu, sudah ditunjukkan oleh Buddha. Dan kita sebagai bhikkhu mempunyai cara sendiri dan masing-masing punya tugas yang sama dengan cara yang berbeda. 

Itulah yang saya sampaikan, mudah-mudahan setelah kita mengerti hakikat sebagai manusia, kita semakin bisa menghargai dan melakukan yang terbaik demi kebahagiaan semua makhluk. 

Semoga semua berbahagia. 

Namo buddhaya.


Y.A. MOGGALLANA ( MURID UTAMA SANG BUDDHA GOTAMA )


SISWA UTAMA SANG BUDDHA ( Y.A  MOGGALLANA )
( KESEMPURNAAN BATIN )

“Kami menghormat seorang bhikkhu yang bertingkah laku seperti Brahma, dapat memandang sekalipun hanya sejenak, matanya cemerlang namun sanggup mencerap, beribu-ribu alam semesta terbayang di depan matanya. Beliau, yang menguasai gejala-gejala rahasia, pun sanggup melihat sepanjang masa, dimana para dewa bangkit lalu sirna habis kembali.”(Theragatha, The Elders No.1181).

Kata Sansekerta Maha mempuyai tiga arti: besar, banyak dan unggul. Maudgalyayana berasal dari bahasa Sansekerta dan berarti “Keturunan keluarga pengumpul buncis.” Namanya juga berarti “Akar Lobak”, sebab para leluhur beliau makan lobak ketika mereka mengembangkan jalan. Beliau juga dinamakan “Kolita” menurut nama pohon dimana ayah dan ibunya berdoa kepada roh penghuni pohon itu untuk memohon seorang putra.

Y.A.Maha Maudgalyayana adalah sahabat dekat Y.A. Sariputra, dan keduanya merupakan siswa utama Sakyamuni Buddha. Y.A.Maha Maudgalyayana menonjol terutama dalam kekuatan daya tembus batiniah. Ketika beliau mencapai tingkat Arahat, beliau memperoleh enam macam daya tembus batiniah: mata surgawi, telinga surgawi, pengetahuan tentang pikiran orang lain, pengetahuan tentang masa lampau, pengakhiran arus keluar dan batin sempurna.

Adapun riwayat hidup Y.A.Maha Maudgalyayana dapat diceritakan sebagai berikut:
  • Masa Muda
Y.A.Maha Maudgalyayana dilahirkan di sebuah kota kecil di zaman kerajaan Magada (sekarang adalah daerah Bihar, negara bagian India). Beliau merupakan anak tunggal dari keluarga suku Brahmin, nama kecil beliau adalah Kolita Moggalana. Ayahnya terlahir dalam keluarga yang termashyur dan selalu diangkat menjadi walikota. Kolita terdidik di bawah asuhan tradisi Brahmana.
Diceritakan bwaha bertepatan hari kelahiran Kolita terlahir juga bayi laki-laki dari keluarga lain yang diberi nama Upatissa. Kemudian merekapun tumbuh bersama dan menjadi sahabat akrab. Kedua sahabat karib ini dilingkungan pergaulannya menjadi pemimpin dari kelompok teman-temannya.

Suatu ketika Kolita dan Upatissa bersama rekan-rekannya pergi menonton pesta rakyat. Tetapi tontonan yang mereka lihat itu bukan membawa kegembiraan tapi malah menimbulkan kegelisahan dalam diri Kolita dan Upattisa. Keduanya mempertanyakan kegunaan dari pertunjukkan foya-foya tersebut. Kolita berpikir, “waktu yang terpakai untuk berfoya-foya sebaiknya dipergunakan untuk memikirkan bagaimana cara untuk membebaskan diri? Kolita mendiskusikan hal tersebut dengan Upatissa.

Lalu, kedua sahabat itu mengambil keputusan untuk berkelana sebagai musafir dan meninggalkan kehidupan duniawi. Bersama dengan kelompok rekan-rekannya, kedua sahabat itu mencukur jenggot, menanggalkan pakaian Brahmana mereka dan mengenakan jubah kuning. Mereka meninggalkan ciri-ciri kasta mereka dan membaurkan diri dalam pertapaan.
  • Mencari kebenaran
Tatkala Pangeran Siddharta Gautama merayakan pesta pernikahannya, beliau telah mengambil tindakan untuk keluar dari kehidupan duniawi. Disaat yang sama Kolita dan upatissa meninggalkan rumah tangga dan mencari ketenangan batin bersama kelompok temannya. Mereka mulai mulai melatih diri di bawah bimbingan guru spiritual yang mereka temui. Ada banyak guru dengan pandangan spiritual yang berbeda-beda pada masa itu. Namun variasi ajaran tersebut sejak awal sudah diketahui kehampaannya oleh kedua sahabat itu.

Akan tetapi, terdapat seorang guru di kota Rajagraha yang datang menghimbau mereka. Guru itu bernama Sanjaya. Dibawah pimpinan guru Sanjaya ini kelompok Kolita ditahbiskan. Pada saat itu bagi Kolita dan Upatissa sebelum menemukan guru yang lebih baik, mereka berguru kepada Sanjaya walaupun mereka telah merasa bahwa falsafah Sanjaya hanya berupa taktik mengelak saja. Pada suatu hari Kolitan Upatissa menanyakan ajaran yang lebih tinggi kepada Sanjaya, namun Sanjaya menjawab, “Itu sudah cukup, anda sudah mengetahui ajaran kami”.

Dari kata-kata Sanjaya tersebut, mereka memutuskan untuk mencari lagi ajaran-ajaran yang lebih memuaskan. Dalam pencarian itulah kemudian menuntun kedua sahabat karib itu untuk bertemu dengan ajaran Sang Buddha.
  • Menemukan sang ajaran
setelah 20 tahun berkelana akhirnya mereka pulang ke kampung halaman di Magada. Bersamaan dengan itu Sang Buddha memutar roda Cakra di Benares. Dengan sama-sama berprinsip tidak berhenti mencari, keduanya sepakat untuk mencarinya secara terpisah. Mereka sepakat apabila ada yang lebih dulu menemukan ajaran kebenaran maka dia harus memberitahukan kepada yang lainnya.

Pada suatu hari Upatissa dengan wajah berseri-seri datang menjumpai Kolita. Dia menceritakan penemuannya yaitu menjumpai pertapa yang bernama Assaji, yang ternyata adalah salah satu dari lima pertapa siswa Sang Buddha yang pertama. Assaji menemukan Upatissa dalam penampilannya. Lalu Assaji menerangkan mengenai gurunya yang bermarga Sakya (Sakyamuni Buddha). Saat Upatissa menanyakan ajaran yang dibabarkan oleh guru Assaji maka dijawab oleh Assaji dalam bentuk syair: “Yang dirahmati telah membabarkan sebab musabab dan timbulnya benda-benda. Dan juga menerangkan proses lenyap sinarnya. Hanya demikian yang dinyatakan Sang Tathagata.” Tatkala mendengar syair itu Upatissa merasakan suatu getaran pencerahan (Mata Waskita Dharma) dan Kolita pun merasakan hal yang sama saat Upatissa mengucapkan syair itu kepadanya.

Dari kejadian itu merekapun menanyakan kepada Assaji dimana Guru Agung itu berdiam dan bergegas menuju ke sana. Tapi sebelum menjumpai Sang Buddha, Upatissa mengajak Kolita terlebih dahulu menjumpai Sanjaya untuk mengajaknya ikut serta. Namun Sanjaya menolak ajaran tersebut karena keakuannya yang besar. Walaupun demikian karena kedua sahabat itu mengikuti Sang Buddha serta merta pengikut Sanjaya yang berjumpa 500 orang mengikuti jejak Upatissa dan Kolita. Namun melihat Sanjaya tidak ikut, sebagian dari mereka mengurungkan niat.
  • Mempelajari Dharma
saat Sang Buddha membabarkan Dharma di vihara Jetavana, Upatissa dan Kolita beserta rombongan pengikutnya dapat menghampiri. Sat itu Sang Buddha mengatakan “Wahai, para bhiksu kedua pasangan sahabat, Kolita dan upatissa akan menjadi siswa utama kami.” Kedua sahabat itupun lalu bersujud di bawah kedua kaki Sang Guru Junjungan dan mengucapkan permohonan “Okassa” sebanyak 3 kali. Saat itulah Upatissa dan Kolita ditahbiskan dengan nama Sariputra yang berarti “putra ibu sari” yaitu ibunya, sedangkan Kolita diberi nama Maha Moggalana yang berarti tokoh besar keluarga Moggalana.

Dalam proses melatih diri suatu kali pernah terjadi Y.A.Maha Maudgalyayana mengalami rasa kantuk yang berat. Di saat itu Sang Buddha dengan kekuatan gaibnya muncul dihadapan Y.A.Maha Maudgalyayana. Sang Bhagava bertanya, “Moggalana, benarkah mata anda bersimpul?”. “benar, paduka” Maka Sang Bhagava memberi intruksi demikian:
“Baiklah Moggalana, pikiran apa saja yang membuat anda menjadi mengantuk, maka anda harus menanggalkannya dan tidak memperhatikannya. Dengan demikian rasa kantuk anda akan hilang.
Namun jika belum hilang anda harus menerapkan pemantulan terhadap pelajaran yang pernah anda dengarkan. Perhatikan secara tekun dan amati secara cermat.

sekalipun dengan demikian anda masih mengantuk, maka anda harus dengan cara memperinci pelajaran yang pernah anda pelajari.
jika rasa mengantuk belum hilang, anda harus menarik-narik atau menggosok-gosok kedua daun telinga atau anggota badan.
bila tetap belum hilang, anda harus segera bangun dari tempat duduk bersihkan mata dengan air, kemudian pandanglah sekitar anda, pandanglah bintang-bintang di langit.
bila masih mengantuk, maka anda harus memperhatikan pencerapan pada sinar saat siang atau malam hari, lalu dengan batin yang jernih tidak terpudar, lalu dngan batin yang jernih tidak terpudar anda harus mempertimbangkan suatu batin yang penuh dengan kecemerlangan.
bila dengan demikian rasa mengantuk tidak lenyap, maka anda harus mengarahkan pandangan ke dalam dan ke luar batin anda tidak tergoyahkan, anda harus berjalan lalu lalang dengan pencerapan yang tekun. Jika dengan semua itu, rasa kantuk anda masih tetap, anda boleh memperhatikannya dengan ketekunan, bertiduran miring ke kiri dan ke kanan seperti layaknya singa yang sedang beriduran, mengatur tumpuan kaki dengan kaki merenungkan akan saat bangun dan tatkala bangun, anda seharusnya serentak bangun dengan renungan: “Aku tidak seharusnya menikmati kesenangan akan tidur”. “Dengan demikian oh, Moggalana anda harus melatih diri.” (Anguttara Nikaya VII,58).
  • Kekuatan gaib
dari murid-murid utama Sang Buddha, Y.A.Maha Maudgalyayana terkenal menonjol dalam kekuatan batin. Diceritakan bahwa pertama kali beliau menggunakan kekuatan batinnya adalah pada sat ingin menolong orang tua beliau, terutama ibunya yang terlahir di alam neraka, (Kisah ini ada dalam Ulambana Sutra).

Selain itu banyak lagi kisah-kisah yang menceritakan kemampuan batin Y.A.Maha Maudgalyayana yang luar biasa, seperti pembacaan pikiran lawannya dalam bentuk telepati, menggunakan pendengaran dewa untuk untuk mendengar suatu dari dewa-dewa dan setan, menggunakan mata waskita untuk melihat Sang Buddha membabarkan Dharma dari jarak jauh, berkelana dengan tubuh astral ke alam dewa, neraka, dan berkelana ke alam Buddha yang lain, juga ada kesaktian untuk dapat bergerak super cepat.
  • Hari-hari terakhir
Dikisahkan bahwa wafatnya kedua sahabat siswa utama Sang Buddha yaitu Sariputra dan Maha Maudgalyayana terjadi setengah tahun sebelum Sang Buddha memasuki maha Parinirvana. Sariputra lebih dulu wafat pada bulan purnama Siddhi bulan Kattika (sekitar Oktober/November).

Adapun kematian Y.A.Maha Maudgalyayana terjadi secara tragis. Dimana diceritakan bahwa pada suatu saat Y.A.Maha Maudgalyayana bertekad untuk tidak mempertahankan hidupnya dengan kekuatan hidupnya. Dan di saat itulah ada segerombolan penjahat yang berniat membunuhnya. Sebelumnya selama enam hari penjahat itu sudah berusaha membunuh Y.A.Maha Maudgalyayana namun tidak berhasil karena dengan kekuatan gaibnya Y.A.Maha Maudgalyayana lenyap. Lenyapnya kekuatan gaib itu juga berhubungan dengan karma masa lampaunya, dimana Y.A.Maha Maudgalyayana pernah berbuat kejahatan yang mengakibatkan ayah dan ibunya wafat. Karma inilah yang terbawa sampai hari itu dimana penjahat itu menganiaya dan membunuh Y.A.Maha Maudgalyayana. Biarpun tubuh beliau hancur, ternyata Y.A.Maha Maudgalyayana masih sempat merangkak menghadap Sang Buddha. Setelah meminta ijin ke guru junjungan barulah Y.A.Maha Maudgalyayana menghembuskan nafasnya yang terakhir.